The Highest

The Highest
Danau



Nia melihat wajah Sebastian yang sedang menatapnya dengan lekat. namun dia juga demikian, dia melihat mata Sebastian yang berwana kuning keemasan yang menawan, di bawah sinar rem bulan yang semakin membuat pemandangan di depan matanya seperti lukisan hidup yang sangat Indah.


entahlah kenapa moment ini sangat menyejukkan hatinya, dia juga tidak tahu.


Sebastian mengirimkan ingatan melalui matanya yang menawan itu. Nia melihat ingatan yang dikirimkan Sebastian, dia begitu takjub sekaligus sedih, melihat kejadian dimana dia di lahirkan. dan tak terasa setitik buliran hangat membasahi pipinya.


"sekarang aku sudah tahu. waktu dimana kau mengikatku" ucap Nia dengan lirih.


"ya. apa sekarang kau ingin membalas dendam?" tanya Sebastian seraya menyentuh ujung rambut Nia yang jatuh di dadanya.


". aku akan segera menuntaskan masalah ini. dan aku tidak ingin menundanya lagi" Nia menghapus air matanya dengan kasar.


"kalau begitu, perlihatkan kekuatan sihir Black Fire mu" ucap Sebastian


Nia menuruti permintaan Sebastian yang penasaran dengan kekuatan sihir miliknya. lalu dia mengeluarkan bola api hitam yang keluar dari telapak tangan. dia juga tidak heran, mengapa Sebastian mengetahui tingkat kekuatan sihirnya.


mungkin karena Sebastian terikat dengannya, jadi Nia tidak bisa menutupi apapun darinya. tapi kenapa Nia tidak tahu tentang seluruh hidup Sebastian? padahal mereka sudah terikat. dan kenapa hanya Sebastian yang dapat mengetahui seluruh hidupnya?. apa mungkin karena kekuatannya tidak sebanding dengan yang Sebastian miliki. itu bisa saja bukan.. memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikirannya itu akan membuatnya pusing.


dia harus membuang rasa penasaran itu jauh-jauh. lebih baik dia fokus meningkatkan kekuatan sihir nya lagi untuk menandingi Sebastian. walaupun itu terasa mustahil baginya.


Sebastian yang melihat Nia mengeluarkan bola api hitam di telapak tangannya, hanya memperlihatkan senyum yang manis.


"sekarang, gunakan bola api itu untuk membuat danau itu menjadi kering." ucap Sebastian.


Nia menatap Sebastian dengan heran.


"bagaimana mungkin danau itu bisa kering hanya kerana bola api kecil ini. tapi aku jaga penasaran dengan hasilnya. ini harus dicoba bukan" batin Nia.


Nia berdiri, lalu melangkah mendekati bibir tepi danau itu. dia dapat melihat cahaya bulan yang terpantul dari air danau dengan Indah. kemudian dia melempar bola api hitam itu ke tengah danau, seketika bola api hitam tersebut langsung tenggelam ke dalam airnya.


ternyata bola api itu masih menyala walaupun sudah di dalam air. Nia mengetahui hal terebut karena dia dapat merasakannya. warnanya yang hitam pekat, sangat membuat Nia kesulitan untuk melihat bola api itu. untung saja dia dapat merasakan energi dari kekuatannya dan itu sangat membantu. walaupun tidak dapat melihat bola api itu, tapi dia dapat merasakan energinya.


setelah beberapa saat, tidak ada perubahan yang terlihat dari tengah danau.


"mungkin ini butuh dorongan."


