The Journalist

The Journalist
Masih Berusaha



Hari ini adalah hari terakhir Freya sebagai seorang relawan. Hatinya begitu resah, ia belum berdamai dengan kenyataan Alesya belum ditemukan hingga sekarang. Malam semakin larut, esok hari semakin dekat. Freya tak tahu harus bagaimana untuk menjawab pesan Kendra dan tak tahu jawaban apa yang ia berikan pada Araz ketika ia menanyakan keberadaan kakaknya. Freya ingin hari esok datang lebih lambat.


Relawan lain sibuk mengemasi barang-barangnya, sementara Freya masih termenung di teras pondok relawan. Beberapa relawan telah mengingatkan Freya untuk berkemas, namun Freya memilih untuk mengabaikannya. Hubungan Freya dengan relawan lain merenggang setelah hilangnya Alesya. Freya cenderung menutup diri, membatasi komunikasi, dan lebih memilih berinteraksi dengan warga lokal.


"Kakak Freya." Freya menoleh mencari sumber suara. Ia menemukan seorang warga lokal melambaikan tengannya mengisyaratkan agar Freya mendekat.


"Ada apa, Beyza?" tegur Freya. Beyza adalah warga lokal yang paling sering berinteraksi dengan Freya, sayangnya mereka hanya dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat.


Beyza menunjuk-nunjuk jalan setapak dekat pondok relawan putri.


"Iya." Freya mengangguk kemudian memeluk Beyza. Ia mengira Beyza menanyakan apakah ia akan pulang hari ini.


Tanpa basa-basi Beyza langsung menarik tangan Freya sambil berlari. Tidak ada perlawanan dari Freya ia justru tertawa. Hingga ia menyadari sesuatu, mereka telah berlari jauh dari pondok relawan, kemudian berusaha melepas tangannya dari genggaman Beyza yang cukup erat.


"Kita, mau kemana, Bey?" tanya Freya dengan napas terengah-engah.


Beyza menunjuk jalan besar yang rupanya telah dekat dari tempat mereka berhenti. Freya mengangkat salah satu alisnya. Apa yang akan Beyza lakukan dengan jalan besar itu?


***


Seperti hari-hari sebelumnya, dokter memeriksa kesehatan Alesya setiap pagi dan memastikan makanan Alesya telah dimakan. Alesya benar-benar jenuh dengan rutinitas ini. Ia tidak dapat membedakan siang dan malam, jika ia merasa mengantuk akan tidur, jika pagi hari tiba dokter akan datang. Ia tak pernah menikmati sinar matahari dan mulai kehilangan kekuatan ototnya.


"Hari ini prajurit Galvin akan datang," ucap Dokter Glesza saat mengukur tekanan darah Alesya.


Alseya hanya mengangguk.


"Kesehatanmu semakin menurun," lanjut dokter diikuti dengan gelengan kepala.


"Kalian ingin aku tetap hidup tapi membiarkan aku tersiksa disini, aku bisa mati karena glia," sengut Alesya.


Dokter Glesza diam, ia tak tau kalimat apa yang tepat untuk menanggapi pernyataan Alesya.


"Bahkan aku tidak pernah lagi bertemu dengan Prajurit Galvin, apakah benar ia akan datang kali ini? Apakah dia kesulitan menyelidiki orang sepertiku?" suara Alesya mulai meninggi.


Graak...


"Siapa yang mencariku?" Pintu sel terbuka diikuti dengan suara Prajurit Galvin yang begitu menggema.


"Aku, aku yang mencarimu, aku bosan dan tersiksa hidup disini, aku yakin kalian tidak menemukan apapun dalam kamera, buku catatan, dan rekamanku, kalian hanya mengintrogasiku sekali tapi menahanku berbulan-bulan. Aku tidak ada hubungannya dengan konflik kalian, bahkan aku bukan warga lokal daerah yang kalian musuhi," hardik Alesya. Ia benar-benar muak.


Prajurit Galvin terkekeh, kemudian mengisyaratkan agar Dokter Glesza meninggalkan sel.


"Jangan kasar pada perempuan, kau dilahirkan dari seorang perempuan!" tekan Dokter Glesza sebelum meninggalkan sel.


Setelah punggung Dokter Glesza menghilang di balik pintu, Prajurit Galvin mendekati Alesya dengan langkah santai namun senyumnya terlihat cukup mengerikan. Kini menyisakan Alesya dan Galvin dalam sel. Ingatan Alesya melayang kejadian beberapa bulan lalu saat Prajurit Galvin mengintrogasinya. Kali ini ketakutan Alesya lebih besar, terlebih ia telah menghardik seorang prajurit yang disegani beberapa saat lalu.


"Jangan menggunakan nada tinggi saat berbicara dengen Dokter Glesza!"


Alesya menggeser mundur badannya ketika Prajurit Galvin semakin mendekat.


