
LAS VEGAS
Malam itu Ronald, Leo dan Jessica mempersiapkan penyamaran mereka, Jes menghubungi malam Lili untuk meminta madam Lili mempersiapkan dia untuk dapat melayani para tamu.
Sedangkan Ronald dan Leo mempersiapkan dirinya menjadi penjual makanan di dekat tempat lokalisasi tersebut.
"Leo apa kau yakin ini penyamaran terbaik kita? secara pribadi aku belum pernah menyentuh dapur dan memasak, sekarang kita harus menjadi pedagang makanan
Hahaha memang nya hanya kau yang belum pernah menyentuh dapur? aku juga sama sekali belum pernah memasak untuk orang lain
Tapi kau tenang sana Ron, tadi aku sudah meminta Laura sekretaris pribadi papa untuk menyiapkan segala sesuatunya sehingga kita lebih gampang dalam memasaknya
Ya, ya semoga rasa nya tidak terlalu hancur"
Rian dan Leo sesekali masih bisa bercanda meskipun mereka tau bahwa untuk penyamaran yang mereka lakukan kali ini berbeda
"Ron, Leo aku harus berangkat terlebih dahulu karena madam Lili baru saja menghubungi ada tamu yang menginginkan tidur dengan ku.
Baiklah sayang tetap berhati - hati lah gunakan selalu cincin obat bius di jari manis mu dan begitu mereka mulai menyentuh mu gunakan lansung cincin itu.
Baik Rian aku mengerti ini bukanlah penyamaran ku yang pertama "
Ronald mengecup kening Jessica dan membiarkan kekasih nya tersebut pergi ke tempat lokalisasi tersebut, hati Ronald mulai was - was ketika mengetahui Jessica kembali ke tempat itu dan kembali melakukan penyamaran sebagai wanita penghibur.
" Ayo Leo kita berangkat" dengan mantap Ronald mengajak Leo keluar dari ruangan tempat hotel mereka menginap.
Sesampainya mereka di tempat lokalisasi tersebut Ronald berusaha untuk bisa menguasi diri nya ketika dia melihat Jessica sedang menemani minum seorang mafia pria tersebut menatap penuh nafsu kepada Jessica.
Ronald dan Leo membuka sebuah kedai makanan di depan tempat lokalisasi tersebut tempat mereka yang strategis membuat mereka dengan mudah dapat memantau semua kegiatan di pusat kota.
"Ron maafkan aku yang harus melibatkan kalian dalam posisi seperti ini, aku tau mata mu dari tadi selalu terarah kepada gadis mu Jessica,sebagai sesama laki - laki aku mengerti perasaan mu untuk saat ini
Santai bro ini adalah ujian yang harus kita lalui bersama"
Ronald mencoba menepuk - nepuk pundak Leo dan berusaha mencoba untuk tetap tegar melihat kekasihnya sedang mulai di cumbu oleh si hidung belang.
Mereka melihat semua adegan tersebut dari sepasang kaca yang ada di tempat lokasi itu, posisi mereka berjualan sengaja dibuat berhadapan dengan tempa tersebut.
Lama mereka menanti tidak ada gerak gerik yang mencurigakan sampai pada satu titik Leo sang laki - laki jenius mencurigai seorang pria paruh baya yang sedang melintasi tempat lokasasi tersebut, pakaian nya kumuh namun Leo dapat melihat Ketampanan dari pria tersebut.
"Ron apa tanda yang di miliki tuan Yudha Prasetya?"
Leo menepuk pundak Ronald dan bertanya kepada nya.
"Tanpa yang paling terlihat jelas adalah tanda lahir di punggung nya
Semenjak tuan Yudha Prasetya melakukan operasi plastik dan menghilang hanya informasi itu yang aku dapatkan Leo
Baiklah kurasa itu sudah cukup, Ron jaga tempat ini aku akan mengikuti seseorang
Hei bro siapa yang akan kau ikuti, hei bro hei"
Tanpa perlu persetujuan Ronald setelah Ronald memberitahukan ciri - ciri dan tuan Edward Prasetya, Leo yang sedari tadi sudah mencurigai satu orang pria paruh baya yang sedang berdiri di depan tempat lokalisasi tersebut entah apa yang dirasakan, Leo ingin sekali menghampiri pria tersebut.
"Leo apa yang kau sedang pikirkan?
Ron jagalah tempat ini aku akan ke seberang menjumpai pria itu"
Leo segera bergegas meninggalkan tempat mereka berjualan, Ronald hanya memandang kepergian Leo dan mengelengkan kepalanya.
"Leo, Leo kau sama sekali belum berubah otak mu masih jenius seperti dulu,namun kau menjadi seperti orang bodoh ketika engkau sudah berurusan dengan wanita"
Leo berjalan mendekati pria paruh baya tersebut, pria itu duduk di tepi jalan sesekali sedang menikmati udara LAS VEGAS di malam hari itu.
"Permisi tuan apa yang sedang anda kerjakan di sini? "
Leo mencoba duduk di dekat orang itu dan perlahan - lahan memulai sebuah percakapan, dan sang pria tersebut menoleh kepada Leo dan tersenyum kepada nya.
" Hallo anak muda, malam ini langit nya indah bapak hanya sedang ingin memandang langit itu"
Meskipun Leo tak begitu mengerti apa yang di maksud kan pria tersebut, Leo mencoba untuk tetap duduk di sebelahnya dan akan sedikit demi sedikit menggali informasi daripada nya.
"Benar tuan langit malam hari ini indah, apakah tuan datang kemari seorang diri dimana keluarga tuan? "
Lama terjadi keheningan ketika Leo bertanya tentang keluarga terhadap pria tersebut.
" Nak bapak hidup sebatang kata sudah sangat lama, bapak ingin melakukan itu untuk melindungi keluarga bapak yang sangat bapak cintai"
Tanpa terasa air mata pria tersebut mulai menetes entah kenapa perasaan nya menjadi sangat kacau ketika ada orang - orang yang bertanya tentang keluarga nya.
"Tuan aku turut prihatin dengan apa yang kau ceritakan, tapi izinkan aku mengantarkan tuan pulang, angin malam tidak baik untuk mu tuan "
Leo mencoba menawarkan bantuan untuk mengantarkan pria itu pulang ke rumah nya dengan harapan Leo mendapatkan informasi lebih lagi tentang pria tersebut.
" Nak bapak tidak punya rumah, hidup bapak adalah di jalanan rumah bapak adalah di jalanan dan tidur bapak adalah di jalanan,namun terkadang bapak pulang ke gubuk bapak apa kamu mau mampir kesana dari wajahmu bapak melihat kau laki - laki yang baik"
Leo yang sedari tadi terus mencari cara untuk tetap dekat dengan pria tersebut segera menyambut dengan antusias ketika pria tersebut menawarkan Leo untuk mampir ke gubuk bapak tersebut.
"Tentu saja tuan dengan senang hati saya akan mengantarkan tuan sekarang.