
keesokan harinya keempat orang itu kembali ke gudang. dimana mereka mengurung Nia di dalamnya. Ferdy menghampiri Nia dan berjongkok untuk melihat lukanya yang parah akibat perlakuan Franklin semalam. Ferdy melihat luka itu sudah mengering. itu cukup mengejutkan untuknya, karena luka separah ini tidak akan mengering dalam waktu semalam apalagi juga tidak di beri pertolongan.
walaupun sudah kering dan tidak ada lagi darah yang mengalir, luka-luka tersebut menjadi sangat menyeramkan. di tambah wajah Nia yang sangat pucat, dan ada lingkaran hitam yang besar di kelopak matanya. bahkan suhu tubuhnya sangat dingin. Nia seperti mayat hidup atau bisa di sebut Zombie dalam keadaannya saat ini.
"apakah dia sudah mati?" Frenzo bertanya dengan nada khawatir.
"tidak. dia hanya sekarat" ucap Ferdy sembari mengalihkan wajahnya untuk memeriksa luka yang ada di betis kakinya.
luka di kaki lebih menyeramkan dari pada di wajahnya. kaki Nia seperti mengalami pembusukan, terlihat dari sela-sela kain yang Nia lilitkan sebagai perban, dugaannya semakin kuat, karena Ferdy melihat kulit di sekitar luka tersebut membiru.
"kita dudukan dia." ucap Franklin seraya menyeret tubuh Nia dengan kasar ke dekat dinding lalu meraih pundak Nia untuk menyenderkannya di dinding yang dingin itu, Nia masih belum sadar karena tubuhnya masih sakit seperti semalam.
"apa kita perlu menyiksanya lagi" tanya Frenzo pada ketiga saudaranya.
"tidak ada pilihan lain. kita harus membuatnya membuka mulut" jawab Ferdy.
"kita bunuh saja dia. aku sudah muak melihat wajahnya dan tidak mau membuka mulut" jawab Franklin dengan sinis.
"tidak. jangan sampai dia mati, sebelum kita mendapatkan harta itu. setelah kita mendapatkannya, kita bisa membunuhnya." ucap Ferland dengan seringainya.
Nia yang mendengar percakapan itu dengan setengah sadar. hanya mengedutkan bibir yang sebelah kanan.
Franklin melihat Nia yang mulai sadar, lalu menghampirinya. dan
BBYYUUUUURR
Franklin menyiram Nia dengan seember air. entah dari mana dia mendapatkannya. ketiga orang yang berada di ruangan itu sangat terkejut, melihat adegan penyiraman yang di lakukan Franklin namun mereka tidak menghiraukan nya. Nia yang sedang mengumpulkan kesadaran sama terkejutnya. air itu sangat dingin sampai bisa membuatnya menggigil.
dengan berat dia membuka mata dengan perlahan.
"kita harus membuatnya segera membuka mulut" ucap Franklin dengan melemparkan ember ke sembarang arah.
"kau benar. kita tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. semua uangku sudah hampir habis" jawab Frenzo dengan miris.
"itu benar. walaupun kita bekerja dan membantu Fernand dalam usahanya. itu semua tidak akan cukup. apalagi Fernand telah menjual semua aset dan propertinya. sisa uangku juga tidak akan cukup membayar semua cicilan." ucap Ferdy
Nia yang mendengar perkataan Ferdy membuatnya kesal, dan berusaha bersuara.
"bekerja? membantu? kalian hanya tahu cara meminta, SIALAANN." ucap Nia tanpa menggerakan bibir, dan hanya menggerakan lidahnya. suaranya tidak terlalu jelas, namun keempat orang tersebut mengerti ucapan yang Nia lontarkan.
Ferland yang mendengar itu sangat geram dan kesal. kemudian dia menghampiri Nia lalu menarik tangan kanannya yang patah semalam.
"kita bawa ****** ini ke tempat pembuatan senjata" ucapnya dengan terus menyeret Nia dengan kasar.
"baiklah" jawab Ferdy sembari berjalan meninggalkan tempat itu dengan diikuti kedua kakak kembarnya.
Nia terus di seret oleh Ferland dengan kasar, Ferland bahkan hanya menarik tanganya yang patah. membuat Nia semakin kesakitan di area itu.
sepanjang Nia di seret oleh Ferland. semua luka yang ada di tubuhnya kembali terbuka dan kembali mengalirkan darah segar. kain yang membalut luka di betisnya pun sudah terlepas. luka yang ada di paha kirinya juga sudah mengalirkan darah karena tergesek-gesek oleh kaki kanannya untuk menghindari luka di betis menghantam bebatuan.
ketiga orang yang mengikuti Ferland dan melihat keadaan Nia yang sangat tragis itu hanya melihatnya dengan datar. tidak sedikitpun mereka merasa iba pada dirinya.
mereka membawa Nia ketempat pembuatan senjata seperti pedang, parang, belati, tombak, dan lain-lain. tempat itu berada di belakang bangunan sebelumnya mungkin nantinya mereka akan menggunakan gudang tersebut untuk menyimpan senjata yang sudah tidak tertampung disini.
setelah mereka memasuki tempat itu. tentusaja Nia melihat banyak senjata yang di pajang di dinding maupun di dalam peti yang terbuka bahkan ada yang di pajang khusus di dalam tabung kaca. Nia juga melihat seorang pria yang sedang menempa senjata di dekat tungku besar yang khusus untuk melelehkan besi. untuk kemudian di tempa menjadi senjata.
pria penempa tersebut berotot besar dan berkulit gelap. mungkin propesi nya sebagai penempalah yang menjadikan penampilannya sangat garang seperti ini. pria itu terkejut melihat tuannya menyeret seorang gadis dengan keadaan yang mengerikan.
