
Jemari Alesya menyentuh dedaunan berembun ditepian jalan. Langkah Alesya serempak dengan langkah Prajurit Galvin yang berjalan sejajar dengannya. Senyum merekah terlukis indah di bibir Alesya. Seyum yang lama hilang.
"Panggil aku Galvin jika sedang berada di luar markas!" perintah Galvin pada Alesya.
Alesya mengangguk meskipun ia merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.
Galvin berlari ke lapangan terbuka meninggalkan Alesya di jalan setapak. Alesya melihat Galvin berlari dengan senyum lepas di bibirnya. Seakan bukan Galvin yang ia kenal sebagai petinggi prajurit yang keras.
Alesya berjalan lebih cepat menuju lapangan. Hati terasa begitu lepas dan bahagia. Galvin berputar-putar di tengah lapangan beberapa kali hingga ia membaringkan badannya diatas rumput saat mengakhiri putaran terakhir.
"Hati-hati!" Alesya mengingatkan Galvin kemudian bersila disebelahnya.
"Coba potret apa saja!" perintah Galvin.
"Apa?"
"Potret apa saja disekitar sini dengan kameramu!"
Tak ada bantahan. Alesya segera mengoprasikan kameranya kemudian memotret serangga yang hinggap di daun tanaman tak jauh dari tempat mereka beristirahat.
"Sudah," kata Alesya cukup antusias memamerkan hasil potretnya.
"Bagus, tapi aku akan memotret jauh lebih bagus dari itu," Galvin jumawa sambil menepuk-nepuk dadanya.
'Sombong sekali mahluk ini' pekik Alesya dalam hati kemudian mengangkat kedua alisnya seolah menantang.
"Aku pinjam kameramu!" permintaan Galvin seolah tidak dapat di tolak.
Alesya melepaskan tali kamera yang digantung di lehernya, kemudian menyerahkan kamera kesayangannya pada Galvin.
"Tunggu disini, jangan pergi kemanapun!" ucap Galvin kemudian berlari dengan cepat ke jalan setapak tanpa menunggu jawaban lawan bicaranya.
"Hati-hati pegang kameranya, aku menabung cukup lama untuk itu!" teriak gadis berambut lurus yang indah tergerai, ia yakin Galvin mendengar meski Galvin memilih mengabaikannya.
Angin berhembus begitu kencang dengan sinar matahari yang tak menyengat. Sebuah kebebasan yang lama Alesya inginkan. Ternyata menikmati angin, merasakan sinar matahari, dan menghirup udara segar tak ternilai harganya.
Rambut indahnya menari bebar terterpa angin. Dari tas rajut berwarna putih Alesya mengambil pita berwarna coklat untuk menjaga rambutnya tetap rapi. Buku catatan dan pena juga ia keluarkan dari tas rajut. Ia mulai menggoreskan tinta merangkai kalimat. Ia begitu rindu kegiatan ini. Menulis.
Rangkaian kalimat tersusun kian panjang. Emosinya terkuras saat menulis. Semua rasa sesal ketika meninggalkan sang adik, rasa bahagia ketika menjadi bagian dari volunteer wilayah konflik, ketakutan yang teramat sangat ketika menjadi tawanan, dan jiwa yang hampir gila karena terkurung sekian lama.
Bulir bening mulai membasahi pipinya, napasnya mulai terasa sesak.
"Kau tidak apa?" tiba-tiba suara berat Galvin terdengar di telinga Alesya.
Alesya mendongak, menatap seorang prajurit yang menjadi bagian dari kelompok yang telah merenggut kebebasannya.
"Aku ingin pulang."
Galvin berjongkok memeluk pundak Alesya dan mengusapnya perlahan. "Sorry."
Perlagan Galvin mengangkat pundak Alesya untuk berdiri kemudian mengalungkan kamera kesayangannya.
"Aku punya kejutan buat kamu!" ucap Galvin kemudian menutup mata Alesya dengan kain putih.
Telapak tangan kasar Galvin maraih jemari lentik Alesya untuk di tuntun ke suatu tempat. Alesya merasa mereka berjalan cukup jauh. Kaki yang semula berjalan diatas rerumputan lapangan, kini berdiri diatas tanah berdebu, tak lama setelahnya Alesya merasa berjalan di medan miring berbatu dengan suara aliran suangi kecil tak jauh darinya.
"Apa aku belum boleh membuka mata? Jalan ini cukup sulit untuk dilalui jika aku harus berjalan dengan mata tertutup." protes Alesya semakin memegang erat tangan Galvin.
"Sebentar."
"Kau berencana mencelakaiku?" Alesya semakin mengeratkan pegangan tangannya disertai sedikit cakaran.
Galvin meringis menahan sakit. "Sudah duduklah dan buka matamu!"
Alesya belum melepas genggamannya, ia memastikan Galvin telah duduk terlebih dahulu sebeleum ia duduk.
Tangan Alesya mencari simpul ikatan kain yang menutup matanya setelah ia memastikan duduk di tempat yang aman. Ketika ia membuka kain penutup itu, tepat di depan matanya ada aliran sungai kecil yang begitu jernih dan tenang. Alesya tersadar mereka sedang duduk di bebatuan kecil bantaran sungai.
