
"Kenapa kamu ngelamaun, Ale?" tanya Dokter Glesza.
"Tidak, entahlah aku bingung merespon ceritamu," elak Alesya. Sebenarnya Alesya penasaran dengan rasa kasih sayang seorang ayah.
Bagi Alesya, pemaksaan yang dilakukan oleh ayah Dokter Glesza dan Prajurit Galvin lebih baik dari pada tidak pernah menemukan vigur ayah sama sekali. Alesya tak membenarkan kekerasan yang terjadi, tapi tujuan dan harapan seorang ayah pada anaknya yang cukup menyita perhatian. Sayangnya cara yang dilalukan ayah pada Dokter Glesza dan Prajurit Galvin salah.
"Memang membingungkan dan aku belum berdamai sampai sekarang," ucap Dokter Glesza sendu.
Alesya menepuk ringan pundak Dokter Glesza untuk menguatkan.
"Aku kembali ke ruanganku dulu, Ale," pamit Dokter Glesza.
Alesya kembali sendiri di ruang sunyi yang dirasa kian pengap dari hari ke hari. Ia kembali menulis untuk mengalihkan rasa bosan. Jika buku catatannya belum dikembalikan mungkin Alesya sudah gila karena bosan.
Ia tak tahu butuh berapa lama untuk meyakinkan Dokter Glesza kembali menulis. Yang jelas, ia telah berhasil membuat Dokter Glesza untuk bercerita. Itu memudahkan Alesya untuk memikirkan strategi yang tepat agar Dokter Glesza kembali percaya diri untuk menulis.
Graaak...
Prajurit Galvin masuk dengan senyum tipis. Alesya mengangguk untuk menyapa.
"Terimakasih sudah berusaha membuat Glesza kembali menulis."
"Sama-sama, jika dia kembali menulis lagi, aku harap kau tidak lupa dengan janjimu."
Prajurit Galvin mengangguk. "Saat aku tidak ada shift aku berencana mengajakmu berkeliling lebih jauh sebagai ucapan terimakasihku."
"Kau bisa menyelundupkanku untuk pergi dari tahanan ini, mengapa kau tidak melakukan cara yang sama untuk memulangkanku?" cecar Alesya, rasanya ia benar-benar bosan memperingatkan dan menagih janji Prajurit Galvin yang belum tentu ditepati.
Prajurit Galvin tersenyum tanpa arti.
"Sebentar lagi aku akan menemukan cara untuk mengembalikan kemauan adikmu menulis, segera pikirkan caranya agar aku bisa pergi dari tahanan ini!" Alesya mengingatkan dengan nada tinggi. Ini adalah kali pertama bagi Alesya menggunakan nada setinggi itu pada seorang prajurit yang di segani.
"Aku pamit dulu," tutup Prajurit Galvin sembari bejalan menuju pintu seolah mengabaikan peringatan Alesya.
Alesya menutup buku catatannya cukup keras kemudian membuang kesegala arah untuk menumpahkan rasa kesal dalam dirinya. Ia mulai khawatir bujukan itu hanya tipu daya yang dilakukan Prajurit Galvin.
Selain memikirkan strategi untuk menarik minat menulis Dokter Glesza, Alesya juga menyusun rencana penyelamatan diri jika ia dicurangi Prajurit Galvin.
***
Mr. Chen mengerjapkan matanya, pandangan yang semula buram perlahan mulai terang. Ia menghela napas ketika menyadari ia telah berada di sel tahanan selama seminggu dan belum dapat melakukan pergerakan apapun untuk mengetahui kabar istrinya.
"Setelah sekian lama akhirnya kita mendapat tambahan tenanga untuk perbaikan markas kita," ucap seorang prajurit ketika memasuki sel Mr. Chen. Ucapan dan tingkahnya terlihat begitu angkuh untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.
"Apa kau bisa menggali tanah dan membersihkan parit?" tanya prajurit lain.
"Aku rasa dia harus menimba air dan memikul gandum untuk memudahkan kerjaan kita!" timpal prajurit lain.
"Mari kita uji dengan memotong rumput dan ilalang lebih dulu!"
"Aku rasa dia terlalu tua untuk itu, punggungnya akan sakit." Mereka saling menghina kekuatan Mr. Chen secara bergantian.
"Aku sanggup," jawab Mr. Chen singkat.
Tampilan fisik Mr. Chen memang terlihat beberapa tahun lebih tua dari usia aslinya. Hal itu karena ia mengalami kesulitan merawat diri sendiri, menjaga rumah, dan membendung kerinduan pada istrinya. Namun, ia rasa tenaganya masih bagus, tidak seperti hinaan yang dilontarkan prajurit muda yang tak tahu diri.
