
..."Arleta dengerin ayah,Ā setiap ucapan kesedian/ kesanggupan adalah janji"...
...Arga Adiwijaya...
...Happy readingšø...
"Bulshit!!! Apa yang kau bicarakan, sebenarnya apa tujuanmu kesini?" Tanya Dirga saat menyadarinya dari Kata-kata yang diucapkan Arleta.
"A-apa m-aksud mu?" Ucap Arleta gugup karena gelagatnya ketahuan.
"Dengarkan aku" Ucap Dirga.
"Pertama ini bukan milik ibu"
"Kenapa kau sangat yakin kalo ini bukan milik kakak"
"Karena ini gelang H - Z630 Simple Single strap , dan ibu tidak akan mengeluarkan uang yang banyak hanya untuk sebuah gelang seperti itu"
"Dari mana kau tau kalo ini H - Z630 Simple Single strap"
"Karena aku pernah menginginkan ini untuk hadiah ulang tahunku tapi Ibu tidak membelikannya karena itu belum berguna untukku"
"Pftt ,kau tidak dianggap ya" Arleta menahan tawa.
"Jangan salah ibu memang tidak memberiku gelang itu tapi dia membelikan komputer"
'Sial gelang yang aku ambil dari laci kerja ayah dia tau gelang itu tidak ada hubungannya dengan kak Nara' benak Arleta.
"Cih" Ucap Arleta,Dirga hanya memutar bola matanya.
"Kedua ,kau tahu ibuku tidak pernah menyembunyikan apapun dariku,karena dia buruk dalam berbohong,jika dia berbohong pasti akan langsung ketahuan" Ucap Dirga.
'Benar, kemarin saat bertemu aku langsung dapat melihat ekpresi wajahnya,dia sangat keliatan berbohong' benak Arleta.
"Yang ketiga,karena Ibuku ceroboh jadi jika ibu benar-benar membeli ini dia akan memberikannya padaku,menyuruhku untuk menyimpannya" Ucap Dirga lagi.
"Apakah benar?" Tanya Arleta.
"Jika kau tidak percaya,silakan tunggu Ibuku pulang,kau tanyakan langsung padanya"
'Oh Shit! Kenapa dia tidak mau kalah, aku tidak boleh kalah, aku harus cari cara' Arleta berfikir sebentar lalu Ting!!! Sebuah ide muncul dikepalanya.
"Kakak kenapa kakak menjadi serius" Ucap Arleta dengan wajah dan suara yang imut sambil memegang lengan Dirga seperti anak kecil yang minta permen.
'Eh kenapa dia merubah ekpresinya dalam sekejap' batin Dirga aneh.
"Kakak, ayahku sangat tampan loh dia mirip denganmu" Ucap Arleta masih mempertahankan ekpresinya.
"Apa hubungannya?"
"Bagaimana kalo kita kerjasama "
"?"
"Aku menyukai kak Nara dan juga menyukaimu, ayah juga cocok denganmu"
"Hmmm, spertinya tujuanmu sebenarnya adalah menjodohkan ayahmu dengan Ibuku" Tebak Dirga.
"True"
"Your smart,bagaimana bukankah itu rencana yang bagus?"
"Kedengarannya itu ide yang bagus untukmu" Ucap Dirga sambil mengusap bagian belakang Kepala Arleta, lalu dia menarik beberapa helai rambut Arleta.
"Aww"
"Kenapa,ada yang sakit?" Tanya Dirga.
"Ko aku merasa ada yang menarik rambutku ya"
"Bukannya tadi aku mengelus rambutmu ya?"
"Owh iya ya"
'Tapi aku merasa tadi bukan elusan lembut tapi tarikan kasar tapi aku juga merasa dia mengelus rambutku dengan lembut apa cuma perasaanku aja ya,tau ah'
Dirga turun dari sofa berjalan menuju pintu yang diikuti Arleta.
"Ya kan tadi itu ide yang bagus"
"Iya ide yang bagus "
'yes akhirnya dia menyetujui ' benak Arleta.
"Untukmu tidak untukku" Ucapnya sambil mendorong Arleta keluar saat sampai didepan pintu.
"Eh kakak?" Ucap Arleta bingung.
"Sebaiknya kau pulang, nanti ayahmu akan mencarimu,aku tidak mau digrebek polisi karena penculikan seorang anak" Ucap Dirga setengah teriak setelah menutup pintu.
"Aish kau meyebalkan sekali,aku tidak akan menyerah" Ucap Arleta lalu pergi tak lupa dia meninggalkan umpatan untuknya sebelum pergi.
