
"Ale, udah tau belum artikel yang kamu publish minggu ini trending lagi!" seru gadis bernama Freya, sahabat karib Alesya sejak duduk di bangku SMP yang tengah asik menjelajah linimasa sosial media.
"Artikel yang mana? aku publish dua artikel minggu ini," jawab Alesya santai.
"Dua-duanya!" Sekali lagi Freya lebih bersemangat dari si pemilik artikel.
"Uhuuk...." Jawaban Freya membuat Alesya tersedak minuman kolagen yang rajin ia minum akhir-akhir ini. Pencapaian ini merupakan kali pertama bagi Alesya mendapati dua artikelnya trending di waktu yang sama.
Tanpa aba-aba, Alesya langsung menyambar ponsel Freya. Benar, artikel yang belum lama ia publikasikan berada di urutan teratas trending untuk minggu ini. Ini adalah pencapaian besar baginya, mengingat belum lama ia terjun di dunia jurnalis namun telah memiliki pembaca setia disetiap artikel yang ia publikasikan dan terus pertambah. Semua ulasan pembaca ia baca satu persatu, untuk mencari tau apa keinginan pembaca yang dapat menginspirasi penulisan berikutnya.
"Alesya..." Suara berat terdengar samar dari balik pintu.
Alesya tersenyum ramah ketika mendapati Pak Dion masuk ke ruang penulis dan editor. Pak Dion adalah pimpinan redaksi tempat Alesya bekerja, bisa dikatakan Pak Dion orang yang berjasa dalam karir Alesya dan beberapa penulis baru. Pak Dion tidak pernah ragu memberi kesempatan bagi penulis muda untuk memulai berkarya tanpa bayang-bayang seorang senior.
"Ada utusan dari pemerintah Rote untuk bertemu kamu," lanjut Pak Dion setelah menyapa Alesya.
"Waduh, ada apa ya, Pak?" Ini adalah kali pertama bagi Alesya menemui orang utusan daerah. Terlebih Rote adalah daerah yang ia ulas tentang budaya dan masyarakatnya bulan lalu, mungkinkah pemerintah Rote merasa ada yang salah dengan tulisannya?
"Tidak ada apa-apa, mereka ingin mengucapkan terimaksih karena artikel kamu yang trending, Pulau Rote jadi lebih terkenal sekarang." Terlihat sorot mata Pak Dion begitu bangga pada pencapaian penulis barunya.
Alesya tersenyum lega. Alesya segera beranjak dari kursinya mengikuti langkah Pak Dion dan melambaikan tangan pada Freya yang masih asik membaca artikel yang rekannya terbitkan.
Alesya meninggalkan ruangan dengan langkah penuh keyakinan, Freya menatap langkah Alesya dengan perasaan bangga, terharu, dan sedikit rasa iri pada sahabat yang telah bersama selama bertahun-tahun. Freya iri karena Alesya bekerja dibidang yang ia impikan sejak dulu, tapi dirinya terjebak dalam dunia jurnalis yang sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Freya lulusan kesehatan masyarakat dengan nilai yang pas-pasan dan kurang memiliki pengalaman yang sesuai selama berkuliah. Tetapi, sekali lagi, perasaan iri tersebut hanyalah setitik jika dibandingkan dengan rasa bangga dan haru melihat sahabatnya memiliki progres karir yang cukup menjanjikan.
Angan Freya membawanya teringat masa lalu dimana tidak ada orang yang percaya dengan Alesya selain dirinya. Freya ingat kala itu kerabat Alesya menyalahkan keputusan sahabatnya untuk memilih berkuliah dibandingkan bekerja. Kedua orang tua Alesya berpisah dan tak diketahui dimana keberadaan sang ayah, sementra ibunya telah wafat ketika Alesya menempuh pendidikan SMA. Alesya harus menghidupi diri sendiri dan seorang adik yang terpaut tujuh tahun lebih muda. Tetapi nyatanya, Alesya mampu bekerja dan berkuliah sekaligus untuk menyiapkan kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri dan adik semata wayangnya.
Freya terlahir dikeluarga yang lebih beruntung meskipun bukan dari kalangan kaya raya. Tidak ada tuntutan dari keluarga untuk bekerja atau kuliah, tidak ada target pekerjaan dan penghasilan yang keluarga berikan pada Freya. Namun, Freya tetaplah anak muda yang memiliki ambisinya sendiri, ia ingin berpartisipasi di dunia kesehatan, bukan sebagai seorang graphic designer yang menghabiskan waktunya di depan monitor.
Drtt.. drtt..
Notifikasi pesan membubarkan lamun Freya tentang hidupnya dan hidup sahabat karibnya. Pesan broadcast dari teman kuliah yang biasanya ia abaikan kali ini cukup menarik perhatiannya. Kening Freya mengkerut ketika membaca isi pesan broadcat itu.
"Relawan?" Guman Freya.
***
"Terimakasih, Kak Alesya, tulisan kakak tentang Pulau Rote membuat daerah kami lebih terkenal dari sebelumnya dan kita mendapat ulasan positif berkat tulisan kakak," Utusan daerah Pulau Rote itu menjaba tangan Alesya dengan mata berbinar.
