
Rania dan Raisa langsung kembali ke kelas...setelah kembali ke kelas, Rania dan Melmel langsung
menuju parkiran motor dan mulai menjalani misi yaitu mencari rumah kak David ...sampai mereka berdua di jembatan 10 mereka berdua sibuk buka bulak-balik google maps...tapi rumah kak David tidak juga ketemui karena tidak ada tanda-tanda sepeda kak David.
“Mell. Lihatin tuh! rumah yang ada sepeda nya.” Ujar Rania.
“Iyaa, Ran.”
Setelah mereka berdua bulak-balik 2 kali melewati perumahan tersebut...mereka tidak sama
sekali menemukan adanya sepeda kak David.
“Mell. Blok 4 itu, ini kan? Rumahnya aja banyak banget dan gak ada, sepeda kak David juga coba. Ya udah lah kita pulang aja, kapan-kapan kita ikutin dia aja, atau ngga! kita cari lagi deh kapan-kapan.” Ujar Rania.
“Ya udah Ran kita pulang aja yaa.”
Satu Minggu kemudian. Ketika hari Kamis sampai dengan hari Jumat(27-29 Juli). Rania tidak
hadir di sekolah karena sedang sakit. Ketika masuk di hari Senin, Raisa bercerita kepada Rania tentang kejadian di hari Sabtu. “Ran. Lu hari Sabtu gak masuk sih.”
“Yah kan gue sakit. Kenapa emangnya?” Tanya Rania.
“Waktu hari Sabtu. Gue,Tuti dan Melmel,Ekaau. Mau ngobrol ya sama Kak David diparkiran. Tapi gak jadi gara-gara banyak temennya kak David. Padahal gue sama yang lainnya, udah tinggal nyamperin kak David doang, kan dia
juga lagi ambil sepeda. Tapii, si Ekaau sama Melmel gak mau coba katanya malu yaudah kita berdua juga akhirnya gak jadi.”
“Ihh, seriusan? Gak jadi! Coba aja ada gue Sa.” Ujar Rania.
“Iya makanya itu! Udah lah lain kali aja gpp.”
Pada hari Sabtu tanggal 4 Agustus. Rania,Raisa serta Tuti ketika pulang sekolah langsung menuju
parkiran untuk bertemu dengan kak David.
“Gila. Ini masih lama apa datengnyaa, panas tau disini.” Ujar Rania.
“Iya juga yaa panas, lagian kak David parkirnya deket pagar belakang sih...Ehh-ehh lihat deh dia baru turun. Untung aja keliatan dari sini.” Ujar Raisa.
“Ihh. Tapi dia mau ke kantin dulu itu.” Ketus Tuti.
Tidak lama kemudian...
“Lah! Itu kak David lagi mau kesini.” Panik Rania.
Seketika kak David melihat ke arah mereka bertiga dan berjalan pelan seperti orang terkejut.
“Ehh...lu merhatiin gak sih? Pas Kak David ngeliat kita dia kayak orang kaget gitu! Kok gue mau ngakak yaa.” Ujar Rania.
“Iyaa...bener Ran, udah-udah diem! Dia mau kesini.”
Seketika mereka bertiga salah tingkah gak karuan. Kak David pun menghampiri sepeda nya.
“Kak David.” Panggil mereka bertiga salah tingkah.
“Pulang dulu yaaa.” Jawab Kak David sambil mengambil sepeda nya.
“Ihh Kak David nanti dulu.” Ujar Raisa.
“Kenapa? Udah ya duluan.” Jawab Kak David.
“Kak foto yuk kak! Sekali aja kak! sekali!” Ujar Raisa.
Dalam hati Rania... “Lah? Gimana mau foto, gue aja gak bawa hp.”
“Gak jadi kak, aku gak bawa hp juga. Udah ya kak, ayok Sa! Balik cepetan.”
“Yahh, yaudah deh...dadah Kak David.” Ujar Raisa.
Jawab Kak David dengan mengangguk-anggukan kepala nya.
Setelah keluar dari parkiran sepeda...
“Saaa, lu inget gak sih. Jumat depan kak David ulang tahun!”
