The Highest

The Highest
Kematian Fernand



setelah Nia menghabiskan ikan bakarnya, dan kondisi tubuhnya mulai membaik. Nia lalu berdiri dan menghampiri pohon yang pertama kali dia lihat setelah memasuki dimensinya. dia menyentuh Batang pohon yang rindang itu dan melihat dengan teliti lekak liku pohon tersebut.


Nia baru menyadari bahwa warna daun di pohon itu telah berubah menjadi warna merah darah, dia baru pertama kali melihat pohon yang seperti ini. sekilas bentuk daun pahon itu seperti daun pete (hehe). karena dalam satu cabang memiliki banyak helai daun yang kecil.


"kenapa warna pohon ini berubah? perasaan waktu pertama kali aku melihatnya, warna daun itu masih terlihat hijau" gumam Nia.


Sebastian yang mendengar gumaman Nia hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Hei, tentu saja pohon itu akan berubah, karena dia menyesuaikannya dengan kekuatan sihirmu, kekuatanmu berada di level Red Fire membuatnya berubah menjadi warna merah darah" Sebastian tersenyum mengejek.


Nia yang tahu kalau Sebastian sedang mengejeknya karena kepolosan yang dia miliki, Nia hanya bisa mengembungkan pipinya.


"Sebastian, jika kita telah terikat waktu aku lahir, berarti kau mengetahui semua tentang hidupku?" tanya Nia langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Sebastian sedang membakar satu ekor ikan lagi.


"tentu saja, memangnya kenapa?" jawabnya sambil membalikkan ikan yang sedang di bakar.


Nia mengangkat sebelah alisnya "kenapa aku tidak mengetahui sedikitpun tentangmu dan hidupmu?"


"ini bukan saatnya kau tahu, tentang hidupku itu tidak penting. kau akan mengatahuinya suatu hari nanti" Sebastian meniup-niup ikan bakarnya yang sudah matang.


Nia hanya menghela nafas, mungkin semua itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuknya dan dia akan menunggunya.


setelah mendengar jawaban dari Sebastian, Nia lalu menghampiri Sebastian dan duduk di sampingnya. untuk Nia merebut ikan bakar yang akan dimakan Sebastian.


Sebastian yang melihat ikan bakarnya direbut oleh orang lain, mencoba merebutnya kembali.


"Heii,, itu milikku. jangan memakannya"


protes Sebastian.


"kau bisa membakar ikan yang lain, ikan ini biar aku yang habiskan. karena terlalu enak untuk kau makan" Nia terkekeh sambil menggigit daging ikan tersebut. dan terjadilah rebut-rebutan ikan bakar antara Nia dan Sebastian.


"heii.. kembalikan,kalau tidak... " ucapan Sebastian terpotong.


"kalau tidak kenapa? aku akan menghabiskannya, tenang saja" Nia memotong perkataan Sebastian sambil terkekeh mengejeknya.


"kalau tidak, aku akan menciummu. dan menyedot daging ikan yang sudah berada di perutmu agar keluar dari bibirmu."


.. DEGG..


Nia langsung memberikan ikan itu pada Sebastian. dari pada semua isi perutnya keluar karena di sedot olehnya.


"Menjijikan. ambil ini"


"tidak perlu, aku tidak lagi menginginkannya. sekarang aku ingin ciuman itu" Sebastian menyeringai dengan penuh makna di dalamnya


"Aaa... tidak mau. dasar pria mesum" Nia menutupi bibir dengan kedua tangannya.


Sebastian hanya tekekeh melihat Nia yang salah tingkah.


"sudahlah. aku akan kembali, dari pada bersama pria mesum sepertimu" ucap Nia. lalu menghilang dari pandangan Sebastian.


"ya.. ya.. kau harus kembali karena ada kabar yang menunggumu"


**


Nia membuka matanya dan mendapati dirinya sedang duduk di atas ranjang.


ternyata dia kembali ke waktu semula.


lalu Nia bergegas ke kamar mandi dan membasuh dirinya. baru saja dia selesai dan keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya di ketuk dengan keras dari luar.


