The Journalist

The Journalist
Berjanji untuk Menjaga



"Alesya, kenalin ini Kendra, dia anak tunggal sahabat mama yang sudah berjasa di hidup kita, nak," ucap Bu Sandra begitu lembut ketika mengenalkan Kendra pada Alesya.


"Halo Kendra, Aku Alesya," jawab gadis kecil berkuncir kuda begitu ramah dengan senyuman manis mencetak lesung di pipinya.


Kendra tak membalas perkenalan dari Alesya, ia hanya menjaba tangan gadis itu yang telah terulur lebih dulu. Kendra pemalu sejak kecil, ia butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan butuh waktu lama untuk membiasakan diri dengan orang baru.


Beberapa minggu setelah kematian ibunya, Kendra hidup sendiri di rumah, ia memakan makanan yang di kirimkan Bu Sandra, namun ia terlalu kaku untuk berkenalan dengan orang baru. Bu Sandra tidak menyerah. Hampir setiap hari Bu Sandra membawakan makanan dan mainan untuk Kendra, meskipun Kendra jarang menanggapi keberadaannya.


Hari yang diinginkan Bu Sandra telah tiba. Kendra mulai berbicara cukup panjang dengan Bu Sandra setelah sekian lama. Akhirnya, hari ini Bu Sandra mengenalkan Kendra pada Alesya, ia berharap tak butuh waktu lama bagi Kendra untuk mengenal Alesya, mereka teman sebaya tentunya akan lebih cepat akrab ketika bermain.


"Alesya, Kendra adalah teman barumu mulai hari ini, dia cukup pemalu jadi jangan terlalu tekan dia untuk bermain, Kendra perlu adaptasi." Alesya mengangguk mendengar ucapan ibunya.


Kendra melihat Alesya sosok hangat, ramah, dan pengertian sejak awal bertemu. Ia merasa nyaman untuk berteman namun cukup takut memulai pembicaraan. Diawal-awal pertemanan, Alesya lebih sering memulai pembicaraan dan mengajak bermain meskipun sering Kendra mengabaikannya. Rasa canggung Kendra terus berkurang setiap hari karena usaha Bu Sandra dan Alesya yang tak menyerah mengajaknya bermain, tak terasa pertemanan mereka awet hingga dewasa.


Ketika Bu Sandra mulai sakit-sakitan, Alesya dan Kendra menjaganya secara bergantian. Bu Sandra telah dianggap sebagai orang tua kedua bagi Kendra.


"Ken, ibu nitip Alesya dan Araz, ya," ucap Bu Sandra ketika Kendra menyuapinya makanan.


"Ibu sendiri yang akan menjaga mereka setelah sehat nanti, ibu cepat sehat ya, karena kita masih butuh ibu, termasuk Kendra," jawab Kendra penuh kelembutan.


"Ibu harap juga begitu, tapi rasanya cukup sulit untuk sembuh, ibu benar-benar titip mereka, nak. Kalian bertiga harus saling jaga, ibu yakin kamu orang yang tepat untuk menjaga mereka." Bu Sandra menatap Kendra penuh rasa haru.


Sejak saat itu, Kendra berusaha selalu ada untuk Araz dan Alesya. Rasanya, ini bukan lagi tentang janji yang harus ditepati, tetapi panggilan hati. Terlebih, ketika ia menyadari perasaan nyaman yang ia rasakan ketika berada di samping Alesya berbeda.


***


Kendra termenung di depan bingkai foto masa kecilnya dan Alesya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak berusaha lebih keras untuk menahan kepergian Alesya. Ia terlalu lemah dan hatinya iba ketika Alesya berkaca-kaca. Sudah tiga hari sejak kabar terakhir dikirim Alesya, tidak ada kabar lagi yang dikirim olehnya. Panggilan dan pesan tak pernah terjawab, email tak pernah terbalas. Lebih mengkhawatirkan lagi, hal ini juga terjadi pada Freya, keduanya tidak dapat dihubungi dan tidak pernah memberi kabar.


"Kak Alesya akan baik-baik saja," ucap Araz cukup mengejutkan Kendra. Kendra pikir Araz masih sibuk belajar di kamarnya.


"Araz, sudah selesai belajarnya?" tanya Kendra.


Aras menggeleng dan berkata lesu, "Sama seperti Kak Ken, sulit fokus."


Kendra memeluk tubuh Araz. Ia tahu, bagaimana Alesya memperlakukan adik semata wayangnya dan betapa mereka saling menyayangi. Cukup mengejutkan bagi Kendra, Alesya benar-benar tega meninggalkan Araz dalam waktu yang lama.


"Belum ada kabar dari kakak?" Araz memepererat pelukan Kendra.


Kendra menggeleng.


"Kak Ken tenang saja, dia akan kembali, dia sudah berjanji padaku, dia tidak pernah ingkar janji," Araz berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Kendra tak mampu lagi menanggapi perkataan Araz. Doa adalah satu-satunya cara yang dapat mereka lakukan. Berharap satu saja pesan dibalas oleh Alesya atau Freya mengkonfirmasi kondisi mereka. Araz adalah tanggung jawab Kendra sepenuhnya sekarang, ia tak mau membuat Araz semakin murung dengan menunjukan kekhawatirannya.


