
Perkataan tuan Bratayudha pada dirinya kali ini membuat Kartika sudah tidak kuat untuk menahan air matanya lagi, kedua tangannya gemetar saat dia membaca semua isi surat pernyataan tersebut.
Leo apa yang harus aku lakukan? papa mu tidak menginginkan aku, dan aku tidak akan mungkin melawan tuan Bratayudha karena dia adalah orang tua mu, namun aku juga tidak mau menandatangani kertas - kertas ini.
Kartika mulai menangis dalam diam, dan tuan Bratayudha terus memperhatikan Kartika dengan tajam.
"Brakkkkk "tiba - tiba tuan Bratayudha memukul meja dimana dirinya dengan Kartika sedang berada.
" Cepat nona tanda tangani kesabaranku mulai habis terhadap mu, gadis seperti mu tidak akan pernah pantas mendampingi putra ku,ini cek kosong tuliskan berapa uang yang kau butuhkan dan pergilah jauh-jauj dari sini, dari kehidupan Leo dan dari kehidupan orang - orang terdekat mu, karena mereka semua bisa terbunuh akibat kasus pemerkosan yang kau miliki"
Kemarahan tuan Bratayudha begitu besar pada Kartika, tatapan matanya seperti mengancam Kartika untuk segera tanda tangan pada surat pernyataan tersebut.
Dan pada ahkirnya Kartika menyetujui persyaratan tuan Bratayudha, dia menandatangani surat pernyataan tersebut.
"Tuan aku setuju"Kartika menyerahkan semua berkas - berkas tersebut kepada tuan Bratayudha, dan tuan Bratayudha tertawa dengan puas.
"Baiklah nona silahkan keluar dari ruangan ini besok kau dapat bertemu dengan Leo di Rumah Sakit dan tentunya semua pertemuan akan di jaga ketat oleh semua pengawal ku,satu hal lagi untuk kau tidak menceritakan kepada siapapun apa yang sudah kita bicarakan saat ini, karena jika engkau menceritakannya maka orang - orang di sekeliling mu tidak akan aman.
"Baiklah tuan Bratayudha saya permisi, Kartika mencoba untuk terus menahan air matanya, begitu dia keluar dari ruangan dan berjumpa dengan Rian semua air mata nya mendadak harus menjadi sebuah senyuman yang palsu.
"Tika apa kau baik - baik saja?"Rian melihat tajam ke arah Kartika ketika Kartika sudah masuk ke dalam mobil Rian.
"Emm tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi Rian, besok aku sudah bisa mengunjungi Leo, dan aku bahagia "
Sebenarnya Rian tidak percaya dengan perkataan Kartika, namun dia mencoba untuk belajar mempercayai Kartika, bahwa senyum yang di berikan juga bukanlah senyum yang palsu.
"Baiklah jika memang tidak ada hal yang serius terjadi, mari kita pulang Tika"
Kartika menganggukan kepalanya dan sepanjang perjalanan mereka hanya diam.
Tok. tok. tok, "permisi tuan Bratayudha ini berkas yang sudah anda minta, terima kasih Raihan, kau pulang dan beristirahat lah"
Tuan Bratayudha meminta Raihan untuk pulang dan tuan Bratayudha mulai memeriksa setiap berkas - berkas yang diberikan Raihan
Rencana yang berjalan dengan lancar, Ronald, Jessica kumohon segeralah kalian menemukan Yudha Prasetya karena hanya dirinya yang bisa melumpuhkan alat pelacak di dalam tubuh Kartika,Yudha putrimu masih dalam bahaya para mafia tersebut memasangkan alat pelacak ke dalam tubuhnya sehingga mereka bisa terus memantau pergerakan Kartika, dan ini akan sangat membahayakan orang - orang di sekitarnya.
Dan pada ahkirnya tuan Bratayudha menyimpan berkas - berkas penting tersebut ke dalam ruang rahasia, karena berkas - berkas tersebut adalah kunci dari kasus pemerkosan Kartika saat ini.
