THE STORY OF MIRUGAN

THE STORY OF MIRUGAN
#42.Sejarah 19 Mei 2018.



Pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2018...Mirugan tandai sebagai hari sejarah untuk yang ke sekian kalinya dan paling spesial diantara sejarah yang lainnya...kenapa? pada tanggal 19 Mei 2018 hari dimana. Rania dan Raisa,


berbincang-bincang dengan kak David dengan waktu yang lumayan cukup lama dibanding hari-hari sebelumnya.


  Sebelum kejadian itu, pada pagi harinya...setelah Rania sampai di gerbang sekolah...ia melihat kak David yang sedang menaruh sepeda nya di parkiran, ia langsung berlari menuju kelas untuk meletakan tasnya diatas kursi, setelah itu ia langsung keluar kelas lagi, untuk melihat kak David. “Mau kemana sih? Buru-buru banget.” Tanya Afe.


“Ada kak David baru dateng Fe! Tumben banget dia dateng pagi-pagi banget. Padahal sekolahan juga masih sepi.” Ujar Rania meninggalkan kelas.


     Kak David pun lewat di lantai 3...Rania pun langsung berlari kearah tempat yang dekat dengan


lantai 3...dengan senangnya ia bertemu dengan kak David. Ia pun melihat kak David dengan jarak yang tidak jauh dia pun menolehkan pandangannya ke arah Rania.


    Dalam hati Rania...


“Aduh dia segala ngeliat gue lagi! Malu banget deh.”


     Setelah kak David sampai di kelas...Rania melihat dia yang memasuki ruang kelas temannya...karena


sekolah masih sepi, suara buka pintu itu terdengar sampai lantai 2.  “Buset! Suara pintu nyaa.” Ujar Rania.   Tiba-tiba ada Jihad yang baru datang, dan sedang menaiki tangga menuju kelas...


“Jihad.” Panggil Rania.


“Iya? Kenapa?” Tanya Jihad.


“Jihad! Pliss! Temenin gue...lu sekarang taruh tas ke kelas, nanti lu temenin gue yuk lihat kak David dari sini! Plis Jihad! Sampai Raisa dateng aja.” Ujar Rania.


“Hmm, tapi sampai Raisa dateng aja ya.” Ujar Jihad.


“Iyaa, janji sampai Raisa dateng aja oke!”


“Ya udah gue taruh tas gue dulu.”


  Setelah Jihad menaruh tas nya. Rania dan Jihad langsung menuju tempat tadi dan melihat kak David


serta kak Miftah yang baru datang menunggu diluar kelas...karena kelasnya terkunci. “Ran. itu ya? Orangnya di luar?” Tanya Jihad.


“Iya! Ih ganteng banget sih!” Ujar Rania.


“Inget! Lagi puasa nanti batal loh.” Ujar Jihad sambil tertawa.


“Lahh, itu kenapa mereka pada pindah ke kelas orang dah? Oh iya gue tau, kelas dia itu dikunci. Maka dari itu dia belum masuk kelas.” Ujar Rania.


“Oh, mungkin kali ya Ran.”


     Tidak lama kemudian, Raisa datang dan langsung berdiri diluar kelas... “Ran. Itu bukannya si Raisa ya?” Tanya Jihad.


“Ohh, iya bneer dia udah dateng.”


“Tuh kan Raisa udah dateng yaa, sekarang gue ke kelas ya Ran.” Ujar Jihad.


“Iyaa, makasih ya udah mau nemenin gue disini, tolong sekalian panggilin Raisa suruh kesini ya.” Ujar Rania.


“Oke, tunggu ya.”


     Raisa pun datang menghampiri Rania.


“Woy! Gak ngajak-ngajak lagii.” Ujar Raisa.


“Ini juga kan, tadi gue suruh si Jihad buat panggil lu.”


“Iya deh! Ini ngomong-ngomong mana kak David?” Tanya Raisa.


