
"Mau jadi apa kau dengan kamera-kamera ini? Lihat caramu berpakaian, apakah pantas kau jadi anak pang lima perang?" Deck geram melihat tingkah putra pertama yang ia gadang-gadang sebagai penerusnya justru tak mepresentasikan didikannya sama sekali.
Galvin diam mendengar makian sang ayah. Telinganya terasa begitu kebal dengan makian sang ayah setiap kali ia memegang kamera kesayangannya.
"Glesza, mau apa kamu dengan buku-buku itu? Siapa yang mau membaca novel karyamu? Sudah berapa kali kamu ditolak editor? Sudah jelas, bukan bakatmu disana, ceritamu tidak menarik untuk dibaca, minggu depan ujian masuk kedokteran tapi kamu malah milih melanjutkan cerita hayalmu itu, menurun sifat siapa kalian ini? Tidak realistis menjalani hidup," Tak hanya Galvin si putra sulung yang diamuk Deck, tapi si bungsu Glesza juga tak luput dari amarah Deck.
Tik...
Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Glesza membentuk lingkaran diatas bukunya. Ini kesekian kalinya ia mendengar celaan sang ayah, namun ia tetap sakit hati.
"Mereka menurun sifatku, Deck," ucap Noro dari balik pintu. Galvin dan Glesza serempak menengok kearah sumber suara.
Kali ini Noro tidak tinggal diam mendengar suaminya mematahkan mimpi putra putrinya untuk kesekian kalinya. Biasanya ia hanya diam mendengar amukan dan hinaan Deck pada anak-anaknya, tapi kali ini ia sudah tak bisa menahannya lagi.
"Sifat apa yang kamu lihat di darah dagingmu mempresentasikan sifat dan karakterku, karena aku yang lebih banyak bersama mereka, aku yang mendidik mereka, dan aku lebih dekat dengan mereka," jawab Noro tegas bernada tinggi.
Galvin dan Glesza saling bertatapan. Biasanya sang ibu datang menghampiri mereka setelah ayahnya selesai memarahi mereka. Biasanya ibu datang untuk menyuruh mereka sabar menghadapi sifat ayahnya. Kali ini keputusan ibu terbilang sangat berani dibanding biasanya.
"Kamu memang seorang pang lima untuk negara ini, atau bahkan kamu ingin disebut pahlawan," lanjut Noro, kemudian ia maju beberapa langkah mendekati suaminya, "Tapi kamu bukan seorang pang lima dikeluargamu sendiri, bahkan anak-anakmu pasti tidak sudi menyebutmu pahlawan."
Noro benar-benar berani. Galvin dan Glesza semakin tegang melihat ibu berjalan mendekati ayahnya. Entah dari mana dan sejak kapan Noro mengumpulkan nyali itu untuk membela anak-anaknya. Ia tak ingin setengah-setengah mengungkapkan perasaan yang telah lama ia pendam.
Deck berjalan beberapa langkah mendekati Noro, kemudian ia menundukan pandangannya untuk menatap mata Noro yang memiliki postur beberapa centi lebih pendek darinya. Sejujurnya, Deck terkejut dengan kalimat yang diucapkan oleh Noro yang biasanya hanya diam saja.
"Kedua anak kita sudah dewasa, mereka bebas menentukan jalan hidupnya," Noro mulai menurunkan nada bicaranya berharap Deck luluh. Meskipun kecil kemungkinan itu terjadi.
"Apa ini ucapan terimakasihmu untukku, Noro?" tanya Deck pelan namun penuh penekanan
Noro tidak menjawab, hanya membalas tatapan tajam Deck.
"JAWAB!" bentak Deck cukup menggelegar.
"AKU HARUS BERTERIMAKASIH UNTUK APA?" tangis Noro pecah, bahkan bentakannya lebih keras dari bentakan Deck.
Tidak ada jawaban dari Deck. Galvin dan Glesza menelan ludah kasar, menyadari suasana kian memanas.
"Kau yang memintaku menjadi istrimu, Deck"
"Beri tahu aku, dapat dari mana nyali sebesar ini untuk melawanku?" Deck masih mematung menunggu jawaban Noro dengan tatapan tajam.
"SIAPA YANG TIDAK BERTERIMAKASIH DISINI?" Noro tidak dapat membendung amarahnya lagi, ia menyeka air mata kemudian melanjutkan perkataannya, "Aku menikah denganmu meninggalkan semua impian yang hingga saat ini belum terwujud, aku menikah denganmu meninggalkan keluargaku dan bahkan kau sering melarangku untuk pergi ke rumah orang tuaku, aku menikah denganmu dan menghormatimu sebagai suamiku, aku melahirkan dan merawat buah hatimu sebagai ibu dari mereka, aku menyiapkan segala keperluanmu, tapi apa balasanmu? Kau tidak pernah melibatkanku dalam pengambilan keputusan, bahkan kau yang mengambil keputusan atas hidupku, dan sekarang kau mengambil keputusan atas hidup anak-anakmu, apa kau sudah gila?"