Ketika ia menoleh kesamping kiri, ia melihat garis senyum Galvin yang indah. Senyum yang membuat Alesya lupa seramnya Galvin ketila melakukan introgasi.
"Suka?" pertanyaan Galvin membuat Alesya tersadar dari lamunnya.
"Hah?" Otak Alesya belum dapat memproses pertanyaan Galvin. Apakah Galvin bertanya Alesya menyukainya?
"Oh, sungai? Iya suka, bagus."
Galvin melepas kalung kamera dari leher Alesya. Ia menggeser-geser galeri hasil potretannya.
"Lihat!"
Alesya mengangguk-angguk. "Cukup bagus untuk pemula."
"Kamu terlalu gengsi untuk memuji."
"Memang bagus untuk pemula, aku tidak mengada-ada."
Galvin menarik kamera Alesya lagi, terus-terusan menggeser dan menelusuri foto yang ada.
"Dari caramu memegang kamera, sepertinya kamu sudah pernah bermain dengan kamera sebelumnya," kata Alesya memecah keheningan di tengah suara gemericik air sungai.
Galvin mematikan kamera yang ia bawa, kemudain memandang lurus sungai bening di depan matanya.
"Mau berenang?" tanya Alesya.
Galvin menggeleng. "Ini adalah impianku Alesya."
"Maksudnya?"
"Aku bercita-cita menjadi seorang fotografer sedangkan Dokter Glesza bercita-cita menjadi seorang penulis," Galvin menghentikan ceritanya kemudian mengalihkan pandangan ke Alesya. "Apa yang ada dalam dirimu sekarang adalah apa yang dulu kami cita-citakan."
"Lalu?"
"Karena tuntutan, kita harus masuk dalam dunia militer, aku sebagai prajurit dan Glesza sebagai dokter atau tenaga kesehatan militer, hal ini yang membuat impian kita berhenti," suara Galvin melai lirih. Kekejaman yang semula nampak diwajahnya lenyap begitu saja.
Alesya memposisikan duduknya lebih nyaman sebelum mendengar kelanjutan cerita.
"Bahkan hubunganku dan Glesza yang semula dekat menjadi renggang. Kita yang semula saling berbagi cerita berubah seakan tak pernah kenal."
Hembusan napas kasar keluar dari hidung Alesya. "Mengapa bisa begitu?"
"Aku mulai menerima takdir ini dan belajar mencintai apa yang sedang aku jalani, tapi lain dengan Glesza, ia belum ikhlas dengan jalan hidupnya?"
"Kamu tidak pernah berbicara tentang ini, atau berusaha memperbaiki komunikasi?"
Galvin menggeleng. Kini bulir air bening telah menetes di pipinya. Seakan-akan ini adalah luka mendalam yang ia alami. Alesya memberinya ruang untuk berhenti bercerita, tepukan halus tangan kanan Alesya di pundak Galvin ialah dukungan yang ia berikan. Entahlah, mengapa Alesya harus memberi dukungan pada seseorang yang telah mengurungnya?
"Gagal. Ia benar-benar tak mau lagi berbicara selain urusan pekerjaan," jawab Galvin ketika ia merasa cukup tenang.
Alesya mengangguk mengerti. Ia tak mau memberi pertanyaan lain yang menambah kesedihan Galvin meskipun ratusan pertanyaan telah berkecamuk di otaknya.
"Glesza tak suka laki-laki kasar, cukup sekali saja ia melihat ibunya dikasari oleh seorang laki-laki. Ia berpikir aku jadi seorang laki-laki yang kasar ketika aku jadi seorang prajurit."
Alesya mulai paham poin perselisihan mereka.
"Aku kasihan jika dia benar-benar kehilangan impiannya, terlebih sampai sekarang dia belum mencintai pekerjaannya."
Damainya sungai dan bebatuan alami tak cukup menyejukan hati Galvin. Alesya bukanlah orang yang sering menerima keluh kesah orang lain dan ia sendiri jarang berkeluh kesah. Ia tak mau salah mengambil tindakan dan memilih diam.
"Aku butuh bantuanmu, kenalkan kamu seorang penulis artikel ajak ia menulis jika ia mau, Glesza harus menemukan sesuatu yang ia cintai untuk dijalani."
Alesya mengangguk. Ia tak berjanji mampu melaksanakannya.
"Aku janji akan mengusahakan kamu pulang ke negara asalmu, semampuku!"
Galvin terlihat begitu kalut. Seolah-olah ia kembali menemukan tempat mencurahkan isi hatinya setelah sekian lama. Hening. Namun tidak dengan pikiran keduanya yang berkecamuk.
Drrt.. Drrt..
Ponsel di saku Galvin bergetar tanda ada pesan masuk. Pesan itu pemecah keheningan diantara mereka.
"Kenapa di hari liburku markas tetap menghubungi?" decak kekesalan Galvin.
Ia membuka pesan dinas itu dengan wajah malas.
"Gawat, Alesya, kita harus kembali ke markas sekarang," ajak Galvin secara paksa menarik tangan Alesya.