“Lah? Emangnya Jumat depan tanggal 10 ya?”
“Siapa yang ulang tahun?” Tanya Tuti.
“Kak David lah...”
“Hah? Seriusan? Kita ngucapin gak nih?” Tanya Tuti.
“Mau nya sih, ngucapin...tapi nanti dikira sok akrab gak sih sama dia?” Ujar Raisa.
“Yahh gpp lah, kita kan ngefans doang sama dia, tapi lihat aja nanti kalau ada waktu.”
“Iya deh...mudah-mudahan waktu nya bisa pas-pas an pulang sekolah nya.” Ujar Rania.
Satu Minggu kemudian tepatnya pada hari Jumat,10 Agustus 2018 adalah dimana hari kak David ulang tahun...selagi pelajaran bahasa Inggris...atau bisa dibilang itu adalah jam pelajaran terakhir. Rania dan Raisa
sibuk merencanakan bagaimana agar bisa mengucapkan selamat ulang tahun ke kak David.
“Gimana ya Ran. Ngucapin kak David ultah nya?” Tanya Raisa.
“Sekarang gini aja deh, kalau kita pulangnya bisa barengan sama Kak David. Kita bisa Sa! Ngucapin ultah ke kak David.” Ujar Rania.
“Berdoa aja deh...supaya pulangnya cepet-cepet.” Ucap Raisa.
“Ya Allah...di hari Jumat yang berkah ini, jika engkau berkehendak...tolong Ya Allah...izinkan lah saya dan teman-teman saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk kak David. Rania mohon Ya Allah...tolong kabulkanlah...Aaamiiin.” Ucap Rania.
“Nah, bagus Ran. doa lu.”
“Aminin dong!”
“Iyaa, Amiin.” Ucap Raisa.
“Ekaau! Nanti kamu mau main sama aku kan? Di kelas, kita tungguin si Raisa agama. Main sama si Melmel juga kok.” Ujar Rania.
“Iyaa, Ran.”
“Nanti kan si Melmel piket nih...lu ikut kita aja yaa, ke parkiran. Kita ucapin kak David selamat ulang tahun.” Ujar Raisa.
“Hah?! Kak David ultah? Serius?” Tanya Ekaau terkejut.
“Ih! Ini manusia! Kan waktu itu aku udah bilang kalau kak David itu ultah tanggal 10 Agustus.” Ketus Rania.
“Tapi, kira-kira dia bohong gak sih?” Tanya Raisa.
“Nah maka dari itu! Gue juga malu pas kita ucapin, dia bilang gini lagi... siapa yang ultah coba tapi kalau dia bilang kayak gitu tinggal kita jawab aja lah berarti kak David waktu itu bohong dong!”
“Oh iya juga yaa! Waktu itu aja sebenernya gue ragu kalau rumahnya di jembatan 10...pas kita tanyain nama jalannya aja...dia lupa! Masa iya bisa lupa nama jalan rumah sendiri.” Ketus Raisa.
“Wah! Itu! Kak David lewat kelas. Udah pakai tas.” Ujar Raisa panik.
“Ya Allah...tolong bantulah kami Ya Allah...” Ucap Rania.
Kring!! (Bell pulang sekolah berbunyi) “Oke, kalian semua boleh pulang!” Ujar Miss.Ranti.
“Ya Allah...terima kasih Ya Allah...” Ucap Rania sujud syukur.
“Ihh, Ran. doa lu manjur!”
“Ya udah Sa! Jangan lama-lama sekarang kita ke parkiran.”
“Iya ayok Ran.”
Mereka bertiga langsung lari menuju parkiran sepeda...ketika masuk parkiran. Mereka melihat
sepeda kak David ada tepat di dekat, pagar belakang sekolah.
“Ituu, sepeda kak David disini lagii.” Ujar Ekaau.
“Ya udah ayok! Itu udah ada orangnya. Kita jalan pelan-pelan aja! Nanti kita kayak seolah-olah ngelewatin kak David terus...ngucapin ultah deh, ke dia. Tapi harus bareng-bareng ya!” Ujar Rania.
“Iya-iya.”
