
"Anak yang bernama Dirga bukankah dia anak Nara" Ucap Arga terkejut.
Arleta mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya.
Arga tambah terkejut karena respon Arleta, dia menjatuhkan kertas hasil tes DNA karena terkejut. Tanpa berkata lagi Arga langsung mengambil telepon dan menelpon seseorang.
" Halo bo-"
"Aku nggak mau tahu kamu harus cari informasi tentang Nara Winata dan anaknya Dirga Winata, cari sampai akarnya, aku mau laporan itu siap dalam tiga hari" Arga langsung memotong sapaan David.
"Tapi-" belum selesai David ngomong Arga sudah mematikan teleponnya.
*
*
*
Setelah Alvin menutup telfon langsung mengkonfirmasi dengan Laura. Dia menghampiri Laura yang sedang di make-up untuk pemotretan majalah Black Light.
"Nona saya tadi sudah menelfon Nara Winata" Ucap Alvin yang duduk di kursi tunggu make-up.
"Oh benarkah, apa katanya" Ucap Laura.
"Dia meminta wawancara di Gariana cafe besok siang pukul 13:30 apa kamu setuju?" Tanya Alvin.
"Besok emang tidak ada jadwal?" Tanya Laura balik.
"Sebenarnya setelah makan siang aku mengosongkan jadwalmu karena kamu bilang ingin SPA , tapi terus aku ingat tentang kamu yang ingin bekerjasama dengan Nara Winata jadi aku ubah gapapa kan? Atau mau aku pindah jadi besok?" Tanya Alvin .
"Yaudah gapapa aku juga pengen cepet kerjasama dengan dia" Ucap Laura seneng.
"Baik aku akan memberitahu dia. Mau aku temani atau sendiri?" Tanya Alvin lagi.
"Aku sama Gavin aja kamu bebas"
"Benarkah, oh terimakasih" Ucap Alvin senang sekali.
"Kalo begitu aku akan mengkonfirmasi dengan Nara dulu" Ucap Alvin lalu pergi dengan hati yang sangat senang. Laura yang melihat menejernya sangat senang ada waktu kosong hanya geleng-geleng kepala sesenang itukah dia?
Alvin langsung menghubungi Nara.
"Halo"
"Halo, gimana udah fix ?"
"Hm sudah, besok dia akan pergi bukan dengan saya dia akan mengajak sepupunya mungkin gapapa kan?"
"Tidak bisa sendiri?"
"Dia ga mau "
"Hm baiklah tidak apa-apa"
"Kalo begitu saya tutup"
*
*
*
"Bu besok kau jadi pergi?" Tanya Dirga sambil makan.
Sekarang mereka sedang nonton TV diruang keluarga dengan ditemani berbagai makanan fast food. Disitu ada Ika,Nara Bora , Galih dan juga Dirga. Tadi sebelum makan malam Galih datang ke rumah Nara dengan membawa berbagai makanan fast food.
"Hm, tapi menejernya ga ikut katanya dia akan datang dengan sepupunya" Ucap Nara .
"Hei kau akan pergi kemana?" Tanya Galih yang tidak tahu apa-apa.
"Kak kan aku dah cerita tentang Laura, nah besok Nara akan pergi mewawancarai Laura untuk mencari bukti yang lebih banyak" Jawab Ika, Galih mengangguk paham dengan perkataan adiknya.
"Sepupunya siapa?" Tanya Bora.
"Gatau aku" Jawab Nara.
"Besok gimana? Siapa yang menemani Nara wawancara ? Siapa yang akan mengikuti menejernya?" Tanya Ika.
"Mmm Ika kau sibuk?" Tanya Nara.
"Entah aku belum tau, kau kak?" Ucap Ika.
"Besok aku banyak kerjaan kenapa? Bukannya kamu besok hanya setengah hari ya? " Tanya Galih .
"Benarkah? Dari mana kau tau?" Tanya Ika.
"Kau bodoh aku kan yang meminta asistenmu untuk mengosongkan jadwalmu agar bisa membantuku" Ucap Galih dengan tenang.
"Yak kau mengataiku bodoh kakak macam apa kau" Ucap Ika tak terima.
"Tapi itukan kenyataan" Ucap Galih masih tenang.
"Yak kau ini-" Ucapan Ika terpotong karena tiba-tiba ada pizza didepan wajahnya.
"Sudahlah jangan berdebat , aku hanya menanyakan Ika sibuk atau tidak tapi kalian malah ribut" Ucap Nara masih memegang pizza ditangannya yang dihadapkan dengan wajah Ika.
"Sebenarnya tidak, ada apa? Kau perlu bantuan?" Tanya Ika.
"Hm besok aku dan Bora akan pergi mewawancarai Laura nah kamu yang mengamati menejernya " Ucap Nara .
"Sendiri?"
"Kak Galih mau nemenin kamu g?"
"Mau ko tenang aja" Ucap Galih.
"Katanya tadi banyak kerjaan" Ledek Ika.
"Kan nanti kamu bantuin biar cepet selesai"
" Siapa yang mau bantuin kamu "
"Kan aku mau bantu Nara, jadi biar bisa bantuin Nara kamu harus bantuin aku dong nyelesain pekerjaan"
"Idih ga mau aku"
"Hei kalian iklas ga bantuin ibu, kalo ga biar aku aja" Ucap Dirga yang mulai jengah dengan perdebatan kedua kakak beradik itu.
"No, kamu ga boleh , biar aku saja" Ucap Ika.
"Nah jadi biar bisa bantu ibu, tante Ika harus bantu om Galih biar pekerjaan om Galih cepet selesai terus om sama tante bisa cepat bantu ibu" Ucap Dirga dengan ekspresi datar. Bora dan Nara mengangguk setuju.
