The Journalist

The Journalist
Best Day



Dress putih dan rambut indah Alesya berkibar diterpa angin. Alesya berjalan sejajar dengan Galvin yang tengah menikmati udara segar pagi ini. Wajahnya nampak begitu tenang dan damai, tak seperti wajah yang ia tampilkan selama bertugas di markas.


Di sebelah mereka berjalan terdapat aliran sungai jernih dengan arus yabg tenang. Mereka menyeragamkan langkah di hamparan rumput tepi sungai.


"Kamu nggak kelihatan seperti prajurit," Alesya membuka pembicaraan.


"Maksudnya?"


"Wajahmu tidak terlihat sangar seperti biasanya."


Wajah Galvin lebih berseri setelah mendengar pujian Alesya. Mereka terus menyeragamkan langkah menuju dataran tepi sungai yang lebih tinggi.


"Kita duduk disini!" ucap Galvin seraya menggelar tikar yang ia simpan di backpack.


Mereka duduk santai di tepian sungai yang tak jauh dari aliran air tejun mini berketinggian kurang lebih satu setengah meter. Beberapa camilan dan minuman kemasan juga disajikan oleh Galvin. Alesya tak menyangka Galvin menyimpan semua ini di dalam backpack miliknya.


"Ternyata kamu bisa sekreatif ini," puji Alesya ketika membantu Galvin menata perlengkapan piknik kecil mereka.


"Aku telah lama tidak menikmati alam, Ale. Hari-hariku sibuk di markas, ketika libur aku hanya menghabiskan waktu di rumah. Teman-temanku sudah sibuk dengan urusan masing-masing, Glesza enggan berkomunikasi denganku," jawab Galvin, kalimat itu membuat Alesya iba.


Setelah tikar tergelar sempurna serta makanan dan minuman tersusun rapi, Alesya dan Galvin naik ke atas tikar untuk duduk santai di atasnya.


"Mungkin ini hidup yang orang impikan. Santai, nyaman, dan tenang." kata Galvin setelah menarik dan menghembuskan napasnya perlahan.


Alesya menatap sekilas wajah Galvin yang terlihat sangat menikmati suasana ini. Ia pun sama. Setelah mendekam lama di tahanan, tentunya udara segar ini mampu mengikis rasa bosan di perasaan Alesya.


"Apa kamu selamanya menjadi prajurit?" tanya Alesya setelah menolehkan kepalanya.


"Tentunya sampai aku pensiun, mau tidak mau ini adalah resiko pekerjaan." Galvin tetap memandang lurus ke depan.


"Aku harap hubunganmu dan Glesza segera membaik," lirih Alesya.


"Harapanmu cukup mustahil."


"Siapa bilang mustahil? Dia diam-diam masih peduli denganmu sebagai seorang kakak."


"Tapi untuk dekat seperti hubunga adik kakak semula itu mustahil."


"Tidak ada yang mustahil jika tangan Tuhan berkehendak."


Hening sejenak. Tidak ada jawaban dari Galvin dan Alesya tak memulai pembicaraan baru. Hanya terdengar desiran suara angin yang menggerakkan dedauan dan gemericik air sungai.


Galvin berdehem sebelum kembali melanjutkan pembicaraan. "Tuhan?"


Alesya menoleh dan mengerutkan keningnya. "Kau tidak percaya?"


"Dulu pernah percaya."


Kening Alesya semakin mengerut dan lebih dekat menatap wajah Galvin. "Sekarang?"


Galvin menggeleng.


Alesya membuang pandangan ke langit. Kemudian senyum tipis tercetak di bibirnya. "Aku tau itu urusan pribadimu, tapi kenapa?"


"Tidak apa, itu pilihanku."


"Aku tidak bisa membayangkan seseorang hidup tanpa kepercayaan pada sang pencipta." Alesya terus menandang langit biru berawan putih siang itu.


Galvin tak menjawab namun mengikuti arah pandangan Alesya.


"Baiklah, itu urusan pribadimu, aku tidak akan mencampurinya."


"Terimakasih."


Perlahan sinar matahari mulai terasa panas, angin yang sebelumnya terasa lembab sekarang berubah menjadi kering. Camilan dan minuman yang tersaji di tikar mulai habis. Begitupula dengan topik pembicaraan yang rasanya telah habis.


"Alesya, di bawah bukit aku sudah menyiapkan dua sepeda untuk kita kayuh ke pasar."


Alesya tersentak dengan ajakan Galvin. "Sepeda? Ke pasar?"


"Oh tidak, aku bisa naik sepeda dan sering pergi ke pasar. Aku hanya cukup terkejut dengan ajakanmu," jawab Alesya antusias.


Kenapa harus pasar? Ada apa di pasar siang hari? Apakah masyarakat disini pergi ke pasar siang hari? Beberapa pertanyaan muncul di kepala Alesya.


