
Greek...
Pintu ruangan itu dibuka, seorang dokter perempuan memasuki ruangan kemudian menutup pintu sel terburu-buru. Alesya terkejut akan kehadiran dokter perempuan yang mungkin berusia tak jauh lebih muda darinya. Tidak seperti tentara lain yang berwajah sangar, dokter ini memasang wajah lebih bersahaja meski tak seperti dokter rumah sakit pada umumnya.
"Aku akan memastikan kesehatanmu sebelum di introgasi," ucap dokter itu seraya melepas kunci borgol tangan Alesya.
Tangan Alesya memar membiru. Harusnya Alesya merasa kesakitan dan ngilu, tapi rasa takut menjadi tawanan lebih mengerikan dari itu.
"Sakit?" tanya dokter itu setelah menekan kecil bagian tangan Alesya yang memar.
Alesya berjingkat kemudian mengangguk.
"Berbicara pakai bahasa inggris?"
Alesya kembali mengangguk.
"Wajahmu terlihat bukan seperti wajah warga lokal daerah sana, apa masalahmu?"
"Dicurigai sebagai mata-mata, tapi aku bukan mata-mata. Tolong dokter percaya aku," mohon Alesya pada sang dokter, sepertinya ia satu-satunya orang yang punya hati disini.
"Sekalipun aku percaya, itu tidak akan mengubah apapun," ucap dokter seraya mengoleskan obat di tangan Alesya.
Alesya menghembuskan napasnya berlahan. Apa yang dokter katakan benar.
"Kamu tenang saja, jika Prajurit Galvin yang mengintrogasimu kamu akan baik-baik saja, dia tidak sekasar yang kamu kira," ujar dokter untuk menenangkan Alesya.
Alesya mengangkat salah satu alisnya, ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Bagaimana jika prajurit yang lain?"
"Aku tidak tau, aku tidak pernah di interogasi," dokter itu menjawab dengan tegas seraya menggelengkan kepalanya. "Yang aku tahu, Prajurit Galvin adalah petinggi paling memiliki hati di markas ini."
"Apa dokter kekasihnya?"
Dokter perempuan itu menghentikan aktifitasnya kemudian menatap Alesya intens. Alesya memundurkan badannya, selembut-lembutnya dokter cantik ini, tetap menyeramkan baginya. "Kau masih berpikir romantis di konsisi seperti ini? Ini bukan kisah cinta dokter dan prajurit seperti yang kamu lihat dalam drama."
Alesya mengangguk dan memohon maaf, sepertinya ia terlalu jauh bertanya. Ia mengutuk dirinya sendiri, pertanyaan tidak penting apa yang baru saja ia katakan. "Maaf, dok."
Tangan Alesya kembali diikat dengan borgol setelah sebelumnya dilapisi perban. Tanpa berpamitan, dokter itu beranjak pergi dan tergesa-gesa menutup pintu sel. Alesya menghela napas panjang. Ia kembali seorang diri dalam sel tahanan. Tetapi, ini lebih baik dari pada ia terus diawasi dan di cecar para prajurit.
Samar-samar, Alesya mendengar percakapan prajurit dari luar. Tawa ceria mereka adalah rasa takut bagi Alesya. Langkah kaki hilir mudik berganti terasa ancaman baginya. Tak ada lagi cara untuk melarikan diri. Dinding terbuat dari beton, pintu selalu terkunci, jendela terlalu kecil dipasang cukup tinggi.
Alesya terlalu lelah, hingga ia tertidur di lantai berdebu nan dingin.
***
"Dimana Alesya?" Freya berteriak histeris pada volunteer dan warga lokal yang tak menegerti ucapannya.
Volunteer perempuan berusaha menahan Freya agar tidak semakin meronta-ronta. Badan Freya cukup kecil jadi mudah saya untuk menahan rontaan Freya, tapi dugaan mereka salah emosi Freya terlalu besar, tenaga volunteer wanita tak cukup untuk menenangkannya. Freya terus berteriak histeris, bahkan beberapa anak yang melihatnya menangis ketakutan.
"Ini semua salah kalian, tidak ada yang membantuku menahan Ale, tidak ada yang menarik tangannya......" ucapan Freya terhenti saat ia menyeka air matanya, "Tidak ada yang menarik tangan Alesya selain aku, bahkan kalian diam saja saat aku jatuh."
Semua terdiam mendengar cecaran Freya.
"Aku yakin kalian melihat usahaku untuk menahannya, aku berteriak tapi kalian diam saja." Freya menunjuk-nunjuk volunteer lain penuh amarah. Air mata masih basah di pipinya, pelipisnya tak berhenti mengucurkan keringat, dan rambutnya semakin acak-acakan.
"Aku tidak akan pulang sebelum Alesya ketemu," tegas Freya, kemudian ia meninggalkan barisan volunteer yang masih mematung.
Ketua rombongan volunteer menjatuhkan dirinya diatas tanah tandus. Tak dapat ia pungkiri, memang tidak ada yang menahan Alesya selain Freya. Tetapi, saat itu kondisi posko sedang kacau, anak-anak menangis, para volunteer sama paniknya, karena mereka baru pertama kali merasakan ketika konflik memuncak.