"Dirga besok om akan beliin banyak makanan untukmu" Ucap Galih senang karena Dirga membelanya.
"Makasih om" Ucap Dirga tenang.
"Tuh dengerin "
"Yaudah deh" Ucap Ika pasrah.
"Nah jadi besok aku dan Nara akan mengurus Laura , Ika dan Kak Galih mengamati Alvin John dan Dirga setelah pulang sekolah kau amati semua gimana sudah setuju semua?" Ucap Bora .
Mereka serentak menjawab "Oke"
"Oke sekarang coba siapkan properti yang harus digunakan atau dibawa" Ucap Ika.
"Yang pertama kalian harus pasang earpiece kalo perlu bawa 2 untuk cadangan dan pastikan semua aktif " Ucap Nara.
"Lalu apa lagi?" Tanya Galih.
"Untuk kau dan Ika kalian bawa alat lindung diri yang biasanya kita pakai" Ucap Bora.
"Terus?"
"Udah itu dulu besok kalo ada tambahan aku akan bilang" Ucap Nara.
"Terus Dirga alat sadap terpasangkan dan masih berfut?" Dirga mengangguk
"Kalo begitu kamu terus awasi lewat kamera dan alat sadap terus , kalo ada yang mencurigakan langsung hubungi kami" Dirga mengangguk lagi.
"Dan kau?" Tanya Ika.
"Baik lah Oke persiapan sudah siap " Ucap Ika.
"Bora kau sudah menyiapkan wawancaranya?"
"Sudah beres kok"
*
*
*
Setelah selesai makan Nara menyuruh Dirga masuk ke kamar untuk tidur. Di kamar Dirga tidak langsung tidak langsung tidur tetapi dia menelpon seseorang.
" Halo kak ada apa?"
"Apakah kamu mau membantuku?"
" Bantu? Apa?"
"Tentang nenek lampir"
" Apa?"
"Besok setelah pulang sekolah kau ke rumahku"
" Oke, sebentar aku minta izin''a
*
*
Arleta sedang berada di gazebo yang berada di belakang rumahnya. Dia sedang bermain dengan ikan di kolam. Tiba-tiba ponselnya berbunyi,tertera nama kakak Qu,Arleta langsung mengangkatnya.a
" Halo kak ada apa?"
"Apakah kamu mau membantuku?"
" Bantu? Apa?"
"Tentang nenek lampir"
" Apa?"
"Besok setelah pulang sekolah kau ke rumahku"
" Oke, sebentar aku minta izin''
Lalu Arleta langsung masuk rumah meninggalkan ponsel di gazebo. Dia menghampiri ayahnya yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV dengan ditemani beberapa camilan.
"Ayah besok aku pergi main lagi ke rumah kak Dirga, boleh nggak yah?" Tanya Arleta setelah duduk di sebelah ayahnya.
Arga yang awalnya fokus menonton TV langsung menoleh Arleta " Mau ngapain ke sana?" Tanya Arga.
" Ya mau main lah, bolehkan?"
" Nggak" Jawab Arga singkat, datar tanpa ekspresi.
" Oh! Ayo lah! Aku bosan di rumah, aku tidak ada teman, dan aku juga kesepian, lagipula aku jarang keluar, boleh ya yah"
Arga tampak berpikir sejenak, lalu "Baiklah, besok ayah akan mengantarmu"
Arleta menggeleng dengan cepat" No, no, no, aku tidak mau diantar ayah"
" Kalo begitu kamu diantar Pak Joko ya"
" Tidak mau"
" Terus kamu maunya gimana?"
" Besok pulang sekolah aku ikut kak Dirga,pulangnya aku diantar kak Nara"
"Nggak, jangan merepotkan orang lain"
"Nggak merepotkan kok, sama sekali nggak merepotkan, jadi boleh kan?'' belum sempat Arga menjawab Arleta langsung bicara" Oke boleh" Ucap Arleta langsung pergi tanpa menunggu jawaban Arga.
*
Arleta kembali ke gazebo untuk memberitahu Dirga.
"Halo kak, masih terhubung?"
"Hm"
" Baik besok aku ke rumah kakak"
"Ya"
" Aku tutup ya teleponnya kak, selamat malam"
"Malam"
*
*
*
Setelah Laura pemotretan majalah Black Light. Dia pergi ke rumah Gavin. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Laura menghampiri Gavin yang sedang berenang.
"Hei"
" Oh! Kau, ada apa perlu apa ke sini?"
" Kamu jadi nggak menemui Nara denganku?"
" Besok? Tentu saja! Aku sudah menantikannya! , jam berapa?"
" Besok siang pukul 13.30 di Gariana Cafe, kita hanya berdua Alvin nggak ikut, Besok kau sibuk tidak?"
" Sebenarnya aku besok ada janji dengan client dari Rain Company,tapi karena aku ingin ketemu Nara, aku akan mengosongkan jadwalmu"
" Segitu sukanya kah kau dengan dia?"
" Besok pagi aku akan menjemputmu di depan gedung Suny Entertainment "
Laura mengangguk lalu pergi. Setelah kepergian Laura, Gavin langsung meraih ponselnya di meja dekat kolam untuk menghubungi sekretarisnya.
Diki Saputra, sekretaris dari Gavin Leon Anggara.
"Halo bos"
"Setelah makan siang kosongkan jadwalku. Jadwal temu dengan Rain Company pindahkan besok pagi"
" Tapi bos..."
" Udah nurut aja" Gavin langsung mematikan teleponnya. Gavin percaya pasti sekretarisnya sedang mengumpatinya
**********************************************
maaf banget lama ga up