"Masuklah" seru nya. lalu seorang pelayan masuk dengan tergesa


"Nona. tuan besar... tuan besar... kecelakaan. dan beliau meninggal di tengah perjalan menuju rumah sakit" ucap pelayan itu dengan agak terbata.


"APAA?!!" Nia begitu terkejut mendengar kabar tersebut. dalam sehari Nia kehilangan dua orang yang dia sayangi, Nia bergegas memakai pakaian dan menghapus air matanya dengan kasar. setelah selesai Nia langsung menuju mobil yang di ikuti dua pengawalnya..


Nia memakai pakaian serba hitam dan selendang yang menutupi kepalanya.


di sepanjang jalan, nia hanya bisa menangis dalam kepiluan yang dia hadapi. dua orang yang sangat penting dalam hidupnya telah pergi. dan sekarang dia tidak punya siapa-siapa yang menyayanginya lagi..


"apakah kematianmu karena keempat adik sialanmu itu ayah? sepertinya benar. karena ayah juga telah mempersiapkan semuanya.".


Nia mengepalkan tangannya karena frustasi.


Fernand di bawa kerumah sakit terdekat untuk menunggu keluarganya dan akan melalukan otopsi jika keluarganya mengizinkan namun keempat adiknya tidak setuju jika mayat Fernand di otopsi dengan berbagai alasan.


setelah melalui proses rumah sakit akhirnya Fernand di makamkan. dengan di hadiri kelurga terdekat dan beberapa karyawan serta para petinggi yang bekerja di Prusahaannya.


ada banyak orang yang datang untuk melayad di pemakaman Fernand. Nia melihat acara tersebut dalam diam, menyaksikan ekspresi ekspresi yang mereka tunjukan. tidak ada raut kesedihan yang tulus dari wajah mereka, keempat pamannyapun hanya melihat makam Fernand dengan wajah datar.


Nia mengetahui wajah wajah keempat pamannya itu, bahkan Nia mengetahui kehidupan lengkap tentang mereka. namun mereka tidak mengetahui sedikitpun tentang dirinya.


setelah pembacaan do'a selesai, semua orang beranjak pergi dari tempatnya, meninggalkan Nia dan dua orang pengawalnya. Nia membelai batu nisan sang ayah dalam kesedihan dan kepiluan yang dia rasakan. karena sedari tadi tidak ada yang menangis akan kepergian Fernand, bahkan hanya untuk membelai batu nisannya saja mereka enggan.


mereka hanya anjing anjing yang suka menjilat pada sepatu sang ayah. tentu saja Nia tahu akan hal itu. Nia hanya tersenyum miris melihat makam sang ayah. setelah itu Nia beranjak lalu berjalan menuju mobil, dan akan melewati keempat pamannya yang berdiri di gerbang pemakaman.


tentu saja keempat orang itu melihat ke arah Nia, setelah mereka meninggalkan makam Fernand dan melihat Nia dari kejauhan.


"siapa dia? sepertinya dia sedih di tinggalkan oleh kakak" Ferland, melontarkan pertanyaan pada ketiga adiknya.


"mugkin dia adalah wanita simpanan kakak" Franklin tersenyum akan hal itu. karena memang hal tersebut memang umum di lakukan pria seperti mereka, namun mereka tidak tahu kalau Fernand sangat bertolak belakang dengan sifat keempat adiknya.


Frenzo menerka-nerka kemungkinan yang ada "tidak tidak, dia masih sangat muda, apa mungkin dia adalah anak kakak?"


"tidak mungkin.. anaknya sudah mati di tanganku" ketus Ferdy sambil memicingkan matanya pada Nia.