Dan di parkiran tersebut lumayan banyak orang karena baru pulang sekolah. Mereka bertiga pun berjalan pelan-pelan sambil bergandengan tangan, ketika kak David melewati mereka...mereka pun memanggil dia.
“Kak David!” Panggil mereka bertiga.
Rania pun berkata... “Kak David! Ultah ya? HBD yaa!” Ujar Rania salah tingkah dengan percaya dirinya.
Setelah kak David mengambil sepeda nya, dia pun melewati mereka dan berkata... “Duluan-duluan ya.”
“Ya Ampuun!” Seru mereka bertiga.
“KAK DAVID! HBD YA! SEMOGA KAK DAVID MAKIN GANTENG!” Jerit Rania.
“Udah 2 kali loh Ran. Dia ngomong duluan ke kita.” Ujar Raisa.
“Iyaa, ya Allah terharuu!”
“Ya udah lah, ke kelas aja yuk! Gue juga udah mau mulai pelajaran agama.” Ujar Raisa.
Mereka berdua pun menuju kelas serta Raisa memasuki kelas pelajaran agama. “Raniaa, beli minuman
yuk haus.” Ajak Ekaau.
“Hmm, ayok deh.”
“Ah! Parah nih. Masa aku ditinggalin sih.” Ketus Melmel.
“Ya elah Mell, bentar doang janji dah! kamu mau nitip gak?” Tanya Rania.
“Ya udah deh...aku nitip nih.” Ujar Melmel.
“Nah gitu dong! Minuman rasa apa aja ya.”
“Iyaa.”
Rania dan Ekaau langsung menuju tempat penjual minuman tersebut...setelah selesai membeli.
Rania dan Ekaau langsung menuju lagi ke sekolah, sesampainya di sekolah...ada Agy yang sedang menunggu jemputan di kelas.
“Lahh, Agy...belum pulang?” Tanya Rania.
“Iya nihh, Ran. boleh minta tolong anterin aku pulang gak?” Ujar Agy.
“Bukannya gak mau nih, masalahnya kita mau cari rumah kak David sekarang...” Ujar Rania.
“Hah? Rumah kak David? Aku tau rumah kak David dimana...waktu aku lagi nganterin Hani pulang ke rumahnya. Aku sama Hani ngeliat kak David di jembatan 7. Aku tau Ran. Gang rumahnya.” Ujar Agy.
“Hah? Serius? Tapi kak David bilang ke kita rumah nya di jembatan 10 tauu! Salah lihat mungkin kamu...tapi bisa jadi kak David waktu itu bohong.”
“Tapi Ran, jembatan 7 sama 10 itu deketan.” Ujar Melmel.
“Coba aja Ran, kita cari tau. Mau gak? Sekalian nganterin aku pulang ya hehe.” Ujar Agy.
“Ayok, Gy. Cepetan buru, tapi kamu beneran gak salah lihat orang kan?”
“Ngga lah Ran. Aku yakin kalau itu pasti kak David.”
“Tapi kamu beneran mau, bantuin aku nyari tau rumah nya?”
“Mauu, kan aku yang ngajak Rania! Ayok buruan.”
“Oke. Mel,Ekaau kalian berdua tunggu disini ya! Jangan kemana-mana sebelum aku balik oke!”
“Iyaa Ran.”
“Pokoknya kalian harus doain kita ya, inget ini Jumat berkah.” Ujar Rania, meninggalkan kelas.
“Okee. Siap Ran.”
“Agy. Ayok buruan.” Ujar Rania bersemangat.
“Iyaa-iyaa.”
Sesampai Rania dan Agy di jembatan 7...
“Nih...waktu itu Kak David belok kesini Ran.”
“Mudah-mudahan ketemu ya Gy.”
“Iyaa, Aaamiin Ran. Liatin rumah nya satu-satu, kali aja ada sepeda kak David.”
“Iyaa Gy.”
Ketika mereka keluar dari gang.
“Yah Ran...kok gak ada ya?”
“Yahh, yaudah deh kita pulang aja, tapi btw kamu tau Alibaba Futsal gak dimana?” Tanya Rania.