Nia mendekati tepi danau tersebut, dan menyentuh airnya, lalu tangannya bergerak membuat sebuah simbol seperti tato yang ada di pelipisnya. setelah membuat simbol, Nia langsung meninju simbol tersebut dengan kuat, sehingga membuat air danau itu terciprat kemana-mana, bahkan baju yang di pakainya sampai basah.


setelah melakukan dorongan pada bola api, dia berdiri dan mengamati apa yang seharusnya terjadi.


dan benar saja. apa yang dia harapkan terjadi. bola api yang ada di tengah air danau itu menjadi besar. yaa seukuran tubuhnya lah. walaupun Nia tidak dapat melihatnya, namun dia dapat merasakannya.


seketika setelah bola api itu membesar. air danau langsung meluap-luap dan beberapa saat kemudian menjadi mendidih, luapan-luapan di tengah airnyapun semakin menjadi-jadi bahkan


uap dari airnya dapat dia lihat di bawah sinar bulan.


beberapa saat kemudian, air danau itu menyusut sampai habis.. seperti kita memasak air satu liter ke dalam panci di atas kompor selama tiga jam yang lupa dimatikan. pasti air tersebut akan menguap dan habis.


yaa seperti itulah yang Nia lihat sekarang. kekuatannya sihir apinya dapat berfungsi walaupun di dalam air. tentu saja hatinya sedang bersorak ria sekarang.


"kenapa kau melakukan dorongan dengan membuat simbol" tanya Sebastian yang melihat aksi Nia sedari awal, dan masih duduk di tempatnya.


"bukankah memang seperti itu jika melakukan pendorongan? itukan yang di ajarkan guru Han, mana mungkin kau tidak mengetahuinya" jawab Nia dengan heran. tidak mungkin Sebastian tidak tahu hal itu, Sebastian bahkan mengetahui seluruh hidupnya.


"bukankah setelah kau mencapai Puncak level Black Fire kau bisa mengendalikan kekuatan sihir yang kau miliki, hanya dengan pikiranmu? walaupun kekuatan sihirmu masih berada di tingkat rendah." Sebastian membalikkan pertanyaan pada Nia


"eh, aku lupa.. hehe" jawab Nia seraya menyunggingkan senyum imutnya.


CUPP


Sebastian mencium bibir ranum milik Nia dengan singkat dan tiba-tiba. tentu saja itu membuatnya terkejut bukan main. ini adalah kecupan Sebastian yang pertama kali untuk Nia, setelah ciuman dengan kedok memberi nafas buatan waktu itu.


Nia tidak memikirkan bagaimana Sebastian tiba-tiba berada di sampingnya, padahal barusan, jarak diantara mereka cukup jauh. karena dia tahu Sebastian memiliki kekuatan yang sangat kuat, jadi tidak mustahil bukan kalau Sebastian dapat melakukan apa pun yang dia mau.


"apa yang kau lakukan?" Nia memukul bahu Sebastian dengan kesal.


"hanya menciummu" Sebastian menjawab dengan wajah polos yang sangat menggemaskan bagi Nia.


dan dia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Sebastian yang melihat Nia tidak bisa berkutik karena wajah so polosnya lalu langsung mendekati Nia untuk merapatkan tubuh padanya, lalu membisikkan sesuatu.


"datanglah setelah urusanmu selesai. aku akan membawamu ke suatu tempat" bisik Sebastian seraya mencium rambut di belakan telinga Nia. lalu sosoknya langsung menghilang di telan angin malam.


Ya ini sudah tengah malam. Nia juga belum istirahat sama sekali. akhirnya dia menunda rencananya untuk mengistirahatkan diri, agar tubuhnya berenergi.


"balas dendam juga butuh energi bukan" gumam Nia. dan langsung melesat ke dalam kamar miliknya.


setelah sampai. Nia langsung melucuti semua pakaian yang dia kenakan. lalu dia langsung membaringkan tubuh di atas ranjang yang nyaman, dengan di sininari sinar bulan yang menembus jendela besar di dekat ranjang. dan tanpa ada sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya. kemudian dia menarik selimut untuk agak menutupi tubuh indahnya.


ini pertama kalinya dia tidur dalam keadaan seperti itu. sebenarnya dia juga sedikit mencoba-coba, dan setelah mencobanya, dia merasa nyaman. akhirnya dia meneruskan untuk tidur.


"Good Night" gumam Nia pada dirinya sendiri. dan langsung tertidur dengan pulas.


"Night To" bisik Sebastian seraya membelai pipi Nia dengan lembut.


