
..."hehehe cara Arleta gampang ditiru, langsung mempan lagi"...
...Dirga Winata...
...đHAPPY READING đ...
Matahari terbenam memancarkan cahaya jingga dilangit dari arah barat sangat cantik, jalanan yang tadinya panas kini sudah teduh kerana bayangan dari gedung- gedung tinggi, jalanan yang ramai kendaraan karena selesai beraktivitas. Seorang anak laki-laki masih berada di taman dia duduk dikursi taman sendirian dia terlihat sedang memikirkan sesuatu ,terlihat dari kerutan didahinya seperti dia memikirkan sesuatu yang berat. Dirga Winata laki-laki tadi yang sedang duduk sendirian di taman,selepas dari rumah sakit tadi dia tidak langsung pulang yang seharusnya belok kanan dia malah belok kiri menuju taman yang biasa digunakan untuk Crafiday setiap weekend.
"Haaahh...." Entah sudah berapa kali Dirga menghela nafas, sebenarnya apa yang dia pikirkan.
'Bagaimana ini aku harus meminta bantuan siapa?'benak Dirga.
'Jika meminta bantuan tante Bora ga mungkin karena kan tante selalu bareng sama Ibu, kalo om Galih dia pasti gak mau akan sulit membujuknya, kalo tante Ika dia agak gak bisa dipercaya' benak Dirga frustasi.aaa
"Arghhgg" Frustasi Dirga.
Disini lain Ika sedang berada diperjalanan menuju kerumah Nara , saat di taman dideket rumah sakit dia melihat seseorang yang tidak asing. Ika menghampiri orang tadi tanpa ragu. Dia melihat sepertinya orang itu sedang frustasi.
"Dirga" Panggil Ika.
"Eh tante" Ucap Dirga tersadar dari lamunannya.
"Lagi ngapain disini lebih baik kamu pulang ini sudah sore pasti Nara khawatir" Ucap Ika.
"Tadi abis main terus aku berhenti disini"
"Yaudah kita pulang yuk" Ajak Ika sambil mengulurkan tangannya. Dirga menyambut uluran tangan Ika pertanda dia mau diajak pulang.
"Kamu ngapain aja seharian ini pasti bosan ya?"
"Cuma main di taman gak bosen kok"
"Kamu udah ijin keluar?"
"Belum,lagian tadi aku telfon ibu ga diangkat "
"Owh" Lalu terjadi keheningan.
'Apa aku minta bantuan tante aja ya?daripada penasaran aku akan membujuknya jangan pikiran masalah yang akan datang yang penting aku dapat mengetes DNA' benak Dirga.
"Tante aku mau minta bantuan boleh"
"Bantuan apa?"
"Begini tante tau anak dari direktur utama Star Group?" Tanya Dirga.
"Tau anaknya perempuan bernama Arleta Adiwijaya umurnya 6tahun" jawab Ika.
" Sudah pernah liat orangnya atau fotonya?"
"Aku pernah liat fotonya di majalah saat dia jadi model pakaian anak-anak , kenapa?"
"Menurut tante aku mirip gak sama dia?"
"Huh?"
"Menurut tante aku mirip gak sama Arleta?"
"Mmmm, oH iya yah kalian mirip kok walau agak beda sedikit"
"Aku merasa dia adalah saudara kembarku"
"Masa, mana mungkin Nara mengatakan hanya melahirkan satu anak kok"
"Kan ibu hilang ingatan"
"Owh iya yah, terus gimana cara ngebuktiin"
"Nah itu aku mau tante uji DNA rambut ibu sama Arleta"
"Apa ga mau lah"tolak Ika cepat.
"Ayolah tante ga kasian sama aku ya,masa tante tega melihatku menderita karena tidak ada teman" Ucap Dirga sambil menampakkan wajah imut masih level tiga.
'Duh siapa yang mengajari Dirga bertingkah imut' benak Ika dalam hati tak tahan dengan keimutannya.
"Tante cuma menuji DNA rambut ini tok, nanti sisanya aku, ya tante mau ya" Ucap Dirga dengan imut level 100.
'Aduh apa aku bisa menolak setelah melihat wajah imutnya' batin Ika benar-benar tidak tahan.
