
"pria penempa itu bernama Jacob rupanya" gumam Nia.
pria berjubah tersebut memangku kepala Jacob dengan gemetar, karena melihat saudaranya sendiri menderita.
"apa yang kalian lakukan!!" teriak pria berjubah dengan frustasi
"dia sudah lancang membakar kain milikku" jawab Franklin dengan nada sinis.
"hanya sebuah kain. kau sampai menyiksa kakakku?!!" batin pria berjubah tersebut. dia hanya bisa membatin tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
ditengah kesedihannya dia melihat seorang kakek tua yang berjalan menghampiri mereka. dan semua orang yang berada di tempat itu langsung membungkuk untuk memberi penghormatan.
"salam guru Victor" seru semua orang dengan serempak, bahkan Jacob pun memberi penghormatan dengan hanya berucap saja, karena tidak mampu menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Jacob melakukan itu karena dia harus menghormati apa yang di segani tuannya.
pria berjubahpun hanya bisa berucap untuk memberi penghormatan pada gurunya, karena dia juga sedang sibuk dengan sang kakak.
ternyata itu adalah guru sihir mereka.
Nia yang melihat itu juga menatapnya dengan heran ketika dia merasakan ada aura yang kuat dari penyihir elemen angin. dan ternyata itu adalah guru mereka.
."tunggu. bukankah mereka tidak memiliki kekuatan sihir, kecuali pria berjubah tersebut?, lalu kenapa mereka memiliki guru seorang penyihir?" gumam Nia. dia juga sebenarnya sangat heran melihat kakek tua yang kekuatan sihirnya sudah mencapai tingkat duniawi di level ketiga itu seperti tidak merasakan aura miliknya. karena jika dia merasakan, dia mungkin akan menoleh ke atas bangunan ini untuk memastikan.
di tengah Nia begulat dengan pemikirannya. kakek tua itu mulai berbicara.
"kesalahan apa yang sudah dia lakukan?" Victor bertanya dengan nada dingin.
"dia telah lancang membakar kain milik kakakku" Frenzo menjawab dengan santai.
"kain?? kaaaiin?? hanya sebuah kain, kalian tidak segan menyiksanya"
Nia memutar otaknya untuk mengetahui sebab mereka menyiksa Jacob dan mengingat-ngingat object kain yang terasa pamiliar.
"apakah mereka membahas kain berwarna merah yang pernah Jacob berikan padaku?. kenapa dia tidak memberitahukannya saja pada mereka"
gumam Nia
"kenapa kau masih membelanya Shawn?" seru Victor seraya menolehkan wajahnya kepada pria berjubah tersebut.
"ooh. ternyata dia bernama Shawn" Nia mengangguk-nganggukan kepalanya.
"nama yang cukup jauh untuk sepasang saudara kembar" ucap Nia yang masih memperhatikan pertunjukan mereka dari atas.
Shawn bangkit dari tempatnya dan menyimpan kembali tubuh Jacob pada tempat semula. kemudian dia berjalan ke arah gurunya tersebut, dan berdiri di sampingnya.
"baguus" ucap Victor dengan nada dingin.
Jacob yang melihat itu semakin menundukkan kepalanya karena tidak bisa berbuat apa-apa
"lebih baik aku di siksa oleh kalian. dari pada berurusan dengan gadis yang keluar dari tungku." batin Jacob.
FlashBack
Jacob sangat tahu tentang ilmu sihir, walaupun dia bukan seorang penyihir. dan dia mengetahui semua tentang sihir itu dari Shawn, saudara kembarnya.
Shawn selalu bercerita tentang ilmu sihir, walaupun itu di larang. namun mereka tidak mempermasalahkannya. toh ini juga untuk berjaga-jagi jika sewaktu-waktu Jacob bertemu dengan seorang penyihir lainnya, agar dia tidak membuat kesalahan.
setelah melihat Nia yang keluar dari tungku waktu itu, membuatnya yakin kalau Nia bukanlah penyihir biasa. lalu ketika beberapa saat setelah Nia pergi dari tempatnya berada, Jacob langsung mengirim burung merpati untuk mengantarkan surat kepada saudara kembarnya dan bertanya tentang ilmu sihir ber'elemen api.
Shawn membalas surat yang dia kirim lalu menceritakan dengan rinci perihal kekuatan sihir elemen api itu lewat secarik kertas.
Jacob menerima balasan dari Shawn dan mencerna semua penjelasan yang Shawn tuliskan lewat kertas tersebut.
Jacob menggabungkan apa yang di lihatnya dengan apa yang di jelaskan oleh Shawn. dan benar saja, gadis yang dia temui benar-benar menakutkan. karena dapat menguasai elemen api sampai level Black Fire. tentu saja dia tidak ingin membuat masalah dengan gadis sepertinya.
setelah Jacob mengerti apa yang jelaskan saudaranya tentang ilmu sihir ber'elemen api lewat kertas tersebut. Ferdy datang ketempatnya lalu memekriksa beberapa senjata yang telah jadi, dan di simpan berjejer di dinding yang belum di tempati senjata lainnya.
senjata yang Ferdy periksa adalah sebuah tombak yang sudah di pesan oleh seseorang yang memiliki jabatan tinggi di kotanya.
kemudian tombak itu di masukkan ke dalam sebuah peti yang khusus untuk menyimpan tombak tersebut.
setelah meletakkan tombak itu ke dalam peti, Ferdy baru teringat dia belum membalut tombak tersebut dengan kain merah, dia kemudian meminta kain tersebut pada Jacob.
