
“Hafalin dah itu hari ulang tahun cogan! Tanggal 10 Agustus.” Ujar Rania.
“Iyaa.”
Pada hari senin Rania dan Raisa bercerita tentang apa yang mereka berdua tanyakan kepada kak David...
“Guys! Catat ya. Ultah kak David tanggal 10 Agustus, berarti 4 Bulan lagi...dia ultah. ucapin kuy.” Ujar Rania.
“Ayok! Kita kasih apa yaa, buat kak David?” Tanya yang lain.
“Lihat nanti aja deh...”
Setelah PKK(Penilaian Kenaikan Kelas) selesai. SMK melaksanakan Pesantren Kilat, pada hari Senin sampai
dengan hari Rabu. Sedangkan SMP akan melaksanakan pada hari Rabu, berhubung Rania bendahara kelas, pada hari senin ia pun datang ke sekolah untuk menagih uang buka bersama, di sekolah ia hanya bertemu dengan Fasya.
“Raniaa!.” Panggil Fasya.
“Ehh, Syaa. Kamu sendiri?”
“Iyaa, ini aku mau bayar uang Sanlat(pesantren kilat).”
“Iyaa-iyaaa, kamu tadi lihat Raisa dateng gak?” Tanya Rania.
“Hah? Raisa? Ngga tuh, aku baru dateng Ran.”
“Oh, yaudah gpp, ini gak ada yang dateng lagi kali ya? Mau langsung ke Bu Nur aja deh aku.” Ujar Rania.
“Iya mungkin. Aku duluan pulang ya Ran, udah dijemput.”
“Oke-oke, hati-hati yaa.”
“Oke, Ran.”
Rania pun langsung menyetorkan uang tersebut ke wali kelasnya. Ketika sedang menyetorkan uang
tersebut...seketika Rania menolehkan pandangannya ke arah lantai tiga...dan ia melihat teman dari kak David.
“Hah? Itu kak Miftah kan? Wahh jangan-jangan ada kak David juga. Oh iyaa, kan hari ini SMK Sanlat.” Dalam hati Rania.
Setelah itu, Rania pulang ke rumah. Keesokan harinya pada pagi hari grup kelas Rania, sedang ramai
membicarakan tentang Sanlat(Pesantren Kilat) tiba-tiba Rania berkata...
“Kira-kira nanti sanlat, bisa keluar kelas gak ya? Sumpah pengen banget ngeliat kak David aku, oh iyaa...kira-kira kak David sanlat gak ya...bisa gak sih? Kalau sekolah kita tuh sekolahnya dari pagi sampai malem?
Tapi free class terus gitu wkwk.”
Hani pun menjawab...
“Setau aku sih...gak bisa, soalnya aku juga panitia kemarin.”
“Yahh...”
“Lagian, ngapain si Ran. Nyari cogan mulu, kita tuh udah mau kelas IX udah mau menghadapi banyak ujian, kamu tuh harusnya berubah. Jangan apa-apa kak David terus, keluar-keluaran kelas terus. Kasian tau Afe,
ditinggal-tinggal mulu sama kamu...kamu sama Raisa enak-enakan diluar, sedangkan Afe? Sendirian di kelas, dipojokan sambil main hp. Mikir dong!” Ketus Hani yang menseriuskan perkataan Rania yang hanya bercanda.
“Ya Allah, Ni. Aku tadi Cuma bercanda, lagian kalau setiap aku keluar kelas aku selalu ngajak Afe juga kok, Cuma Afe nya aja yang emang gak mau ikut.” Jawab Rania.
“Udaah-udaah gak usah ribut.” Ujar Afe.
“Afee, maafin aku yaa, kalau selama ini aku suka ninggal-ninggalin kamu di kelas sendirian...tapi kan aku selalu ngajak kamu kan fe, kalau mau kemana-mana, Cuma kan kamu nya aja yang gak mau ikut.” Balas Rania, yang merasa bersalah.”
“Yah tapikan...kamu harusnya ngikutin kemauan sahabat kamu Ran, Afe kan mageran, dia mau nya di kelas. Harusnya kamu nemenin dia dong!” Ketus Hani.
“Maafin aku yaa fee, sekali lagi.”
“Iyaaa, gpp Ran.”
Melmel yang biasanya ikut Rania untuk mengejar-ngejar kak David, kini ia ikut menyalahkan Rania dalam hal ini.