"Tante sepertinya gak mau yaudah deh aku pasti akan menderita karena kesepian" Ucap Dirga dibuat kecewa.
Kalo udah begini apa Ika bisa menolak,tentu saja tidak bisa menolak,rasanya tak tega sekali, selalu seperti ini.
"Baiklah, baiklah jangan menampakkan wajah imut aku tidak sanggup, tante akan membantumu kok, sudah ayo kita pulang" Ucap Ika akhirnya.
"Tapi jangan bilang Ibu dulu ya"
"Hm terserah kamu lah"
' hehehe cara Arleta gampang ditiru, langsung mempan lagi' batin Dirga karena berhasil bertingkah imut.
*
*
*
Hari ini Nara benar-benar cape bagaimana tidak, dari tadi setelah keluar dari kafe Osteria Nara dan Bora harus mondar-mandir dari satu tempat ketempat lain karena mereka mengikuti meneger Laura bahkan ada tempat yang tak berguna mereka tetap mengikuti meneger Laura.
Kenapa meneger Laura? Kenapa ga Lauranya? Karena Nara dengar hari ini Laura ga akan kemana-mana hanya di tempat photoshoot seharian jadi sudah dipastikan bahwa Laura hari ini tidak akan menyusahkan tapi sebaliknya menegernya lah yang membuat Nara dan Bora kewalahan karena dia pindah-pindah tempat ga jelas ditambah sama sekali ga dapet informasi yang penting, sepertinya meneger Laura sangat santai hari ini karena dia hanya melakukan pekerjaan yang serius hanya pagi sampai jam 10 setelah itu dia seperti tidak ada tugas sama sekali. Bukannya meneger harus disamping artisnya tapi meneger Laura tidak. Aneh.
Saat Nara pulang pintu dikunci dari luar, apakah Dirga keluar rumah tapi kenapa dia tidak meminta izin atau Dirga dibawa Ika? Pikir Nara saat membuka pintu yang dikunci dari luar, tapi dia tak ambil pusing karena dia sangat lelah hari ini. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya agar sedikit tenang.
Lalu terdengar suara pintu yang terbuka menampakkan seorang wanita dewasa dan seorang anak laki-laki mereka adalah Dirga dan Ika. Nara membuka matanya saat mendengar suara pintu terbuka dan menoleh kepintu.
"Hmm,kalian dari mana?" Tanya Nara.
"Aku dari kantor,saat perjalanan kesini aku melihat Dirga duduk di taman sendirian terus aku samperin" Jawab Ika.
"Sayang kamu ngapain disana sendirian?" Tanya Nara khawatir dalam pikirannya apa Dirga gak punya temen, apa Dirga dijauhin temen,atau apa Dirga dibully teman-teman.
"Aku tadi habis main sama temen-temen terus setelah itu aku ke taman deket rumah sakit sambil menunggu ibu pulang hanya itu, jangan khawatir bu , intinya semua yang ibu pikirkan tidak akan terjadi padaku" Ucap Dirga seakan bisa membaca pikiran Nara.
"Huft" Halaan nafas Nara terdengar.
"Apa Ibu capek?Mandi sana bu, biar nanti aku yang masak tante juga mandi sana!" Pinta Dirga yang hanya diangguki Nara dan Ika. setelah itu mereka naik dan masuk kamr masing-masing sementara Dirga langsung menuju dapur untuk membuat makan malam.
*
*
*
" Nara Winata, adik dari Rara Winata mereka mempunyai hubungan yang tidak baik, Rara menganggap Nara musuhnya dan juga sebaliknya, hmmm" Ucap seseorang berfikir sambil membaca dokumen yang tadi diberikan oleh anak buahnya.
"Apa sebaiknya aku mengajak Nara kerjasama secarakan dia musuh terbesar Rara dan aku yakin pasti dia ingin menjatuhkan Rara" Sambungnya.
"Boleh juga" Ucap seorang laki-laki yang sedang duduk bersamanya.
"Bukankah kau menyukainya"
"Sangat,aku sangat menyukai dia,mungkin ini sudah menjadi obsesi bagiku" Ucap laki-laki itu sambil memandangi foto Nara.
