
Mereka pun menuju ke kelas...
“Emang lu berani nanya kayak gitu ke kak David?” Tanya Rania berbisik.
“Yah, ngga lah. Mana berani gue, dan gue juga gak akan percaya kalau Ekaau itu ngobrol sama kak David. Sok berani banget...kak David aja ngeliat dia kabur kok.” Ketus Raisa berbisik.
“Tapi, gue percaya Saa. Yang gue gak suka itu! Kenapa dia harus bawa-bawa nama gue coba. Untung aja kak David gak tau, yang namanya Rania itu yang mana, kalau tau malu banget gue.” Ujar Rania.
“Tapi, suatu saat kak David, akan tau kok. Nama kita itu siapa.”
“Yakin?” Tanya Rania.
“Ya iyalah. Kita aja ngejar-ngejar dia mulu kok.” Ujar Raisa.
“Ayo apaa! Kita ajak kenalan dia.” Ujar Rania.
“Ya udah nanti aja pas pulang sekolah...kayak biasanya di parkiran aja.”
“Oke.”
Saat jam pelajaran olahraga Pak Ridho tidak hadir ke sekolah lagi karena sedang ada urusan diluar
sekolah...
“Kita gak olahraga lagi guys. Pak Ridho gak masuk lagi.” Seru Hani.
“Yeaay! Free class.” Seru yang lain.
“Wah, bagus! Kesempatan Sa. Kita traveling aja yuk...” Seru Rania.
“Nah ini yang gue tunggu-tunggu.”
“Ehh, ayok traveling...gak ada guru ini!” Ajak Tuti dan Ekaau.
“Lahh, ayok. Mel,fe...mau ikut gak?” Ajak Rania.
“Aku ikut!” Ujar Melmel.
“Akuuu, ngga ah males.” Ujar Afe.
“Oh ya udah, ayok cepetan Mell.” Ujar Rania.
Akhirnya tanpa berlama-lama mereka pun langsung traveling menuju lantai 3...
“Ehh, lewat kelas kak Alif aja yaa.” Seru Melmel.
“Ya udah deh, ayok!” Seru yang lain.
Ketika melewati kelas kak Alif...ada kak Alif yang sedang berbincang-bincang dengan teman ceweknya.
“Tuh Mel! Lihat deh...dia lagi ngobrol sama temen ceweknya.” Ujar Rania dan Raisa panik.
“Ihh. Mana sih? Mana?” Tanya Melmel penasaran.
“Ituu, yang dibalik kaca jendela.” Jawab Rania dan Raisa.
“Iyaa, aku lihat. Itu siapa ya? Jangan-jangan pacarnya lagi.” Ujar Melmel.
“Masa iya sih? Semua cogan kita udah punya pacar.” Ketus Rania.
“Ayok-ayok jalan! Diliatin dari dalam kita sama anak SMA.” Ujar Tuti.
Mereka pun berjalan menuju lantai 3, sesampai di lantai 3...Kak David and the gang tidak kunjung
keluar kelas...mereka pun turun lagi kebawah, dan menuju ke perpustakaan...
“Sa. Nanti jadi. Ke parkiran lagi?” Tanya Rania.
“Iyaa, tapi kita berdua aja, ngajak mereka tuh ribet.” Ujar Raisa.
“Oke, tapi sistemnya yang kayak kemarin yaa...kita duluan yang harus kesana.”
“Iyaa, pokoknya kita harus buru-buru jangan kebanyakan rencana doang oke.”
“Mau pada kemana?” Tanya Ekaau,Tuti dan Melmel.
“Hah? Ngga kok...” Jawab Rania dan Raisa panik.
“Pasti mau ke parkiran kan?” Ujar Ekaau.
“Iyaa. Kenapa emang?” Ketus Rania.
“Ikut Ran.” Ujar Melmel.
“Gini guys. Kita bukannya gak mau ngajak yaa...tapi percuma juga! Kalau kita ngajak kalian kak David gak akan mau diajak foto. Tapi kita janji...kalau nanti kak David mau diajak foto! Kita bakalan ajak kalian Minggu
depan.” Ujar Rania.
“Bener ya.” Ketus Melmel.
“Iyaa, janji.”
Sebelum bell pulang sekolah berbunyi mereka pun langsung menuju kelas untuk mengambil tas...ketika
ingin mengambil tas...
“Itu kak Alif!” Seru Rania.
“Minta foto yuk, sama kak Alif sekarang...dia mah gak sombong pasti mau deh...” Ujar Raisa.
“Tapi lu yang ngomong ya, kalau gue malu.” Ujar Rania.
“Iya, udah cepetan.”
Mereka pun menghampiri kak Alif yang hendak menuruni tangga...
“Kak Alif!” Panggil Raisa.
“Iyoo”
Ketika kak Alif turun dari tangga...
“Udah cepetan ngomong.” Ujar Melmel.
