
"Akhirnya kalian memutuskan untuk membunuh mimpi kalian demi impian orang lain?" Pandangan Alesya begitu lekat memandang Dokter Glesza yang sedang termenung.
Dokter Glesza mengangguk. Bibirnya tersenyum namun lain dengan hatinya. Senyum tipis hanya ia gunakan sebagai penutup luka yang tak tertutup sempurna.
"Bahkan kau tidak menemukan kebahagiaanmu dengan profesi ini, begitu sulitkah untuk berhenti?"
"Kita melakukan ini, demi ibu. Aku tak mau dia tersakiti."
Hening. Dokter Glesza tak ingin bercerita lebih jauh bagaimana perjuangannya menjadi seorang dokter dan konflik pertamanya dengan Galvin.
Kisah masa lalu Dokter Glesza dan sang ayah memang menyedihkan. Tetapi paling tidak ia memiliki seorang ayah yang memikirkan masa depan anaknya meski bertentangan dengan kemauan seorang anak. Pikiran Alesya melayang, ia tak pernah merasakan kehadiran ayah secara utuh.
Meskipun ayah Alesya menghilang tanpa kabar saat ia duduk di bangku SMP, tapi ingatan Alesya tentang moment dan wajah seorang ayah tak banyak tersisa.
Sebelum ayahnya menghilang tanpa kabar, ayahnya pun jarang berada dirumah, hanya menemui ibunya sesekali dan mengajak kedua anaknya bermain hanya untuk mengisi sisa waktu sebelum ia menghilang lagi. Alesya dan Araz juga tidak terlalu dekat denga ayah, bahkan mereka merasa sungkan dengan ayah kandungnya.
Ibu tak pernah bercerita banyak tentang ayah. Bahkan ibu tak pernah terlihat sedih ketika ia kehilangan kabar suaminya. Ia tak pernah merindukan ayah dari anak-anaknya hingga akhir hayat.
***
"Ibu, minggu depan ada perayaan hari keluarga. Ibu guru mengundang kedua orang tua murid untuk datang di lomba menghias kue, apa Ale boleh ikut lomba jika hanya menghias dengan ibu?" tanya Alesya kecil yang masih polos. Ia tak berminat menanyakan keberadaan dan kesediaan ayahnya untuk menghias kue bersama.
Bu Sandra meletakkan pisaunya. Ia berhenti memotong bumbu dapur sejenak untuk berkomunikasi dengan Alesya yang sedang gelisah.
"Ayah akan datang sore ini, Ale tanya ke ayah untuk menghias kue bersama, ya?"
Tak ada respon dari Alesya. Ia memajukan mulut mungilnya dan membuang pandangannya ke jendela dapur. Bukan jawaban seperti itu yang ia harap dari ibunya.
Bu Sandra menghela napas panjang. Kemudian ia merapikan poni Alesya yang tak berantakan.
"Ayah tak akan bisa, Alesya akan izin pada bu guru untuk datang hanya dengan ibu," gerutu Alesya, bibirnya masih cemberut.
"Ibu coba tanyakan ayah ya nanti, jika kita menghias bersama akan lebih seru," bujuk Bu Sandra.
"Tidak. Terimakasih." Alesya berbalik badan berlari meninggalkan dapur.
Raut wajah Bu Sandra tak bisa berbohong meskipun ia tersenyum. Sebagai seorang ibu dan istri, ia selalu berusaha membuat tak ada jarak antara seorang anak dan ayah. Tetapi keadan yang membuat perjuangan Bu Sandra sia-sia.
Pertama kali masuk taman kanak-kanak Alesya, sering menanyakan seorang ayah pada ibunya. Ia merasa diperlakukan berbeda oleh ayahnya ketika melihat ayah teman-temannya.
Secangkir kopi hitam dan sale pisang Bu Sandra sajikan di meja taman. Kemudian ia duduk di kursi kosong sebelah suaminya.
"Mas, minggu depan Alesya ada lomba menghias kue bersama orang tua, apa kau bisa datang lagi minggu depan?" tanya Bu Sandra sedikit ragu.
Sruup...
Seteguk kopi hitam ditelan oleh suami Bu Sandra, atau ayah Alesya. Kopi hitam yang selalu terasa lebih nikmat ketika Bu Sandra yang menyajikan.
"Kalau tau begitu, harusnya aku datang minggu depan saja."
Bu Sandra menghela napas panjang mendengar jawaban suaminya. "Aku lebih suka kau datang setiap minggu."
Sang suami terkekeh mendengar jawaban manja istrinya. "Baiklah, aku akan mengajukan cuti supaya minggu depan aku dapat cuti, kita temani Alesya bersama, kita hias kue terbaik untuknya."
Bu Sandra tersenyum haru mendengar jawaban suaminya. Jawaban tak terduga yang ia harapkan.
"Dimana Alesya sekarang?"
