
Freya mengurutkan beberapa dokumen diatas meja kerja kamarnya. Matanya begitu berbinar, hatinyapun demikian, ia bersemangat untuk memulai hal baru. Senyuman tipis nampak dibibirnya setelah ia memastikan dokumen yang ia persiapkan telah lengkap dan urut.
Greek...
"Freya..!" panggil Alesya setengah berteriak bersamaan dengan ia membuka pintu kamar sahabatnya.
"AAA..." Freya terkejut dengan kehadiran Alesya di kamarnya. "Gila ya, lo? Ngapain, lo?"
Belum menjawab pertanyaan Freya, Alesya berjalan cepat mendekati Freya, kemudian memukuli sahabatnya dengan tangan kosong. Tindakan itu cukup mengejutkan bagi Freya, ia belum siap perang sepagi ini.
"Aduh, bener-bener udah gila, lo!" keluh Freya setelah Alesya berhenti memukulinya.
"Kemana aja?" sengut Alesya.
"Oh, haha..."
Melihat Freya yang merespon cengengesan membuat Alesya ingin memukulnya lagi. Kali ini, tangan kanannya bersiap mengangkan sling bag yang penuh dengan barang-barang miliknya.
"Eh iya, iya, aku ceritain."
Alesya melipat tangannya di depan dada, kemudian duduk di kursi rias milik Freya. Tatapannya masih tajam penuh intimidasi.
"Jadi, aku mau jadi volunteer tenaga kesehatan di daerah konflik, aku lagi sibuk nyiapin berkasnya, soalnya bakal jadi volunteer daerah konflik di luar negri."
"Volunteer? Luar negri?"
"Iya, sebenernya aku mau ajakin kamu biar aku ada kenalan disana, tapi kayaknya bakal sulit ngajak penulis yang lagi naik daun ini."
Alesya diam sejenak. 'volenteer wilayah konflik' menarik perhatiannya, sepertinya tak terlalu buruk untuk di coba. Alesya membayangkan berapa banyak cerita yang akan ia tulis nantinya dan ia ingin menerbitkan novel tentang cerita-cerita yang ia temui nantinya. Tetapi ada hal yang lebih penting baginya, berapa banyak orang yang akan ia bantu dan berapa banyak orang akan terinspirasi dari tulisannya.
"Apa syaratnya? aku mau urus sekarang juga."
***
Kendra berjalan cepat mengikuti langkah Alesya yang berjalan lebih dahulu. Raut wajah Alesya memendam amarah yang terlihat dari sorot matanya. Kendra harus berhasil meraih tangan Alesya sebelum gadis keras kepala itu masuk rumah, atau ia akan ditinggal begitu saja olehnya di depan rumah.
"Tunggu, Ale!" Tekan Kendra sembari menahan tangan kanan Alesya.
Alesya menghentikan langkah, lalu menarik tangan kanannya. Kali ini Alesya benar-benar berhenti, memberi kesempatan Kendra untuk berbicara.
"Disana terlalu bahaya, Ale. Kultur, adat, dan bahasa kita berbeda, sulit buatmu untuk adaptasi. Karirmu sedang bagus disini, karirmu akan terus meningkat meskipun kamu tidak berangkat kesana, Ale," Tutur Kendra begitu serius, matanya tak bisa berbohonh, ia sedang cemas.
Alesya memalingkan wajahnya menatap langit malam tanpa bintang. Ia memilih mengabaikan kata-kata Kendra. Ini bukan kali pertama ada pertentangan pendapat antara dirinya dengan Kendra. Kendra masih sama, selalu mengkhawatirkan setiap keputusan baru yang Alesya ambil. Kendra ingin Alesya menjalani hidup lurus-lurus saja sama seperti caranya menjalani hidup.
"Bahkan kamu bisa saja kehilangan pembaca setelah pulang dari sana, bisa saja pembacamu melupakanmu," tegas Kendra.
"Kalau kamu merasa baik-baik saja dengan karir yang udah lama kamu perjuangkan, bagaimana dengan Araz? kamu tega ninggalin adikmu sendiri?"
Tanpa mereka sadari, Araz mendengar perseteruan antara kakak dan Kendra dari dalam rumah. Kesabaran Alesya untuk tak menanggapi opini-opini yang dibangun Kendra telah habis. Ia merasa tersinggung jika Kendra menilainya mengabaikan Araz, adik dan keluarga satu-satunya yang Alesya miliki.
