
6 tahun kemudian....
Bandara Incheon Korea Selatan, 2 yeoja dan satu anak laki-laki kira-kira umur 6 tahun sedang duduk menunggu penerbangan mereka tujuan ke Bandara Soekarno-Hatta.
"Ibu, tante, aku tadi membaca informasi seputar penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta membutuhkan waktu kira-kira 6-7 jam berarti jika kita berangkat pukul 10 pagi maka kita akan sampai pukul 4 kalo ngga pukul 5 ditambah kita akan tinggal di rumah lama ibu perjalanan kerumah lama ibu sekitar 45 menit maka kira-kira kita akan istirahat pukul 6 iya ngga? Ucap laki-laki kecil yang sangat tampan itu kepada ibu dan tantenya. Dan ucannya berhasil membuat kedua yeoja itu dibuat cengo olehnya.
"Oh anakku kau memang pintar bahkan kau sudah memperkirakan kapan kita istirahat" Ucap ibunya dengan bangga dan terharu.
"Iya kemungkinan besar kita akan mendarat 5 dan istirahat pukul 6 " Ucap tantenya menjawab pertanyaannya, sebelum menjawab dia sempat berpikir dulu.
"Soekarno-Hatta plane will leave soon, please enter the Passengers"tiba-tiba ada panggilan untuk penumpang pesawat tujuan soekarno-hatta. Mereka segera menaiki pesawat .
*
*
*
Pukul 04.30 WIB pesawat yang ditumpangi mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, mereka langsung turun dan segera mencari seseorang. Dari kejauhan mereka melihat seorang perempuan cantik sedang melambai kepada mereka seolah mengatakan 'sebelah sini' dan mereka menghampiri perempuan ita dan langsung berpelukan seperti teletubies. Mereka berpelukan sangat erat seolah sudah tidak bertemu sangat lama (emang kenyataannya). Lalu suara anak kecil membubarkan pelukan mereka.
"Apakah kalian lupa denganku" Ucap laki-laki kecil dengan nama Dirga Winata yang tak lain adalah anak dari Nara Winata .
"Aaaaa, pangeran kecilku aku sangat merindukanmu" Ucap Friska Ganendra sahabat Nara langsung memeluk pangeran kecilnya.
"Aku juga merindukan tante ika, bagaimana kabar tante?" Tanya Dirga.
"Aku baik-baik saja jika kalian baik-baik saja" Jawab ika dan diangguki sama mereka.
"Bagus, mari kita berangkat mobilku sudah siapa didepan bandara" Ucap ika lalu berjalan mendahului mereka dan diikuti mereka.
*
*
*
Satu jam kemudian mereka sampai dirumah dengan selamat. Tadi mereka sempat berhenti ditempat makan karena lapar dan supermarket membeli kebutuhan yang di pelukan untuk sementara. Setelah sampai mereka membereskan barang dan mandi. Mereka turun kedapur untuk makan disana sudah ada Ika yang sedang menyiapkan makanan instan.
Oh iya soal rumah ini sebenarnya rumah Ibu Nara, rumah ini dibeli Ibu Nara sebelum menikah dengan ayah Nara dan sekarang diwariskan kepadanya. Ibunya berharap Nara dapat menjaga dengan baik rumah ini dan merawatnya. Rumah ini tidak buruk bangunan dengan lantai 2 dan halaman kecil tapi sangat asri karena halamannya dibuat taman kecil. Jika kamu memasuki rumah ini yang pertama kali kamu lihat adalah ruang tamu yang tidak terlalu luas tapi rapi bersih dan juga di dinding ruang tamu ada banyak foto ibunya dan Nara. Dibalik tembok ruang tamu terdapat sebuah ruangan minimalis satu ruangan 3 fungsi. Dibalik tembok pembatas ada ruang keluarga disana terdapat sofan yang bisa diubah jadi tempat tidur, dibelakang sofa (masih ada jarak dengan tembok) terdapat pintu pintu itu adalah pintu gudang, di sebelah ruang keluarga terdapat tembok pembatas tapi transparan disana terdapat meja makan yang dapat diubah kecil ataupun besar, meja makan berhadapan langsung dengan dapur jadi meja makan tepat ditengah antara dapur dan ruang keluarga. Di sebelah kanan dapur terdapat kamar mandi. Untuk lantai dua hanya ada 3 kamar tidur dan 1 ruangan kosong tapi didindingnya terdapat banyak foto dan gambar. Minimalis tapi nyaman dan lengkap ruangannya.
