The Highest

The Highest
Kebenaran



Nia masih melihat cucuran air dari wajah tampan Sebastian.


"keringkan dulu wajahmu" ucap Nia sembari duduk di atas rerumputan yang tebal, di tempat dia berdiri tadi.


"hm" sebastian menjawab dengan deheman.. setelah dia selesai, dia kemudian duduk di sebelah Nia, yang terlihat sedang memikirkan banyak hal.


"apa kau tahu banyak tentangku?" tanya Nia.


"seluruh hidupmu!" jawab sebastian dengan singkat, padat, dan jelas.


Nia tidak langsung berkomentar atas jawaban Sebastian. dia hanya memikirkan hal rumit dalam pikirannya. dia tahu bahwa dia tidak akan mendengar semua jawaban dari rentetan pertanyaanya pada Sebastian. hanya waktu yang akan menjawab. dengan cepat atau lambat, dia akan mengetahui satu per satu teka-teki dalam hidupnya.


Nia kembali fokus dengan apa yang lebih penting untuk di tanyakan pada Sebastian.


"apa kau akan selalu ada di sisiku?" tanya Nia dengan menatap ke kejauhan.


"memangnya kenapa?" Sebastian menolehkan wajahnya untuk menatap Nia.


"entahlah. tidak ada seorangpun yang bisa ku percaya selain dirimu. karena kau berada di sini, di dalam dimensiku. itu berarti kamu adalah kepercayaan ayah dan guru. walaupun kau seorang pria yang mesum tingkat akut yang pernah ku temui" ucap Nia. dan memberikan bumbu cibiran di akhir kalimatnya.


"heh. aku hanya mesum padamu saja. ingat itu!!" jawab Sebastian


"kenapa?" tanya Nia dengan penasaran.


"karena kau adalah seorang gadis yang di takdirkan untukku. hanya untukku!!" Sebastian menatap mata Nia dengan serius.


DEGGG.


"maksudnya" entah kenapa hatinya bergemuruh saat ini.


"entahlah. mungkin tuhan menyukai jika kita bersama" jawab Sebastian


"jadi itu sebabnya kita terikat sejak aku lahir" gumamnya.


"ya. setelah kau lahir, aku langsung mengikatmu dalam ikatan darah" ucap Sebastian seraya bangkit dari duduknya untuk berdiri. lalu dia menatap rem bulan yang begitu Indah dan enak untuk di pandang.


"tapi, sejak umur berapa kau mengikatku?" Nia bertanya dengan penuh keheranan. kalau dulu waktu dia lahir sebastian sudah dewasa. seharusnya sekarang Sebastian sudah tua.


"tunggu. apa kau immortal?" tanya Nia dengan penuh selidik.


Sebastian yang mendengar itu langsung duduk kembali, namun sekarang posisinya berada di hadapan Nia. dia menatap mata Nia yang berwarna abu cerah itu dengan lekat-lekat. seperti mengirimkan ingatan dia padanya.


**


Flash Back


di tengah badai yang begitu lebat dan petir menyambar-nyambar dengan keras di langit malam. membuat suasana di dalam ruangan yang gelap semakin mencekam. di dalam ruangan itu ada seorang wanita yang berusaha untuk melahirkan anaknya, dengan penuh kesakitan dan kedinginan, akibat udara yang masuk dari luar kedalam, melalui jendela yang menerbangkan gorden-gorden yang menghalangi udara dingin itu masuk.


dan seorang pria yang berada di dalam ruangan yang sama pun tidak sempat menutup jendela itu, karena dirinya juga sedang kerepotan membantu seorang nenek tua yang membantu istrinya untuk melahirkan.


pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Fernand. dan seorang wanita yang sedang melahirkan itu adalah Liona istrinya. sedangkan nenek tua yang membantu istrinya melahirkan adalah seorang pembantu di rumahnya. Fernand tidak sempat membawa sang istri kerumah sakit karena keadaan di luarpun tidak mendukung, sedangkan istrinya juga sudah tidak tahan untuk melahirkan anak yang di kandungnya.


lalu Fernand terpaksa membuat Liona melahirkan di rumah. dengan bantuan asisten rumah tangga, yang katanya pernah memiliki pengalaman membantu seorang wanita yang melahirkan. Fernand langsung membawa nenek tua itu untuk membantu istrinya melahirkan, karena tidak ada pilihan lain untuk nya.


dia berusaha menyalakan lilin untuk menerangi ruangan, agar mempermudah nenek tua itu melakukan pekerjaannya. dia menjaga lilin itu dengan susah payah, karena angin yang berhembus dari luar terlalu kuat dan dingin. setelah beberapa lama mereka membantu istrinya melahirkan, akhirnya Liona dapat melahirkan bayinya dengan selamat.


suara tangisan bayi yang baru lahir menggema di ruang gelap dan dingin tersebut. tentu saja Fernand sangat bahagia melihat istri dan anaknya selamat. setelah nenek tua itu mengurus dan membersihkan bayinya. Fernand langsung menggendong bayi tersebut, untuk di perlihatkan kepada sang istri.


"dia begitu cantik sepertimu" ucap Fernand dengan tersenyum bahagia.


"dia juga berkharisma sepertimu" Liona tersenyum dengan wajah pucatnya.


lalu Fernand memberikan bayi itu kepada istrinya, untuk dia dekap, lalu memberikan kehatan yang begitu nyaman pada anaknya.


tentu saja Fernand sangat terkejut melihat sosok seorang pria bersayap yang gagah. dia juga baru pertama kali melihat makhluk seperti itu.