**


ke esokan harinya. matahari sudah naik. Nia sudah bangun dari tidurnya, bahkan dia sudah membersihkan tubuhnya. dan sudah memakai pakaian yang semalam untuk pergi.


setelah selesai bersiap dia langsung keluar dari dimensi dan mendapati dirinya masih berada di perkebunan warga sekitar.


Nia kemudian berjalan menyusuri perkebunan tersebut. dia kembali ke waktu semula namun dengan penampilan yang berbeda tentunya.


Nia berjalan santai seraya memikirkan rencana yang Bagus untuk membalas keempat pamannya yang sialan itu. di tengah Nia bergelut dengan pemikirannya, dia merasakan ada aura penyihir di sekitar dia berada, namun agak samar.


lalu Nia melepaskan mata Elangnya, untuk mencari sosok tersebut. dan ternyata benar, dia melihat seorang pria bertubuh kekar dan berkulit gelap, dengan memakai jubah hitam berjalan di tengah perkebunan menuju ke arahnya.


"dia memiliki sihir elemen bumi." gumam Nia.


"hm..apakah dia merasakan auraku? heh. tentu saja, kita kan sama-sama seorang penyihir. tunggu, bagaimana reaksi wajahnya ya?? katika bertemu dengan penyihir Migology sepertiku. hehe" tambah Nia, seraya menyunggingkan senyum manisnya dengan percaya diri. tentu saja mimiliki kekuatan sihir level Black Fire yang di sebut Mitology itu adalah sesuatu yang patut untuk di banggakan.


dan setelah pria itu sudah mendekat, pria tersebut hanya melihat wajah Nia sekilas, lalu berjalan melewatinya. tentu saja itu membuat kepercayaan dirinya hancur.


"bodoh. aku kan masih di tingkat rendah dalam level ini." batin Nia. dia menghapus rasa kepercayaan diri yang sia-sia.


setelah pria itu sudah menjauh dari penglihatannya. Nia teringat sesuatu.


"tunggu. bukankah dia seorang penempa di tempat pembuatan senjata waktu itu?" gumam Nia dengan heran. waktu itu ketika Jacob memberinya kain, Nia tidak merasakan aura penyihir sedikitpun dari tubuhnya. tidak seperti sekarang, Nia melihat Jacob dari arah berlawanan dan memiliki aura sihir, walaupun auranya agak samar. tapi itu sangat mengherankan.


"aku harus mencari tahu tentang ini"


Nia kemudian berjalan mengikuti pria berjubah tersebut sampai di depan tembok yang menjulang tinggi, dimana tembok itu pernah di lewati olehnya.


kemudian pria tersebut memanjat tembok itu dengan lincah dan cepat. karena kelincahannya dia dapat melewati tembok tinggi tersebut dengan mudah. dan Nia yang melihat itu, langsung terbang melesat ke atas tembok yang barusan dilewati sang pria misterius.


pria itu terus berjalan menuju bangunan tempat pembuatan senjata. setelah pria tersebut sampai di depan halaman bangunan itu, dia di suguhkan oleh pemandangan yang tidak terduga.


Nia yang melihat ekspresi dari wajah pria tadi yang langsung menggelap seperti di selimuti kemarahan. lalu Nia langsung melesat ke atas bangunan tersebut. dan melihat pemandangan yang tidak mengenakkan hati. dia terkejut melihat kejadian dimana pria yang memberinya kain untuk menutupi tubuhnya, sedang di siksa oleh ketiga paman sialan itu. dan dia juga baru sadar bahwa salah satu dari keempat saudara itu ada yang tidak hadir yaitu Ferland.


"kenapa dia tidak ada di sini? apa mungkin ketiga orang sialan itu telah membunuhnya. heh. itu bisa saja kan"


sebelumnya tubuh kekar dan gahar itu sangat menakutkan. dan sekarang menjadi sangat mengerikan karena luka sayatan bertebaran di tubuhnya.


"JACOOB!!"


pria berjubah hitam itu berlari menghampiri orang yang di siksa, dengan semua kemarahan dan kesedihan yang dia rasakan. namun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan.


"ternyata mereka saudara kembar. pantas wajah mereka sangat mirip." gumam Nia


KRITIK dan SARAN.


Author sangat menghargainya ❤❤