Jika kalian bertanya siapa yang menjaga rumah itu ketika dia pergi keluar negri karena Nara menyewa 2 orang pembantu mereka pasangan suami istri yang Nara temukan di pinggir jembatan saat mereka akan bunuh diri dan tepat pada waktunya Nara menyelamatkan mereka saat sudah siap melompat. Setelah kejadian itu mereka berterima kasih karena sudah menjadi penyelamat hidup mereka dari kebodohan sepasang suami-istri itu dan sebagai ucapan terimakasih Nara meminta mereka mengurus rumah ini dan Nara menyewakan sebuah kontrakan untuk mereka dan mencarikan pekerjaan untuk suami dari istri tersebut.
Mereka biasa dipanggil Nara bi Ijah dan pak Bambang. Tentang Nara punya anak mereka sudah tau dari Friska tapi tidak tahu bagaimana kronologi kejadiannya mereka tidak mau bertanya karena takut menyakiti Nara. Mereka mengangap Nara seperti anak sendiri. Mereka bodoh karena anaknya meninggal dan sudah tidak bisa memiliki anak dan diusir mereka jatuh miskin sehingga membuat mereka bodoh dan gila.
Tentang ingatan Nara, ingatannya sudah kembali 3 tahun setelah kejadian itu tapi dia hanya bisa mengingat sampai 1 minggu sebelum berangkat ke New York jadi dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya kejadian yang membuat dia memiliki anak dan alasan Nara pulang karena ingin mengungkap kebenarannya setelah ingatannya pulih dia memulai menyelidiki kejadian 7 tahun yang lalu. Back to topic.
"Ika malam ini kau akan menginap?" Tanya bora sahabat Nara dari Korea.
"Malam ini aku akan menginap tidak mungkin aku akan pulang aku tidak akan melewatkan momen ini Nara kembali pulang aku tentu akan menyambutnya" Ucap Ika dengan semangat 45.
"Hmmm terserah kau" Ucap Nara seolah tidak peduli.
"Baik jika kau tidak peduli maka aku akan selalu menginap disini" Ucap Ika tak mau kalah.
"Jika kau menginap disini terus siapa yang akan pulang kerumahmu"
" Ada kakaku"
" Katamu ka Galih jarang pulang "
"Tapi ga jarang banget mungkin 1 minggu bisa 2 hari tidak pulang"
"Bukankah kalian diamanati untuk jangan sering keluar dan harus menjaga rumah itu apapun yang terjadi"
"Aku tau lalu"
"Apakah kau tidak takut orang lain akan mengambil rumah itu seingatku kau pernah cerita padaku bahwa pamamu menginginkan rumahmu?"
"Iya tapi apa hubungannya dengan aku tinggal di rumahmu"
"Jika kau pergi dan jika ka Galih juga pergi berarti rumahmu g ada yang jagain"
" Kata siapa ga ada dirumahku sudah ada penjaga"
"Tante Ika apa tante Ika bodoh?"ucap Dirga geram karena Ika tidak paham dengan pernyataan yang diucapkan ibunya.
"Yak apa kau mengataiku bodoh, aku tidak bodoh jika aku bodoh maka aku tidak akan lulus kuliah huh" Ucap Ika sedikit jengkel karena ucapan blak blak-blakan dari Dirga.
"Hmmm maksud ku apa kau tidak paham dengan pernyataan ibu?"
"Tidak"
"Huh! Tante dengarkan aku nih ya jika tente Ika dan om Galih sama-sama pergi maka tidak ada tuan rumah yang menjaga rumah itu dan pasti pamamu akan menggunakan kesempatan itu untuk mengambil sertifikat tanah. Seingatku pamanmu sangat cerdik jadi akan mudah masuk kerumah mu karena dia cerdik dia punya banyak cara untuk mendapatkan keinginannya, nah jika ada tuan rumahnya pasti akan mempersulit rencananya walau tuan rumahnya bodoh tapi tetap itu akan mempersulit rencananya apakah tante paham" Ucap Dirga santai .
"Aku bisa menyuruh kakak untuk kembali"
" Apa om Galih mau aku tidak yakin itu jika mendengar cerita dari ibu tentang om Galih"
"Ais baiklah kau benar kau menang sekarang kenapa ibu dan anak sama-sama pintar dalam berdebat " Ucap Ika kesal karena kalah debat dengan pasangan ibu dan anak.