“Ohh, Alibaba Futsal. Iya aku tauu, yaudah sekarang kita kesitu aja ya.”
Ketika sampai di Alibaba Futsal.
“Ran, ini Alibaba Futsal. Kamu tau dari siapa kalau rumah Kak David deket sini?”
“Waktu itu kak Nehha, pernah bilang ke aku, kalau rumah kak David itu deket Alibaba Futsal
perumahan...(seketika Rania menolehkan pandangannya ke arah kiri) AGY! AGY! INI PERUMAHAN BLOK 4! RUMAH KAK DAVID.” Ujar Rania sangat terkejut.
“Hah? Yang mana Ran?”
“Ini.”
Tanpa basa-basi Agy langsung menjalankan motornya. Dalam Hati Rania...”Si Agy mau kemana dah? Yahh pulang deh.”
Tiba-tiba Agy membelokan motornya ke arah tempat tadi.
“Lah, Gy? Kita mau kemana dah?”
“Katanya mau tau rumah kak David, yah masuk kesini kita.”
“Aku kira kamu tadi pengen buru-buru pulang.”
“Yah ngga lah Ran, aku juga pengen tau. Rumah nya dimana.”
“Oh iya-iya deh. Bagus Gy.”
“Sekarang kamu liatin yaa rumahnya satu-satu, ada sepeda kak David atau ngga.”
“Tapi btw, dia sholat Jumat gak ya?”
“Lah, mana aku tau.” Ujar Agy.
Ketika mereka berdua melewati gang tersebut...
“Ya Ampuun Gy. Gak ada coba sepeda nya.”
“Ihh ayok, coba cari lagi.”
“Kita kan tadi juga udah kesini Gy, tapi gak ada tanda-tanda sepeda ka David.”
“Kita kan belum belok kesini Ran.” Ujar Agy yang membelokan motornya di suatu jalan.
Dalam Hati Rania... “Aduh ada orang lagi, mau sholat jumat. Malu deh gue, jangan-jangan itu kakaknya kak David. Ah tapi mana mungkin.” Sembari buang muka. Dengan sangat percaya dirinya. Agy berhenti
di depan orang yang Rania bilang mungkin itu kakak dari kak David. Dan berkata.
“Rania-Rania! Itu Ran.”
“Apaan si! Malu-maluin aja. Udah buruan jalan.”
“Ituu, sepedanya kan?”
Rania pun langsung menolehkan pandangannya ke arah yang Agy tuju. Rania pun terkejut ketika melihat sepeda kak David.
“Ahh. Iya itu bener! Gy jalan deh sekarang.”
“Mau ngapain.”
“Udah jalan aja dulu.”
Ketika ditikungan ternyata ada lapangan dan Rania pun berkata.
“Ngapain si belok kesini?” Tanya Agy.
“Ih. Sadar gak si! Tadi itu orang yang ada di depan rumah kak David. Ngeliatin kita mulu tau, kayak orang kebingungan. Tadi si aku mikir nya itu abangnya, nanti aja kita balik lagi, kalau itu orang udah pergi, aku rasa dia mau solat jumat.”
“Oh iyaya, kok aku ngga sadar sih.”
“Kok kayaknya aku...kayak kenal tempat ini deh.” Ujar Rania.
“Kenapa?”
“Aku baru inget Agy! Waktu aku sama si Melmel nyari rumah kak David. Aku tuh lewat sini
sampai 2 kali. Tapi kok aku gak sadar yaa, kalau itu rumah kak David, mungkin karena waktu itu gak ada sepeda Kak David kali yaa.” Ujar Rania.
“Hmm, mungkin.”
“Yaudah sekarang kita, balik lagi deh. Sekalian aku nganterin kamu pulang.”
“Oke.”
Ketika mereka berdua melewati rumah kak David kembali. Tiba-tiba Agy berjerit di depan rumah kak David memanggil namanya.
“Kak David!” Jerit Agy.
“Hahahaha iyaa-iyaa.” Ujar Agy tertawa.
Ketika jalan menuju rumah Agy. “Jangan Sampai deh, tadi ada kak David di rumah, mudah-mudahan aja dia lagi sholat Jumat.” Ujar Rania.