“Kenapa? Minta foto? Iya boleh, tapi kapan-kapan ya de, jangan sekarang.” Jawab kak Alif.
“Yess! Iya kak...gpp. Tapi beneran ya kak, hehe.” Seru Rania dan Raisa salah tingkah.
“Okee.” Jawab kak Alif.”
Tiba-tiba ada teman cewek kak Alif yang menarik tangan kak Alif...dengan berkata... “Alif buruan ih!”
“Iyaa-iyaa.”Jawab kak Alif.
“Idih! Siapa sih, tuh cewek. Main tarik-tarik tangan cogan kita aja.” Ketus Rania.
“Iya, malahan sok cantik banget lagi!” Ketus Raisa.
“Jangan nethink(Negatif Thinking) dulu! Kali aja itu sahabatnya atau ngga tetangganya.” Ujar Melmel.
“Tapi, kayaknya dia gak suka banget deh. Kalau kita ngajak kak Alif, buat foto.” Ujar Tuti.
“Maka dari itu, yah biarin ajalah. Kita ke perpus aja yuk! Kan kita bisa lihat kak Alif dari atas.” Ajak Rania.
“Oh, ayuk” Ujar yang lain.
Mereka pun berlari ke perpus dan melihat ke arah bawah...
“Itu, kak Alif! Panggil yuk.” Ujar Raisa.
“Ya udah gih sana panggil.”
“Kak Alif.” Panggil Raisa.
Dan kak Alif pun melambaikan tangannya ke arah Raisa.
“Aduh! Kak Alif, gak sombong banget sih. Beda banget ya sama kak David.” Ujar Raisa kagum.
“Udah deh. masalah satu cogan udah teratasi! Tinggal yang inini. Cogan yang paling ganteng, juga paling ribet.” Ketus Rania.
“Iya, Ran. Kayaknya kita harus minta foto sama kak David nya harus sering-sering deh, supaya dia mau foto sama kita. Masa iya dia gak suka foto sih.” Ketus Raisa.
“Sekarang kak David udah mau pulang, kita ke kelas ambil tas, terus langsung ke parkiran.” Ujar Rania.
“Oh iya, guys ayok ke kelas ambil tas.”
Setelah ambil tas. Rania dan Raisa langsung berlari menuju parkiran, sesampai di parkiran...
“Sa. Kita sembunyi dimana ini?” Tanya Rania panik.
“Udah tempat biasa aja, disini.”
“Iyaa-iyaa, Sa. Sumpah dada gue dag dig dug parah.” Ujar Rania.
“Sama gue juga! Lu pikir lu doang. Seneng banget nih gue.” Seru Raisa.
Tidak lama kemudian kak David datang menghampiri sepeda nya.
“Ayook. Cepetan!.” Seru Raisa sambil menarik tangan Rania.
“Saa. Gue maluu!” Bisik Rania.
Kak David pun mendengar suara mereka dan menolehkan pandangannya ke arah mereka berdua...
“Aduh ******! Dia nengok lagi.” Bisik Rania panik.
“Udah ayok cepetan ah!”
Rania dan Raisa pun menghampiri kak David...
“Kak David!.” Panggil Raisa.
Dalam hati Rania... “Ya Ampun demi apa sih! Gue malu banget disini.”
“Kak David!” Panggil Rania salah tingkah.
Kak David hanya mengangguk-anggukan kepalanya...
“Kak David, mau minta foto bareng dong! Sekali aja kak...” Ujar Raisa.
“Iya kak...sebentar aja. Disini, kalau udah foto kita janji deh, gak akan ganggu kak David lagi.” Ujar Rania salah tingkah.
“Tapi aku gak suka foto.” Ujar Kak David.
“Cuma foto doang kak! Itupun sekali...” Ujar Rania dan Raisa.
“Udah yaa, udah yaa, aku mau pulang.” Ujar kak David.
“Kak David Tunggu sebentar! Aku mau nanya.” Panggil Rania menahan sepeda kak David.
“Apa?” Tanya kak David.
“Kak David tau nama aku gak?” Tanya Rania
“Ngga! udah ya! udah ya. aku mau pulang.” Ujar kak David sambil mengeluarkan sepedanya.
“Yahh, ya udah deh kak.” Ujar Rania pasrah.
“Hati-hati ya kak!” Ujar Raisa berbisik.
“Yahh, dia gak mau lagi Sa.”
“Ya Ampun Ran. Lu tadi pede banget ngomong sama kak David kayak gitu. Hahaha.” Ujar Raisa, tertawa.
“Ngomong gimana?” Tanya Rania.
“Itu lu, segala nanya, Kak David tau nama lu apa ngga...”
“Iyaa Sa. Sumpah gue malu banget! Tadi dipikiran gue, dia bakalan nanya nama gue balik.” Ketus Rania.
“Hahaha, sukurin lu! Lagian pengen banget ditanyain.”
“Yuk Sa, kita pulang.” Ajak Rania.
“Ya udah ayok.”