***
Alesya membuka matanya ketika ia mendengar suara yang cukup berat pria ada di dekatnya. Pandangannya yang buram perlahan mulai jelas. Terlihat jelas seorang Prajurit Galvin sedang memandangnya saat tidur dan dua tentara lain berdiri di belakangnya.
Degub jantung Alesya kembali terpacu. Namun ia tak melawan kali ini, rasanya lebih pasrah.
"Tinggalkan ruangan ini, pastikan pintu terkunci dari luar, jangan di buka sebelum aku memerintahkannya!" perintah prajurit Galvin pada dua prajurit lainnya.
Perlahan pintu sel tertutup. Ruangan kembali gelap, bedanya Alesya tak sendiri kali ini. Seorang prajurit berada di depannya membawa buku catatan, kamera, dan perekam suara milik Alesya. Meskipun seorang dokter telah memberi bocoran jika prajurit Galvin ialah petinggi yang paling berempati, Alesya tetap merasa ketakutan, karena ia tidak tahu standar orang 'berhati' disini seperti apa.
Prajurit Galvin membolak balik buku catatan sitaannya, memutar berulang rekaman suara, dan melihat koleksi foto di kamera Alesya. Sekitar tiga puluh menit, ia baru membuka suara.
"Memang tidak ada yang mencigakan dari kamera ini," ucap prajurit Galvin seraya menyunggingkan senyum miring.
"Tidak ada, aa.. aku benar bukan mata-mata," Alesya mencoba membela diri denga suara lirih. Ia merasa ada titik terang untuk hidupnya.
"Tapi buku catatan dan rekaman ini cukup mencurigakan," ucap Galvin semabari mendongankkan kepala Alesya dengan kasar.
Alesya tak dapat menahan air matanya lagi. Dagunya terasa sakit namun ketakutan lebih besar hingga membuatnya menangis. Terlebih, baru Alesya sadari ada pistol kecil yang disimpan prajurit Galvin dalam saku celananya.
"Mata-mata macam apa setiap saat menangis?" ucap Galvin melepas tangannya dari Dahu Alesya lebih kasar dari sebelumnya.
Galvin memandang wajah Alesya cukup intens. "Orang mana kamu, bukan warga lokal?"
Alesya menggeleng sambil terus menangis.
"Diam! jangan menangis, aku hanya bertanya!" ucap Galvin jenngah.
Kemudian Alesya diam, menyeka air matanya dan menahan isak tangisnya.
"Pantas, wajahmu bukan seperti warga lokal, sejak datang kamu memberontak dengan bahasa inggris, warga lokal tidak ada yang mahir berbahasa inggris. Dari mana asalmu?"
"Indonesia, Asia Tenggara," jawab Alesya lebih berani.
"Sekalipun mereka menyewa mata-mata dari luar negri, ternyata wilayah itu tidak cukup pintar memilih."
Alesya mendongak. Prajurit itu masih kukuh mengiranya sabagai mata-mata. Tatapan mereka saling bertemu, kemudain Galvin membuang muka dengan senyum merendahkan.
"Akhirnya berani menatapku, aku menunggu perlawananmu selain memohon untuk dibebaskan," ucap Galvin kembali membuka buku catatan Alesya. Jujur saja Alesya tak mengerti apa yang mencurigakan dari buku catatan dan rekaman suaranya.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana membuat kalian percaya, aku bukan mata-mata, orang suruhan, atau apapun, aku hanya volunteer disana," Alesya mencoba menjelaskan.
Penjelasan itu hanya angin berlalu di telinga Galvin.
"Bahasa yang kamu gunakan ditulisan ini tak dapat di artikan, apa kau menggunakan bahasa negara asalmu?" tanya Galvin.
Alesya mengangguk, ini saat yang tepat untuknya menjelaskan, "Iya itu bahasa Indonesia, aku tak tertarik dengan apa yang kalian lakukan, aku menulis kondisi sosial wilayah konflik, aku hanya menulis bagaimana mereka menjalani hidup dalam kondisi bahaya, aku mengangkat bagaimana mereka terus bertahan di keadaan yang sulit, aku...."
"Cukup!" Galvin jengah mendengar penjelasan Alesya. Ia memasukan barang sitaan milik Alesya dalam kantong. Kemudian mengetuk pintu sel.
"Apa aku akan dibebaskan, aku tidak sedikitpun terbukti sebagai mata-mata?" tanya Alesya setengah memohon.
"Akan kita selidiki apa yang kamu tulis dan kamu rekam disini," ucap Galvin setelah pintu terbuka. Ia membalikan badan sebelum benar-benar meninggalkan sel, ia mengucapkan sesuatu yang membuat Alesya semakin panik, "Meskipun kau tidak terbukti sebagai mata-mata, aku tidak bisa memastikan apakah kau di bebaskan atau tidak."
Braak.... Klik
Pintu sel kembali tertutu dan terkunci dari luar. Alesya menundukan pandangannya, air matanya telah habis.