The Journalist

The Journalist
Dokter Glesza



Pintu sel terbuka dan tertutup dengan cepat. Dokter perempuan kembali mendatangi Alesya. Tanpa menyapa tawanan yang sedang memperhatikannya, dokter itu menuju sudut ruangan yang terdapat piring bekas makanan Alesya. Ia memperhatikan piring itu beberapa saat kemudian membalasa tatapan Alesya.


"Dokter," sapa Alesya, ia tak tahu kalimat apa yang tepat untuk melanjutkan sapaannya.


Tak ada jawaban. Dokter itu mengitari ruang sel tawanan dengan pandangan serius, bahkan ia masuk dalam kamar mandi sel yang berukuran kurang dari satu meter persegi. Ia mengangguk-angguk kemudian menyandarkan punggungnya di sudut ruangan.


"Katakan, apa yang terasa mengganggu kesehatanmu!" pinta dokter itu sambil memandangi kukunya.


"Borgol ini, dok, kau lihat sendiri tanganku memar beberapa hari lalu," rintih Alesya. Ia tidak berharap dokter berkenan melepaskan borgol tangannya.


Dokter perempuan itu merogoh kunci di saku jasnya, kemudian menghampiri Alesya untuk melepas borgolnya. Walau caranya sedikit kasar, namun cukup melegakan bagi Alesya karena sekarang ia lebih bebas menggerakkan tangannya.


"Terimakasih, dok."


Tidak ada jawaban. Justru terdengar ketukan pintu dari luar sel.


Knock... Knock...


"Dokter, apakah kau di dalam?" teriak seorang prajurit bersuara berat dari luar.


"Iya, segera masuk dan kunci pintunya!" jawab dokter.


Detik berikutnya beberapa prajurit masuk sel membawa matras tipis, selimut, dan bantal. Disusul wanita membawa box makanan dan susu kemasan yang diletakkan di sudut ruangan menggantikan piring metal sarapan Alesya di sudut ruangan. Mereka pergi begitu saja setelah meletakkan peralatan tidur dan makanan dalam sel Alesya. Meskipun para prajurit dan wanita pembawa makanan telah keluar dari sel, dokter perempuan itu belum meninggalkan Alesya.


"Kau masih ada perlu apa, dok?"


Lagi-lagi dokter memilih untuk tidak menjawab. Ia lebih tertarik untuk membuka box makanan dan memeriksanya lekat-lekat, kemudian mendekati Alesya.


"Boleh aku tau siapa namamu?"


"Glesza, panggil saja Dokter Glesza," jawab dokter dengan langkah mantap dan semakin dekat dengan Alesya.


"Makanlah!" perintah dokter sambil menyodorkan box makanan dan susu kemasan.


Perintah Dokter Glesza cukup mengejutkan bagi Alesya, makanan pertamanya baru habis sekitar dua jam yang lalu, tapi perutnya memang masih lapar karena porsi makanan pertama tergolong sedikit. Hatinya penuh keraguan menerima box makanan yang disodorkan dokter cantik yang berdiri tepat di depannya, ini adalah makanan paling lengkap dan sehat selama ia berada di sel.


"Makan saja!" tandas Dokter kemudian duduk diatas matras baru.


"Apa makanan ini sebenarnya jatahmu?"


Lagi-lagi Dokter Glesza tidak menjawab, meskipun Alesya telah merubah intonasi bicaranya menjadi lebih lembut.


"Apa matras ini dipasang untukmu dan setelah kau keluar matras ini akan ditarik kembali?" Alesya tak menyerah untuk bertanya ia berharap sekali saja ada jawaban yang keluar dari mulut sang dokter.


Dokter Glesza menggeser posisi duduknya dengan wajah datar. "Naiklah! matras ini permintaanku pada markas untukmu dan box makanan itu milikmu."


Kali ini Alesya yang tak merespon perkataan dokter.


"Mengapa diam? Kenapa belum kau makan makanannya?"


Alesya tak memberikan respon apapun selain menatap isi box makanan yang terlihat menarik.


"Apa kau takut diracun?"


Alesya mengangguk.


"Sudah aku duga, tenang itu makanan sehat dengan gizi seimbang untuk memulihkan kondisi badanmu, matras ini dipasang agar kau lebih nyaman saat istirahat," jelas Dokter Glesza panjang lebar setelah sebelumnya enggan menjawab pertanyaan Alesya.


Bagi Alesya semua alasan Dokter Glesza tidak masuk akal. Bagaimana bisa orang yang dicurigai sebagai mata-mata diperlakukan seperti ini? Alesya menjaga logikanya untuk tidak mudah percaya dengan siapapun meskipun yang mengatakan ialah seorang dokter.


"Kau masih tidak percaya?" Dokter Gelsza menarik box makanan yang dipegang Alesya kemudian memakan salah satu lauk di dalamnya.


Alesya terkejut melihat aksi Dokter Glesza.


"Masih tidak percaya? akan aku habiskan makanan ini sekarang," tegas dokter.


Melihat Dokter Glesza dengan penuh keyakinan memakan makanan itu membuat Alesya bahwa apa yang dikatakan dokter benar.


"Tapi apa untungnya kalian memperlakukanku seperti ini? Bukannya kalian curiga aku seorang mata-mata? Atau hasil penyelidikan telah keluar dan aku benar bukan seorang mata-mata?" Alesya mencecar pertanyaan pada dokter.


"Aku ditugaskan untuk memastikan kamu tetap hidup selama proses penyelidikan." tegas Dokter Glesza.