*
*
*
Kafe Osteria
Nara duduk didepan seseorang,sedangkanĀ Bora duduk dibelakang seseorang yang sedang mereka mata-matai, dia adalah Laura dan menegernya. Mereka sudah meletakkan alat sadap didalam tempat tisu. Mereka juga memakai earpiece mini. Sudah setengah jam mereka di sana dengan posisi yang sama tapi tidak menemukan informasi penting, lalu ada nontifikasiĀ pesan dari HP Nara.
From:+628***********
Datanglah ke tempat VIP no.3 kafe ini,aku menunggumu.
Hah siapa ini kenapa dia memintaku datang aku kan sama sekali ga mengenalnya.
To:+628***********
Siapa kau?apa kau mengenalku?kenapa kau tau aku dikafe?
From:+628***********
Apa kau tidak mengenal Suadarimu?
Apa,apakah dia Rara darimana dia mendapat no.ponselku ,kenapa dia ingin menemuiku, kita lihat aja permainan apa yang akan dia mainkan.
To:+628***********
Tunggu.
From:+628***********
Aku akan menunggu.
Setelah itu Nara langsung menghubungi Bora menggunakan earpiece nya.
"Aku akan pergi mungkin agakĀ lama,aku ada urusan,jangan mengkhawatirkanku, nanti kau pulang duluan " Ucap Nara lalu mengakhiri panggilan dan pergi ke tempat VIP no.3. Bora hanya melihat kepergian Nara,tadinya dia akan menyusul Nara tapi dia ingat akan misinya jadi dia mengurungkan niatnya agar fokus pada misinya.
*
*
*
Arleta pulang ke rumah menggunakan taxi. Dia berjalan menuju ruang kerja ayahnya dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan orang rumah karena pergi sangat lama dan juga dia takut ketahuan mencuri barang milik Arga.
Dia sampai diruang kerja ayahnya yang gelap karena korden ditutup dia menutup pintu dengan perlahan lalu berjalan santai menuju meja kerja Arga. Di langkah ke-5 dia terkejut karena tiba-tiba lampu menyala,dia lebih terkejut melihat sosok pria yang terlihat marah menatapnya dengan intens sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Arleta hanya bisa mematung.
"Ehem" Arga berdeham. Iya sosok pria tadi adalah ayahnya, Arga.
"Hehehe" Arleta hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Arga semakin menatap Arleta tajam.
"Anu a-ayah sudah pulang?" Tanya Arleta basa-basi. Arga masih menatap tajam Arleta.
"A-apa yang ayah lakukan disini?" Tanya Arleta gugup.
"Mmmm a-a-aku hanya mencari buku,iya mencari buku"
"Mencari buku kenapa sampai mengendap-endap gitu"
"Ga ko ,aku kesinii cuma mengembalikan barang" Ucap Arleta tanpa sadar.
Arga tersenyum sinis.
"Mengembalikan barang,barang apa coba ayah liat" Pinta Arga.
"Aku kan kesini cuma mau mencari buku,kenapa ayah malah nanya barang" Jawab Arleta tanpa sadar ucapannya karena terlalu gugup.
"Sayang kau pembohong yang buruk" Ucap Arga dengan tersenyum tapi dalam arti lain. Arleta yang melihat ekpresi Arga langsung menunduk .
"Maafkan aku ayah" Ucap Arleta menyesal.
"Hm, kembalikan gelangnya sekarang"
"Apa!" Pekik Arleta tidak percaya,karena ayahnya tau gelangnya sudah diambil.
"Is there a problem?"
"Hehehe ti-tidak"
Arga langsung menodongkan tangannya seolah mengatakan 'mana gelangnya' pada Arleta.
"Maafkan aku ayah,aku hanya ingin meminjamkannya ko" Ucap Arleta sambil mengembalikan gelangnya.
"Ayah jangan marah ya" Ucap Arleta lagi setelah melihat ekpresi Arga, ekpresinya ga melunak tapi malah semakin tajam.
"A-ayah ada masalah"
"Cari kesalahanmu" Arleta bingung mendengar ucapan Arga. Apa aku melakukan kesalahan selain mengambil gelang secara diam-diam dan menyelinap keruang kerja Arga seperti maling lalu apa lagi apakah aku mencuri benda lain ? Tidak aku hanya mencuri gelang lalu apa. Kira-kira seperti itu pikiran Arleta sekarang.
"Aku menyelinap seperti seorang maling keruang kerja ayah dan mengambil gelang ayah secara diam-diam"
"Lagi"
"Mmmm apa ya?"
