
Araz menangis dipelukan Kendra. Beberapa pria berusaha menenangkan keduanya. Namun, Kendra mengusir para pria itu dengan dalih mereka butuh waktu sendiri.
Berita hilangnya Alesya telah terdengar oleh Araz dan Kendra. Bayangan terburuk dari pemikiran mereka benar-benar terjadi. Hanya barang-barang yang samapi ke rumah, Alesya menghilang.
***
Piring metal tersaji di sudut ruang tahanan Alesya. Ia memandangi makanan terasbut tanpa nafsu. Lauk yang di sajikan berwarna pucat dengan komposisi protein, serat, dan karbohidrat tak seimbang. Alesya baru memakannya jika ia sudang sangat lapar.
Box makanan yang biasanya dibawa oleh Dokter Glesza lama tak tersaji.
Kliik... Grak...
Hari ini, setelah sekian lama seorang Dokter yang dulu rajin memeriksa Alesya kembali masuk dalam sel dengan wajah datar seperti biasa. Alesya tersenyum walau ia tau sang dokter tidak akan membalasnya.
Tidak ada box makanan seperti sedia kala. Dokter Glesza datang dengan tangan kosong.
"Ada yang dikeluhkan dari tubuhmu?" tanya Gokter Glesza.
Alesya tersenyum sambil menggelengkan kepala, menarik napas bersiap untuk berkata.
"Bagus, harusnya aku sudah tidak perlu memeriksamu lagi karena dugaanmu sebagai mata-mata terbukti salah, anehnya Prajurit Galvin memintaku untuk memeriksamu." sindir Dokter Glesza.
"Dokter cemburu?" tanya Alesya. Terlihat sikap Dokter Glesza gelagapan mendengar pertanyaan tak terduga dari Alesya.
"Aneh!" Tanpa basi basi, seorang dokter yang telah lama Alesya nanti kehadirannya itu berbalik badan, bersiap meninggalkan sel.
"Tunggu, Dok!" perintah Alesya tercekat, ia menelan ludah sebelum melanjutkan kata-katanya, "Aku tau dokter dulu ingin menjadi seorang penulis."
Dokter Glesza tersentak namun tetap melangkah mendekati pintu.
"Aku bukan seorang mata-mata, profesi asliku seorang jurnalis dan sebentar lagi aku akan merbitkan novel, aku ingin berbagi cerita denganmu." Alesya tak menyerah menarik perhatian dokter.
Braak...
Pintu sel dibanting cukup keras setelah Dokter Glesza keluar. Usahanya kali ini buntu. Mungkin ia salah memilih pertanyaan untuk membuka diskusi.
Hati Alesya telah gusar tak karuan. Ia ingin segera menyelesaikan misinya untuk mengembalikan semangat menulis Dokter Glesza dan menagih janji Prajurit Galvin untuk memulangkannya.
Alesya merebahkan dirinya diatas matras yang kian tipis dari hari ke hari. Menyandarkan sejuta lelah dan harapan. Matanya terpejam, pikirannya melayang. Ia rindu senyuman Araz, keluarga ini satu-satunya yang ia miliki. Ia ingin kembali ke kantor. Ia menyesal mengabaikan Kendra.
Andai kala itu Alesya tak memaksa untuk keluar saat suara gemuruh terdengar. Andai ia mampu berpikiri realistis dan tidak terlalu egois, mungkin kali ini ia telah pulang ke Indonesia tanpa harus menangis.
"Apa ini yang kamu cari?" lirih seseorang diambang pintu.
Alesya membuka mata, menghentikan sejenak anannya untuk mencari sumber suara. Terlihat Dokter Glesza berdiri diambang pintu dengan setumpuk buku dipelukannya.
"Dokter?" Alesya terpekik.
Dokter Glesza melangkah mendekati Alesya dengan senyum miring. Menjatuhkan tumpukan buku dipelukannya secara kasar tepat di depan Alesya. Kejutan belum berakhir, Dokter Glesza menjatuhkan tubuhnya disamping matras Alesya sembari menatap buku yang telah berserakan dengan tatapan kosong.
Alesya paham kondisi emosi Dokter Glesza, ia tak akan membuka obrolan sembelum Dokter Glesza bersuara. Satu buku yang terjatuh paling dekat dengannya ia ambil, kemudian membolak-balikan halaman satu persatu.
"Dari mana kau tau aku suka menulis?" lirih Dokter Glesza.
Alesya menoleh. "Prajurit Galvin."
Dokter Glesza menggeleng ringan. "Apa yang ia bicarakan tentangku?"
"Impianmu menjadi penulis," jawab Alesya penuh kelembutan, ia tak mau salah memilih kata dan intonasi lagi.
"Aku sudah lama melupakan impian itu." Dokter Glesza tersenyum pahit sambil memainkan jemarinya tak menentu.
"Apa yang membuatmu benar-benar berhenti?"
"Prajurit Galvin tidak bercerita?"