"Maafkan aku nona Kartika aku harus berbuat ini pada mu, karena setiap pembicaraan kita tadi terkontrol oleh para mafia tersebut lewat alat pelacak yang sudah di pasang di dalam tubuhmu, Ku harap dengan perkataan - perkataan ku terhadap mu tadi membuat para mafia tersebut tidak mencurigai bahwa aku berada di pihak Yudha Prasetya"
Keesokan harinya Kartika sudah bersiap - siap untuk ke Rumah Sakit, pada hari itu dia ingin memberikan sisa waktunya untuk Leo dan orang - orang terdekat sebelum dia pergi dari hadapan mereka semua.
Jika aku memang bisa mencelakai orang - orang yang aku cintai, maka keputusan untuk pergi dari hadapan mereka semua itu merupakan keputusan yang terbaik.
Kartika duduk di meja rias di dalam kamarnya sekali dia menyisir rambut dan terus berpikir kemana dia kan menghilang dari hadapan semua orang - orang terdekat nya nanti.
Tok.tok.tok "Tika ini aku Lusi, bolehkah aku masuk terdengar Lusi mengetuk pintu kamar Kartika, hari ini sengaja Lusi ingin menjemput Kartika karena Kartika akan ke Rumah Sakit mengunjungi Leo.
"Lusi masuklah" Kartika membuka pintu kamar dan kembali memasang senyum yang palsu.
"Tika semalam Rian sudah bercerita padaku bahwa kau telah menemui tuan Bratayudha, dan dari hasil pembicaraan tuan Bratayudha mengizinkan mu untuk mengunjungi Leo, aku senang sekali mendengarkannya"
Lusi tersenyum bahagia namun Kartika harus tetap memasang senyum yang palsu untuk Lusi.
"Iya Lusi yuk kita berangkat ke Rumah Sakit"
Kartika lansung mengajak Lusi meninggalkankan kamarnya untuk menuju ke Rumah Sakit, sesampainya di sana masih terlihat para pengawal yang jumlahnya semakin bertambah banyak, namun tuan Bratayudha menepati janjinya beliau mengizinkan Kartika masuk ke dalam ruangan dimana Leo di rawat.
"Leo sadarlah"Kartika genggam tangan Leo, ingin sekali rasanya Kartika memeluk orang yang dicintainya saat ini, namun dia tidak mungkin bisa melakukannya karena para pengawal yang menjaga dirinya sangatlah banyak.
"Tika teruslah mengajak Leo untuk berkomunikasi, supaya Leo cepat sadar, dia membutuhkan kamu Tika"
Lusi yang berada di dalam ruangan tersebut memeluk Kartika dari samping dan memberinya kekuatan.
Leo izinkan aku untuk menemanimu saat - saat ini sebelum aku pergi untuk meninggalkan mu, karena ketika kamu sadar nanti aku sudah tidak ada disampingmu lagi, aku mencintaimu Leo, aku melakukan ini untuk melindungi orang - orang yang aku cintai dan itu termasuk dirimu.
Air mata Kartika mulai menetes dia sudah tidak sanggup lagi jika harus menahan, Lusi yang mengerti perasaan Kartika hanya bisa terdiam sesekali menepuk - nepuk pundak Kartika untuk memberinya kekuatan.
Berjuanglah Leo, disini Kartika sangat mencintaimu, aku tidak tau apa yang tuan Bratayudha sudah katakan padanya, karena ketika aku melihat dirinya, wajahnya sangat sendu meskipun Tika terus memaksa untuk tersenyum, sadarlah Leo hanya engkau yang bisa melindungi,dan mencintai Kartika dengan tulus.
Lusi terus terdiam dalam membiarkan Kartika untuk terus menangis, supaya hati sahabatnya itu terasa lebih lega dan pada ahkirnya Lusi memilih untuk keluar dari ruangan Leo karena ingin membiarkan Kartika meluapkan perasaannya.
"Leo sebentar lagi aku akan pergi, tuan Bratayudha tidak menghendaki aku, aku memang tidak akan pernah pantas untuk bersanding denganmu"
Kartika terus mengucapkan hal itu sambil menangis,dan pada ahkirnya dia mencium kening Leo dan keluar dari ruangan itu.