
Pintu depan markas telah dipadati banyak Prajurit. Galvin menata napasnya supaya terlihat tenang dan berkarisma seperti biasanya.
"Lapor ada tawanan baru, Prajurit Galvin," lapor seorang prajurit muda pada Galvin di depan markas.
Galvin menghembuskan napas kasar. Alesya telah berhasil ia selinapkan melalui pintu dapur markas. Galvin tak menyangka kondisi emosionalnya berubah secepat ini.
"Berapa orang?"
"Dua orang, satu gadis dan satu pria paruh baya."
Galvin langsung menerobos masuk ke dalam markas menuju ruang sel tempat tawanan dikurung.
Dihadapannya ada seorang gadis berambut bondol sedang pingsan dengan ikatan di tangannya dan pria paruh baya nampak begitu tenang melihat jajaran prajurit yang berbaris di depeannya. Cukup aneh.
"Tidak ada yang mencurigakan, Prajurit Galvin."
"Lalu mengapa kalian menangkap mereka?"
"Mereka berdua berada di wilayah sengketa, jarang warga lokal daerah musuh yang berani mendekati wilayah itu, dari segi fisik dan wajahnya juga berbeda dengan warga lokal umumnya.
Galvin tak tertarik bertanya lebih jauh. Tidak ada yang terlihat membahayakan diantara keduanya. "Setelah urusan Dokter Glesza selesai, panggil dia untuk memastikan kondisi gadis pingsan itu!"
"Siap."
"Dan ingat satu hal, jangan ada yang menyentuh gadis itu sebelum aku!"
Tidak ada yang berani membantah perkataan Galvin sebagai seorang prajurit muda yang paling disegani.
***
"Kau cukup membahayakan karir Prajurit Galvin," sinis Dokter Glesza. Kalimat itu langsung ia ucapkan ketika membuka pintu sel Alesya.
Tatapan keduanya saling bertemu dengan sorot mata yang berbeda. Sorot mata Dokter Glesza sinis dan syarat akan intimidasi, sedangkan sorot mata Alesya lebih lembut dan damai.
"Bisa-bisanya seorang prajurit yang paling dihormati membawa pergi orang yang diduga mata-mata saat konflik memanas," sindir Dokter Glesza dengan tatapan yang sama.
"Dokter, tidak ada bukti yang konkrit jika aku seorang mata-mata, aku dan---" ucapan Alesya terpotong.
"Cukup, aku tidak ingin hal buruk menimpa Prajurit Galvin."
Alesya tertegun. Ia teringat keluhan Galvin di tepian sungai yang merindukan perhatian Dokter Glesza. Ternyata mereka masih saling perhatian walaupun sama-sama memilih diam.
"Asal kamu tau!" Bentak Dokter Glesza dengan Nada tinggi dan penuh penekanan di setiap katanya, "Aku berusaha mencari alasan kenapa Prajurit Galvin sulit dihubungi dan datang dalam selang waktu cukup lama. Aku tidak tau bagaimana reaksi para petinggi lain jika mereka tau fakta sebenarnya."
Hening.
"Ini peringatan terakhir untukmu!" Dokter Glesza membalikkan badan dan bersiap untuk keluar dari sel.
Suasana yang biasanya tenang ketika Dokter Glesza datang berubah menjadi mencekam. Ternyata benar, marahnya orang pendiam itu sangat mengerikan. Marahnya orang sabar akan terlihat menyeramkan.
"Dokter, maaf aku tidak tau aturan militer tapi aku tidak ada niat menghambat kinerja Galvin," lirih Alesya yang terdengar aneh di telinga Dokter Glesza.
"Galvin? Kau memanggilnya Galvin?"
Dokter Glesza sadar jika Alesya tak lagi menyebutkan profesi Galvin diawal namanya. Sayangnya Alesya gelagapan tanpa jawaban mendengar cecaran pertanyaan Dokter Glesza.
"Sudah seakrab apa kalian? Sampai kau memanggil Prajurit Galvin langsung dengan namanya?"
Klik...
Pintu sel di buka oleh orang lain, seorang prajurit muda memasuki sel Alesya.
"Permisi dokter, ada seorang tawanan pingsan ketika penangkapan, Prajurit Galvin memintamu untuk segera memeriksanya," ucap prajurit muda itu penuh hormat.
Dokter Glesza memalingkan muka dari Alesya dan seorang prajurit yang baru saja menyampaikan perintah padanya. Ia harus menunda amarahnya kali ini.
