
Cashile. begitulah Sebastian menanggil nama dari Sang Iblis Kematian. bahkan mereka berdua seperti sudah kenal satu sama lain karena ekspresi kedua pria tampan itu menunjukkan sisi keabraban yang berbeda.
"kenapa kalau aku masih sama? kita sudah lama tidak bertemu dan sekarang kau memperlakukanku dengan kejam!!"
"lebih kejam mana dengan kau yang membantai seluruh penduduk kota besar dan tidak peduli mereka bersalah atu tidak, atau lebih tepatnya kau hampir memusnahkan seluruh penghuni Dunia ini" Sebastian menunjuk hidung Cashile dengan mengejek.
Cashile mendengus tidak ingin membahasnya lebih jauh "dia milikku. terserah kau mau mengakui dia milikmu juga atau tidak." Cashile menunjuk Darren "kalau kau ingin mengakuinya berarti kau harus siap berbagi denganku. aku tidak masalah jika berbagi sesuatu denganmu"
Sebastian mengumpat keras dengan memalingkan wajah, melihat itu Cashile tersenyum puas.
"Dasar...minggir" Cashile menerobos ke tengah-tengah antara Sebastian dan Darren "kau ikut denganku" Cashile meraih gagak bermata merah dengan tangan kosong lalu menghilang dari pandangan Darren, dan Sebastian semakin mengumpat melihat gagak kesayangannya di ambil begitu saja.
sedangkan gagak yang dibawa paksa oleh Cashile merasa akan kehilangan kesadaran ketika tubuhnya bersentuhan dengan tangan yang dingin itu.
**
"Sebastian apa kau mengenalnya?" Darren memecah keheningan karena setelah pertemuannya dengan Cashile, Sebastian menjadi pendiam tidak seperti biasanya.
Sebastian tidak langsung menjawab melainkan menggigit ikan bakarnya dengan perlahan seolah menikmati setiap kunyahan yang dia rasakan.
Di dalam dimensi sudah gelap karena malam, Darren melihat langit bertabur Bintang lalu mengalihkan pandangannya pada Sebastian yang kini memejamkan mata sambil mengunyah. terlihat Sebastian sedang memikirkan banyak hal.
"Dia adalah Rivalku" Sebastian akhirnya mengeluarkan suara namun Darren tidak ingin memotongnya jadi dia diam dan mendengarkan dengan khidmat.
"Dulu. kami berteman layaknya sahabat yang tidak bisa terpisahkan namun sesuatu menimpa kehidupannya sampai dia memiliki ambisi dan pola pikir yang bertolak belakang denganku" Sebastian menghela nafas "dari situlah kita menjadi rival dengan membuktikan siapa yang lebih baik"
"aku tidak menyangka petemuan pertama kita adalah melalui dirimu" Sebastian menatap Darren dengan lembut.
dari cerita Sebastian, Darren menyimpulkan bahwa Sebastian dan Cashile masih memiliki perasaan yang terikat karena persabatannya. namun keyakinan yang berbeda membuat mereka menjauhkan diri satu sama lain.
**
Lima bulan selanjutnya Darren terus mengurung diri di dalam menara Guru Han. ketika Darren berlatih menggunakan senjata dia melihat Cashile sedang bermain dengan gagak bermata merah yang dia rebut dari Sebastian.
Kini burung gagak itu tidak lagi takut ketika melihat Cashile bahkan burung gagak tersebut lebih terlihat akrab dengan Cashile dari pada pemilik sebelumnya. Darren berpikir gagak bermata merah itu lebih cocok bersama Cashile dari pada Sebastian melihat wujud kedua makhluk itu sangat serasi ketika di padukan.
Darren melemparkan pisau terakhirnya lalu menghampiri Cashile. setelah bertemu dengan Sebastian waktu itu kini Cashile lebih menghabiskan waktunya dengan gagak bermata merah.
Hal itu lebih baik untuk Darren dari pada Cashile yang selalu memperhatikan Darren sepanjang waktu.
Darren mengangkat tangannya lalu gagak bermata merah hinggap dengan perlahan. ketika gagak tersebut hinggap di tangan Darren burung gagak itu langsung mengeluarkan api membara berwarna merah darah yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
"apa kau tidak bosan terus berada di sini?" pertanyaan Darren berhasil membuat Cashile menaikkan alisnya
"kenapa?"