"dimana kain merah itu. aku harus menggunakannya untuk membalut senjata ini. karena senjata ini adalah pesanan dari pejabat tinggi di wilayah ini" ucap Ferdy dengan bangga.
DEGG
"ah. kain itu. aku tidak sengaja menjatuhkannya ke dalam tungku dan kemudian terbakar" Jacob menjawab pertanyaan Ferdy dengan hati-hati.
dan ternyata benar. setelah mendengar itu Ferdy langsung keluar dari tempat itu, dan setelah beberapa saat dia memasuki tempat tersebut dengan kedua kakak kembarnya yaitu Franklin dan Frenzo, tanpa membawa Ferland. lalu Ferdy melaporkan hal itu pada mereka.
setelah mendengar apa yang di adukan Ferdy kepadanya, Franklin langsung mengambil cambuk rantai besi dan mengarahkannya pada Jacob. tentu saja Jacob tidak dapat menghindar karena serangan yang begitu tiba-tiba.
cambuk itu mengarah ke bagian lehernya, membuat Jacob tumbang seketika karena rasa sakit yang tak tertahankan membuat dirinya tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa.
melihat Jacob tumbang dengan sekali pecutan dari cambuknya, membuat Franklin menyeringai dengan puas. setelah itu mereka bertiga langsung menyeret tubuh Jacob ke halaman bangunan tersebut, lalu mengikatnya di tiang besar yang ada di sana.
mereka tidak mengikat tubuh Jacob dengan langsung di tempelkan pada tiang. melainkan hanya mengikat tangannya dengan kuat, lalu ujung talinya di ikatkan pada tiang tersebut. sekilas mereka seperti sedang mengikat kambing ternak ke sebuah tiang.
setelah itu mereka bertiga langsung mencambuk tubuh Jacob dengan bersamaan, sampai kulitnya mengelupas. bahkan di bagian tubuh lainnya sudah ada yang mengeluarkan darah segar.
Jacob tidak bisa melawan mereka walupun tubuhnya paling gahar di antara ketiga orang itu. karena dia juga kewalahan mendapat serangan brutal seperti ini.
di tengah kesakitannya. Jacob melihat burung merpati yang dia gunakan untuk mengirim surat pada saudara kembarnya.
dia mengisyaratkan pada burung tersebut untuk menyampaikan kejadian ini pada saudara kembarnya.
dan setelah mendapatkan isyarat. burung itu langsung terbang untuk menjalankan perintah dari tuannya.
lalu setelah beberapa jam Jacob di siksa tanpa henti oleh ketiga orang tersebut. akhirnya bantuan datang, saudara kembarnya telah sampai kemari. namun ternyata itu tidak banyak membantu, karena saudaranya lebih memilih tunduk pada gurunya.
**
"dimana kakak kalian?" Victor bertanya pada semua muridnya.
Frenzo berdehem "Ferland sedang menghitung hartanya mungkin" jawab Frenzo dengan gamblang tentang apa yang ada di pikirannya.
"aku disini" tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar oleh telinga mereka.
itu adalah Ferland. dia berjalan ke arah mereka dan langsung membungkuk memberi penghormatan pada gurunya.
"salam guru Victor" ucapnya.
"hmm" Victor hanya menjawab dengan deheman.
"aku kemari hanya ingin mengambil apa yang kalian pinjam. karena aku membutuhkannya sekarang" ucap Victor, menyampaikan apa maksud tujuannya datang kemari.
"ah. racun itu. kami telah menghabiskannya untuk seseorang" Ferdy menjawab dengan santai.
"apa kalian menggunakannya untuk kakak tertua kalian?" tanya Victor lagi.
"ya" Frenzo menjawab pertanyaan itu dengan menghela nafas berat.
"apa kalian memberikannya sebotol penuh?" tanya Victor dengan mendengus.
"ya. itu benar." Franklin menjawab dengan ragu.
"kenapa kalian menghabiskan semuanya. padahal satu tetes saja cukup untuk meracuni seseorang. aku masih membutuhkan itu dan kalian malah menghabiskannya. sungguh tidak berguna" Victor mendengus dengan kesal pada keempat muridnya, dan langsung pergi dari tempat tersebut dengan menggunakan fortex untuk sampai pada tujuannya dengan cepat.
Nia mendengar semua percakapan antara mereka. dan itu membuat wajahnya langsung memerah karena menahan amarah. seketika itu pula warna matanya berubah menjadi hitam legam yang mengeluarkan aura membunuhnya.
"ternyata penyebab ayahku tiada bukan karena kecelakaan. tapi karena kalian, empat orang SIALAAN" batin Nia
"ini semua gara-gara kau" seru Ferland dengan menunjuk wajah Ferdy.
"juka saja kau tidak memberi semua racun itu pada Fernand. guru tidak aman marah pada kita" serunya lagi.
"DIAM KAU!!" jawab Ferdy dengan menunjuk wajah Ferland untuk membalasnya.
"apa?.. ini semua salah kalian adik sialan" seru Ferland dengan amarah yang menggebu-gebu.
"ini juga salahmu, kakak tidak berguna" jawab Franklin dengan sinis.
"dasar kakak tidak berguna" Frenzo mengulang perkataan Franklin dan menatap Ferland dengan sama sinisnya.
di tengah perseteruan yang memanas, mereka mendengar suara yang terasa familiar di telinga mereka.
"kalian semua memang tidak berguna dan sama SIALAN nya"
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya. ❤❤