
..." Kita beneran saudara kembar?"...
...~Arleta Adiwijaya~...
...🙃Happy reading all🙃...
Tiga hari setelah pertemuannya dengan Rara yang memberikan informasi tentang Laura. Nara , Bora dan Ika pergi ke hutan barat , kenapa Ika ikut? Karena dia hari ini libur daripada dirumah suntukkan lebih baik ikut temannya mencari bukti. Mereka semua memakai baju kaos dan celana trening serta sepatu hiking mereka juga membawa tas yang isinya alat lindung diri dan mereka juga memakai topi rimba. Mereka sengaja memakai pakaian seperti itu agar nanti jika ketahuan para bandar itu mengira hanya seorang yang sedang menjelajahi hutan, mereka juga mempersiapkan jawaban jika ditanya. Tak hanya itu mereka juga memasang alat sadap dan kamera yang sudah diubah pengaturannya untuk kamera lain mereka sudah memasang 2 hari yang lalu mereka memasang CCTV diatas pohon. Bescampnya seperti sebuah pondok kecil tapi mereka melihat peralatan canggih dan juga CCTV, sehingga kemarin waktu pemasangan CCTV agak ribet.
"Apa perlu kita berpencar?" Tanya Ika.
"Tidak jangan berpencar" Ucap Nara.
"Kenapa?" Tanya Bora.
"Jika kita berpencar mereka akan curiga" Ucap Nara.
" Terus kita harus menunggu disini?" Tanya Ika.
"Iyalah" Jawab Nara.
"Masa kita hanya bersembunyi disini sambil menunggu mereka" Ucap Bora kesal.
" Hei ini lebih baik dari pada harus bersembunyi di semak-semak " Ucap Nara.
"Iya sih tapi apa tidak ketahuan?" Tanya Ika. Mereka sedang duduk dibawah pohon yang tak jauh dari bescamp Laura sambil memakan buah , tempat yang strategis tidak akan terlihat tapi masih bisa dijadikan tempat untuk memantau.
"Lebih baik disini daripada di semak-semak mereka bisa curiga, jika kita disini mereka akan mengira kita sedang istirahat " Ucap Nara.
"Hm benar juga sih kau pintar" Puji Ika.
" Kapan mereka datang seharusnya mereka sudah sampai " Ucap Bora.
" Mana aku tau" Ucap Ika.
"Nara apa ini ga terlalu jauh?" Tanya Bora.
" Tidak sama sekali menurutku tempat strategis ada dipohon itu dan disini " Ucap Nara sambil menunjuk pohon yang sangat besar didepan mereka.
"Kenapa ga disana aja? " Tanya Bora.
"Karena pengambilan gambar paling tempat disini" Ucap Nara malas .
" Kenapa ki-" Ucapan Ika terpotong oleh Nara.
" Apa ini sebuah interview dadakan?" Tanya Nara kesal.
" Bisakah kalian diam lihat ada seseorang yang datang " Ucap Nara Memperlihatkan rekaman kamera.
Lalu mereka kembali normal dengan berpura-pura berfoto , memainkan permainan sederhana dan makan bekal, layaknya orang yang sedang beristirahat dihutan karena sudah berjalan dihutan .
Tak lama kemudian mereka melihat didepan bescamp ada seorang laki-laki dan Laura beserta menejernya . Rara mengatakan yang sebenarnya, mereka melihat dengan mata kepala sendiri Laura dan menejernya melakukan transaksi ilegal dan lagi mereka mendengar tentang perdagangan manusia. Buakankah itu fakta yang mengejutkan?
Setelah Laura menyelesaikan pekerjaannya dia dan menejernya pergi dari bescampnya. Nara, Bora dan Ika berjalan kearah bescamp untuk mengambil CCTV dan alat sadap, setelah itu mereka pulang ke rumah Ika untuk membahas hal yang baru saja terjadi.
*
*
*
Bel pulang berbunyi semua murid kelas satu berhamburan keluar untuk pulang begitu juga dengan Dirga dan Arleta mereka keluar kelas untuk pulang bersama. Mereka dapat melihat pak Joko supir Arleta yang sudah menunggunya untuk pulang, tanpa menunggu lama Arleta dan Dirga masuk kemobil dan meminta pak Joko mengantarkan mereka ke rumah Dirga. Sesampainya dirumah Dirga mereka turun dan Arleta langsung meminta pak Joko untuk pulang.
