The Journalist

The Journalist
Introgasi



"Katakan apa perlumu kemari!" perintah Prajurit Galvin ketika berlutut untuk menyetarakan pandangannya dengan Alesya.


Hembusan nafas Prajurit Galvin terasa menyapu tiap sudut wajah Alesya. Ketakutan itu menceruat lagi. Menundukkan pandangan tak sedikitpun mengurangi rasa takut dalam diri Alesya.


"Apa mentalmu terlalu buruk untuk sekedar menjawab?“ tanya Prajurit Galvin tepat di samping telinga Alesya.


Alesya bergidik ngeri.


"Lemah!" Prajurit Galvin mulai menjauhkan tubuhnya. Alesya merasa sedikit lega.


"A.. Aku seorang relawan, aku tidak berbohong dari awal," jawab Alesya sangat gugup.


Prajurit Galvin berdiri kemudian melempar tas berisi barang sitaan milik Alesya ke atas kasur matras. Alesya cukup terkejut, mengira tas itu akan di lempar ke tubuhnya. Tidak ada keberanian untuk mengambil tas itu, meskipun ia begitu rindu dengan buku catatan, rekaman, dan kameranya.


"Kalian tidak menemukan apapun, apa artinya aku akan bebas?" tanya Alesya dengan suara parau.


Prajurit Galvin membuag napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Glesza. "Pemeriksaan belum selesai!"


Alesya mendongak kemudian memicingkan matanya. "Apa maksudnya belum selesai?"


Barang bukti telah lengkap dikembalikan. Ia telah menjawab jujur tentang profesi yang ia jalani. Apakah semua ini tidak cukup untuk mematahkan dugaan jika Alesya seorang mata-mata?


"Katakan sekali lagi, apa profesimu?" tanya Prajurit Galvin lebih tegas.


"Jurnalis," jawab singkat Alesya.


"Hanya itu?"


Alesya mengangguk.


"Jawab dengan ucapan! hanya seorang jurnalis?"


"Sebenarnya aku baru mulai menulis novel."


"Tidak konsisten." Prajurit Galvin kembali mendekati Alesya. Jantung Alesya berdegup lebih kencang setiap kali Prajurit Galvin mendekatinya.


"Kau takut?" tanya Prajurit Galvin dengan raut wajah cukup mengejek.


Alesya mengangguk. Tawanan mana yang tidak takut ketika seorang petinggi prajurit mendekatinya.


"Kau tetap tidak bisa bebas dengan mudah!" bisikan penuh tekanan Prajurit Galvin menggema di telinga Alesya.


Tak terasa air mata Alesya kembali menetes. Entah tangis keberapa yang akan membawanya bebas nanti. Ia tidak akan sanggup selamanya hidup dalam tahanan atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. Apalagi jika harus menjadi pelayan bagi prajurit di markas ini, bayangan itu terlalu mengerikan.


Prajurit Galvin yang melihat tangisan Alesya mulai luluh. Kemudian, menyejajarkan posisi duduknya dengan Alesya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan tulisanmu itu?" suara Prajurit Galvin mulai melembut, tidak semengerikan sebelumnya.


Alesya buntu. Bahkan untuk menjawab pertanyaan semudah itu lidahnya kelu. Alesya hanya diam dan terisak.


"Tenangkan dirimu!" perintah Prajurit Galvin masih dengan kelembutan, "jawab jika sudah tenang saja."


Alesya mulai menyadari intonasi bicara seorang yang paling ia takuti di markas melembut. Tak ada lagi bentakan dan kalimat penuh tekanan yang terdengar. Ia mencoba menahan isak tangis yang terasa begitu sesak di dada dan menyeka air mata yang masih basah di pipi.


Ketika Alesya membuka mata, ia melihat Prajurit Galvin duduk dan menyandarkan dirinya pada dinding sel tahanan dengan mata tertutup. Wajahnya yang semula sangar terlihat lebih hangat dan bersahaja. Alesya melihat ada lelah dan beban dari raut wajah Prajurit Galvin yang sedang beristirahat.


"Pra... Prajurit Galvin, ak.. akuu..." Alesya mulai menyusun kata untuk menjawab pertanyaan yang diberikan untuknya.


Prajurit Galvin membuka mata. Ia membenarkan posisi duduknya dan bersila. Seolah mereka sedang mengobrol santai selayaknya kawan lama. Posisi ini membuat Alesya lebih nyaman untuk bercerita.


"Aku jurnalis yang sedang mencoba menulis novel," Alesya memotong kalimatnya untuk melihat respon Prajurit Galvin.


"Artikel yang aku tulis dipublikasikan secara digital, tapi aku harap novel yang aku tulis nantinya dapat terbit cetak."


"Sudah berapa lama jadi jurnalis?"


"Hampir tiga tahun."


"Bagaimana karirmu?"