Alesya tersenyum kemudian duduk bersebrangan dengan putra utusan daerah itu. Alesya tak menyangka artikel yang berjudul 'Pesona Rote: Keindahan Alam dan Senyum Masyarakatnya' memberi dampak besar bagi daerah itu. Inikah yang dinamakan tulisan itu pedang bermata dua? Pedang yang akan mengantarkan pada kemenangan atau kehancuran.
Bait demi bait diucapkan putra utusan daerah bernama Mores itu menggambarkan betapa bahagaianya masyarakat Rote yang kini lebih dikenal keramahan dan keindahan alamnya. Alesya terkesima. Tempat wisata di Rote semakin ramai, UMKM semakin berkembang, muncul beragam lowongan kerja hingga pekerjaan kreatif imbas dari memingkatnya minat wisata wilayah Rote.
"Kalau Kak Alesya berlibur ke Rote, kabari saja kami, kak, kami menunggu kedatangan Kak Ale di daerah kami," Ucap Mores sebagai kalimat perpisahan di depan gedung redaksi tempat Alesya bekerja.
"Pasti suatu saat saya akan kesana, mungkin saya ajak adik saya untuk berlibur juga," Alesya menjawab tawaran Mores penuh antusias
"Ale..." Sapa Pak Dion membubarkan lamun haru Alesya, "Kemarin saya dapat email dari salah satu pemerintah kota, katanya mereka ingin kamu menulis tentang pembangunan daerah mereka, bagaimana menurut kamu?"
Alesya terpaku beberapa detik mendengar pernyataan Pak Dion. "Bapak mengiyakan?" Tanya Alesya setelah tersadar.
"Tentu saja belum, semua butuh konfirmasi kamu sebagai penulis yang secara aklamasi ditunjuk mereka."
"Fyuh... maaf pak, saya tidak bisa mengambil job menulis berdasarkan permintaan klien, semua tulisan saya berasal dari fakta lapangan dan opini pribadi saya, hal ini saya lakukan untuk menjaga keindependenan saya sebagai seorang penulis, pak," Alesya berhati-hati dalam mengutarakan sudut pandangnya, ia khawatir akan menyinggung perasaan pimpinan yang telah memberinya banyak kepercayaan.
"Bagus, prinsip yang tepat," jawaban Pak Dion membuat Alesya lega. "Jaga prinsip itu ya, uang bisa dicari, tapi kepercayaan manusia sulit didapat kembali," pungkas Pak Dion.
Pak Dion berlalu dengan langkah panjang setelah menyunggingkan senyum bangga pada prinsip yang dipegang Alesya. Alesya mengambil langkah arah berbeda menuju ruang penulis dan editor. Dia tak sabar ingin membagikan bingkisan yang ia terima dari Mores pada rekan-rekannya.
***
"Tadaaa......!!" seru Alesya ketika ia mendorong pintu ruang penulis dan editor.
"Waah, bagi donk Alee."
"Ih, mauu..."
"Buat kita juga kan?"
Alesya disambut beberapa rekan kerjanya yang antusias melihat bingkisan makanan dan kerajinan Khas Rote. Ia tersenyum lebar melihat reaksi rekan-rekannya, "Iya, ini aku bagi dengan kalian, taruh di meja tengah ya, jangan rebutan!"
Rekan penulis dan editor mengikuti langkah Alesya menuju meja tengah yang memang difungsikan sebagai tempat berbagi makanan antar anggota penulis dan editor. Bingkisan oleh-oleh dan kerajinan itu dibuka satu persatu oleh rekannya, Alesya hanya mengambil beberapa makanan dan kerajian yang sesuai dengan seleranya dan adiknya.
"Keren banget kamu, Ale," puji seorang editor senior pada Alesya ditengah aksi pilih-pilih bingkisan di meja tengah.
"Alesya, tadi ada pesan dari tim sosial media, mereka mau ngejadwalin buat live sama kamu, banyak followers yang request katanya, keren!" Seru seorang editor seangkatan dengan Alesya di meja sebrang.
"Gila, lama-lama kamu jadi selebgram, banyak banget yang nyari," timpal editor senior lainnya.
Mendengar tawaran live dari tim sosial media, lagi-lagi Alesya hanya tersenyum. Sejujurnya, ia perlu waktu untuk mempersiapkan diri jika benar tim sosial media benar-benar ingin melakukan live bersamanya. Ia tidak bisa membayangkan betapa canggung dan kakunya dia saat live pertama nanti. Alesya memang cukup percaya diri ketika melakukan aktivitas yang berhubungan langsung dengan masyarakat, namun jika berbicara di depan umum disaksikan ratusan pasang mata adalah hal baru baginya.
Beberapa menit kemudian, Alesya memilih untuk mengabaikan pikirannya tentang live sosial media.
"Kalian tau Freya dimana? bukannya tadi dia disini, ya?" Tanya Alesya pada rekannya ketika mendapati sahabatnya tidak berada di ruangan.
"Ke ruang grafis kali, nggak lama setelah kamu keluar, Freya juga keluar ruangan bawa tabletnya, tapi tadi buru-buru banget dan nggak pamit kita juga, ada urusan penting kali tim grafis," jawab penulis lain.
Alesya hanya menganggukkan kepala. Ia mengambil beberapa oleh-oleh untuk diberikan pada Freya sepulang kerja nanti. Terlalu lelah bagi Alesya jika harus keruang grafis di lantai dua.