"kau bisa pergi melakukan apa yang ingin kau lakukan. kenapa kau terus berada disini bersamaku?" Darren bertanya dengan menyelidik.
"kenapa aku harus pergi? kau milikku begitupun sebaliknya, aku tidak akan pernah melepaskanmu. ingat itu" Cashile menunjuk hidung Darren.
Darren mendengus seraya memalingkan wajah. "berhentilah berkata aku milikmu. kita tidak memiliki hubungan apapun!!"
"hei. aku.. "
..DUAAARRR..
Sebuah ledakan di samping menara berhasil membuat perhatian Darren dan Cashile teralihkan.
Dua orang pria muda terlihat sedang melakukan perselisihan. Darren melihat kedua orang itu dari atap dan melepaskan Mata Elangnya untuk melihat siapa yang terlibat.
Darren membulatkan matanya ketika mengetahui salah satu pemuda tersebut adalah orang yang dia kenal. "aku baru melihatnya lagi setelah sekian lama"
**
"Satu serangan lagi menara itu akan roboh. apa kau ingin bertanggung jawab Miguel?" seorang pria muda menatap pemuda lainnya seraya menunjuk menara Guru Han.
"ayolah Shawn. bilang saja kau tidak bisa melawanku" pria muda yang menjadi lawan Shawn mengeluarkan bola angin dari tangannya bersiap untuk menyerang tanpa peduli pada menara yang hampir roboh akibat serangannya.
Miguel melepaskan serangan pada Shawn namun Shawn berhasil menghindarinya. sebuah energi angin yang di lepaskan Miguel melesat sengat cepat ke arah menara Guru Han.
"SIALAN!!" Darren mengumpat mengetahui apa yang akan terjadi. Darren bisa saja menangkis serangan yang di lepaskan oleh pria bernama Miguel itu agar serangannya tidak mengenai menara namun waktunya sangat terlambat.
Akhirnya Darren hanya bergegas masuk kedalam menara lalu memasukkan semua barang yang ada di dalam menara kedalam dimensinya. dengan waktu singkat Darren berhasil memasukkan semua barang-barang yang ada di dalam menara tanpa sisa.
Dan benar saja sesaat setelah Darren mengosongkan menara, tempat pijakan Darren berguncang hebat di susul retakan lebar di setiap dinding dan lantai setelah guncangan terhenti, menara tersebut tidak bisa menahan bebannya lagi dan akhirnya roboh dalam waktu yang singkat.
Ketika menara akan runtuh, Darren melapisi tubuhnya dengan sihir untuk melindungi diri dari puing-puing menara yang berjatuhan ke arahnya.
**
Shawn dan Miguel menyaksikan dengan jelas runtuhnya menara Guru Han. "Ingat. kau yang bertanggung jawab atas runtuhnya menara itu" Shawn mengingatkan
"jika saja kau tidak menghindar, itu tidak akan terjadi!!" Miguel berkata geram.
"kalau aku tidak mengindar kau akan sangat puas karena berhasil membunuhku" kata-kata Shawn menjadi dingin ketika Miguel mengatakan hal itu.
Miguel menyerinyai "itu memang sudah seharusnya" setelah berkata demikian Miguel langsung membuat Fortex lalu mengilang dari hadapan Shawn setelah melewatinya.
Shawn tidak langsung pergi seperti Miguel tetapi dia berjalan menghampiri reruntuhan menara. beberapa saat Shawn menghela nafas setelah memeriksa reruntuhan tidak ada barang berharga yang dia temukan.
Shawn berniat pergi dari tempatnya karena beberapa guru, penatua dan murid Akademi mulai mengerumuni lokasi reruntuhan namun niatnya terhenti ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam reruntuhan.
**
Darren keluar dari reruntuhan dan mendapati tatapan terkejut dari semua orang yang tertuju padanya. dalam situasi seperti ini Shawn yang paling terkejut dan menelan ludahnya dengan susah payah melihat seorang gadis yang keluar dari reruntuhan, bahkan punggungnya mulai mengucurkan keringat dingin.