“Tau kamu Ran! Kasian tau Afe, kamu tinggal-tinggal terus.”
“Lah? Kamu kan juga ikut aku Mel, kalau lagi ngejar-ngejar kak David.” Ujar Rania.
“Iyaa emang, aku gak bakal mau ikut kamu lagi. Ajaran sesat tau gak!.”
Ketika Rania membaca pesan tersebut...ia langsung berlinang air mata(Nangis) dan tidak bisa berkata
apa-apa lagi...antara sedih dengan ia sudah mengabaikan Afe...atau perkataan Melmel yang ikut menyalahkan Rania juga. Sedangkan Melmel pun ikut Rania dalam menjalankan misi pemburu cogan. Dan seolah-olah disini hanya Rania yang selalu saja disalahkan, padahal Raisa,Tuti, serta Ekaau pun sahabat dari Afe juga.
Rania yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya ia pun mengalihkan pembicaraan.
“Gais-gais...sebentar lagi kan mau ambil raport, besok jangan lupa bayar uang kas yaa...berapa jumlah
nya uang kas kalian, nanti gue chat satu-satu yaa.”
Setelah mengirim pesan itu...Rania pun mengirim pesan kepada Hani...dan memberi tahu berapa jumlah
uang kas yang belum ia bayar. Tanpa basa-basi dia langsung menscreenshot pesan tersebut dan menjadikan pesan tersebut sebagai Snap WhatsApp. Dengan Caption...
(Lahh, gara-gara dia...uang kas gue numpuk...lagian setiap mau bayar uang kas, dia pasti lagi nyari cogan terus! Aduh...udah Ran udah mau kelas IX udah harus banyak berubah).
Ketika Rania membaca caption tersebut, dalam hati dia...dia pun berkata. “Perasaan, gue selalu nagih uang kas nya ke dia dan ke yang lain lancar deh...tapikan biasanya dia yang selalu nunggak-nunggak kalau bayar.” Karena
Rania tidak mau memperpanjang masalah dia pun hanya menangis dan berpikir. “Apa mungkin gue salah banget yaa? Sampai diginiin pertama gue dimalu-maluin di grup kelas...dan sekarang di Snap WhatsApp. Biar apasi?”
Akhirnya ia pun membalas SW Hani dengan berkata. “Maaf yaa Ni. Gara-gara aku uang kas kamu numpuk hehe.” Sambil nangis sesegukan.
Hani pun berkata lagi...
“Nanti kalau udah kelas IX, harus beli gembok kelas supaya kamu gak keluar-keluar kelas lagi haha.”
“Iya deh, beli yaa, biar aku gak bisa keluar kelas lagi. Oke!”
Rania masih tak sanggup menahan air matanya...dan akhirnya ia curhat terhadap Tuti tentang masalah itu...Tuti pun ikut kesal dengan Hani...apalagi dengan Melmel yang ikut menyalahkan Rania. Tuti ingin menceritakan hal ini terhadap Raisa. Tetapi Rania bersikeras untuk tidak bilang ke Tuti agar dia tidak mengatakan tentang hal ini
kepada Raisa. Agar masalah tidak diperpanjang lagi. Keesokan harinya ketika jam shalat Ashar di pesantren kilat, siswa dan siswi SMK mengadakan acara di lobby sekolah. Ketika ingin mengambil air wudhu...Rania melihat kak David duduk dibagian paling depan, sebenarnya Rania sudah tidak terlalu memikirkan soal kak David
lagi karena persoalan kemarin...tetapi! setelah Rania melihat kak David lagi, dia langsung menarik Afe untuk melihat kak David.
“Fe! Ayok Fee! Ikut akuu, kita lihat kak David, itu ganteng banget Fe!.”
“Ihh mau ngapain!”
“Kitaa wudhu sekalian ngeliat kak David, lihat deh! Anak VIII.5, pada ngeliatin kak David cobaa! Jangan mau kalah kita.” Ujar Rania.
“Rania, apaan sih! Cogan mulu.” Ketus Melmel.
“Hahaha, udahlah ayok kita wudhu, oh iyaa, btw Raisa di Lantai 4 ya?.”
“Iyaa, kayaknya.” Jawab Afe.
Setelah melaksanakan shalat magrib berjama’ah, mereka semua diizinkan untuk pulang,
ketika ingin keluar dari sekolah...Rania melihat kak David yang sedang melipat sajadahnya.