"itu bisa sajakan? bisa jadi kalau kakak menyembunyikan anaknya dari kita, sang pewaris seluruh kekayaan kakak. agar kekayaannya tidak jatuh ke tangan kita. dan mengalir padanya" jelas Franklin sambil melihat Nia lekat-lekat dari jauh.


penjelasan Franklin membuat ketiga saudaranya yang lain berpikir. sangat masuk akal jika kakak sulung mereka akan melakukan hal yang sama jika mengetahui rencana mereka.


di tengah kemungkinan-kemungkinan yang mereka pikirkan. langkah Nia semakin mendekat ke arah mereka. dan ketika Nia melewati mereka, tiba-tiba angin berhembus kencang sampai menyingkap selendang yang Nia pakai untuk menutupi kepalanya, Nia tidak sengaja memperlihatkan Tato di pelipisnya. tentu saja tato tersebut terlihat oleh Ferdy dan yang lainnya. mengetahui hal itu Nia segera menutup kepalanya kembali


"ituu.. " Ferdy hanya bergumam melihat tato yang di miliki Nia, dia menatap lekat-lekat punggung Nia yang mulai menjauh dan memasuki mobil Bugatti La Voiture Noire. Bugatti LVN yang di bandrol dengan harga selangit. tentu saja mereka mengetahui tentang mobil tersebut. tentunya Fernand juga sangat mampu untuk membelinya. dan itu membuat mereka hati mereka semakin panas dan hasrat untuk memiliki kekayaan Fernand semakin menjadi-jadi.


lalu siapa gadis itu, mereka baru pertama kali melihatnya disini.


"kenapa mereka berdiri disana? apa meraka mencurigaiku? atau mungkin mereka sudah mengetahui tentangku? atau jangan jangan mereka akan menangkapku ketika aku melewati mereka? heh angkap saja. memang apa yang akan kalian lakukan?"


Pikiran itu membuat Nia tersenyum puas seraya melangkah mendekati keempat pamannya.


setelah Nia melewati keempat orang itu dan masuk kedalam mobil. dia tersenyum puas melihat keempat wajah itu melongo seperti orang bodoh, terlihat dari kaca spion mobilnya.


"keempat wajah bodoh itu pasti sedang iri melihatku memiliki mobil ini"


batin Nia bersorak dengan puas. lalu melajukan mobilnya untuk pulang


setelah menjelang sore, Nia mengumpulkan semua pakaian dan semua barang-barang berharga yang ada di kamarnya. setelah semua terkumpul di atas ranjang, Nia melemparkan semua benda itu kedalam dimensi. Nia juga ikut masuk kedalam dimensi dan mendapati Sebastian dengan wajah terkejut.


"aku titipkan semua barang ini kepadamu" setelah berkata demikian Nia langsung keluar dari dimensi meninggalkan Sebastian yang Setia dengan wajah terkejutnya.


Nia terkekeh geli memikirkan wajah terkejut Sebastian tadi.


setelahnya Nia langsung keluar kamar dan menuju Dining Hall mansionnya. setelah Nia sampai semua pelayan, pengawal dan penjaga yang bekerja padanya telah menunggu kedatangan dirinya.


Nia menghela nafas berat dan memberikan mereka semua amplop berwarna coklat, yang di dalamnya berisi uang gaji mereka.


"Terima kasih telah sudi bekerja padaku dan ayahku. ini adalah gaji terakhir kalian. kalian harus segera pergi dari sini, atau nyawa kalian taruhannya. sebelum malam tempat ini harus sudah kosong,"


jelas Nia lalu pergi dari tempat itu menuju kamarnya


tentu saja pengumuman Nia membuat semua orang terkejut dan bertanya tanya. memangnya apa yang terjadi sampai mereka di pecat secara tiba-tiba. mereka sangat ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada nonanya itu. namun mereka urungkan


"kalian harus segera pergi dari sini atau nyawa kalian taruhannya"


kata-kata itu membuat mereka merinding dan langsung membubarkan diri untuk segera mengemas barang-barang mereka.


KRITIK dan SARAN


Author sangat menghargainya ❤❤