"Apakah dokter akan menunda pemeriksaan?"
"Segera antar aku kesana!"
Dokter Glesza pergi mengikuti langkap seorang prajurit di depannya.
"Dok, aku harap kau mendengarkan penjelasan dari sudut pandangku di lain waktu." Perkataan itu tak dihiraukan Dokter Glesza. Bahkan Alesya tak yakin apakah Dokter mendengar perkataannya.
Alesya memeluk tubuhnya sendiri. Mencoba menenangkan hati, pikiran, dan memulihkan tenaganya setelah berjalan cukup jauh.
Semua pertanyaan dalam otaknya mungkin tak pernah terjawab. Apalagi kisah masa lalu mereka yang banyak meninggalkan tanda tanya. Apakah mereka lebih dulu kenal sebelum masuk dalam dunia militer? Mengapa Prajurit Galvin memilih meninggalkan impiannya menjadi seorang fotografer? Dalam kondisi yang sama, mengapa Dokter Glesza juga berhenti menulis?
Alesya kembali mengambil buku catatan dan penanya. Ia melanjutkan artikel tentang wilayah konflik yang telah lama berhenti. Ia berharap Prajurit Galvin benar akan mengusahakan kepulangannya dan semua tulisan yang lama Alesya pendam akan terpublikasikan.
Klik...
Pintu sel tahanan kembali terbuka. Aktifitas menulis Alesya kembali terhenti.
"Prajurit Galvin, maaf sepertinya Dokter Glesza marah tapi aku tak tau apa yang membuat ia semarah itu." Alesya menutup buku catatannya.
"Aku tau, aku memerhatikannya saat keluar dari selmu. Entah kapan aku melihatnya terakhir tersenyum." Prajurit Galvin menghelas napas.
Alesya mengangguk.
"Ingat untuk memanggilku Galvin di luar markas dan Prajurit Galvin ketika di luar markas."
Alesya kembali mengangguk, ia tak mengatakan jika ia terlanjur memanggil 'Galvin' di hadapan Dokter Glesza.
"Tolong tepati janjimu untuk berusaha memulangkanku setelah aku membantu Dokter Glesza dapat inspirasi menulis lagi," Lirih Alesys.
Prajurit Galvin tersenyum asam. Dua hal tersebut sulit terwujud jika dipikir secara realistis. "Aku usahakan semampuku jika kau berhasil."
Prajurit Galvin menyandarkan punggungnya di dinding dingin sel tahanan Alesya. Menyandarkan sejenak beban sebagai seorang pimpinan prajurit perang yang harus terus siap dengan keputusan mendadak dan kondisi darurat.
Alesya membiarkan Prajurit Galvin memejamkan matanya sejenak di dinding sel tahanannya.
Alesya membuka galeri kamera untuk melihat-lihat hasil potretan sang prajurit yang belum khatam ia nilai. Ia tak menyangka seorang yang sedang terlelap di sebelahnya tak sekasar yang ia kira.
"Maaf, aku tertidur sebentar rasanya." Tak sampai sepuluh menit Prajurit Galvin terbangun dan merapikan pakaian dinasnya.
"Tidak apa."
"Sepertinya aku cukup lelah hari ini, harusnya ini hari libur untukku."
"Resiko seorang petinggi prajurit yang bertugas di wilayah konflik."
Prajurit Galvin mendelikkan matanya mendengar pernyataan Alesya.
Alesya dengan cepat menutup mulutnya. "Maaf, mungkin aku salah berbicara."
Prajurit Galvin menggeleng cepat kemudia berdiri.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan."
"Katakan saja!" Alesya melipat tangannya di depan dada, bersiap menerima pertanyaan dari sang prajurit.
"Berapa orang yang menjadi volunteer bersamamu?"
"Kau masih mengintrogasiku?“
Prajurit Galvin tersenyum miring. "Tidak, jawab saja!"
"Sekitar dua puluh orang."
"Kisaran umur mereka?"
"Kurang lebih dua puluh lima tahun. Ada apa?"
"Jangan bertanya balik! Apakah ada seseorang yang berusia lanjut?"
"Tidak ada, syarat usia maksimal saat pendaftaran 27 tahun dan bum menikah."
Prajurit Galvin mengangguk kemudian bergegas menuju pintu sel.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, ada apa?"
"Aku belum bisa menjawab."
Braak...
Pintu sel kembali tertutup. Simbol tertutup kebebasan Alesya.