
...Menangis untuk permintaan agar diturutin-...
...ARLETA ADIWIJAYA...
...HAPPY READING📖...
Setelah perdebatan singkat diatap tadi Nara langsung menuju parkiran mobilnya, dia sangat kesal tadi tapi sekarang sudah tidak terlalu karena dia ingat tadi sebelum berangkat kamera yang dia pegang dan yang dipegang Bora sudah diubah pengaturannya jadi ketika Nara mengambil gambar otomatis langsung ada dikamera yang ada dipegang Bora. Untungnya dia pintar sudah persiapan dari awal. Sampai mobil Nara langsung menghubungi Bora.
" Halo"
"Halo,kau dimana"
"Aku masih di kafe Milan ,ada apa?"
"Oke aku kesana tunggu aku" Ucap Nara mematikan telfon sepihak dan langsung melajukan mobilnya menuju kafe Milan.
*
*
*
Setelah David membawa Arleta ke ruangan Arga , Arleta langsung masuk ke ruang bermain dan mengunci pintunya. Didalam ruangan dia mencoret-coret tembok yang memang disediakan untuk menggambar , kali ini dia menggambar seorang laki-laki yang diberi tanda silang gambarnya sangat jelek dia sengaja menggambar jelek dan seorang perempuan yang bentuknya kaya bukan perempuan lagi lebih tepatnya seperti Medusa tapi dengan wajah yang sangat buruk,dia melampiaskan kemarahannya pada tembok dan mainannya,dia tak berhenti memakai kedua orang itu , ketukan pintu berkali-kali dia abaikan dia tidak peduli sama sekali.
"Arleta buka pintunya sayang" Ucap Arga lembut sambil terus mengetuk pintu, kenapa dia tidak membuka dengan kunci cadangan karena jika dia membuka dengan kunci cadangan dia malah akan membuat Arleta tambah marah ,niat ingin menenangkan dan meminta maaf malah Arleta tambah marah jadi Arga tidak akan melakukan itu lagi.
"Tidak mau ayah jahat ,lagipula ayah tidak peduli pada ku" Bentak Arleta .
"Pergi sana , kau sibuk dengan sinenek lampir ****** dan sudah mengusir teman baruku,aku tidak akan berbicara denganmu lagi" Usir Arleta.
Arga hanya menghela nafas bingung bagaimana dia harus membujuk putrinya .
"Coba lebih lembut lagi" Ucap David menasehati.
"Huh !!" Arga menghela nafas lalu mencoba membujuk lagi.
"Arleta ,keluarlah dulu apa yang kau inginkan" Ucap Arga semakin lembut.
"uuwwaa aku ingin bertemu kakak cantik"
'Ini pertama kalinya Arleta begitu dekat dengan orang asing , apa yang wanita itu lakukan sehingga membuat Arleta menginginkannya' benak Arga heran.
"Wanita tadi namanya NARA WINATA dia membawa nona muda ke atap dengan alasan yang belum diketahui" Ucap David memberi tahu sedikit informasi.
"Hmm " Arga menggumam.
" Aku ingin kakak cantik huaaaaaa" Arleta pura-pura menangis.
"Baiklah, David cari wanita yang bernama NARA WINATA" perintah Arga pada David.
'Menangis untuk permintaan' ucap Arleta dalam hati dengan sinis lalu membuka pintu.
*
*
*
Saat ini di kafe Milan Bora menunggu Nara sambil mengamati seseorang. Setelah beberapa lama akhirnya orang yang ditunggu sampai disana.
"Lama?" Tanya Nara lalu duduk .
"Lumayan, gimana berhasil?" Tanya Bora.
"Kameramu" Pinta Nara to the point.
"Hah?" Bora bingung tapi langsung memberikan kameranya pada Nara.
Nara mengecek kamera milik Bora lalu dia menghela nafas lega.
"Ada apa?" Tanya Bora penasaran.
"Kamu disini dapet informasi apa?" Tanya Nara balik.
"Mmmm aku hanya mendapat informasi dia menegernya Laura dia disini hanya membahas kontrak kerjasama kedepannya bersama wakil dari Star Group hanya itu dan ga ada yang penting lagi, kamu gimana?" Jawab Bora lalu bertanya balik.
"Apa orangnya masih disini?" Tanya Nara.