"Sudah tahu kesalahanmu apa?" Arleta hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tadi pagi " Hanya itu yang diucapkan Arga.
Tadi pagi? Ada apa dengan tadi pagi? Tadi pagi aku hanya meminta izinkan?
"Tadi pagi aku hanya meminta izin pergi ,lalu dimana kesalahannya"
"Hanya?" Arga tersenyum smirik .
"Kau lupa, tadi pagi kau bilang akan pergi sebentar ,kau berjanji akan pulang sebelum makan siang dan berjanji untuk tidak bersikap nakal"
"Ayah aku tidak mengatakan janji" Ucap Arleta tegas.
"Arleta dengerin ayah,Ā setiap ucapan kesedian/ kesanggupan adalah janji"
"Ya tapi kan-" Ucapan Arleta terpotong.
"Sudah ayah ga mau mendengarkan lagi, ayah akan menghukummu"
"Atas dasar apa ayah menghukumku"
"Pertama kau berbohong pada ayah, kedua kau melanggar janji, dan ketiga yang paling penting kau membantah ayah"
"Apa alasan itu cukup"
Arleta dibuat kicep oleh Arga, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Maafkan aku"
" Kau tidak boleh keluar kemanapun sampai akhir pekan, ayah baru memperbolehkan kamu keluar saat kamu pertama masuk sekolah besok , paham"
"Paham ayah"ucap Arleta lalu Arga pergi dari ruangan itu meninggalkan Arleta sendirian diruang itu.
" Aish ayah sangat menyebalkan, masa aku tidak boleh keluar, suntuk aku dirumah, semoga aja aku ga ketemu wanita ular itu, aku berharap dia tidak kesini " Ucap Arleta setelah Arga menutup pintu.
*
*
*
Ā Nara pergi ke toilet sebelum menemui Rara dia sedang memikirkan rencana dan memperkirakan apa yang akan terjadi, dia menelfon Dirga.
"Ada apa bu?"
"Sayang ibu akan menemui seseorang, tolong kamu rekam pembicaraan kita,Ibu akan menyalakan perekam di earpiece mini ibu"
"Owh oke baiklah, ibu hanya akan menyiapkan itu tidak ada rencana lain?"
"Ibu belumm ada rencana, yang ibu pikiran hanya itu"
"Sebenarnya ibu akan bertemu siapa, apa dia berbahaya?"
"Sangat bahaya, dia tujuan ibu datang ke negara ini" Ucap Arleta, Dirga langsung paham siapa yang dimaksud ibunya.
"Apa aku perlu mencari informasinya/ aku perlu bertindak?"
"Jangan sebaiknya kau mencari informasinya aja, dan soal pertemuan ibu kau tak perlu khawatir Oke,ibu tutup"
"Hm" Lalu telfon mati secara sepihak.
Setelah itu Nara langsung keluar kamar mandi dan pergi menuju tempat VIP yang diberikan Rara.
Rara membuka pintu tanpa mm mengetuk, dia disambut Rara dengan senyuman, tapi Nara tau itu bukanlah senyuman penyambutan tapi senyuman lain entahlah Nara pun belum tau.
"Selamat datang " Ucap Rara.
"Sepertinya kau sudah tahu siapa aku,jadi kau tidak terkejut,aku kira kau akan terkejut"
"Maaf aku mengecewakanmu,aku sama sekali tidak terkejut, tapi kurasa disini yang terkejut adalah kau" Ucap Nara dingin.
"Memang aku terkejut dengan kembalinya kau" Ucap Rara masih menahan senyum palsunya.
"Ah iya aku lupa menanyai kabarmu, apa kabar saudaraku?"
"Buruk,sangat buruk setelah bertemu denganmu"
"Ahahaha,seburuk itu kah aku"
'Oh kau menyadarinya,bahkan kau lebih buruk dari seekor monster oh atau bahkan monster lebih baik dari pada kau' benak Nara sinis.
"Aku tidak suka basa-basi"
"Oh ternyata kamu lebih dingin dari yang sebelumnya ya"
"Ck"decak Nara jengah.
"Kau dulu dingin tapi sekarang kau lebih dingin ya " Ucap Rara terkekeh.
"Apa maumu" Ucap Nara to the point.
"Hahaha bahkan sekarang kau juga tidak ssabaran, sebaiknya kau duduk dulu pasti kakimu pegal berdiri terus"
"Jika tidak penting aku pergi" Ucap Nara lalu melangkah pergi ke arah pintu tapi langkahnya terhenti saat Rara mengucapkan.
"Aku ingin bekerjasama denganmu"
**********************************************
Kerjasama?
Kerjasama apa?