The Journalist

The Journalist
Kendra



Tin... tin...


Mobil berwarna hitam berhenti di depan Alesya ketika ia sedang melamun di depan gedung tempatnya bekerja. Si pemilik mobil membuka jendela kaca kemudian tersenyum manis menyapa Alesya. Alesya membalas senyuman itu kemudian beranjak memasuki mobil setelah tersadar ia melamun cukup lama.


"Tumben minta di jemput?" Kendra membantu Alesya memindahkan barang-barangnya untuk diletakkan di jok belakang. Pertanyaan itu tak mendapat jawaban dari Alesya yang terlihat begitu lelah.


"Kamu capek?" tanya Kendra. Tangan Kendra begitu lihai mengendalikan kemudi mobil untuk berputar arah keluar dari halaman kantor Alesya, sepertinya Alesya ingin segera beristirahat.


"Hehe, iya," jawab Alesya singkat. Ia memerhatikan Kendra yang terlihat kelelahan sepulang bekerja sebagai staff IT di salah satu stratup. "Udah makan belum? sebelum pulang kita makan soto betawi, gimana?"


Kendra menatap Alesya sembari mengernyitkan dahinya. "Tumben?"


"Eh, ga laper ya? Langsung pulang juga ga apa kok, Ken."


"Hm... enggak, aku laper juga, kita cari soto betawi terenak disini, ya!"


Alesya tersenyum dan mengangguk. Detik berikutnya Kendra memutar musik klasik eropa tahun 80-an sebagai teman perjalanan mereka menerobos hiruk pikuknya ibu kota menuju tempat soto betawi terfavorit di kota ini. List lagu klasik eropa tahun 80-an selalu berada di daftar putar mobil Kendra, awalnya Alesya mengejek selera musik Kendra yang dinilai cukup kuno, namun kini Alesya sudah terbiasa. Alesya mulai menyadari apa yang membuat Kendra begitu gemar memutar lagu-lagu klasik itu. Nadanya mengalun dan menenangkan, bahkan hingga membuatnya tertidur diperjalanan.


Lampu merah ibu kota cukup panjang. Biasanya Kendra merasa lelah dan kesal sendiri di situasi seperti ini. Hari ini berbeda, ia justru menikmati perjalanan meski lalu lintas sepadat biasanya. Alesya yang tertidur pulas disampingnya membuat hatinya lebih damai. Alesya selalu membawa kedamaian dalam hidupnya, gadis yang pintar, tutur kata tertata, pandangan mata yang berbinar, sederhana, pekerja keras, namun cukup keras kepala.


There’s a room where the light won’t find you, holding hands while the walls come tumbling down, when they do I’ll be right behind you. So glad we’ve almost made it, so sad they had to fade it, everybody wants to rule the world.


Tears for Fears - Every Body Wants to Rule the World


***


"Al, udah sampai." Kendra menepuk pelan pundak Alesya.


"Oh maaf, aku ketiduran ya? Capek banget soalnya." Alesya dengan sigap merapikan rambutnya yang menutup sebagian wajahnya.


"Nggak papa, kita langsung turun aja."


Keduanya berjalan beriringan mencari meja depot yang kosong. Depot soto betawi ini begitu melegenda dan selalu ramai dari tahun ke tahun. Terkadang, pembeli harus antri tempat duduk untuk bergantian dengan pembeli lain, untungnya hal itu tidak terjadi malam ini.


"Kamu inget kenangan kita waktu kecil di depot ini?" Tanya Kendra setelah mereka menemukan meja kosong.


Alesya memutar bola matanya. Beberapa detik kemudian ia bergidik.


"Ah, kamu ga seru!" Protes Kendra.


"Ih jangan ngambek donk, aku beneran ga inget." Alesya berusaha membujuk Kendra yang mengerucutkan mulutnya.


"Permisi, kak, ini daftar menunya," ucap seorang pelayan yang menghampiri meja mereka.


***


"Hahaha..." gelak tawa Alesya disela-sela ia menikmati soto betawi yang namanya cukup melegenda.


Ia menertawakan masa kecilnya yang memarahi Kendra karena mengambil jatah soto betawinya di depot ini. Rasa soto betawi di depot ini tidak pernah berubah dari mereka kecil hingga kini mereka sudah dewasa.


"Sekarang udah inget, kok."


Kendra adalah teman masa kecil Alesya yang begitu awet hingga sekarang. Mereka lebih dahulu saling mengenal sebelum Alesya bersahabat dengan Freya. Ibu Alesya-lah yang mengenalkan keduanya sewaktu kecil. Sejak perkenalan itu mereka berteman hingga sekarang. Meskipun frekuensi pertemuan keduanya semakin berkurang mengikuti pertambahan usia dan kesibukan, namun pertemuan keduanya selalu berkualitas. Mereka saling berbagi keluh kesah, mengenang masa lalu, hingga membahas polemik dalam negeri. Setiap pertemuan diantara mereka terasa begitu menyenangkan, terutama bagi Kendra.