"tuan, apa yang akan anda lakukan?" tanya pria tersebut yang melihat keadaan Nia dengan tatapan khawatir.
"diam. jangan banyak bertanya" jawab Ferland dengan ketus.
pria penempa tersebut hanya diam mendengar jawaban dari tuannya itu. dia sebenarnya sangat merasa iba dan ingin berusaha menolong gadis yang sedang sekarat dan tidak berdaya itu. namun apalah daya, dia juga tidak bisa melawan keempat orang licik ini. akhirnya dia hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar.
Nia terus di seret dan di bawa ke dekat tungku yang besar dan panas. karena api didalamnya sudah menyala dan berkobar-kobar sampai hawa panas didalamnya menyeruak keluar, walaupun tungku itu memiliki cerobong asap di atasnya, namun udara yang keluar di sekitarnya tetap saja panas.
setelah Ferland berada di depan tungku besar tersebut, Ferland tetap menjaga jarak dengan tungku itu sekitar dua meter untuk menjaga dirinya dari udara panas.
kemudian Ferland menarik tangan Nia yang dia pegang, untuk membuat Nia berdiri. Nia kebali merasakan sakit yang lebih besar lagi di tangan kanan yang telah patah karena di tarik dengan kasar oleh Ferland untuk membuatnya berdiri.
dengan energi tubuh yang masih lemah, Nia berusaha untuk berdiri menggunakan kaki kirinya. setelah berdiri menggunakan satu kaki Nia terhenyak, mengetahui bahwa dia tidak bisa menapakan kaki kanannya lagi.
ketika Ferland sudah membuat Nia berdiri, dia langsung mendorong punggung Nia dengan seluruh tenaganya. sampai membuat tubuh Nia tersungkur ke depan tungku yang panas
dan tubuh Nia sudah tergeletak tidak berdaya sambil merasakan udara panas yang keluar dari tungku tersebut.
"dan sekarang, berikan semua harta itu. atau aku akan melempar tubuhmu kedalamnya" Ferland menunjuk tungku yang penuh api di dalamnya
"kau tahukan, api itu dapat melelehkan benda sekeras besi sekalipun" ucap Ferdy dengan nada mengejek
"yaa. bahkan sangat mudah untuk api itu melelehkan daging dan tulangmu" Franklin menambahkan dengan seringainya. sedangkan Frenzo hanya melihat tubuh gadis yang sekarat itu dengan datar.
Nia yang mendengar itu kemudian melihat tungku dengan teliti.
"udaranya saja sudah panas. bagaimana kalau aku masuk kedalamnya" batin Nia
dengan tenaga yang tersisa, Nia mencoba untuk bangun, dan kemudian dia duduk dengan tangan kiri menopang tubuhnya lalu Nia berusaha untuk berdiri dengan satu kakinya, walaupun pergerakan tubuh itu penuh dengan kesakitan. Nia berusaha mengeluarkan suara dengan bibir menyeramkannya walaupun mungkin suaranya akan tidak jelas. namun dia akan tetap mengucapkannya.
"kalian tidak akan mendapatkan harta itu. karena aku akan membawanya bersamaku" selepas berkata demikian Nia melompat kedalam tungku yang berapi panas tersebut. sontak semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut.
"HAAHH.." ucap Ferland tidak percaya dengan tekad gadis ini. sebenarnya mereka juga tidak bermaksud membunuh Nia, mereka hanya ingin menggertaknya agar Nia mau membuka mulut. tapi kejadian ini membuat semua rencana yang mereka susun gagal begitu saja. mereka akan hidup penuh kesengsaraan mulai sekarang, karena Nia membawa seluruh harta Fernand dengan kematiannya.
jeritan Nia menggema dalam bangunan tersebut, begitu pilu, kesakitan, dan kesengsaraan. namun mereka yang ada di sana juga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyaksikan tubuh Nia yang semakin lama semakin merengerikan. dan tidak lama setelah itu tidak ada lagi jeritan kepiluan yang keluar dari dalam tungku. tubuh Nia mungkin sudah hangus tebakar, dan mungkin juga sudah menjadi abu. mengingat api itu sangat cepat meleburkan apapun di dalamnya.
keempat orang tersebut hanya bisa menatap nanar melihat uang berjalannya hangus terbakar.
KRITIK dan SARAN
Author sangat menghargainya ❤❤