"Tapi aku membaca dokumen ini dia sudah memiliki anak 1 dia sekarang menjadi singgel mom"
"Aku akan menyingkirkannya "
"Itu urusan nanti oke, sekarang kita harus membuat jadwal bertemu dengannya"
"Baik aku akan berusaha menghubunginya"
"Tidak perlu, karena sebelumnya dia menelfon menejerku meminta wawancara, kita tinggal menelfon balik dan menerima wawancaranya"
"Baguslah, aku akan membuatkan jadwal tenang aja, bolehkah aku menemanimu wawancara"
"Oh hahaha tentu saja"
*
*
*
Dirga sedang menunggu ibu dan tantenya,dia sudah selesai masak bahkan dia sudah mandi, tapi ibu dan tantenya yang mandi duluan sampai sekarang belum turun. Ck ck ck wanita memang lama . pikir Dirga.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni tangga, ya siapa lagi kalo bukan Nara dan Ika.
"Baru turun" Ucap Dirga dingin.
"Maaf sayang,I'm sure you understand" Ucap Nara sambil nyengir kuda, Dirga hanya menatap datar.
"Sudah ayo makan" Ajak Ika.
Mereka makan dengan hikmat tidak ada yang membuka suara hanya ada suara dari dentingan sendok garpu dengan piring.Setelah selesai Nara dan Ika membersihkan meja dan piring kotor sedangkan Dirga pergi ke santai bermain ponsel.
"Sayang Ibu kan sudah mendaftarkanmu sekolah , nah senin besok hari pertamamu sekolah .jadi, besok pagi kau ikut Ibu membeli perlengkapan sekolahmu ya" Ucap Nara setelah menyelesaikan bersih-bersihnya dan menghampiri Dirga.
"Ya oke" Jawab Dirga singkat.
"Nara tadi aku diberi tahu Bora katanya kau bertemu Rara, jadi aku kesini untuk menanyakan langsung padamu dan meminta kejelasan" Ucap Ika setelah duduk disamping Dirga.
"Apa yang kau bicarakan dengannya? Apa dia mengancammu? Apa kau kemaren ada persiapan menghadapinya?" Tanya Ika beruntut.
"Dia hanya mengajakku kerjasama" Jawab Nara singkat mengabaikan pertanyaan lain.
"Bu, apa kau nanya tentang kejadian 7 tahun yang lalu ?" Tanya Dirga.
"Ga aku ga kepikiran itu, yang aku pikirkan saat diajak kerjasama hanya satu aku dapat menyelesaikan misi ini dengan cepat" Ucap Nara sedikit terkejut karena melupakan bertanya tentang kejadian 7 tahun lalu.
"Huh! Seharusnya ibu dapat memanfaatkan satu situasi untuk dua manfaat" Ucap Dirga kesal.
"Apa aja yang kau siapkan? Kenapa ga menghubungiku?" Tanya Ika.
"Aku kan kemarin make earpiece sebelum aku menghampiri dia aku minta bantuan Dirga" Jawab Nara seperti malas menjelaskan.
"Bantuan apa?" Tanya Ika entah ke Nara atau Dirga.
"Ibu hanya memintaku mengaktifkan alat sadap diearpiecenya. Saat aku tanya butuh bantuan apa lagi Ibu langsung menjawab 'udah itu aja sisanya nanti ibu pikirkan' , Ibu hanya memikirkan satu tujuan" Ucap Dirga menirukan gaya bicara Nara.
"Dirga,jika kemarin Nara minta bantuan lagi kamu akan ngapain?"
"Niatnya sih aku mau bilang ke ibu kalo aku akan menyuruh ojol untuk mengantar alat sadap biar earpiecenya bisa digunakan untuk komunikasi denganku tapi ibu sudah menutup telfonnya" Ucap Dirga , Nara hanya diam mendengar.
"Bukankah ada Bora kenapa kau tidak memberikannya "
"Aku tidak terpikirkan kesana"
"Aku disana hanya sendiri, Bora mengawasi menejer Laura" Ucap Nara.
"Owh" Ucap Dirga dan Ika.
"Jadi kerjasama apa yang dia bicarakan?" Tanya Ika.
************************************
Vote and coment
Hohoho siapa yang akan mengajak Nara kerja sama lagi?