THE STORY OF MIRUGAN

THE STORY OF MIRUGAN
#31.Kisah Rabu.



Keesokan harinya pada hari Rabu, tepatnya pada waktu jam solat zuhur. Rania beserta teman-temannya menuju musolah karena ingin melihat kak David yang sedang sholat.


“Fe, kita solat di rumah aja yaa. Aku gak bawa mukena soalnya, gak enak kalau pakai mukena Musolah.” Ujar Rania.


“Iya, di rumah ajaa.”


“Ran, toilet yuk! Sekalian kita lihat kak David sholat.” Ajak Raisa.


“Oh, iya...ayok, tapi gpp nih?”


“Lihat aja, temen-temen kita aja, lagi pada diluar.”


“MAUU IKUT!” Seru Melmel,Ekaau dan Tuti.


“Ayok.”


      Ketika mereka ingin keluar kelas, tidak sengaja mereka menolehkan pandangan ke arah jendela.


“Ihh, itu. Temen-temen kak David kan? Yang di lantai 3, dia mau turun ke bawah tuh!” Seru Rania.


“Tapi, gak ada kak David coba.” Ujar Raisa.


“Mungkin aja, kak David udah ada di musolah duluan, mana kita tau.”


“Ya udah cepetan ayok.”


      Mereka berlima langsung turun kebawah menuju musolah, setelah sampai dibawah.


“Nah, mendingan kita lewat tengah lapangan aja.” Ujar Rania.


“Emang kenapa?”


“Itu, lihat deh di atas, banyak temen-temen kita. Kita panas-panasin aja kalau kita mau ketemu kak David.”


“Nahh, boleh juga tuh.” Ujar yang lain.


     Mereka pun menuju musolah dengan melewati lapangan.


“WOII! MAU KEMANA LU PADA?” Cibir teman kelas.


“Ayok sini ikut! Biasa lahh, urusan beda lagi.” Ujar Rania dan Raisa.


“Pasti, mau lihat kak David.”


“Betul sekali anda! Byee!” Ujar Rania sambil melambaikan tangan.


       Ketika sampai di musolah...


“Ihh, kok gak ada kak David sih, jangan-jangan gak sholat lagi.” Ketus Rania.


“Wah, jangan-jangan dia gak masuk Ran.” Ujar Raisa.


“Jangan-jangan iyaa, ya udah lah, kita ke toilet aja.”


 “Ya udah ayuk.”


“Eh, gue duluan masuk ya.” Ujar Raisa.


“Sa, bareng sama gue ya.” Ujar Ekaau.


“Ya udah lah, ayok.”


“Aku, juga deh ke toilet, yang samping.” Ujar Melmel.


  Tidak lama kemudian ternyata ada kak David yang baru selesai sholat.


“Raniaa! itu bukannya kak...” Ujar Tuti.


“Siapa?” Tanya Rania menolehkan pandangan.


“YA ALLAH...TUTI!! ITU KAK DAVID?” Ujar Rania terkejut.


“Iyaa, bener Ran. Itu dia lagi pakai sepatu, Panggil! Si Raisa suruh buruan!” Seru Tuti.


“Oh iya Iya...SA! KA! MEL! ITUTUU! ADA KAK DAVID! LAGI PAKAI SEPATU HABIS SHOLAT! BURUAN DEH KELUAR!!” Jerit Rania sambil mengetuk pintu keras-keras.


“Ihh! Serius lu.” Ketus Raisa.


“Ngapain sih! Gue bohong! Udah lu cepetan deh.” Seru Rania.


“Inini! Si Ekaau lama banget. Ekaau, cepetan apa!”


“Kenapa sih?” Tanya Melmel.


“Itu Mel, yang lagi pakai sepatu deket pohon.”


“Kak David? Beneran? katanya gak masuk...”


      Raisa dan Ekaau pun keluar dari toilet.


“Mana? Kak David.” Tanya Raisa.