"Aku tau mana yang terbaik untuk mereka," jawab Deck penuh penekanan.
Noro memalingkan wajahnya. Ia muak mendengar jawaban itu.
"Lihat aku!" Deck memegang dagu Noro dan memutarnya agar mata mereka kembali saling berhadapan.
Noro tidak gentar seperti biasanya. Ia masih konsisten dengan tatapan mata tajam penuh intimidasi.
"Kau bertanya siapa yang tidak berterimakasih disini?" tanya Deck sembari memutar badan membelakangi Noro menuju foto pernikahan mereka yang digantung di dinding.
Bola mata Noro mengikuti pergerakan Deck.
"Apa kau lupa dulu kau siapa? Dulu kau hanya seorang tawanan perang yang memohon dengan isak tangis untuk dibebaskan pada prajurit, untungnya kau punya wajah yang cantik, aku terpikat pesonamu, jalan satu-satunya yang paling aman untukmu bebas adalah menikah denganku, aku melamarmu dan kau setuju itu, jadi siapa menurutmu yang tidak berterimakasih?"
Deck memutar tubuhnya untuk kembali menatap Noro di depan foto pernikahan mereka. Kali ini tatapan Noro tak setajam sebelumnya.
"Jika aku tidak menyelamatkanmu dengan pernikahan ini, mungkin kau sudah lama mati, atau kau menjadi perempuan pemuas nafsu di markas tentara hingga kau menua dan tak dibutuhkan lagi, menikah denganku membuatmu lebih terhormat dan yang terpenting kamu bebas seperti yang kau mau, tanamkan itu baik-baik di otakmu, Noro!"
"KALAU AKU TAHU SIFAT ASLIMU SEPERTI INI, LEBIH BAIK AKU MATI SAAT ITU DARI PADA HARUS MENIKAH DENGANMU!"
Pyaarr......
Deck meninju kaca pelindung foto pernikahan, hingga serpihannya berserakan di lantai. Detik berikutnya, Deck meninggalkan ruangan begitu saja tanpa sepatah katapun.
"MENIKAH DENGANMU ADALAH KESALAHAN TERBESAR DALAM HIDUPKU!"
Noro terhuyung ke lanti dengan isak tangis yang begitu sesak di dada. Noro mengira Deck adalah malaikat penolong yang akan membawanya bebas dan menghormatinya sebagai istri. Ia merasa tertipu oleh mulut manis Deck sekaligus bersalah pada anak-anaknya.
Glesza berlari memeluk ibunya yang sedang terisak. Tangis Glesza terasa begitu sesak hingga membuatnya kesulitan bernapas dipelukan ibunda. Galvin datang menyusul Glesza kemudian memeluk erat ibu dan adik perempuannya. Air matanya beku, bahkan tangis tak dapat mewakili rasa marah dan kecewanya pada sang ayah. Bagaimana bisa seorang pimpinan keluarga begitu tega membunuh mimpi anak-anaknya dan merendahkan harga diri istrinya tepat di depan mata anak-anaknya. Tangannya mengepal kuat, urat di lehernya terlihat jelas, wajahnya merah padam penuh amarah dan dendam.
"Maafin ibu, nak, harusnya kalian tidak perlu lahir di dunia ini, harusnya dari dulu ibu lebih berani membela kalian," Noro terisak memeluk kedua buah hatinya.
"Ibu ngga perlu ngebela kita lagi bu, hari ini terlalu menyeramkan dan berbahaya bagi ibu. Glesza takut, kami takut." Glesza semakin erat memeluk ibunya.
"Kalau saat itu ibu tidak menikah dengan ayah, kalian tidak akan lahir dikeluarga ini, kalian tidak akan merasakan sakit hati ketika setiap hari ayah selalu meremehkan impian kalian, atau mungkin kalian terlahir dikeluarga lain yang penuh kasih sayang dan lebih mendukung impian kalian." Kini Noro benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Ia benar-benar kecewa pada Deck.
Noro dan Glesza benar-benar kalut dalam amarah dan kekecewaan pada Deck. Pikiran Galvin begitu kacau, sebagai anak laki-laki pertama harusnya ia lebih sigap melindungi ibu dan adik perempuannya, namun ia tak dapat berbuat banyak ketika yang mebuat kekacauan adalah ayahnya sendiri. Figur yang harusnya berperan utama dalam menghadirkan rasa nyaman dan tentram dalam keluarga.
"Ibu, kita nggak pernah nyesel jadi anak ibu," ucap Galvin.