Bisa dibilang Alesya satu-satunya perempuan yang mengisi hatinya sejak dulu. Kendra lupa kapan tepatnya muncul perasaan ini. Sepertinya sudah lama Kendra pendam sendiri. Perasaannya tidak terdefinisi, bahkan Kendra ragu dengan perasaannya sendiri. Rasa itu muncul karena terbiasa. Terkadang ia yakin Alesya juga memiliki perasaan yang sama dengannya, namun ketika ia tahu cara Alesya memeperlakuakn orang lain tak jauh berbeda dengan cara Alesya memperlakukannya, keyakinan itu terkikis adanya. Alesya memang gadis yang hangat untuk orang-orang disekelilingnya.


"Ale, kamu udah punya pacar?" Kendra menyesali pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


Alesya berhenti mengaduk soto betawi di depannya, kemudian ia menelan perlahan makanan yang telah masuk ke mulutnya. Obrolan yang sebelumnya hanya candaan menjadi lebih serius setelah Kendra menanyakan statusnya. Apakah ini benar-benar pertanyaan atau hanya bagian dari candaan Kendra?


"Belum," jawab Alesya singkat.


Rasanya separuh beban pikiran Kendra menghilang setelah mendengar jawaban Alesya. Rasa penyesalan karena pertanyaan konyol yang keluar begitu saja dari mulutnya berubah menjadi rasa lega. Kemudian Kendra menegak es teh untuk menutupi senyuman tipis di bibirnya.


"Belum, belum pernah," lanjut Alesya.


"Cepetan cari!" Jawab Kendra sedikit menekan.


"Kenapa?"


"Biar kamu nggak nyuruh aku jemput kamu ke kantor waktu aku capek kerja!"


"Ih, ngeselin banget, dasar manusia pamrih!" Alesya geram kemudian mencubit tangan Kendra.


Suasana kembali lebih santai. Mendengar Alesya menjawab dirinya belum pernah berpacaran membuat rasa optimis jika mereka saling menanti kembali muncul di benak Kendra. Apakah benar selama ini mereka saling menanti?


'Tidak apa, kalau perlu setiap pulang kantor panggil aku untuk menjemputmu atau kalau perlu panggil aku setiap pagi jika kau mau diantar ke kantor, Alesya. Aku tidak akan keberatan jika kau minta waktuku, aku tidak akan mengeluh jika kau bersandar padaku, kesibukan orang bergantung pada prioritasnya dan kau adalah prioritasku. Jika kau tahu, bahkan aku ingin kau merepotkan aku seumur hidupmu. Namun sayangnya, kau tidak pernah saddar akan semua hal itu.' guman Kendra dalam hati. Dasar orang dewasa, lain di mulut lain di hati. Mulut dan hati Kendra mengatakan hal yang bertentangan. Menurutnya, terlalu dini untuk mengakui perasaannya. Tetapi, sesegera mungkin Kendra akan membuat Alesya mengerti apa yang ia rasakan.


"Freya dimana? bukannya kamu sering bareng Freya kalau pulang kerja?" Tanya Kendra.


"Nah, itu. Tadi pagi dia diruanganku, siangnya aku keluar ruangan karena ada tamu, tapi begitu aku balik ke ruangan Freya udah ga ada, aku cari ke ruangannya juga ga ada, sampai pulang kantor aku juga ga ketemu dia lagi." Jelas Alesya panjang lebar.


"Kok gitu? kamu udah hubungi dia, kan?"


"Udah, sih."


"Terus?"


"Chat and call aku masuk ke nomor dia, tapi sama-sama ga ada jawaban sampai sekarang."


"Mungkin dia ada perlu mendadak di rumah atau dia sakti?"


"Semoga begitu ya, aku sedikit khawatir."


"Atau begini, besok kita ke rumah Freya kalau sampai pagi dia ga jawab chat kamu." Alesya mengangguk setuju dengan ajakan Kendra. Karena ini adalah hal yang tidak pernah terjadi pada Freya sebelumnya membuat Alesya khawatir.


Kendra dan Freya tidak kenal dekat, mereka hanya sebatas tahu satu sama lain, walau mereka telah bertemu sejak mereka duduk di bangku SMP, ketika Freya menjadi sahabat perempuan pertama Alesya. Hampir semua sahabat dan teman Alesya diketahui oleh Kendra. Hal tersebut Kendra lakukan bukan karena obsesi, tapi ia ingin memastikan jika Alesya bersama orang-orang baik di sekitarnya. Selain itu, ini adalah bagian dari janji Kendra pada ibu Alesya untuk menjaga Alesya ketika beliau telah tiada.