“Kayaknya dia ke kunci diluar deh...pada masuk kelas samping soalnya.”


“Kasian cogan kitaa.”


     Kring!! (Bell masuk berbunyi)...Raisa dan Raisa langsung memasuki kelas dan belajar seperti


biasa. Pada pukul 08:30. Mereka ke ruang guru untuk mengambil kartu ujian PKK yang akan dilaksanakan pada hari Senin.


“Kak David, juga ambil kartu kan ya?” Tanya Rania.


“Iyalah...apa kita nanti aja? Ambil kartu nya barengan sama dia?” Tanya Raisa.


“Percuma juga sih...kan beda ruangan juga ambil kartu nya, ya udah sekarang aja Sa.” Ujar Rania.


“Yuk Ran.”


      Setelah Rania dan yang lain ambil kartu ujian...mereka langsung kembali ke kelas dan wali kelas mereka


mengatakan...bagi yang sudah mengambil kartu ujian diperbolehkan pulang...


“Raniaa! Anterin gue yuk! Ke toko dekat pasar...mau beli kuku kutek buat mama gue.” Ujar Raisa.


“Ayok Sa! Gue juga bosen di rumah, tadinya gue mau ngajak lu nunggu di winus dulu.”


“Guys kita turunnya bareng yaa.” Ujar Afe.


“Iyaa.”


  Ketika mereka ingin menuju pintu gerbang...tanpa tidak sengaja mereka berlawanan arah dengan kak


David yang hendak mengambil kartu ujian di ruang guru SMK.


“Ran...” Panggil Afe menoleh ke arah Rania.


“Iyaa, aku lihat.”


“Ganteng banget sumpah!” Ujar Raisa.


“Fee, kamu ikut ke toko yang baru buka ituloh! Yang dekat pasar.” Tanya Rania.


“Ngga deh, aku langsung pulang aja ya.” Ujar Afe.


“Okee.”


     Ketika Rania dan Raisa selesai membeli kuku kutek tersebut...


“Raisa! Kita gak ke sekolah lagi aja nih?.” Tanya gue.


“Ayok deh! Gue bosen banget soalnya kalau di rumah...tapi boleh kan ya? Balik lagi.”


“Siapa sih! yang mau ngelarang juga.”


“Ya udah ayok!”


   Ketika Rania dan Raisa sampai di kelas mereka bertemu dengan Valent yang belum pulang...


“Lah kalian? Belum pulang? Dari mana aja?” Tanya Valent.


“Tadi sebenarnya kita udah mau pulang...tapi balik lagi, soalnya bosen ah di rumah. Masih jam 09.15 jugaa.” Jawab Rania.


“Valent...kita mau keluar dulu ya. Biasa urusan beda jalur ini.” Ujar Rania dan Raisa.


“Oh, iyaa dah.”


   Ketika Rania sampai di luar, ia dan Raisa melihat kak David dan teman-temannya sedang menaiki


tangga dengan membawa kartu ujian... “Lahh, kak David bukannya tadi udah ambil kartu ya?” Tanya Rania.


“Nah maka dari itu gue bingung.


    Setelah kak David sampai diatas, dia langsung memasuki kelas kemudian dia keluar lagi bersama


teman-temannya... “Saa. Foto ya! Ganteng banget ituu.”


“Iyaa, ini juga lagi gue foto.”


    Tiba-tiba ada seorang cewek...yang menghampiri kak David dan meminta foto kepada kak David.


“IDIH! MODUS NYA! BISA BANGET. KAK DAVID UDAH JAWAB GAK MAU! MASIH AJA DIPAKSA-PAKSA.” Ketus Rania dan Raisa.


“Tapi kok! Itu kak David kayak foto sama dia ya?” Tanya Rania.


“Yeeh! Katanya gak suka foto. Giliran sama dia aja mau huu dasar.” Ketus Raisa.


“Ituu dia mau pulang Sa.” Ujar Rania.