"Ke rumah temannya, dia kesepian di rumah."
***
"Oh itu ayahmu, Alesya? Ternyata kamu benar-benar punya ayah," celetuk teman Alesya di meja sebelah yang sedang bersiap mengikuti lomba menghias kue.
Alesya mengabaikan ucapan Devan, musuhnya. Devan selalu mengejek Alesya tidak punya ayah. Setidaknya sekarang musuhnya tau jika Alesya benar-benar memiliki seorang ayah.
"Tidak boleh berkata seperti itu!" Alesya mendengar Devan diperingatkan oleh ibunya.
Rasanya memang lebih canggung. Ini adalah kali pertama ayah Alesya hadir di acara sekolah. Ayahnya menjadi pusat perhatian murid lain yang dapat mengurangi konsentrasi Alesya di kompetisi ini.
Alesya mulai mengoles krim warna warni ditepian kuenya. Sang ibu menyiapkan warna krim lain untuk di padu padankan. Sedangkan ayah memotong buah buahan sebagai hiasannya, meskipun terlihat begitu kaku, ayah terlihat sangat tulus untuk membantunya dalam lomba kali ini.
"Bagus nak, caramu mengoles krim rapi," puji ibu setelah melihat polesan kue yang dibuat Alesya.
"Nak, pilih buah dan potongan mana yang kamu suka, pasang sesukamu diatas kue itu, buat kue yang terbaik diantara teman-temanmu," kata ayah cukup berapi-api menyemangati Alesya.
"Terimakasih ibu, terimakasih ayah." Baru kali ini Alesya merasakan keutuhan keluarga.
Tiba-tiba....
Kriiing.... Ponsel ayah berdering.
"Halo..." ayah menepi beberapa langkah dari meja kompetisi.
"......"
Ayah kembali mendekat setelah menutup panggilan. Ia menggelengkan kepala dan menggigit bibir bawahnya.
"Sandra, Alesya, aku yakin kalian akan menang dikompetisi ini," ucap ayah cukup gugup.
"Kau kenapa? Kenapa gugup begitu?" Bu Sandra menyadari keanehan suaminya.
"Nak, maaf ayah tidak bisa menemanimu di lomba ini sampai selesai, ayah ada keperluan mendadak."
"Tunggu sampai Alesya selesai hias kuenya, ayah!"
"Maaf, nak. Ayah yakin kamu jadi juara."
Ayah langsung berlari meninggalkan area kompetisi. Alesya tak berminat untuk berteriak menghentikan langkah ayahnya, ia hanya memerhatikan punggung ayahnya yang kian jauh.
"Kemana ayahmu, Alesya?" Lagi-lagi si tengil Devan membuat Alesya kesal dengan pertanyaannya.
"Rupanya ayahmu tampan, Ale, pantas saja kamu cantik," celetuk murid lain yang tidak Alesya ketahui sumber suaranya.
Alesya mengabaikan semua itu. Ibu telah berbisik padanya untuk kembali fokus mendekor kue agar jadi pemenang dikompetisi ini. Kebahagiaannya memiliki keluarga yang dirasa lengkap lenyap seketika.
***
Hubungan Alesya dan ayahnya tidak bisa dikatakan buruk, namun Alesya cukup berjarak dengan ayah kandungnya. Mereka hanya saling menyapa saat bertemu dalam pertemuan yang sangat jarang terjadi. Ayah selalu membawakan mainan dan makanan ketika datang, sayangnya mereka hampir tidak pernah makan atau bermain bersama.
Parahnya, ayah tidak hadir saat Araz lahir. Alesya yang berlarian meminta tolong tetangga dan kerabat ketika Bu Sandra mengalami kontraksi. Nomor ayah tak dapat dihubungi dan ayah baru datang sebulan pasca Bu Sandra melahirkan.
Bak seorang peri, Bu Sandra tak pernah menanamkan benih kebencian seorang anak pada ayahnya. Bu Sandra sering bercerita pada Alesya, jika ayahnya ialah seorang penjelajah. Ayahnya sangat hebat karena pernah mengunjungi negara manapun, itulah yang menyebabkan ia jarang berada dirumah.
Aleysa pun tumbuh menjadi gadis yang penasaran dengan seluruh pelosok negri, penasaran dengan apa yang terjadi di belahan bumi lain. Ia tumbuh dengan buku-buku penjelajahan dan kegiatan sosial yang membuatnya sering berpergian. Awalnya ia mencari tau, apa yang menarik diluar sana hingga membuat ayahnya jarang pulang.
Hingga akhirnya Alesya jatuh cinta pada penjelajahan. Alesya ingin orang lain tau pengalaman yang Alesya dapat. Ia sering mengirim tulisan ke platform berita dan tak jarang ia menulis ulasan singkat tentang suatu daerah yang ia kunjungi di media sosial.