"Dia disana yang makai kemeja putih bersama orang yang berjas hitam, bagaimana denganmu?" Menunjuk meja dekat tembok ujung.
"Taro dimana alat sadapnya?" Tanya Nara, dia tau pasti Bora memasang alat sadap,karena Bora duduk dipojok dekat dengan jendela.
"Setelah memasang kamu langsung kesini kau ceroboh sekali pasti orang-orang curiga padamu" Omel Nara mengabaikan pertanyaan Bora yang entah sudah berapa kali dia bertanya.
"Yak! Aku ga sebodoh itu , tadi setelah memasang beberapa saat kemudian seorang pelayanan datang menanyai pesanan lalu setelah itu aku memintanya menaruh dimeja ini aku ga akan seceroboh itu ya" Ucap Bora tegas.
"Bagaimana denganmu? Dari tadi aku tanya malah kamu tanya balik huh" Ucap Bora jengkel karena sejak tadi pertanyaannya diabaikan.
"Hehehe maaf lah" Ucap Nara terkekeh.
"Hm"
"Tadi aku dapat foto menarik mungkin bisa kita jadikan bukti kalo Laura gunakan cara kotor lalu sisanya kita cari informasi"
"Terus apa masalahnya"
"Tadi saat aku diatap a-"
"Bagaimana cara kau ke atap?" Tanya Bora memotong ucapan Nara.
"Tadi ada sedikit bantuan dari anak Tuan Arga"
"Kok bisa?"
"Kalo diceritakan bakal panjang singkanya saja jadi tadi saat aku nyari Laura aku ga sengaja menabrak seorang anak ternyata dia anak dari Tuan Arga,awalnya aku takut tapii diluar dugaan dia malah membantuku"
"Wah terus"
"Dia membawaku ke atap dan aku disana mendapat seuatu yang menguntungkan , wah aku seneng banget dong misi kita bisa segampang ini tapi -"Nara menggantungkan ceritanya.
" Tapi?"
"Tiba-tiba Arleta hampir jatuh kalo saja aku tak menahannya lalu aku menolongnya naik tapi setelah dia naik aku sudah tidak kuat untuk naik lagi dan aku hampir saja jatuh kalo Tuan Arga ga menahanku"
"Wow penyelamat hidupmu"
"Setelah dia menolongku dia langsung memeriksa kameraku huft aku sangat ke-"
"Tunggu bagaimana dia tau kau ada disana dan datang-datang langsung memeriksa kameramu?"
"Aku lupa mematikan flash"
"Dasar bodoh"
"Yak sialan kau ini yang penting aku dah usaha"
"Hm iya iya terus apa yang terjadi selanjutnya"
"Setelah mengecek dia mengembalikannya padaku,benar dugaanku pasti dia menghapus foto yang aku ambil barusan"
"Terus " Geram Bora karena Nara lagi lagi menggantungkan ceritanya.
"Lalu aku maki deh tu orang aku ga peduli siapa dia seberapa tinggi jabatannya aku ga peduli nanti aku akan mendapat masalah karenanya setelah puas memaki dirinya aku langsung kesini"
"Wow wow wow keren sekali kau berani sekali kau memakai nya wah sepertinya kau sudah siap kehilangan pekerjaan" Ucap Bora takjub dengan keberanian sahabatnya.
"I said I didn't care"
"Jadi kau ga dapet apa-apa?"
"Eh siapa bilang" Ucap Nara sambil tersenyum. Bora hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Apa kau lupa, sebelum kesini kan tadi kita dah atur kameranya, tadi aku sempat simpan sebelum mereka datang" Ucap Nara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Oh hahaha iya aku lupa, aaaaaa temanku pintar deh sini peluk dulu" Ucap Bora lalu memeluk Nara dan meloncat-loncat ,dia ga menghiraukan tatapan pengunjung kafe dan orang-orang yang lewat didepan kafe berhenti hanya untuk menatap heran.
"Tentu saja makanya jangan remehkan aku" Ucap Nara setelah melepaskan pelukannya.
"Setengah bukti dah kita dapatkan lalu selanjutnya kita akan mencari informasi"
"Hm ayo FIGHTING"
"FIGHTING"
**********************************************
Nara emang pinter deh salut aku sama kamu 👍👍
Don't forget vote and comment