The Journalist

The Journalist
Kehidupan Baru



Mata Alesya mengerjap. Rasanya ia bangun lebih pagi dari biasanya. Ia teringat kata-kata Prajurit Galvin yang mengajaknya pergi pagi ini. Meskipun tidak ada hint kemana mereka akan pergi dan untuk apa mereka pergi, Alesya tetap tidak sabar untuk menantinya. Minimal ia akan menikmati lagi sinar matahari, menghirup udara segar dan keluar dari sel yang membuatnya hampir gila.


Dokter Glesza memasuki sel tepat setelah Alesya merenggangkan badannya. Ciri khas wajah datar dan langkah kaki panjang tak pernah lepas dari Dokter Glesza. Entah apa yang membuatnya datang sepagi ini, tidak ada kotak sarapan dan alat kesehatan yang ia bawa.


"Pagi, Dok," sapa Alesya seramah mungkin meskipun ia tahu Dokter Glesza tak pernah membalas basa-basinya.


"Apa yang kau bicarakan dengan Prajurit Galvin?" Dokter Glesza bertanya tanpa memandang manik mata Alesya, ia mengedarkan pandang di setiap sudut ruang tahanan dengan tangan terlipat di depan dada.


"Kita membahas masala--" perkataan Alesya belum selesai.


"Dia memang baik, tapi jangan mudah terpengaruh olehnya!" potong Dokter Glesza tanpa ingin mendengar jawaban Alesya.


Alesya mengangguk, meskipun tak mengerti maksud peringatan dokter.


Dokter Glesza melemparkan jas putih, kaos pendek, dan rok span sepanjang lutut dalam kantong plastik ke arah matras Alesya. "Pakai itu saat pergi nanti, mandilah! aku segera keluar."


Jujur saja Alesya kehabisan kalimat untuk menanggapi peringatan dan perintah dari seorang dokter yang paling ia percaya sebagai satu-satunya orang yang masih memiliki hati nurani di markas ini. Apa maksudnya peringatan untuk tidak terpengaruh? Ia hanya dapat berjaga-jaga.


Dokter Glesza keluar ruang sel dengan langkah panjang tanpa pamit. Belum sempat Alesya beranjak dari matras dan bersiap berganti pakaian, Prajuriy Galvin masuk ke dalam sel tahanan dengan tampilan berbeda, ia tidak menggunakan pakaian dinas kebanggaannya. Alesya cukup terkejut dan menata pakaiannya supaya terlihat sopan.


"Sudah menerima pakaian penyamarannya?" tanya Prajurit Galvin.


"Ii.. ini, apa ini pakaian penyamaran?" Alesya mengangkat kantong plastik berisi pakaian yang diberikan Dokter Glesza.


"Iya, bergantilah! Aku tunggu disini,"


"Aku harus berganti pakaian di depanmu?"


"Apa maksudmu? apa kau tidak tau fungsi kamar mandi di sudut sel tahananmu?"


Pipi Alesya merah padam. Ia mengutuk dirinya sendiri atas pertanyaan konyol yang tak terkontrol keluar dari mulutnya. Dengan menundukan kepala, ia menyambar kantong plastik pakaian penyamaran dan berlari ke kamar mandi.


***


Matahari tak sekejam biasanya. Sinarnya hangat seakan memberi pelukan siapapun yang membutuhkannya. Debu tidak berterbangan bebas seperti biasa, udara terasa cukup lembab meskipun tak selembab wilayah tropis. Dengan semangat Freya menjelaskan dimana ia terakhir kali bertemu Alesya dan kemungkinan arah lari sahabatnya pada Mr. Chen.


"Tidak ada yang membantuku menahan Alesya Mr. Chen, jika mereka membantuku, mungkin akan beda ceritanya. Itu adalah kekecewaan terbesarku pada teman relawan," Freya menahan isak tangisnya.


Mr. Chen memahami apa yang Freya rasakan. Perasaan itu mirip dengan apa yang ia rasakan puluhan tahun lalu, menaruh kekecewaan besar pada orang lain yang tak berusaha menahan istrinya, Xuerui.


"Jika kau bertanya dimana lokasi Alesya menghilang, aku tidak tau. Tetapi, tetapi terakhir kali aku melihatnya ketika di depan pintu saat aku menahannya untuk tidak pergi."


"Apa lagi yang kau tau tentang dia saat hari itu?"


"Ada warga yang bersaksi melihat Alesya lari kearah barat daya posko, hari itu--" Freya tercekat saat akan meneruskan kalimatnya, "Hari itu terjadi mendengar ledakan bom kecil."


"Apa kau yakin temanmu menjadi tawanan? bukan meninggal karena bom itu?"