“Oh iya-yaaa hahaha.”
“Oh iyaa, btw Agy makasih banyak yaa, udah mau bantu cari rumah ka David. Udah deh kamu berjasa banget bagi Mirugan haha.”
“Yaelah santai kali Ran. Kan sekalian kamu nganterin aku pulang.”
“Iya deh.”
Setelah mengantar Agy pulang ke rumah, Rania langsung kembali lagi ke sekolah, sesampai ia di sekolah. Ia langsung berlari menuju kelas, dan membuka kencang pintu tersebut.
“Ehh. Raisa belum selasai Agama ya?” Tanya Rania.
“Lah belum, gimana ketemu gak rumah Kak David nya?” Tanya Melmel dan Ekaau.
“Entar dulu. Cerita nya panjang, aku capek banget! Haus pula, mau minum dulu.”
Setelah itu Rania menceritakan semua kejadian tadi.
“Lah? Serius. Rumah ka David itu, yang kita pernah lewatin Ran?” Tanya Melmel.
“Iyaa, Mell. Beneran aku aja kaget, mungkin waktu itu kita gak nemuin rumah nya, soalnya gak ada sepeda nya.”
“Mungkin kali yaa.”
“Ran. Kakak nya Kak David, ganteng gak kayak kak David?” Tanya Ekaau.
“KAGA! NGGA SAMA SEKALII EKAAU! BEDA BANGET SAMA ADIK NYA. Tapi menurut aku si ya, soalnya
gak ngeliat jelas juga. Tapi pas aku lihat juga gak mirip ah sama kak David.”
“Lah, katanya kakaknya cewek.” Ujar Melmel.
“Gak tau juga sih, itu kakaknya apa bukan.”
“Ran. Ayok ke rumah kak David, gak usah nungguin Raisa, pasti lama.”
“Ahh mau ikut!” Ujar Ekaau.
“Ah udah Ekaau. Lu nungguin si Raisa pulang aja!” Ketus Melmel.
“Udah apa gak usah ribut. Sekarang kita bertiga ke sana, Ayok.” Ujar Rania.
“Hah? Bertiga?” Ujar Ekaau dan Melmel.
“Naik apaan?” Tanya Melmel.
“Yah boti(bonceng tiga) emangnya mau jalan? Jauh tau!” Ketus Rania.
“Masa Boti si Ran. Ekaau udah apa lu gak usah ikut aja.”
“Ngga ah. Aku mau ikut, ogah banget disini sendirian.”
“YAUDAH MAKANYA KITA BOTI AJA! “ Ketus Rania.
“Yaudah terpaksa ini juga. Ekaau si.” Ketus Melmel.
“Kenapa si lu Mel.” Tanya Ekaau, tertawa.
“Udah apa udaah sayangg. Istighfar.” Ujar Rania.
Ketika ingin mengambil motor...
“Ran, aku aja yaa. Yang bawa motornya.” Ujar Ekaau.
“Apasi Ekaau! Emang lu bisa bawa motor?” Ketus Melmel.
“Udah apa Mell. Gak usah marah-marah mulu Ya Allah.” Ujar Rania.
“Yah bisa lah gua bawa motor.” Ketus Ekaau.
“Gini aja. Aku bawa sampai rumah kak David! Nanti pas pulang baru kamu yang bawa ya! Kan kamu gak tau jalan rumah nya.” Ujar Rania.
“Nah yaudah gpp.”
Ketika sampai di gang rumah kak David.
“Ihh gilaa, aku malu banget boti lewat rumah dia.” Ujar Rania.
“Yaudah aku aja sini yang bawa motornya.”
“Yaudah nih.”
“Lah aku duduk dimana?” Ujar Melmel.
“Ditengah ya Mel. Aku yang di belakang hehe.” Ujar Rania.
“Yaudah deh.”
Ketika hendak melewati rumahnya...
“Itu-itu rumahnya yang diluar ada motor warna merah.” Ujar Rania.
“Ran. Jangan-jangan kak David mau keluar lagi.” Ujar Melmel.