Setelah merapikab tikar dan membuang sisa makanan dan minuman mereka berjalan cukup jauh menuju sepasang sepeda yang di janjikan oleh Galvin. Namun, hamparan rumput hijau dan pemandangan samar gunung yang terlukis indah mengalihkan rasa lelah selama Alesya jalan kaki. Wilayah ini terasa makmur, mengapa masih terjadi konflik?


Galvin dan Alesya mengayuh sepeda beriringan dijalan setapak diantara hamparan ilalang. Jalanan cukup sepi, bahkan Alesya sama sekali tak melihat rumah di daerah ini.


"Galvin, kenapa tidak ada rumah disini?" tanya Alesya setengah berteriak agar Galvin mendengar suaranya.


Seett...


Galvin mengerem sepedanya mendadak sehingga Alesya yang mengayuh sepeda di belakangnya tergopoh-gopoh untuk berhenti.


"Aduh, kok mendadak, sih!" gerutu Alesya.


"Maaf," sahut Galvin kemudian memarkir sepeda dan berjalan menuju ke lahan ilalang.


"Mau kemana lagi?" Alesya berlari-lari kecil mengejar langkah Galvin.


"Daerah ibu memang kosong tak berpenghuni."


Alesya diam mendengar kalimat Galvin dengan seksama.


"Area ini merupakan area yang ditakuti warga sipil, area ini juga digunakan untuk latihan militer di hari tertentu. Saat ada serangan dari musuh, umumnya mereka masuk lewat wilayah ini."


"Jadi kita berada di wilayah berbahaya?"


"Tidak juga, jika di area musuh ini adalah wilayah penangkapanmu."


Alesya meneguk lidah. Galvin membalikkan badan menatap Alesya yang berdiri di belakangnya. "Maaf, harusnya aku tak mengingatkanmu atas kejadian itu."


"Kita lanjutkan perjalan ke pasar saja," Alesya kembali mendekati sepeda dan Galvin menyusul.


***


"Aku masih tidak paham maksudmu, kenapa kita harus ke pasar? Dan aku baru tau kalau ada pasar tradisional disini," celetuk Alesya.


"Sudah, kamu diam dan ikuti aku saja," jawab Galvin.


Mereka berjalan sejajar diantara para pedagang. Sepintas tak ada perbedaan yang mencolok antara pasar tradisional Indonesia dan wilayah ini.


"Aku tau kau suka kegiatan sosial," tegas Galvin.


"Iya, lalu?" Alesya masih tak paham tujuan Galvin.


"Kamu bisa mengamatinya disini." Galvin mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Alesya, ia mengikuti arah pandangan Galvin.


"Di pasar kamu bisa melihat semua kegiatan sosial dan status sosialnya, ada pedagang besar, pedagang kecil, membeli tanpa menawar, menawar untuk membeli, orang-orang yang berjuang untuk hidupnya, atau bahkan sedang ada pencopet di tempat kita."


Lagi-lagi Alesya terdiam mendengar perkataan Galvin. Perkataan Galvin sering membuat Alesya kagum. Untuk ukuran prajurit yang di kenal keras, susunan kata Galvin tertata dan menarik untuk di dengar.


"Apa yang membedakan pasar disini dan dinegara asalmu?"


Pandangan Alesya menelusuri setiap sudut pasar tradisional dari tempatnya berdiri. "Di Indonesia lebih padat baik pedagang dan pembelinya, lapak pedagang biasanya berdekatan dan ukurannya jauh lebih kecil. Mungkin itu karena penduduk negaraku lebih padat."


"Potret disini apapun yang menarik perhatianmu, cari tau apa yang membuatmu penasaran, dan tulis apapun yang kamu inginkan, semoga jadi tambahan materi untuk kamu terbitkan nanti."


Kepala Alesya mengangguk ringan. Meski dalam hatinya penuh tanya mengapa Galvin memberi kesempatan ini padanya. Apapun yang telah dilakukan Alesya, ia tetaplah seorang tawanan yang bisa saja menyelinap untuk melarikan diri atau menyusun rencana lain yang membahayakan ketahanan negaranya.


Langkah Alesya panjang dan seyum merekah dibibirnya. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut pasar mencari sesuatu yang menarik untuk dieksplor. Beberapa komoditas hortikultura yang diperdagangkan cukup berbeda dengan yang sering ia jumpai di Indonesia, susunan pedagang dan keadaan pasar juga berbeda. Jumlah pengunjung pasar cenderung konstan setiap saat dengan pengunjung yang silih berganti. Beberapa perbedaan membuat Alesya


Galvin berjalan berlawanan arah menjauhi Alesya supaya Alesya lebih nyaman bereksplorasi. Nama Galvin sebagai seorang prajurit tersohor melekat pada dirinya, bahkan beberapa pedagang besar di pasar tradisional ini mengenalinya. Ia ingin Alesya aman dan tak dicurigai seorangpun termasuk warga sipil negaranya.