Mereka cukup serius berdiskusi di teras posko. Freya tak memerdulikan volunteer lain yang hampir selesai berkemas. Ia menyerahkan sepenuhnya pada Beyza untuk membantunya berkemas hari ini.


"Nak, sebelum pulang tolong antarkan saya ke sisi barat daya posko? setelah itu pulanglah, berjanji padaku untuk melanjutkan hidupmu, dan doakan aku mendapat kabar kondisi istrik," permintaan Mr. Chen dengan sorot mata penuh harap. Sorot mata yang menggambarkan betapa cinta dan rindunya pada seorang belahan jiwa.


"Baik, akan aku antar, aku akan selalu berdoa untuk kebaikanmu, Mr. Chen."


Langkah demi langkah telah berlalu. Mereka berjalan diatas tanah tandus di bawah sinar matahari yang menyelinap diantara ranting pohon. Langkah Mr. Chen terhenti ketika kakinya menginjak sesuatu. Ia menunduk mengais sesuatu yang menghalangi langkahnya.


Sebutir peluru. Mr. Chen mengamati peluru itu cukup intens. Freya tercekat, mungkinkah mereka telah sampai di lokasi baku tembak? Freya sendiri tak tau dimana lokasi pasti baku tembak hari itu.


"Apa kalian mendengar suara tembakan hari itu?"


Freya mengangguk. "Sebelum terdengar suara bom, memang terdengar suara baku tembak."


Freya menundukan kepala, berharap menemukan bukti lain atau barang Alesya yang tertinggal. Tetapi nihil, hanya sebutir peluru yang ditemukan.


"Mungkin lokasinya benar disini atau tidak jauh dari sini," ucap Mr. Chen seraya menyunggingkan senyum yang tak terdefinisi apa yang ia rasakan.


Hati Freya gusar tak menentu. Hari ini ia akan pulang ke tanah air yang telah ia rindukan namun, ia pulang tanpa Alesya. Ia tak memiliki kekuatan untuk mengembalikan Alesya, ia berharap pemegang kuasa dapat bertindak lebih nanti. Berbeda dengan Freya, raut wajah Mr. Chen nampak lebih bersemangat dari sorot matanya, garis wajahnya tak berbohong, jika ia tak sabar menanti 'hari itu' tiba.


"Kembalilah ke posko, bersiaplah untuk pulang!" pinta Mr. Chen.


Freya tak bergeming, hatinya semakin gusar.


"Kembalilah! jika nanti aku kembali bertemu dengan istriku dan sahabatmu, akan aku anggap dia sebagai anak kami, apapun keadaanya disana."


Freya hanya mengangguk, hatinya benar-benar menahan langkahnya untuk pergi.


"Jika kita terus bersama kala itu, mungkin kita telah memiliki anak seusia kalian, Alesya akan kami anggap sebagai anak, akan ku jaga dia semampuku. Pergilah, lanjutkan mimpimu yang belum usai, percaya semua ini rencana terbaik dari Tuhan."


Freya menatap langit berawan siang itu. Ia membalikkan badan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Mr. Chen. Selang beberapa langkah, Freya berhenti kemudian membalikan badan untuk mengucapkan kalimat perpisahan pada Mr. Chen, "Aku pamit,"


Mr. Chen hanya tersenyum.


"Jika kau merasa terlalu berbahaya, jangan paksakan dirimu!" Freya membungkukan badannya setelah berbicara, memberi penghormatan pada rasa cinta, kesetiaan, dan pengorbanan terlampau agung yang dimiliki Mr. Chen.


Freya kembali meneruskan langkahnya. Air mata telah menggenang di pelupuk mata namun enggan menetes.


"Freya larii!!" teriak Mr. Chen sangat keras hingga suaranya terdengar serak.


Freya tak tahu arti perintah itu, ia menoleh ke belakang dan melihat segerombolan prajurit bersiap sedang berlari ke arah mereka. Entah mengapa badannya beku, ia cukup terkejut dengan peristiwa itu. Ketika ia tersadar dan berlari, jarak mereka cukup dekat. Bahkan Freya telah menyaksikan Mr. Chen dibawa paksa dengan kasar oleh mereka.


Tak butuh waktu lama akhirnya Freya tertangkap oleh mereka. Ia berteriak sejadi-jadinya. Tendangan kaki kanan dan kiri Freya tak berdampak apapun pada tubuh kekar tiga orang prajurit yang menangkapnya. Ia hanya mampu berteriak dalam isak tangis berharap ada warga lokal yang mendengar dan membantunya lepas dari para prajurit. Sayangnya, Freya kehabisan tenaga, perlahan napasnya semakin sesak, pandangannya kabur, dan kesadarannya hilang sempurna.