“Itu, lagi pakai sepatu.”


“Ngga! gak mau gue...maluu.” ketus Rania.


“Udah sih...ayuk ngapain malu.” Ujar Raisa sambil menarik tangan Rania.


“Pokoknya gue gak mau ya. Kalau lu pada mau lewat situ, silahkan! gue mau lewat sana aja, tapi kok males banget sih, lewat kelas si Kesya, entar gue disindir-sindir lagi.” Ujar Rania.


“Ya udah maka dari itu lewatin kak David aja.”


“Ngga! lu aja sana gih.” Bantah Rania.


“Ah, lama ngajak Rania...ya udah guys kita lewatin kak David aja, nanti dia keburu pergi lagi.”


“Ya udah sana.” Ketus Rania.


         Akhirnya mereka bertiga menuju kelas dengan melewati kak David, dan Rania jalan sendiri


melewati kelas kak Kesya.


 Dalam hati Rania...     “males banget sih! Entar ketemu sama si Kesya lagi, gue ngeri aja, nanti kak


David lewat kelas kak Kesya mau nyamperin si Kesya! Aduh kelasnya ngapain


segala kebuka sih! Udah pasti nih, dia janjian mau ketemu disini.”


    Tiba-tiba Ekaau memanggil Rania dengan suara lantang.


“RANIAA!”


“Ih, apaan sih! Malu-maluin aja teriak-teriak.” Ketus Rania.


“Ituu! Kak David. Lewat sini dong! wlee.” Cibir Raisa.


“Lah, iyaa. Dia lewat situ, berarti dia gak janjian dong sama si Kesya.” Ujar Rania.


“Ran. Sini buruan! buruan!” Panggil yang lain.


“Tunggu.”


   Rania pun menghampiri mereka melewati pinggir lapangan, dan berlawanan arah dengan kak


David yang ingin naik tangga.


“Untung gue lewat sana. Jadi berhadapan kan gue sama kak David huu.” Cibir Rania.


“Ya udah lah terserah lu.” Ketus yang lain.


“Tadi, gue kira kak David itu bakalan lewat sana, gara-gara janjian sama si Kesya, soalnya kelasnya kebuka.”


“Huu. Udah pasti tuh! dia nungguin kak David lewat.” Ketus Raisa.


“Biarin ajalah! Pacarnya ini.”


“Ah, gak yakin aku kalau dia pacarnya!” Ketus Tuti.


“Ya udah. Biarin aja, ke kelas aja lah yuk!”


     Ketika pulang sekolah...semua teman-teman Rania sudah pulang, Rania sengaja pulang terlambat


karena ia tau, kalau kak David masih ada di kantin.


“Aduh, gue nunggu dimana yaa. Disini aja deh.”


       Tiba-tiba ada adik kelas ia yang menghampirinya.


“Eh, kak Rania.” Panggil adik kelas Rania.


“Iyaa, kamu ngapain? Kok belum pulang?” Tanya Rania.


“Lagi tunggu jemputan kak.”


“Oh, iyaiyaa...ituu!”


“Itu apa kak?” Tanya adik kelasnya.


 “Sini-sini. Lihat deh, yang baru keluar dari kantin...ganteng banget ya! Pacar aku ituu.”


“Itu pacar kakak? Ihh ganteng banget.”


“Ehh, ngga-ngga bercandaa, bukan pacar aku dia, gak mungkin lah haha, dia itu kakak kelas kita, masa gak pernah lihat.” Ujar Rania sambil tertawa.


“Kirain hehehe, kak dia lewat tuh.”


“Iyaa, aku panggil ah!. Kak David ganteng!” Panggil Rania.


“Kok, kakak berani sih? Aku kalau jadi kakak malu tau, tapi kok dia gak jawab ya kak?”


“Gak tau dah! Dia tuh setiap dipanggil pasti Cuma senyum, ya udah deh aku pulang duluan yaa.”


“Iyaa kak.”