***


Langkah Beyza dan Freya terhenti di depan rumah tua dengan pekarangan cukup luas. Napas Freya masih tersengal-sengal setelah berjalan dan terkadang berlari sejauh lima kilo meter. Sementara energi Beyza masih prima, ia bergegas mengetuk pintu kayu rumah tua itu.


Seorang pria berusia kepala lima keluar dari pintu kayu membawa setoples biskuit.


"Beyza, aku tidak tau kau mengerti perkataanku atau tidak, tapi aku harus kembali ke pondok relawan, aku harus pulang. Aku menitip jaga Alesya jika dia kembali dan hubungi pemerintah daerahmu untuk mengurusnya pulang," kata Freya setelah pernapasannya mulai normal.


Freya berbalik badan dan melangkah meninggalkan halaman rumah pria paruh baya itu.


"Duduklah sebentar, aku mengerti apa yang kau katakan," terdengar suara serak pria paruh baya yang menghentikan langkah Freya.


Freya memutar badannya. Ia terkejud ada warga lokal dengan lancar berbahasa inggris.


"Kemarilah! duduk dan makan camilan seadanya!"


Freya melangkah penuh keraguan mendekati kursi. Apa sebenarnya yang direncakan Beyza dan siapa pria paruh baya itu?


"Perkenalkan aku Chen, warga lokal memanggilku Mr. Chen. Beyza telah bercerita padaku jika salah satu relawan menghilang saat konflik mema--" jelas Mr. Chen yang belum tuntas.


"Siapa kamu?" potong Freya.


Mr. Chen memainkan putung rokok di jarinya. "Aku keturunan Tionghoa yang menghabiskan masa mudaku untuk menjadi relawan di berbagai daerah konflik, aku suka melaut berkelana, dan rupanya wilayah ini jadi pelabuhan terakhirku saat aku kehilangan istriku, Xuerui."


Freya mulai serius mendengarkan cerita Mr. Chen.


"Aku hidup dalam kenangan, berharap suatu saat istriku kembali."


Mr. Chen menarik napas dalam. Freye membenahi posisi duduknya supaya lebih nyaman.


"Ketika aku pergi mencari kayu untuk api unggun, terjadi baku tembak, menurut kesaksian warga lokal istriku berusaha mencariku ke hutan, aku selamat tapi dia tak pernah kembali. Aku membenci diriku sendiri, tapi aku menyayangkan mengapa dia mengabaikan keselamatannya sendiri," suara Mr. Chen mulai lirih. Air mulai menggenangi pelupuk matanya.


Freya menundukkan pandangannya.


"Istriku dan beberapa orang yang tertangkap kala itu asldalah tawanan terakhir yang mereka bawa, hingga akhirnya mereka membawa sahabatmu. Jika kamu menunggu temanmu kembali, mungkin dia akan seperti istriku yang tak pernah kembali. Pulanglah nak, perjalananmu masih panjang. Tapi, aku memilih tetap diam disini. "


"Mengapa tetap diam disini? apa ada kemungkinan dia kembali?" tanya Freya. Sorot matanya menggambarkan jika ia masih berharap Alesya kembali.


Mr. Chen menggeleng.


"Lalu, kenapa Mr. Chen tidak memilih untuk melanjutkan hidup seperti saran yang Mr. Chen berikan?" Freya bertanya penuh kehati-hatian, ia takut menyinggung perasaan Mr. Chen.


"Hidupku telah berhenti sejak Xuerui pergi, aku sering menyerahkan diri saat konflik memanas, berharap prajurit menangkapku dan aku bertemu Xuerui disana. Tapi aku tak pernah tertangkap."


Keheningan tercipta diantara mereka. Beyza hanya diam tak bereaksi. Freya memakan potongan biskuit yang di sajikan. Mr. Chen berusaha keras untuk menahan air matanya.


Freya menatap langit. Berharap Yang Maha Kuasa mengembalikan sahabatnya dan istri Mr. Chen yang telah lama dinantikan suaminya.


"Aku bersyukur kamu kesini, ajak aku dimana terakhir kali kamu melihat sahabatmu, saat konflik memanas aku akan menyamar menjadi orang yang mencurigakan, supaya mereka menangkapku." Mr. Chen terkekeh setelah menjabarkan idenya.


Freya terpana mendengar kesetiaan, pengorbanan, dan perjuangan Mr. Chen.


"Apa rombonganmu akan pulang hari ini?"


Freya mengangguk.


"Ayo kita segera kembali ke wilayahmu dengan kendaraan tuaku, tapi aku minta kau untuk ikut pulang dan melanjutkan hidupmu, sebelumnya beri tau aku dimana sahabatmu menghilang!" Kobaran semangat nampak jelas di bola mata Mr. Chen.


"Baik, akan aku tunjukan semoga kau bertemu dengan istrimu lagi jika kau bertemu gadis rumpun melayu, itu pasti Alesya sahabatku, jaga dia, sampaikan pesan cintaku untuknya."