
Tanah ini benar-benar tandus. Debu berterbangan ketika seseorang berjalan diatas tanah. Tanaman yang tumbuh hanya ilalang, suplir, dan pepohonan besar mulai meranggas. Tidak ada jalanan beraspal, hanya tanah kering berdebu media penghubung sesama lain. Jarak antar rumah terbilang rapat, namun menggerombol, jarak satu gerombolan rumah dengan rumah lain cukup jauh.
Alesya mengecek persedian air mineralnya. Mereka telah berjalan cukup jauh di bawah terik matahari di tanah tandus, wajar persedian air semakin menipis. Keringat terus bercucuran, rupanya badan Alesya butuh adaptasi lebih lama dilingkungan ini. Beberapa kali ia menatap langit berharap ada setitik awan untuk melindungi perjalanannya.
"Capek, ya?" tanya Freya yang berjalan disamping Alesya.
Alesya mengangguk, ia tak mau membuang energi untuk berbicara.
"Sebentar lagi kita sampai posko, tapi kalau kamu butuh istirahat aku bisa bilang ketua rombongan," tawar Freya.
"Nggak perlu, aku masih sanggup, kok." Alesya memang kelelahan namun ia merasa tak perlu berlama-lama lagi di jalan berdebu ini, ia ingin segera beristirahat di posko.
Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kehidupan, bahkan tak tercium jika di wilayah ini sedang terjadi konflik. Bahkan gerombolan rumah warga yang dilalui terkesan sepi. Wilayah ini lebih tepat dijuluki daerah tak berpenghuni dari pada wilayah konflik.
"Kita sudah sampai," ucap ketua rombongan ketika berada tepat di depan gedung besar yang telah usang.
"Frey, ini poskonya?" bisik Alesya, matanya celingak-celinguk memastikan kondisi sekitar.
Freya hanya mengangguk.
"Kita dilindungi disini, jangan lupa tugas dan tujuan bersama kita berangkat kesini untuk---." sambutan ketua rombongan diabaikan Alesya.
Dimana anak-anak? Dimana para ibu, para lansia, atau korban yang butuh bantuan, disini benar-benar sepi. Menurut kabar, wilayah ini sedang terjadi konflik bersenjata, tapi Alesya tak menemukan pertanda konflik sedikitpun. Bahkan sama sekali tidak ada warga yang berpapasan dengan romobongan mereka, lebih cocok disebut wilayah tak berpenghuni.
Mengapa wilayah ini membutuhkan volunteer? Sepintas, tidak ada yang dapat dilakukan disini. Apakah mereka perlu gebrakan pemuda dari negara lain untuk membangun wilayah ini? Apakah mereka memerlukan bantuan pengelolaan tanah dan air?
"Ale, ayo jalan jangan ngelamun!" Freya menyenggol pundak Alesya.
Pikiran spekulatif Alesya buyar begitu saja ketika semakin mendekati pintu gedung, ia mendengar suara gemuruh dari dalam. Ketika pintu gedung itu dibuka, Alesya tersenyum lega karena pemikiran spekulatifnya salah besar. Ketika pintu itu terbuka, nampak anak-anak lintas usia sedang sibuk dengan aktifitasnya, ada yang bermain, berlari, bahkan beberapa tertidur pulas di tengah keramaian.
"Ini posko bermain anak, posko kesehatan ada di belakang gedung ini, kalian bisa letakan barang kalian di pondok dan istirahat sejenak lebih dulu, sebelum berkegiatan," ucap ketua rombongan penuh kewibawaan, hal yang baru disadari Alesya setelah terus berprasangka buruk sepanjang perjalanan.
"Pondok cewek cowok dipisah, ngga?" tanya volunteer lain.
"Pondok cowok cat hijau berukuran lebih besar, pondok cewek cat abu dan lebih kecil karena formasi relawan cewek lebih sedikit. Selamat beristirahat semua, pastikan kalian istirahat dengan baik sebelum kita mulai kegiatan sore ini," pukas ketua rombongan.
Api semangat terbakar ditubuh Freya dan Alesya, mereka bergandeng tangan dan lompat-lompat kecil menuju pondok volunteer wanita, tak sabar mulai beraksi sore ini. Senyum nyaman dan bahagia terukir jelas dibibir keduanya. Rasanya wilayah konflik ini tidak semengerikan yang ada di pikirannya.
"Sepertinya, tiga bulan bukan waktu yang lama," Freya sesumbar, ia yakin dirinya akan baik-baik saja disini.
