The Highest

The Highest
Memasuki Pohon



setelah Nia pergi dari tempat pembuatan senjata itu. dia berusaha mencari tempat yang aman, untuk masuk kedalam dimensinya. Nia berlari ke arah belakang bangunan tersebut, dan mendapati sebuah tembok yang menjulang tinggi. Nia melihat tembok itu dengan teliti,


"apa aku dapat melewatinya?. kita coba saja" batin Nia dengan mengembangkan seringainya.


dan WOSHH WOOSSHH..


tubuh Nia menjadi ringan, dia seperti terbang ke atas awan, tapi tentunya dia hanya terbang ke atas tembok besar itu saja. setelah Nia berada di atas tembok, hatinya bersorak penuh kegembiraan. ternyata kekuatan sihir yang dia miliki jauh lebih kuat dari apa yang dia bayangkan, karena kekuatannya bisa bekerja dengan menggunakan pikirannya saja, jadi tidak perlu repot-repot mengucapkan mantra-mantra yang harus di ingat.


setelah Nia bergulat dengan pikirannya sendiri, dia termenung sesaat.


"apa aku harus membalas mereka sekarang?. ah tidak. aku harus menemui Sebastian terlebih dahulu" pikirnya, dia lupa akan masuk kedalam dimensi, karena sibuk bergembira tadi.


setelah itu dia melompat ke bawah tembok tersebut dengan antusias. bagaimana tidak, kalau dia bisa terbang, dia pasti bisa turun dengan mudah bukan. dan setelah dia menapaki tanah di bawah kakinya. dia lebih gembira lagi, karena dia turun seperti tanpa di tarik oleh gravitasi, dia merasa tubuhnya sangat ringan ketika menuruni tembok tersebut.


setelah mengagumi kekuatan yang sudah dia dapat. Nia kemudian berkeliling di tempat tersebut, dia tidak melihat benda apapun yang mencurigakan, seperti CCTV atau jebakan lainnya. Nia hanya melihat hamparan perkebunan warga yang sangat luas.


NOTE :


yaa. Nia hidup di zaman modern, dimana semua tecnology canggih sudah ada. namun tidak mustahil bukan jika seorang penyihir masih hidup di jaman itu.. mereka harus berbaur dengan manusia biasa, untuk kelangsungan hidup mereka tentunya.. namun mereka harus menyembunyikan kekuatan sihir yang mereka miliki pada manusia biasa, untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. dan yang akan tahu bahwa mereka adalah seorang penyihir, tentu saja seorang penyihir lainnya.


setelah dia melihat hamparan kebun jeruk yang luas. dia mengeluarkan kekuatan mata elang yang dia miliki, untuk melihat sejauh berpuluh puluh kilo meter dari tempatnya berdiri saat ini,untuk menelisik lebih jauh perkebunan itu.


"hmmm" Nia berdehem seraya mengembangkan seringainya.


dan WOSSHHH WOOSSHH


Nia melesat ke ujung perbatasan kebun itu dengan kekuatannya. Nia berlari? tidak. Nia melesat, yaitu terbang dengan cepat, dia tidak menapakkan kakinya, atau menggunakannya saat melesat. hanya memfokuskan pikiran pada tubuhnya, dan itu menjadi nyata.


"lumayan juga. hehe" ucap Nia dengan cekikikan.


Nia melesat kesana kemari dengan cepat, sampai dirinya merasa puas. ditengah keasyikannya, dia berhenti dan mengingat sesuatu.


"eh. aku lupa ingin bertemu Sebastian. heh,, kenapa aku jadi pelupa begini" gerutunya, kemudian dia masuk kedalam dimensi.


setelah Nia masuk, dia tidak menemukan Sebastian ataupun barang-barang yang dia titipkan padanya.


"kemana dia?" gumamnya


Nia berkeliling kasana kemari sampai mood nya hancur karena tidak menemukan apa yang dia cari.


"iish. kemana dia? membuatku kesal saja. awas saja kalau aku menemukannya!!" gerutunya sembari mondar mandir tidak jelas di bawah pohon rindang yang pertama kali dia temui di dalam dimensinya.


Nia terkejut melihat daun pohon itu berubah menjadi warna hitam seluruhnya. "ternyata benar. pohon ini menyesuaikan dirinya dengan kekuatanku" guman Nia sambil memanggut-manggutkan kepalanya.


"hehe. bagaimana kalau aku merubah warnanya" ucap Nia sambil tersenyum jahil.


Nia langsung mengibaskan tangannya ke arah pohon tersebut. seketika pohon itu berubah menjadi warna pohon pada umumnya. daun yang hijau, dan Batang pohon berwarna coklat. Nia tersenyum puas melihat perubahan pada pohon itu. lalu dia merubah warnanya lagi menjadi putih. putih bersih tanpa noda. Nia kembali terkejut dengan warna pohon yang putih tersebut. dan kemudian mengingat sesuatu.. yaa.. dia mengingat sayap Sebastian yang Indah. mengingat hal seperti itu membuatnya melamun, melamunkan sesuatu yang Indah untuk dia miliki. namun apa itu? dia juga sebenarnya tidak tahu.


di tengah lamunannya. Nia dikejutkan dengan kemunculan Sebastian dengan tiba-tiba dan tergesa dari dalam pohon yang berwarna putih itu.