"Pak sebaiknya pak Joko pulang aku disini sampai sore , aku juga udah izin sama ayah" Ucap Arleta pada pak Joko.
"Beneran non?" Tanya pak Joko.
"Iya, nanti kalo aku mau pulang aku akan menelfon pak Joko untuk menjemputku" Ucap Arleta.
"Baik non, kalo begitu saya permisi" Pamit pak Joko lalu menjalankan mobilnya.
Lalu Dirga mempersilakan Arleta masuk kerumahnya.
"Kau selalu dirumah sendiri?" Tanya Arleta karena tidak melihat siapa-siapa dirumah.
" Tidak, biasanya tante Ika disini " Ucap Dirga dari dapur, dia sedang menyiapkan minuman.
" Tante Ika?" Tanya Arleta heran karena merasa tak asing dengan nama yang baru saja disebutkan Dirga.
"Kau mengenalnya?" Tanya Dirga kembali dari dapur dan memberikan minumannya pada Arleta dan Arleta mengucapkan terimakasih.
"Entahlah tapi aku kira aku mengenalnya" Jawab Arleta.
"Siapa?" Tanya Dirga .
"Apa dia mempunyai kakak bernama Galih Ganendra?" Tanya Dirga lagi.
"Oh bener dari mana kau tau?" Tanya Arleta kaget.
"Mereka sahabat ibuku" Jawab Dirga santai.
"Really? Wah dunia sempit ya"
"Hm, baiklah sekarang kau ganti bajumu apa kau membawa baju ganti?" Tanya Dirga.
"Tentu saja, dimana aku bisa ganti?" Tanya Arleta sambil mengeluarkan sebuah tas yang berisi baju gantinya. Dirga menunjuk kamar mandi dekat dapur, Arleta langsung berjalan menuju tempat yang ditunjuk Dirga, sedangkan Dirga naik ke atas untuk mengganti bajunya.
Beberapa menit kemudian mereka selesai berganti pakaian dan kelura menuju rumah sakit.
*
*
*
Sampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang lab tes DNA.
Didalam ruang lab...
"Permisi" Ucap Arleta saat Dirga membuka pintu lab.
Lalu muncul seorang suster menghampiri mereka.
"Selamat siang" Ucap Arleta dapat Dirga bersama sambil menundukkan sedikit badannya.
"Siang, ada yang bisa saya bantu dek?" Tanya suster.
"Saya mau mengambil hasil tes DNA atas nama Friska Ganendra" Jawab Dirga.
"Dimana wali kalian?" Tanya suster.
"Sedang ada urusan, kami disuruh mengambil hasil tes" Jawab Dirga.
" Begitukah, tunggu sebentar ya" Lalu suster mengambilkan hasil tesnya.
"Nih" Ucap suster sambil memberikan laporan hasil tes.
" Terimakasih " Ucap Dirga dan Arleta bersamaan, Suster hanya mengangguk. Lalu mereka keluar dari rumah sakit.
"Kak aku liat sekarang" Pinta Arleta.
"Nanti aja dirumah" Ucap Dirga.
*
*
*
Stelah sampai rumah mereka langsung duduk disofa dan membukanya.
"Ko jantungku berdebar ya ka?" Tanya Arleta gugup, Dirga hanya tersenyum , bukan hanya Arleta yang gugup tapi Dirga juga.
Mereka membukanya dan mereka langsung terkejut karena laporan itu tertulis 100% hubungan ibu dan anak dengan nama Nara Winata dan Arleta.
"K-kak" Ucap Arleta gugup.
" Kita beneran saudara kembar?" Tanya Arleta tak percaya dia sudah hampir menangis.
Dirga mengguk sebagai jawaban dia terlalu terkejut untuk mengucapkan kata-kata. Dirga yang melihat mata Arleta berkaca-kaca langsung menarik Arleta kedekapannya , seketika tangis Arleta pecah dipelukan Dirga.
**********************************************
Maaf mungkin aku ga bakal update selama 2 minggu ke depan mungkin .
karena aku harus menyelesaikan tugas-tugas ku ditambah lagi 2 minggu depan aku ada acara keluarga .
Maaf Ya
Aku dah sediain Chapter
akan up setiap hari semua mungkin dan Chapter ini yang terakhir
di WP juga sama ko
Maaf ya🥺