"Kamu lupa, awal aku masuk media kamu larang aku berangkat kedareah-daerah untuk liputan dan menulis artikel tentang mereka? Kalau saat itu aku patuh dengan saranmu, mungkin pencapaianku tidak sebaik sekarang, Kendra. Asal kamu tau kendra, sudut pandang diantara kita jauh berbeda, kamu banyak berpikir tapi aku seorang eksekutor. Terimakasih nasihatnya, aku akan tetap jadi volunteer disana," pungkas Alesya.
"Keras kepala," umpat Kendra.
Mata Alesya menyorot tajam mata Kendra, tatapan keduanya saling bertemu, tapi bukan hangat yang dirasakan. Kobaran api amarah terpendam terlihat di kedua mata mereka. Alesya menarik napas panjang, "Kamu yang menghalangi langkah ku, Kendra. Aku ingin menulis banyak hal yang tidak dapat aku temukan disini, dan kamu tau aku ingin menerbitkan novel, tempat itu tempat yang tepat, aku punya banyak waktu untuk menuang imajinasiku. Aku akan baik-baik saja."
"Egois," umpat Kendra.
"Masalah Araz? atau apa?"
Giliran Kendra membuang muka ke langit malam.
"Apa sebenarnya maumu? mengapa kau banyak menahan impianku, selama ini aku tetap pada keputusanku dan aku baik-baik saja. Apa kau tidak bisa melihat jika itu artinya aku bertanggung jawab atas diriku sendiri, aku lebih mengerti diriku sendiri dari pada kamu!" cecar Alesya.
"ITU KARENA AKU PUNYA JANJI DENGAN IBUMU, UNTUK MENJAGA ANAK-ANAKNYA SETELAH BELIAU PULANG, ALE!" jawab Kendra penuh emosi bernada tinggi.
Alesya tersentak mendengar jawaban Kendra. Selama ia berteman dengan Kendra, ia tidak pernah seemosional ini. Tak sadar, mata Alesya mulai memerah kemudian mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Sorry." Kendra sadar nada yang ia gunakan terlalu tinggi untuk berbicara dengan perempuan.
"Terimakasih sudah menjagaku, aku sudah bisa jaga diri sekarang. Akan kusampaikan pada ibu, jika kamu menjalankan tugas dengan baik. Sekarang, yang perlu penjagaan darimu bukan aku, Araz lebih membutuhkannya dibanding aku. Jika kamu memang berjanji pada ibu untuk menjaga aku dan Araz, harusnya kamu tak khawatir siapa yang akan menjaga Araz jika aku benar-benar pergi, kamu sudah tau itu tugas siapa," ucap Alesya menahan air mata yang telah memenuhi kelopak matanya.
Kendra tersentak dengan jawaban Alesya, rupanya ia masih kukuh menjadi volunteer.
"Ambil ATM-ku, aku punya cukup uang untuk kebutuhan adikku, selama aku menjadi volunteer." Alesya menyodorkan ATM miliknya di depan dada Kendra. Kemudian, Alesya berbalik badan berjalan mendekati pintu.
"Kamu meremehkan ku, Alesya?" tanya Kendra. Tangannya bergetar menahan amarah memegang kartu ATM milik Alesya.
Alesya berbalik badan dengan tatapan tejam. "Siapa yang menanggapmu rendah, Kendra? Aku tidak melupakan tanggung jawabku sebagai kakak, seperti yang kamu tuduhkan."
Braaak...
Aleysa membanting pintu rumah mengakhiri perdebatannya dengan Kendra. Kendra masih mematung, ia tak menyangka seorang Alesya sekeras ini. Rasa kesal Kendra tak bisa dilampiaskan pada siapapun, ia menendang angin sekuat tenaga di halaman rumah Alesya untuk meluapkan amarahnya meskipun itu tidak cukup.
Ketika Alesya berbalik badan, ia menemukan Araz berdiri dengan mata sendu menatapnya. Alesya menghela napas panjang. Kemudian ia berjalan memeluk adiknya, ia merasakan isakan tangis yang tertahan di dada Araz. Tak terasa buliran air mata juga membasahi pipi Alesya. Ia kelu tidak dapat mengatakan apapun, mungkin Araz telah mendengar dan mengerti semuanya.
"Listen to me! you'll be find, Araz," kata Alesya setelah melepas pelukan adiknya namun kedua tangan Alesya masih memegang erat pundak Araz.
Araz menundukkan kepalanya, "Jika kakak tidak kembali, apa kakak yakin Kak Kendra bisa menjadi seorang kakak yang setulus kakak kandungku?"