***
Di sudut ruangan, Alesya sibuk memindah foto dari kamera ke laptop. Ia belum memulai menulis. Terlalu banyak cerita yang harus dunia tau tentang wilayah ini, ia belum memutuskan kisah mana yang dipublukasikan lebih dulu. Novel tentang kisah nyata bercampur imajinasi tentang kehidupan warga wilayah ini masih buntu, ia terlalu menikmati menjadi volunteer.
"Alergimu kambuh, Dalila?" Freya sibuk memeriksa kesehatan anak mingguan. Kegiatan yang lama ia nantikan, berkontribusi dalam bidang kesehatan sesuai dengan keahlian yang ia dalami.
Dari sudut ruangan Alesya memandang sahabatnya dengan penuh rasa bangga, ia menjadi saksi salah satu dari sekian mimpi sahabat karibnya telah terwujud.
Terdengar suara gemuruh dari luar posko, suara itu terdengar lebih dekat dari biasanya. Volunteer tersentak, anak-anak yang sedang menjalani pemeriksaan kesehatan mingguan terlihat panik, beberapa dari mereka menangis dan saling memeluk. Ini adalah kejadian paling menegangkan selama satu bulan kedatangan para volunteer.
"Pastikan semua tetap dalam posko, kunci rapat pintu, situasi diluar sedang memburuk," Interupsi salah seorang volunteer lapang setelah ia masuk posko anak.
Semua volunteer terkejud, mereka berusaha menenangkan diri sendiri dan anak-anak yang sedang mereka jaga. Alesya menggigit bibir bawahnya, ia mengumpulkan nyali untuk melakukan hal yang gila.
Pelan-pelan Alesya menarik kamera dan buku catatan miliknya kemudian ia bangkit. Kondisi dalam posko begitu riuh, terdengar ucapan saling menguatkan dan do'a. Ini saat yang tepat untuk beraksi. Alesya berlari menerobos volunteer pria yang berjaga di depan pintu, kemudian ia membuka pintu posko dengan sangat mudah.
"Alesya, kamu mau kemana, ini terlalu bahaya." Secara mengejutkan Freya berhasil menahan tangan Alesya di depan pintu.
"Lepas Freya, aku akan segera kembali!" Alesya berusaha melepas genggaman Freya.
"Nggak!" Freya terus menarik Alesya supaya ia kembali dalam posko.
Tanpa pikir panjang, Alesya langsung mendorong Freya ke dalam gedung. Freya terjatuh ke lantai, karena tenaga Alesya jauh lebih besar dari Freya. Ketika Alesya melihat Freya berusaha untuk bangkit, ia langsung menutup pintu posko.
Braaakkk...
Alesya berlari menjauhi posko mencari sumber suara gemuruh yang semakin keras. Langkahnya begitu panjang, cepat, dan yakin. Ketika menemukan barisan ilalang, Alesya berjongkok dan menyiapkan kameranya tanpa ragu sedikitpun. Suara gemuruh terdengar semakin keras, ia akan menemukan sumber suara itu secepatnya dan akan kembali ke posko setelah ia mendapatkan apa yang ia cari.
Tiba-tiba....
Bluum...
Suara ledakan terdengar begitu keras. Debu dan asap menghalangi pandangan Alesya, ia memejamkan mata dan menahan napas beberapa saat berharap udara kembali bersih setelah ia membuka mata dan menarik napasnya lagi. Semenit ia menahan napas, tapi rasanya sudah tak bisa lebih lama lagi. Nafasnya kian tersengal.
"Mata-mata?" Suara berat mengagetkan Alesya, perlahan ia membuka mata, dan tiga orang prajurit gagah bersenjata berdiri dihadapannya.
"Bawa ke markas!" ucap seorang prajurit. Dua orang prajurit lain dengan sigap menarik tangan Alesya begitu kasar setelah mendengar prajurit yang memiliki gelar lebih lengkap dibajunya.
Alesya berteriak sejadi-jadinya. Ini adalah ketakuan paling dahsyat yang pernah ia alami sumur hidup. Sekuat tenaga ia menarik tangan, menendang, hingga berusaha menggigit tangan prajurit yang menangkapnya. Tapi, tenaganya tidak sebanding, borgol telah diikat di kedua tangan Aleysa. Dengan cepat, Ia ditarik ke daerah yang tidak pernah ia datangi sebelumnya.