
“Masa iyaa, kenalan dikacangin lagi sih!”
“Dia itu kan takut sama cewek Raniaaa.” Ujar Raisa.
“Hah? Yakin takut? Dia aja pacaran sama si Kesya kok.” Ketus Rania.
“Oh iya juga yaa, tapi gue gak percaya sih.”
“Iyaa, sama gue jugaa. Kak David itu orangnya cuek banget, masa iya dia mau pacaran.”
“Tapi bener si Ran...kalau kata aku, kak David gak ada tampang-tampangnya orang yang bisa pacaran.” Ujar Afe.
“Iya, Ran. Bener! Aku setuju sama yang dibilang Afe.” Ujar Melmel.
“Ya udah lah, mau bener apa ngga nyaa, kita juga Cuma ngefans kok sama kak David.” Ujar Raisa.
“Iya sih.”
Tibalah saat yang ditunggu-tunggu...yaitu mapel(mata pelajaran) Olahraga ternyata doa mereka terkabul guru olahraga mereka ngga masuk karena sedang berhalangan hadir ke sekolah. “Hah? Pak Ridho gak masuk? Serius?” Tanya Rania kepada Hani.
“Iyaa, katanya dia lagi ada perlu.” Jawab Hani.
“Wahh bagus bangett Ran!”
“Ahh iya Saaa!!, ayok sekarang kita traveling.”
“Ehh ikut apa!” Ujar Melmel,Tuti dan Ekaau.
“Lah ayook!, Fee ikut gak Fee. Ayok cepetan!” Ujar Rania memaksa Afe ikut.
“Ahh gak mauu, mager.”
“Kamu gak bosen apa? Di kelas terus? Mending ikut kitaa Fee, lihat kak David yang ganteng banget itu.”
“Ganteng? Ganteng dari mana si Sa? Ran?”
“Astagfirullah! Terserah kamu deh, jadi kamu gak mau ikut?”
“Idih ogah.”
“Ya udah yakin nih?”
“IYAAAA YA AMPUUN! Udah sana liatin si David.”
“Ya udah ayuk Ran ah! Bye Afe.” Ujar Raisa, menarik tangan
Rania.
“Byee Afee.” Ujar Mereka.
Ketika mereka keluar kelas...ada kak Alif yang lewat kelas mereka dan ingin berjalan ke toilet. “kak
Alif.” Ujar Raisa terkejut.
“Eh iyaa, tadinya gue mau ngajakin lewat kelas dia...tapi udah lewat duluan.”
“Ya udah, Ran. Lewat sana ajaa, kan bakalan ketemu tuh, dia kan mau ke toilet.”
“Ya udah ayok.”
Mereka pun bertemu lagi dengan kak Alif...dan Raisa menyapanya. “kak Aliif.”
“yooo.” Jawab kak Alif.
“Ih Sa!, kok dia gak sombong sih!” Tanya Melmel kagum.
“Iyalah, coba deh sekali-kali lu panggil dia, pasti dia jawab.”
“Dia mah gak kayak kak David, Mel.”
“Ya udah ayok apaa, minta foto sama kak Alif.” Seru Melmel.
“Lah! Kak Alif mah gampang Mel! Ini dulu nih cogan yang satu ini yang paling ribet diantara yang lain.” Ketus Raisa.
“Iyaa, udah paling ganteng, paling ribet pula.” Ucap Rania.
“Ohh kak David ya?”
“Ya iyalaah! Siapa lagiii.”
“Ya udah ayok ah traveling ngapain diem disini.” Ujar Tuti.
“Ya udah ayook, eh kita ke perpus aja yuk...” Ajak Raisa.
“Mau ngapain dah?”
“Nungguin kak David pulang sekolah dong.”
“Ayok aja lah.”
Ketika ingin menuju perpustakaan ada teman kak David yang kami hujat kemarin. “Ett bentar-bentar...itu temennya kak David yang kemarin tuh, yang matanya lagi sakit .” Ujar Rania.
“Lah iyaa-iyaa, kak David gitu yang keluar! Ini dia lagi...dia lagi.” Cibir Raisa.
“Hah? Ekaau, kamu suka sama kak Miftah?” Tanya Rania penasaran.
“Lah, lu baru tau?” Tanya Raisa, tertawa.
“Iyaa beneran dah.”
“Kak Miftah aja sama kak David masih gantengan kak Miftah kalau kata aku Ran.”
“Ekaau! Periksa mata gih sana!” Ketus Rania dan Raisa.
“Tuh-tuh lihat dehh, kakak yang matanya sakit itu turun ke bawah, apa kita tanya tentang kak David sama dia aja ya?” Ujar Raisa.
“Takutnyaa sombong saa!”
“Coba aja duluu, eh itu orangnya udah turun...tapi sabar dia lagi ke toliet.”
“Kita mau nanya apaan duluu, cepetan bikin pertanyaan.”
“Minta nomernya kak Miftah.” Ujar Ekaau.
“Kamu yaa, yang minta.”
“Ngga ah malu.”
“Terus sekarang kita gimnaaaa? Pasti bentar lagi dia keluar deh dari toilet, temennya aja udah keluar.”
“Ya udah sekarang kita samperin ajaa.”
“Samperin yang mana? Yang diluar toilet? gue malu saa.”
“Udah ayok cepetan ah!, tuh kan udah keluar orangnya.”
Ketika teman kak David yang satu itu keluar dari toilet mereka langsung naik ke tangga lantai 3
dan Rania serta yang lain dengan percaya dirinya menghampiri kakak itu. “Kakak! Kak! Tunggu dong sebentar mau nanya.” Panggil Rania.
“Iya kenapa?” Jawab kakak tersebut.
Dalam hati Rania...sumpah ternyata temennya gak sombong...
“Kakak temennya kak David ya?” Tanya Raisa dan Rania.
“Iyaa, kenapa emang?”
“Kak David punya WhatsApp gak sih kak?” Tanya Rania.
“David? Eh coba bentar deh...David punya WhatsApp gak?” Tanya teman kak David kepada teman yang satu lagi.
“Kayaknya si David gak punya Hp deh, setau gue.” Jawab teman kak David.
“Kayaknya gak punya Hp deh...dek.” Ujar teman kak David.
“Kak punya nomer kak Miftah gak?” Tanya Raisa.
“Ohh Miftahul?...iya punya kalau dia mah.”
“Kak boleh minta gak?”
“Iya boleh-boleh kok.” Jawab kakak tersebut sambil mengeluarkan Handphone nya.
“Ekaau! Sinii, mana Hp kamu.”
“Nih Ran...” Ujar Ekaau, memberikan Handphone nya.
“Ran, coba deh tanya namanya yang pake kacamata itu.” Bisik Raisa.
“Kak, temen kakak, yang pakai kacamata itu namanya siapa si kak?”
“Oh ituu, namanya Nugraha, mana yaa nomornyaa Miftah.” Jawab kakak itu sambil mencari-cari nomor kak Miftah.
“Ohh, Nugraha. Mel namanyaa.” Seru gue.
“Nih udah ketemu.”
Setelah mereka mendapatkan nomer kak Miftah...”Kak, makasih banyak yaa.”
“Iya sama-sama.” Jawab kakak itu sambil meninggalkan mereka.
“Lu gak nanya, nama kakak itu siapa?” Ujar Raisa.
“Oh iya lupaa.”
Rania pun mengejar kakak itu...dan menanyakan namanya...
“Kak, Tunggu kak. Btw nama kakak siapa?”
“Nama aku Andika.”
“Oh...okee, makasih kak.” Jawab Rania, meninggalkan kakak itu.