“Ekaau, buruan bawa motornya jangan lama-lama.” Ujar Rania.
Ketika mereka belok ke arah lapangan itu...
“Ih Rania. Itu kak David mau pergi jangan-jangan.” Ujar Melmel dan Ekaau.
“Aku mau nanya deh, emang kak David bisa bawa motor?” Tanya Rania.
“Lah mana aku tau, bisa kali Ran. Dia kan jago bawa sepeda.” Ujar Melmel.
“Tapi kok gak ada sepeda nya si?” Tanya Ekaau.
“Iyaa, makanya itu aku juga bingung jangan-jangan dia lagi keluar lagi.” Ujar Rania.
“Yaudah sekarang kita balik lagi aja, ini kan gak ada jalan lagi.”
“Ada Mel. Itu yang diatas yang pernah kita lewatin.”
“Lah itu bukannya kampung? Kata kamu jalannya ditutup.”
“Eh gak tau juga si, udah deh buruan kita balik lagi ke sekolah. Kali aja Raisa udah
selesai agama.” Ujar Rania.
Ketika di jalan...
“Ehh Ran. Btw itu yang kamu bilang abang nya kak David ya? Yang di depan pagar tadi? Yang
lagi pakai sarung.”
“Iyaa itu yang aku maksud, biasa aja kan? Beda banget sama adiknya haha bercanda.”
“Ihh tapi lumayan tau Ran.”
“Ihh itu yang di pagar aku gak lihat jelas, yang aku lihat di depan pintunya ada ibu nya
kalau gak salah.” Ujar Melmel.
“Lah kok aku gak lihat ya.” Ujar Rania.
“Iyaa ada tau Ran, di depan pintu.” Jawab Ekaau.
“Iya deh.”
Ketika sampai di sekolah ada Raisa yang baru saja memasuki kelas.
“Raisaa!!” Jerit Rania,Melmel,Ekaau yang memanggil Raisa.
Raisa yang sangat terkejut ia pun langsung menutup dan mengunci pintu. “Lah kok malah masuk kelas si! Oneng banget. Udah tau kita mau ngasih kabar gembira.” Ujar Rania.
“Udah ayok samperin.” Ujar Melmel.
Mereka bertiga akhirnya berlari menuju kelas dan berjerit memanggil nama Raisa.
“Saaa! Saaa! Buka Saa! Kita punya kabar gembiraa.”
Raisa masih tidak mau membuka pintu kelasnya.
“Heh gak jelas lu! Buka pintunya yaudah kalau gak mau tau.” Ketus Melmel.
“Apaan emang hahaha.” Ujar Raisa, tertawa.
“Yaudah bukain dulu pintunya.” Ketus Rania sambil mengetuk keras pintu kelas.
“Iyaa, apaan dulu.”
“KITA UDAH TAU DONG RUMAH KAK DAVID DIMANA! PUAS LO!”
“Hah? Serius lu?” Ujar Raisa sambil membuka pintu tersebut.
“Penting nih berita. Main ngunci pintu aja gak jelas lu.” Ketus Rania.
“Haha maap, dimanaaa rumah kak David?” Tanya Raisa penasaran.
“Di jembatan 10 laah, deket Alibaba Futsal.”
“Berarti bener dong kata dia.”
“Udah yaaa, aku mau pulang duluan, ojek online nya udah dateng.” Ujar Ekaau.
“Iyaa, aku juga ya...” Ujar Melmel.
“Yaudah iyaa, hati-hati yaa.”
“Ehh tadi kok lu bisa sii, nemuin rumah kak David?” Tanya Raisa.
“Gue tadi nyari bareng si Agy. Terus ngeliat sepeda nya kak David.”
“Lah? Sama Agy? Gue kira sama si Melmel.”
“Iyaa, udah deh. Cerita nya besok aja ya. Sekarang kita pulang.”
“Yaudah deh, tapi masa gue penasaran Ran. Rumah kak David dimana.”
“Mau kesana? Ayok aja gue mah.”
“Ngga deh, besok aja.”
“Yaudah.”
Ketika diluar gerbang...