"Aku hanya ingin sudah lama tidak berdebat,tapi kenapa kalian sangat kompak dalam mengatai orang dan membuat hati orang terluka" Ucap Ika dengan nada sedih yang dibuat-buat .
" I don't care " Ucap Nara dan Dirga bareng. Dan itu sukses membuat Ika cemberut tapi mereka tak ambil pusing karena mereka sedang bercanda.
"Tante Bora sepertinya tadi ucapan kedua setelah kau bertanya akan menginap apa tidak"ucap Dirga tiba-tiba.
"Hehehe aku tadi sibuk makan abisnya laper banget tadi kan aku makan sedikit ditempat makan" Ucap Bora.
" Baiklah sebaiknya kita beresin dulu lalu istirahat aku yakin besok adalah hari yang melelahkan "ucap Nara memberi perintah.
" Siap komandan" Kompak Dirga ,Ika, dan Bora barengan.
Lalu mereka membereskan peralatan yang tadi dipakai makan dan mereka langsung naik kekamar masing-masing.
*
*
*
Selama 7 tahun Arga selalu mencari informasi tentang gadis yang pernah ia tiduri, gadis yang berani mengumpatinya secara terang-terangan menggunakan surat, gadis yang berani menggapnya sebagai laki-laki murahan, gadis yang menarik perhatiannya sejak pertemuan pertama. Dia tidak pernah lelah mencari informasi tentang gadisnya. Bukankah gadisnya sudah kembali bersama anaknya? Kenapa Arga masih mencarinya? Jawabnya karena Arga tidak bisa dekat-dekat dengannya. Dia merasakan perasaan yang berbeda ketika bersama ibu dari anaknya dan gadisnya yang pernah ada diranjangnya. Arga merasa phobia terhadap wanita itu.
Walaupun Arga sempat percaya pada wanita itu karena laporan tes DNA dia dan anaknya, tapi dia curiga karena dia merasa phobia berada di dekat wanita itu yang berarti dia bukan ibu kandung dari anaknya. Soal anaknya dia juga mengecek hasilnya 100℅ hubungan ayah dan anak.
3 tahun yang lalu Arga menyuruh seseorang untuk mengecek DNA rambut dari wanita itu dan anaknya setelah hasilnya keluar dia terkejut karena hasilnya menunjukkan bahwa dia bukan ibu kandung dari anaknya walaupun masih ada hubungan darah tapi tidak 100℅ dan fakta itu diketahui anaknya yang bernama Arleta Adiwijaya, saat Arleta memanggilnya. Arleta mendengar percakapan ayahnya dan asisten ayahnya tentang hasil tes DNA dia dan ibunya dia tidak terlalu terkejut karena memang Arleta sudah lama merasakan ibunya ini bukanlah ibunya, karena perlakuannya terhadap Arleta seperti anak dan ibu tiri yang jahat. Saat Arleta akan kembali dia ketahuan sedang menguping oleh ayahnya, dan sejak saat itu Arleta ikut membantu ayahnya menemukan Ibu kandungnya walau dia waktu itu dia masih berusia 4 tahun tapi IQ nya seperti anak usia 9 tahun mungkin karena gen dari orang tuanya walau hanya membantu sedikit tapi Arga tetap menganggap bantuannya sangat berguna. Dan tunangan ayahnya / ibu Arleta lebih tepatnya Ibu tiri Arleta dia tidak tau rencana ayah dan anak perempuannya, dia juga tidak tahu bahwa dia ketahuan telah menipu keluarga Adiwijaya karena mereka berbeda tempat tapi masih dalam satu rumah.
Wanita itu yang memintanya dan dengan senang hati Arga mengizinkannya tapi dia juga mendapat syarat yaitu putrinya harus tinggal bersamanya di vila pribadinya yang tak jauh dari rumah utama. Orang tua Arga sudah tau dari Arleta tapi mereka sekeluarga tidak menelantarkannya dulu karena mereka ingin menikmati pertunjukkan yang dimainkan wanita itu dan ingin mengungkap kebenaran yang terjadi 7 tahun yang lalu. Semenjak saat itu keluarga Adiwijaya sedikit menjaga jarak dengan wanita itu karena dia tunangan dari Arga jika terlihat menjaga jarak maka akan memalukan pihak keluarga.