"Terus meroket, tulisanku cukup banyak dinanti"


Prajurit Galvin menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, kemudian mengusapnya kasar. Alesya tak merubah posisi duduknya meskipun melihat Prajurit Galvin mulai gusar, ia yakin tidak akan ada kekerasan kali ini. Alesya tak berminat menjelaskan lebih jauh tentang dirinya jika tidak diminta, ia hanya menunggu pertanyaan berikutnya dari sang Prajurit yang baru ia sadari memiliki wajah cukup rupawan.


"Itu yang membuatmu tetap tidak bisa bebas meskipun kau bukan mata-mata," gerutu Prajurit Galvin sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.


Alesya termenung. Ia tidak histeris seperti biasanya, telinga dan emosinya terlatih dengan pernyataan itu. Hal yang membingungkan adalah, mengapa Prajurit Galvin begitu resah dengan kondisi itu?


"Kita telah mendalamimu, trake recordmu tergolong bagus untuk jurnalis muda, sering masuk jajaran teratas pencarian bahkan masuk tranding, pembaca banyak yang menanti karya-karyamu selama kamu berada dalam tahanan," jelas Prajurit Galvin cukup mengejutkan bagi Alesya.


Alesya membelalak. "Bagaimana kau tau?"


"Sudah aku bilang, kita melakukan penyelidikan, semua data dirimu, keluargamu, dan perusahaan tempatmu bekerja sudah ada di tangan kita, tapi anehnya berita hilangmu belum sampai ke negara asalmu."


"Lalu apa masalahnya? Kalian tau kenyataannya aku bukan seorang mata-mata, mengapa kalian tetap tidak membebaskanku?" desak Alesya setengah merintih.


"Apa yang akan kau lakukan dengan tulisan-tulisanmu itu?"


"Pasti mempublikasikannya."


"Hal itu akan merugikan kubuku dan menguntungkan kubu musuh, kita telah mempertimbangkannya dalam rapat bulanan."


"Bahkan sedikitpun aku tidak menulis tentang kalian, aku hanya menulis bagaimana mereka bisa bertahan dalam konflik dengan hidup seadanya. Kalian sudah membacanya!"


"Setelah kau dibebaskan, tidak ada jaminan kau menulis hal buruk tentang kubuku, terlebih kau menjadi tawanan disini. Masalah terbesarnya lainnya, pembaca artikelmu begitu banyak, mereka menanti artikelmu berikutnya, mungkin publikasimu setelah hiatus lama akan menjadi trending lagi, karena kau cukup dinanti."


Suasana kembali hening. Dalam situasi apapun Alesya tetap menjaga prinsipnya untuk tidak terpengaruh siapapun dalam menerbitkan artikel berdasarkan riset dan opini yang telah dipercaya banyak pembacanya. Ini adalah prinsip yang akan terus ia jaga hingga ia berhenti menulis.


Alesya menggeser tas berisi barang sitaannya. membolak-balik buku catatan berharap menemukan ide untuk menanggapi pernyataan Prajurit Galvin. Sebenarnya ia lebih suka menjawab pertanyaan dari pada memberi tanggapan.


Kalimat yang tepat belum muncul di otaknya. Ia meletakkan buku catatan kemudian mengambil kameranya untuk memastikan tidak ada foto yang terhapus. Jemarinya terhenti ketika layar kamera menampilkan foto dirinya bersama Freya, penyesalan besar muncul di benak Alesya saat ia mengabaikan permintaan Freya untuk tetap berada di dalam posko hingga mendorong sahabatnya.


"Kamu juga suka fotografi?" pertanyaan tak terduga melesat dari bibir Prajurit Galvin.


Alesya cukup terkejut dengan pertanyaan itu.


"Apa bicara denganmu harus mengulang kalimat, Ale?" Prajurit Galvin mulai jengah.


"Eh.. hmm.. suka, ta.. tapi aku tidak mendalami."


"Hasil fotomu bagus," puji Prajurit Galvin dengan suara serak. Entah mengapa Pujian Prajurit Galvin membuat pipinya memerah.


Alesya berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona membuat gestur tubuhnya salah tingkah. Ia tak habis pikir bisa dibuat salah tingkat dengan orang yang ia anggap paling menyeramkan. Prajurit Galvin yang menyadari gelagat aneh Alesya menundukan pandangannya.


"Aku tak bisa memastikan kau akan bebas atau tidak, tapi besok pagi akan aku ajak kau keluar dari sel ini," tutur Prajurit Galvin saat beranjak mendekati.


Alesya tak menjawab. Ia tak habis pikir dengan kepribiadian Prajurit muda yang cukup disegani itu. Tak lama setelahnya Prajurit Galvin telah lenyap di balik pintu, dan Alesya masih berada dalam lamunannya.


"Ingat, selain pegawai perempuan, Dokter Glesza dan aku tidak ada prajurit pria yang boleh masuk ke dalam sel tahanan perempuan terduga mata-mata," ucap Prajurit Galvin begitu tegas di hadapan para prajurit lain.


Tanpa mereka sadari Dokter Glesza sedang mendengar perintah dari Prajurit Galvin dengan sorot mata penuh amarah. Kemudian, ia segera menyelinap sebelum Prajurit Galvin mengetahui keberadaannya.