"bodoh. kenapa kau merubah warnanya?" seru Sebastian dengan nada kesal.


"heh. membuat jantungan saja. kenapa kau muncul dari dalam pohon? apa kau bisa masuk kedalamnya?" Nia bertanya dan tidak menggubris pertanyaan Sebastian.


"pertanyaanku lebih penting" Nia mendengus karena mulai kesal


"kalau iya, memangnya kenapa? kau iri?" ejek Sebastian melihat kekesalan Nia.


bibir Nia sedikit berkedut mendengar itu. "apa-apaan. ini dimensiku, berarti pohon ini milikku. keluar dari sana" protes Nia. Nia sebenarnya penasaran bagaimana Sebastian dapat masuk kedalam pohon, apa dia juga bisa melakukannya?.. karena rasa penasarannya tertutupi dengan gengsi yang besar, akhirnya Nia membuang jauh-jauh rasa penasaran itu.


"ini juga tempat tinggalku, jadi aku juga berhak melakukan apapun disini." cibir Sebastian mendengar kalau dimensi ini hanya milik Nia. walaupun sebenarnya dimensi itu adalah milik mereka berdua, karena Sebastian menjadikannya hadiah untuk Nia waktu mereka mengikat perjanjian darah, yang dilakukan sewaktu Nia baru lahir. tentu saja Nia tidak mengetahui hal itu, semua itu masih misteri untuknya.


walaupun Sebastian selalu kesal atas tingkah Nia yang berubah-ubah, kadang menggemaskan kadang mengesalkan. tapi dia tetap akan memaafkan apapun kesalahannya. bagaimana pun juga Nia adalah orang yang dia cintai.


"sudahlah. apa kau ingin mencoba masuk kedalamnya?" ucap Sebastian, mencoba mengajak Nia untuk masuk kedalam pohon.


"eh. apakah bisa?" Nia menjawab dengan antusias


ternyata rasa penasarannya terjawab, tanpa dia harus mencari tahu.


"tentu saja. tapi sebelum itu, rubah dulu warna pohonnya seperti semula." seru Sebastian


"baiklah" Nia langsung mengibaskan tangannya untuk merubah warna pohon tersebut seperti semula.


"lalu bagimana caranya aku bisa masuk" Nia bertanya pada Sebastian dengan mata yang berbinar


Sebastian terkekeh melihat wajah Nia yang menggemaskan baginya. "kenapa kau memasang wajah seperti itu? aku jadi ingin menciummu?" ledek Sebastian,


Nia yang mendengar ledekan Sebastian hanya bisa mengerucutkan bibir karena kesal. "dasar mesum.. cepat ajari aku cara memasukinya" protes Nia dengan pipi yang merona karena malu sendiri. walaupun begitu dia merasa aneh dengan perasaannya, antara kesal, malu, dan senang, yang dia rasakan secara bersamaan.


Sebastian semakin terkekeh melihat wajah Nia yang kini sudah memerah.


"apakah kau malu? wajahmu semakin imut dengan ekspresi itu. apalagi kau hanya mengenakan kain ini saja" goda Sebastian karena melihat kain yang Nia lilitkan di tubuh indahnya. dan hal itu membuat wajah Nia semakin memerah seperti tomat.


"eh. aku lupa hanya memakai kain tipis saja di tubuhku, dan aku hanya melilitkannya seperti handuk.. iissh, ini akan membuatnya semakin mesum" gerutu Nia di dalam hati, mengingat kebodohan yang dia lakukan.


"jangan mesum. dimana kau menyimpan semua barangku?" tanya Nia, dengan memalingkan wajahnya.


"di dalam. aku sudah menyimpannya dengan rapih untukmu" Sebastian menjawab pertanyaan Nia dengan santai


"yasudaaah ajari aku cara memasukinya" rengek Nia yang tidak sabar ingin segera masuk.


"iish. kau itu merepotkan sekali. kamu hanya perlu memusatka pikiranmu kedalam pohon itu. dan kau akan segera masuk." Sebastian menjawab dengan malas, karena Nia terlalu bawel sekarang.


Nia mencoba memfokuskan pikirannya untuk masuk ke dalam pohon, dan dia berhasil dengan mulus. Nia terkejut setelah malihat apa yang dia lihat.


setelah Nia masuk kedalam pohon. dia terkejut karena dia seperti memasuki sebuah rumah yang besar dan luas. rumah itu seperti rumah pohon yang Indah dan rapih, dengan dinding, lantai dan semua furniture nya juga terbuat dari kayu yang dibentuk dan di poles sedemikian rupa, juga sedikit menambah aksen kaca yang di pasang di sebuah tangga. pencahayaannya juga sangat baik, walaupun hanya menebarkan lilin-lilin di setiap sudutnya untuk alat penerangan. dan hal itu semakin menambah keindahan didalamnya.


Nia terkagum-kagum melihat apa yang ada di dalamnya. karena Nia memasuki sebuah pohon lalu sekarang dia berada didalam sebuah rumah yang besar. entahlah antara pohon itu yang membesar, atau tubuhnya yang mengecil. dan Nia tidak memperdulikan itu. karena persaannya sudah sangat senang walaupun hanya bisa memasuki pohon tersebut.


KRITK dan SARAN


Author sangat menghargainya ❤❤