“Sa. Ayok naik.”
“Lah? Gue bareng lu nih?” Tanya Raisa.
“Yaiyalah, sekalian aja gue juga mau pulang.”
“Oh yaudah.”
Ketika diperjalanan pulang Rania bercerita tentang yang tadi...
“Tadi tau gak sii, di depan rumah kak David ada motor warna merah, di taruh di luar gitu,
jangan-jangan dia mau keluar lagi...oh ada abangnya juga.”
“Lahh, emang kak David bisa bawa motor hahaha. Siapa tadi abang nya? Ganteng gak? Mirip gak?
Abangnya mungkin yang mau bawa motor.” Ujar Raisa.
“Biasa aja ah abangnya mah cakepan adiknya hahaha.”
“Ihh. Penasaran sama muka abangnya.”
“Yaudah kapan-kapan lihat haha.”
Ketika hendak melewati SPBU...
“Itu Raan.”
“Hahaha ada si beler.” Ujar Rania, tertawa.
“Iya haha.”
“Jangan-jangan ada kaak....” Ujar Rania dan Raisa.
“Raniaa. Itu kak David Ran. Pakai motor merah yang lu bilang tadi.”
“Iyaa, Sa. Gue juga ngeliat, sama cewek lagi. Jangan-jangan pacarnya.”
“RAN KEJAR RAN! BURUAN!”
“IYAA Saa, gue muter balikin motor dulu.”
“RAN BURU KEJAR RAAN!”
Disitu Rania langsung membawa motornya dengan kecepatan 60km. Tanpa memikirkan orang-orang disekitarnyaa. Dia pun mengelaksoni orang-orang disekitarnya sambil berteriak.
“Kak David! Tungguin.”
“Ran jangan ngebut juga!”
“Tadi katanya kejar, dia aja bawa motornya ngebut banget itu.”
“Ngebut tapi pelan Ran.”
“Mana bisa ngaco aja lu.”
“Itu siapa si cewek! Dasar pelakor.”
“Hah? Pelakor? Ekaau dong.” Ujar Rania. (Bercanda gais).
Ketika sampai di jembatan 4 kak David mulai pelan membawa motor yang ia kendarai.
“Sa. Hafalin tuh plat nomor nya.”
“Apa-apa?”
“KGA.”
“Ohh oke-okee.”
“Ran dia ngebut lagi! Kejar Ran. Salip dia Ran!”
“Sabar Apa!”
Ketika mendekati kak David.
“Nah ini baru bisa nyalip dia. Nanti gue ngebut ya Saa. Lu yang manggil dia.”
“Iya buruan! satu dua tiga.”
“Kak David.” Panggil Raisa sambil melambaikan tangannya.
“Iyaaa.” Jawab kak David tersenyum.
“Tumben dia jawab.” Ujar Rania.
“Lahh kak David kok lurus sii.” Ujar Raisa.
“Wah iyaa, gue kira dia belok yaa. Tadi mah kita ikutin, jangan-jangan dia mau ke rumah
lagi, tapi kok bawa-bawa tuh cewe si.” Ujar Rania.
“Kak David arah rumah nya kesana?” Tanya Raisa.
“Iyaa.”
“Tapi kayaknya itu temen kelas nya deh.”
“Mungkin Ran.”
“Lu sadar gak sih Sa...dari tadi kita beruntung mulu. Yang pertama kita udah ngucapin kak
David ultah, ketemu rumahnya, sekarang ngeliat dia bawa motor tapi yang nyesek nyaa, kenapa harus sama cewek coba.”
“Iyaya Ran...beruntung banget kitaa. Tuh cewek siapa nya kak David yaa...kalau kesya
lihat auto ngamuk dia.”
“Ya pastilah, kita aja yang ngobrol disindir-sindir gimana dia.”
Ketika sampai di rumah Rania langsung menceritakan hal tersebut kepada Afe,Ekaau,Melmel dan Tuti lewat telepon.
10 AGUSTUS 2018 :) BENER-BENER SEJARAH KE 2 SELAIN NANTI DI TANGGAL/BULAN SABTU 8 SEPTEMBER 2018.