*
*
*
Villa utama keluarga Adiwijaya / lebih tepatnya villa milik Arga disana sekarang terdapat keributan yang ditimbulkan oleh nona muda keluarga Adiwijaya. Dia sedang marah karena ayahnya tidak pulang semalam sampai malam ini dan para maid dan pelayanan disana yang menjadi korban amukan sang nona muda, tapi untungnya suara mobil terdengar mereka tau itu suara mobil tuannya dalam hati mereka sangat bersyukur karena tuannya sudah pulang yang berarti mereka akan terbebas dari amukan nona muda, lalu langkah kaki terdengar mendekat ke ruang bermain nona muda.
"Kenapa ribut sekali" Ucap Arga saat sampai diruang bermain putrinya. Beberapa pelayanan berdiri dipojokan mereka sedang diceramahi oleh nona muda dan sisanya ada yang sedang membersihkan mainannya dan ada yang menjadi tandu untuk nona muda melihat itu Arga hanya menggelengkan kepala.
"Ayah kenapa ayah baru pulang kenapa lama sekali ayah kan berjanji akan membacakan cerita pengantar tidur " Ucap Arleta gadis kecil yang manis, cantik dan imut dengan nada kesal.
" Maafkan ayah kalau begitu ayo sekarang tidur sudah malam ayah akan membacakan cerita pengantar tidur"ucap Arga lalu menggendong putrinya.
Para pelayanan langsung lega karena nona muda akan segera tidur. Mereka akhirnya bisa tenang dan sedikit kecewa karena perjuangan mereka tidak mendapat pujian dari tuannya atau sekedar berterimakasih mereka tidak mendapatkannya. Huh ayah dan anak sama saja!!!
*
*
*
Setelah sampai kamar putrinya dia langsung membaringkan putrinya diranjang lalu dia menyelimuti putrinya dan mengelus-ngelus kening putrinya dengan kasih sayang sambil berkata.
"Sayang apa kau masih ingin mencari informasi tentang ibumu?" Tanya Arga .
"Tentu saja ayah aku ingin sekali bertemu ibu kandungku, aku sudah bosan bertemu wanita ular itu" Ucap Arleta dengan nada kesal.
Arga terkekeh mendengar ucapan putrinya lalu berkata " Semakin lama semakin sulit mencari informasinya dia seperti tertelan bumi"ucap Arga dengan nada sedih.
"Apakah ayah masih ingat wajahnya, jika ingat pasti akan mudah menemukannya"
"Sedikit karena pengaruh alkohol waktu itu ditambah kejadian itu sudah lama sekali tapi ayah selalu mengingat
mata indahnya matanya mirip sekali denganmu" Ucap Arga sambil mengingat-ngingat wajah gadisnya.
"Aku berharap Ibu cepat ditemukan"
"Kita pasti akan menemukannya, sudah malam sekarang kamu tidur mau ayah bacakan cerita?"
"Tidak mau dibacakan cerita tapi aku ingin ayah bernyanyi" Ucap Arleta menatap Arga dengan wajah yang sangat imut jika seperti itu apa Arga bisa menolaknya.
"Baiklah my princess mau dinyanyiin apa" Arleta mengetukan jari telunjuk kedagunya seolah sedang berfikir.
"Hmm....aku mau ayah menyanyikan aku lagu milik taehyung oppa winter bear" Ucap Arleta dengan semangat 45.
" Aku heran dari mana jiwa fanggirlmu itu sepertinya aku sama sekali ga menyukainya "ucap Arga sambil menggelengkan kepala karena jiwa fanggirl Arleta kumat. Ck ck kita sama Arleta.
" I don't know, maybe from mom "ucap Arleta tidak peduli.
"It's not important father, now fast to me" Rengek Arleta.
Arga terkekeh lalu mulai menyanyikannya lagunya dia hafal lagu itu karena Arleta sering memutarnya. Beberapa menit kemudian Arleta sudah terlelap dengan nyenyak lalu Arga beranjak dari tempat tidur, mencium kening puterinya lalu dia berkata " Ayah berjanji akan menemukan Ibu kandungmu ayah pasti akan menemukannya"dia bergumam didepan wajah putrinya.
" Tidur nyenyak sayang,mimpi indah "Arga mencium kening putrinya lagi lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan beristirahat.
**********************************************
Please Vote and Coment