Deg...


Bagai pukulan gondam. Alesya terkejut bukan kepalang mendengar jawban dokter. Matanya membulat sempurna, tangannya gemetar keras, kali ini rasa takut yang begitu besar kembali menyelimuti pikirannya. Ia tak mampu membayangkan bagaimana jika hidupnya harus berakhir di sel ini.


Dokter mengangkat bahunya. "Mungkin kau akan dipindah ke sel biasa."


"Bagaimana kelanjutan hidupku, bagaimana cara supaya aku bebas?" Alesya menelan ludah sebelum ia memegang tangan dokter dengan erat. "Aku sungguh tidak terlibat dalam konflik ini, bahkan aku dari daerah lain."


Dokter Glesza kembali tak merespon perkataan Alesya.


"Dokter, apa yang kamu tau tentang tawanan perang?"


Dokter Glesza menghela napas dan membiarkan Alesya terus memegang tangannya. "Apakah aku harus memberi tahumu? Baiklah jika kamu meminta, aku harap kamu tidak menyesal setelah aku menjelaskannya."


Alesya mengangguk dengan air mata yang telah berlinang.


"Hanya sedikit dari tawanan yang dibebaskan, tidak pernah ada tawanan yang berhasil kabur, tawanan-tawanan wanita akan mengabdi pada prajurit laki-laki, sedangkan tawanan pria dipaksa berpartisipasi tenaga dalam pembangunan." jelas Dokter Glesza membuat dada Alesya semakin sesak.


"Bagaimana cara agar aku jadi bagian dari tawanan yang dibebaskan?" Alesya tidak menyerah.


"Itu hanya suatu keberuntungan, kamu tidak dapat mengusahakan apapun," tandas dokter membuat Alesya semakin sesak.


Dokter Glesza menarik tangannya saat Alesya lengah kemudian beranjak pergi.


"Aku akan mengusahakan kau selalu baik-baik saja selama dalam tanggung jawabku," tambah dokter sebelum membuka kunci pintu.


Kalimat dokter tak lagi diharaukan Alesya.


***


Dokter Glesza berjalan di koridor markas mengabaikan beberapa prajurit yang menyapanya. Pikirannya berkecamuk, sebagai seorang perempuan yang dibesarkan penuh kasih sayang, ia merasa iba pada tawanan perempuan yang dibuatnya histeris. Apalagi ini adalah pertama kali baginya untuk menjaga kesehatan seorang tawanan yang tidak jelas masa depan hidupnya.


"Atur jadwalku untuk bertemu Prajurit Galvin!" perintah Dokter Glesza pada staff yang berjaga di depan ruangan petinggi.


"Kau bisa bertemu aku kapan saja tanpa membuat jadwal, dok," sahut seseorang dari belakang. Benar, Prajurit Galvin sedang beridiri di belakangnya.


"Silahkan masuk ruangan Dokter Glesza!"


Sejak pertama kali bertugas, Dokter Glesza tidak pernah memasuki Prajurit Galvin. Tampilan ruangannya menggambarkan seolah sikap laki-laki lembut yang ia kenal dahulu telah berubah. Laki-laki yang dahulu begitu menyukai seni dengan hiasan-hiasan indah di kamarnya tak nampak diruangan ini. Ruangan ini terasa begitu formal dan mencekam dengan pajangan senjata di dindingnya.


"Apa kau sudah memeriksa tawanan itu? pastikan dia baik-baik saja untuk introgasi berikutnya!" tegas Prajurit Galvin pada seorang dokter yang berdiri dihadapannya.


"Aku menjalankan susuai perintah," jawab Glesza.


"Apa ada hal penting yang ingin kau katakan?"


Dokter Glesza mengangguk.


"Katakan!" tandas Prajurit Galvin setelah duduk di balik meja kerjanya.


"Apa dia akan dibabeskan setelah terbukti dia bukan mata-mata?"


"Itu bukan wewenangmu, Dokter Glesza!"


"Bahkan dia bukan warga lokal daerah itu, kau sendiri yang mengatakan. Barang bukti yang kalian sita tidak menunjukan apapun. Apa itu belum cukup untuk menyimpulkan?"


"Sudah aku bilang itu bukan wewenangmu, apakah kau belum mengerti?"


"Katakan, apa yang akan kalian lakukan jika benar dia bukan mata-mata!"


Prajurit Glavin menghela napas panjang.


"Katakan saja!"


"Aku hanya menjalani aturan, Dokter Glesza, sama sepertimu yang sedang menjalani perintah,"


Prajurit Galvin mengedarkan pandang ke setiap sudut ruangannya. Ia menghindari tatapan Dokter Glesza yang terlihat begitu mengintimidasinya. Entah mengapa ketika masuk dalam dunia militer, hubungan mereka yang semula dekat dan saling mendukung kian merenggang.


"Aku tertarik pada--" Prajurit Galvin belum menyelesaikan ucapannya, namun Dokter Glesza tidak tahan untuk menyela.


"Kau jangan mencotoh sifat buruk ayahmu, Galvin!" potong Dokter Glesza.


Detik berikutnya ia berjalan dengan langkah panjang tanpa ingin mendengar lanjutan kalimat yang belum diselesaikan Prajurit Galvin.


"Kita lama tidak berbicara, kamu telah lama mengabaikanku, apakah tidak bisa berbicara selain pekerjaan kita?" teriak Prajurit Galvin yang tetap tidak mendapat respon dari Dokter Glesza.