“Kita ke parkiran gak nih?” Tanya Raisa.


“Ngga usah lah, maluu.”


    Ketika kak David sampai dibawah...Rania dan Raisa ada dibelakang kak David persis...


“Itu kak David lagi masuk ke parkiran...Ran. Samperin yuk Ran!” Ajak Raisa.


“Ngga! malu tau gak!” Bantah Rania.


“Ran! Ayok... apaa Ran! Gpp ngapain sih malu.” Ujar Raisa sambil menarik tangan Rania.


“Ngga mau Sa! Gue maluu, kalau mau tuh dari tadi. Kita duluan yang kesitu.” Bantah Rania dan berusaha melepas genggaman Raisa.


“Udah apa ayok! Ran ayok!” Ajak Raisa.


    Kak David yang sedang mengambil sepeda itu, langsung menoleh ke arah mereka berdua karena mereka


sangat hebohnya.


Dalam hati Rania...     “Yah udah ketauan ya udah lah.”


“Ran ayok cepetan Ran.” Ajak Raisa menarik tangan Rania.


“Sebentar aja lu ya!” Ketus Rania.


     Akhirnya mereka berdua langsung menghampiri kak David...


“Kak David.”     Panggil Rania dengan senyuman terpaksa dan melihat sinis ke arah Raisa.


“Apaan-apaaan?”     Tanya kak David.


“Hmm, kak David foto yuk kak. Sekali ajaa.”      Ujar Raisa.


“Ngga ah...aku gak suka foto, dari dulu juga gak suka foto.”       Ujar Kak David.


“Oh ya udah...kita pulang dulu yaa kak.” Ujar Rania meninggalkan Raisa.


“Rania! Apa-apaan sih!” Ketus Raisa menarik tangannya.


“Kak David aku mau tanya dong kak!...rumah nya dimana sih?”       Tanya Raisa.


“Ih kan udah tau!” Ketus Rania.


“Di jembatan 10.”      Jawab kak David.


“Iya kak, maksud aku...jalan apa namanya?”     Tanya Raisa.


“Hmm, jalan apa ya? Gak tau dah! lupa.”      Jawab kak David sambil memegang ranting pohon.


“Kak btw, kak David SMP nya dimana?”     Tanya Rania.


“Di SMP 17.”      Jawab kak David.


“Hah? Ran..coba tanya deh, dia kenal abang gue sama si romi atau ngga.” Bisik Raisa.


“Kak, kenal sama kakaknya dia gak nih? Namanya Glen Samuel.”


“Kenal...”     Jawab kak David.


“Hmm, bilangin nih kak. Adiknya genit.” Ketus Rania


“Ihh! Enak aja! Kalau sama Kak Romi kenal gak kak?” Tanya Raisa.


“Iyaa kenal...udah belum?”


“Ohh, kalau SD nya dimana kak?”      Tanya Rania.


“Di Bojong rawa lumbu 10...udah belum?”


“Tunggu kak sebentar...hmm, apalagi yaa.” Ujar Raisa.


    Dalam hati Rania...     “Lahh, berarti satu SD sama si Hani dong.”


“Oh iyaa, Kak David ulang tahun nya kapan kak?”     Tanya Raisa.


“Emang kenapa sih?!”    Tanya kak David sambil tertawa kecil.


“Dia suka sama kak David!” Ketus Rania.


“Idih! Najis! Ngga kak, bohong, emangnya kapan kak?”


“10 Agustus”


“Hah? 20 Agustus?” Tanya Rania.


“Berapa kak? 25 September?”


“Tanggal 10, 10 Agustus...udah yaa! Udah kan?”      Ujar kak David.


“Ohh, 10 Agustus...iya kak udah kok! Makasih banyak kak! dadah kak David, maaf ganggu ya.” Ujar Rania sambil menarik tangan Raisa.


“Dadah kak David! Makasih ya kak.” Ucap Raisa.