Mata Darren menatap semua orang yang ada di sekitar dengan tajam mencari sosok Miguel yang menjadi tersangka atas runtuhnya menara. Darren ingin memberi pelajaran padanya namun sebelum Darren melakukan niatnya seorang pria paruh baya menghampiri Darren dan memeriksa kondisinya dengan khawatir.
"apa kau baik-baik saja? aku sangat khawatir ketika mendengar runtuhnya menara ini" Jasson memeriksa keadaan Darren dengan cemas, setelah memeriksanya Jasson berpikir tidak ada yang perlu di khawatirkan
"Aku tidak apa-apa Guru" Darren tersenyum lembut pada Jasson.
Ada satu hal yang mengganggu pikiran Jasson adalah dia melihat mata Darren berwarna hitam legam ketika mencari seseorang di kerumunan namun setelah Darren bilang dirinya baik-baik saja, mata hitam itu berubah menjadi abu-abu terang seperti semula.
"Aku tidak salah lihat. warna matanya memang berubah-ubah mengikuti suasana hatinya" Jasson bergumam.
Lokasi reruntuhan menara sudah di kerumuni banyak orang, entah karena hanya ingin melihat lebih dekat atau ingin menemukan sesuatu yang berharga untuk bisa di ambil namun mereka tidak menemukan apapun selain puing-puing.
sebelum banyak orang yang mulai memeriksa lokasi, Darren sudah menarik lima pisau Bunga Hitam dari reruntuhan ke tangannya dan segera di bawa Jasson untuk menjuhi lokasi.
Memang setelah Darren memasuki menara Guru Han, tempat itu sudah tidak seangker sebelumnya karena aura kematian yang biasanya menyeruak hilang tanpa jejak namun hal tersebut tidak menghilangkan ketakutan pada seluruh penghuni akademi sehingga mereka masih enggan untuk mendekati menara tersebut.
Sekarang keadaan sudah berbalik. menara yang terkenal paling angker di wilayah akademi itu sudah rata dengan tanah. tidak sedikit murid atau petinggi akademi yang mendatangi lokasi menara tersebut.
**
"Kepala akademi sedang tidak berada disini. bagaimana kita menjelaskannya ketika beliau kembali nanti" seorang penatua akademi sedang menyampaikan pendapatnya kepada petinggi yang lain.
Semua Penatua dan para Guru sedang berkumpul di ruang pertemuan untuk membahas tragedi runtuhnya menara Guru Han. Darren sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Jasson, Jasson sempat tidak mempercayainya namun Jasson juga akan menyelidikinya lebih jauh.
"kita serahkan saja pelakunya" jawab seorang wanita yang berpangkat sebagai guru di Akademi.
"Benar. dari kesaksian Darren yang berada di lokasi dan melihat kejadian tersebut aku yakin pelakunya adalah Miguel"
"Ya. dengan kekuatannya tidak mustahil untuk Miguel menghancurkan menara Guru Han, secara dia adalah murid paling jenius di akademi"
"bagaimana dengan Shawn? aku dengar Miguel melakukan perselisihan dengannya sehingga serangan yang Miguel lepaskan meleset lalu menghantam menara"
"apakah Guru Victor sudah mengetahui apa yang di lakukan muridnya? dimana dia sekarang?"
"ya. dimana dia sekarang? apakah dia tidak mau mengurus masalah kedua muridnya?"
"mungkin dia sedang menemui murid kesayangannya itu"
Berbagai spekulasi mulai terkuak dan beberapa pernyataan mulai di pertanyakan.
"dan kenapa Darren berada di atap menara Guru Han? apa yang dia lakukan disana?"
pertanyaan terakhir membuat Semua orang yang membahas masalah mulai menatap Jasson sebagai Guru dari Darren.
Tatapan semua orang yang tertuju pada Jasson membuat kepalanya pusing di waktu bersamaan, Jasson tidak bisa merangkai kata untuk menjelaskan semuanya secara terperinci. di sisi lain Jasson juga pernah berjanji pada Darren untuk menyembunyikan identitasnya sementara waktu.
Namun ketika Jasson ingin mengeluarkan alsannya, seorang kakek tua membuka pintu ruangan pertemuan.
"aih. ternyata aku terlambat"
KRITIK dan SARAN.
Author Sangat Menghargainya ❤❤