"Aku yakin Kak Alesya segera kembali dan menikah denganmu," ucap Araz setelah melepas pelukannya.


"Apa maksudmu menikah?" Kendra tersenyum untuk mencairkan suasana. Sejujurnya, dalam hati ia mengaminkan perkataan Araz.


"Kak Kendra satu-satunya teman laki-laki Kak Alesya, aku yakin Kak Alesya satu-satunya teman perempuanmu juga, kalian sudah lama saling mengenal dan tidak pernah berpacaran dengan orang lain, aku yakin kalian hanya menunggu usia yang tepat untuk menikah," pukas Araz.


Kendra menggeleng, ia tak menyangka pikiran Araz sejauh ini.


"Apa yang aku katakan benar, kan?"


"Apa yang kamu katakan, tau apa tentang pernikahan? lebih baik sekarang kamu balik belajar untuk ujian pekan depan, jangan lupa doakan kebaikan untuk kakakmu!"


"Kamu terlalu gengsi mengakuinya, kak. Lain di mulut lain di hati."


"Jaga dirimu, Ale!"


***


"Lepas, aku bukan mata-mata!" hardik Alesya pada dua prajurit yang terus menariknya ke dalam markas.


"Siapkan sel khusus!" perintah prajurit yang datang bersama Alesya pada prajurit yang berjaga di markas.


Apa maksudnya sel khusus? Alesya tidak mampu berpikir jernih sekarang. Ia terus menangis dan meronta-ronta. Ketakutannya semakin bertambah seiring semakin dekatnya dengan sel tahanan. Ia berpikir hidupnya segera berakhir tanpa kesempatan mengucapkan salam perpisahan pada Araz.


Brruuk...


Prajurit itu mendorong Alesya ke dalam sel tahanan yang cukup sempit dan berdebu. Prajurit lain merebut kamera, buku catatan, dan alat perekam suara yang Alesya bawa. Alesya kehilangan tenaga untuk memepertahankan barang berharga miliknya diambil begitu saja. Menangis dan memohon untuk di bebaskan adalah satu-satunya hal yang ia lakukan sekarang.


"Aku bukan mata-mata, kembalikan aku!" teriak Alesya tak karuhan.


Teriakan itu terus diabaikan oleh para prajurit.


"Seberapa pentingnya tawanan kita kali ini sampai kita harus menyiapkan sel khusus?" ucap prajurit lain saat memasuki sel tahanan.


"Dicurigai sebagai mata-mata," jawab prajurit yang menyeret Alesya.


Dari cara prajurit lain menjawab, Alesya menebak prajurit yang baru memasuki tahanannya memiliki pangkat lebih tinggi. Prajurit lain langsung berbaris dan memberi hormat ketika prajurit muda berbadan kekar itu masuk.


"Apa barang buktinya?"


"Kamera, perekam suara, dan buku catatan."


Prajurit itu mengangguk kemudian berjalan mendekati Alesya. Alesya semakin ketakutan ketika prajurit itu jongkok dan menatap wajahnya dengan pandangan meremehkan.


"Aku tidak menyangka, mental mata-mata lawan begitu lemah," ucap prajurit itu ketika melihat mata Alesya terus mengalirkan air mata dan badannya bergetar kencang.


"Bukan tuan, aku hanya seorang relawan." jawab Alesya sejujur-jujurnya dengan suara yang pelan dan bergetar.


"Perempuan menjadi mata-mata dan akhirnya tertangkap, aku rasa lawan tidak melakukan seleksi dan pelatihan untuk mata-mata cantik mereka, bahkan ia tak memiliki alat perlindungan diri." Prajurit itu semakin merendahkan Alesya.


"Aku benar-benar bukan mata-mata, tuan,"


"Jangan panggil aku tuan! Apakah kau budakku? Namaku Galvin Angelo Deck."


Alesya mengangguk penuh ketakutan.


Prajurit bernama Galvin itu menggeleng. Kemudian berdiri mendekati rekan prajurit lainnya.


"Barang bukti ada di tangan kita akan periksa, siapkan pembelaan dan mental yang lebih kuat untuk introgasi nanti," ucap prajurit lain berintoansi formal.


Introgasi? Apakah Alesya akan dibebaskan setelah terbukti ia bukan seorang mata-mata. Harapan hidup muncul lagi dalam dirinya, setidaknya ia tidak dieksekusi sekarang juga. Ia yakin tidak ada yang mencurigakan dari foto, catatan, dan rekaman suaranya. Ia berharap jadwal interogasi di percepat dan ia segera kabur dari tahanan ini.


"Kunci pintu sel ini, pastikan tidak ada yang membuka kecuali perintahku," ucap prajurit Galvin meninggalakan sel diikuti prajurit lain.


Braak..


Pintu sel itu benar-benar dikunci, sumber cahaya dan udara di dalamnya berasal dari jendela di sudut ruangan.