Helaan napas panjang dihembuskan oleh Alesya. "Baiklah, tapi apa yang membuat kalian jauh?"
"Maksudmu jauh?"
Glek..
Seteguk saliva ditelan olah Alesya, ia mencoba merangkai kata sebelum berbicara lebih banyak. "Mengapa kalian asing, padahal dulu kalian cukup dekat?"
Dengan cepat, pandangan Dokter Glesza beralih menatap manik mata Alesya. "Apakah dia bercerita sejauh itu? Aku tak menyangka."
Alesya meraih jemari Dokter Glesza. Ia ingin menyalurkan semangat dan keyakinan yang ada dalam dirinya. "Dok, aku yakin kalian masih sama-sama saling memperhatikan satu sama lain hingga saat ini walau dalam diam."
Dokter Glesza menarik jemarinya perlahan dari genggaman Alesya. "Sebaiknya jangan bahas hal ini, aku lebih tertarik jika kau membahas dunia sastra, jurnalis, atau yang lain tentang kepenulisan."
'Inilah saatnya' lirih Alesya dalam hati.
"Maaf jika aku terlalu mengurus masalah pribadimu, dok."
Dokter Glesza mengangguk dengan senyuman tipis.
Tarikan napas cukup panjang dihirup oleh Alesya. Ia akan merangkai kata-kata terbaik untuk mengembalikan semangat Dokter Glesza menulis, selain itu ia juga berharap menjadi tokoh penyambung komunikasi Prajurit Galvin dan Dokter Glesza yang telah lama putus.
Bahkan, Alesya menyiapkan strategi untuk mengetahui masalah apa yang membuat mereka yang semula dekat menjadi seoalah tidak kenal.
"Aku menyayangkan kau kehilangan motivasi menulis, dok. Apalagi dulu kau bercita-cita menjadi seorang penulis, aku yakin kemampuanmu menulis masih tersisa hingga sekarang."
Tak ada yang menatap lawan bicaranya. Buku yang berserakan di lantai merupakan pusat pandangan Alesya dan Dokter Glesza.
"Motivasiku telah hilang Ale, bahkan aku tak memiliki inspirasi untuk memulai menulis lagi."
"Kau seorang dokter, kau bertugas sebagai tenaga kesehatan militer, pastinya banyak inspirasi untuk sastramu."
"Sayangnya tidak ada, aku menjalani semua ini sebagai tugas dan tak pernah menikmatinya." Sebulir air bening menetes di pipi Dokter Glesza.
Seolah tak ingin larut dalam kesedihan, Dokter Glesza dengan sigap menghapus air matanya.
Alesya tetap pada teguh untuk mencapai tujuannya. "Inspirasi menulis datang dari mana saja, ada sastrawan di Negaraku yang masih terus menulis walau dalam penjara."
"Tubuh mereka dipenjara, namun pikirannya tidak. Mereka berbeda denganku, tubuh dan pikiranku sama-sama dipenjara."
Setelah sekian lama berinteraksi dengan Dokter Glesza baru kali ini mereka berbicara dari hati ke hati. Suatu interaksi yang hampir tidak mungkin terjadi antara tawanan dan tenaga kesehatan tahanan markas.
"Karya yang kau tulis tak harus fiksi, bisa saja kau berbagi tips kesehatan, mitos kesehatan yang banyak orang percaya, atau apapu sesuai bidangmu," jelas Alesya.
"Aku tak menikmati profesiku di dunia kesehatan dan menulis adalah hobiku, aku tak mau mereka tercampur, biarlah menulis sebagai kegemaran lain tanpa melibatkan profesiku."
Alesya mengangguk mengerti. Ia menyiapkan motivasi pamungkas sekaligus senjata untuk mengorek kisah Dokter Glesza dan Prajurit Galvin sebelumnya.
Alesya menoleh Dokter Glesza yang masih menatap buku berserakan di lantai.
"Maaf dok, tapi kisahmu dan Prajurit Galvin cukup menarik untuk ditulis."
Dokter Glesza menoleh setelah mendengar motivasi Alesya. Akhirnya pandangan mereka saling bertemu setelah bercerita cukup banyak seolah mereka berteman.
"Maksudmu?"
"Kisah kalian cukup menarik bagi penggemar cerita romansa, hubungan kalian yang dulu baik-baik saja, kini merenggang namun masih saling perhatian. Bagiku itu sangat romantis," jelas Alesya begitu menggebu dengan mata berbinar.
Dokter Glesza tertawa kecil namun menitihkan air di ujung matanya. "Sepertinya kau salah paham, Ale!"
"Prajurit Galvin yang mengatakannya, dok!"
Dokter Glesza masih tertawa kecil. "Ia melupakan sesuatu saat bercerita denganmu, ia lupa memberi tahumu jika kita kakak beradik, Prajurit Galvin adalah kakakku, Ale. Tidak ada cerita romanda antara kita."