Salah satu prajurit menyunggingkan senyum miring dan beberap dari mereka bertepuk tangan tanda penghinaan.
"Oke, parit belakang markas menantimu, besok!" tegas seorang prajurit.
"Baik." Mr. Chen nampak yakin dengan tantangan yang diberikan pada gerombolan prajurit mud itu.
"Ingat, jika tidak bersih bersiaplah untuk tugas yang lebih berat, kita tak segan walaupun kau lebih tua!" ancam prajurit yang berdiri paling belakang sebelum keluar membanting pintu markas.
Mr. Chen sadar jika sebenarnya tenaga yang tersisa di tubuhnya tak mampu untuk membersihkan parit seorang diri. Namun, jika ia terus menerus berada di dalam sel ia tak mungkin mendapat informasi tentang istrinya yang hilang puluhan tahun lalu.
Ia telah memutuskan untuk menyerahkan diri dan menyadari konsekuensi yang ia terima. Mau tak mau ia harus menjalaninya.
Satu hal yang mengganjal di benaknya. Bagaimana keadaan Freya? Ia menyesal tak memerintah Freya pergi lebih awal. Doa terus Mr. Chen ucapkan untuk kebaikannya, istri tercinta, dan juga Freya.
***
Freya mengaduk aduk makanan di piring metalnya. Sama sekali ia tak tergugah dengan makanan yang diberikan meskipun perutnya lapar. Bahkan, makanan yang ia sajikan untuk kucing kesayangannya dirumah terlihat lebih lezat dari makanan yang sedang ia bawa.
Seorang prajurit gagah berjongkok tepat di hadapan Freya. Seseorang yang membuat nafsu makannya kian menipis. Untuk apa prajurit itu mengamatinya cukup lama?
Freya tak menghiraukan keberadaan prajurit sangar itu. Rasa takutnya berubah jadi risih. Entah berapa menit ia telah jongkong dihadapan Freya.
"Apa maumu?" Freya meletakan sendok makan dan memulai pembicaraan. Rasa jengahnya tak dapat terbendung lagi.
"Menunggu satu suapan makanan masuk dalam mulutmu," jawab prajurit itu dengan santai, menetralkan tatapan maut mata Freya.
"Ada apa dengan makanan ini?" Freya memicingkan matanya.
"Jangan takut akan diracun, aku hanya heran kuat sekali kamu menahan lapar." Akhirnya prajurit itu berdiri setelah hampir setengah jam jongkok mengamati pergerakan Freya.
"Katakan padaku alasan kalian menahan kita tanpa alasan!" cecar Freya.
"Mencurigakan, jarang ada kegiatan di area itu."
"Tidak terbukti aku melakukan kegiatan yang membahayakan, kapan aku dikembalikan?"
"Bagus juga nyalimu."
Sorot mata tajam Freya dan sang prajurit bertemu. Piring metal di tangan kanannya telah bergetar hebat, hanya menunggu hitungan detik untuk Freya melempar piring itu ke prajurit sok tegas di hadapannya.
"Letakkan piring itu! Jika kau berani melemparnya tak akan ada lagi jatah makan untuk hari ini dan jangan harap bisa lolos dari kami!"
Freya mengalah, ia menjatuhkan piring itu cukup kasar.
"Good girl."
"Najis!"
"Sombong!"
Freya memalingkan wajahnya menghindari tatapan meremehkan dari prajurit.
"Siapa namamu?" tanya prajurit sambil berjalan mendekati Freya di sudut ruangan.
"Freya Anugrah."
"Sebenarnya kita penasaran, apa yang sedang direncanakan musuh, kenapa banyak orang asing masuk ke wilayah yang ditakuti warga lokal."
Tatapan sinis kembali muncul di sorot mata almond Freya. Tanpa ragu ia menatap mata prajurit itu untuk kesekian kalinya. Sama sekali ia tak mau di injak-injak oleh orang asing itu.
"Aku akui mentalmu lebih baik dari pada tawanan yang tertangkap beberapa bulan lalu, tapi itu karena kita bersikap lebih halus padamu."
"Siapa yang kau maksud perempuan tawanan yang tertangkap beberapa bulan lalu?"
"Aku kira kalian saling mengenal. Dia gadis yang dicurigai sebagai mata-mata berasal dari Asia Tenggara."
Mata Freya melotot sempurna. "Dimana dia sekarang?"