"apakah dia malaikat" batin ketiga orang yang berada di dalam ruangan.


walaupun dalam ruang gelap, namun mereka dapat melihat dengan jelas tubuh dari sosok misterius itu. karena kilatan-kilatan petir dari luar dapat memperjelas kegelapan di dalam ruangan tersebut.


pria misterius itu membelai wajah bayi yang berada di dekapan ibunya. dan ketiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut hanya bisa memandangnya seraya menutup mulut mereka. karena melihat sosok seperti ini serasa begitu mustahil untuk mereka lihat.


kemudian, pria tersebut menyayat urat nadi di pergelangan tangannya, lalu meneteskan beberapa tetes darah ke atas kening bayi tersebut. seketika darahnya di serap oleh kulit bayi yang halus itu. terlihat aliran darah sang pria misterius mengalir kepelipis bayi tersebut, lalu membentuk simbol yang Indah. dan kemudian darah yang sudah menjadi simbol itu menjalar ke seluruh bagian tubuh bayi yang baru lahir tadi.


dari situlah tubuh bayi tersebut memiliki simbol-simbol berwarna hitam pekat yang Indah.


(yang Nia kira itu adalah tatto yang di buat khusus oleh Fernand. namun sebenarnya itu adalah tanda keterikatan Sebastian dengannya.


pantas saja Nia tidak pernah mengingat bahwa dirinya pernah menjalani pembuatan tato yang menyakitkan itu.)


setelah membuat ikatan darah dengan bayi yang di pilihnya. sang pria misterius mengibaskan tangan ke arah nenek tua yang telah membantu Liona, istri dari Fernand melahirkan. dan seketika kepala wanita tua itu langsung terpisah dari tubuhnya. tentu saja itu membuat sepasang suami istri itu terkejut bukan main.


"aku sudah mengikat anakmu dengan ikatan darah bersamaku. jaga dia dengan baik. kalau dia mati, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" Ucap pria itu yang di tujukan kepada Fernand.


"aku membunuh wanita tua itu karena telah mencoba mencelakainya." tambah pria tersebut


"dan aku menitipkannya hanya kepadamu. karena istrimu tidak bisa bertahan lebih lama lagi" tambahnya lagi


"APA!!" Fernand lebih terkejut mendengar kata-kata terakhir yang di lontarkan sang pria misterius


"sayang. maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya.. aku ingat kalau aku telah di racuni oleh salah satu adikmu. aku tidak ingat namanya, tapi aku sangat tahu wajah itu. dia memaksaku meminum cairan yang membahayakan tubuh, yaitu racun. dan aku tidak bisa mengeluar racun itu semuanya. maaf aku telah menyembunyikan ini kepada mu" ucap Liona dengan lirih.


"tidak. kau tidak bersalah. aku yang salah karena tidak becus menjagamu."


Fernand menjawab dengan rasa sakit yang bergejolak di dalam hatinya. lalu Fernand meraih tangan Liona dan mencium tangan itu beberapa kali. setelah itu dia menolehkan wajah ke arah istrinya untuk dia tatap. Fernand terkejut melihat wajah istrinya menjadi sangat pucat, dan suhu tubuhnya menjadi dingin. ternyata Liona sudah tiada.


"LIONA?!!" tangisan histeris Fernand menggema di seluruh ruang tersebut. bagai mana tidak, baru beberapa saat yang lalu dia di kelilingi oleh rasa kebahagiaan. lalu seketika, kebahagiaan itu lenyap dengan cara menyedihkan.


setelah beberapa saat Fernand segera menenangkan pikirannya, karena ada sosok kecil nan mungil membutuhkan bantuan darinya. lalu Fernand meraih bayinya dalam dekapan sang istri. dia mendekap anaknya dengan erat dan penuh kasih sayang. semua perasaan sedih yang dia rasakan, dia hilangkan begitu saja. karena akan sia-sia juga jika menangisi orang yang telah pergi dan tidak akan kembali.


Fernand menoleh ke arah sang pria misterius, yang sedang duduk di jendela, tempat dimana pertama kali dia muncul.


"siapa kamu?..setelah mengikat anakku, apa suatu hari kau akan mengambilnya?" tanya Fernand


"ya. aku kan mengambilnya ketika waktunya sudah tiba." jawab pria tersebut tanpa menoleh pada Fernand, dan hanya menatap ke kejauhan.


"apa dia akan aman bersamamu?" Fernand mencium kening bayinya dengan lembut.


"ya. dia akan aman bersamaku. lalu dia akan menjadi wanita yang kuat, dan seorang yang mampu membalaskan semua dendammu" jawabnya.


"hmm." Fernand hanya berdehem mendengar ucapan pria tersebut seraya membelai pipi halus bayinya.


"siapa namamu?" Fernand menoleh ke arah pria itu. dan seketika sang pria misterius itu juga menoleh, membuat tatapan mereka bertemu.


Fernand melihat mata pria tersebut yang berkilat dan berwarna kuning keemasan yang menawan. sangat terlihat, walaupun jarak di antara mereka cukup jauh.


"panggil saja Sebastian" lalu dia berdiri dari duduk dan melebarkan sayap indahnya. kemudian dia melesat dengan cepat keluar jendela.


**


KRITIK dan SARAN.


Author sangat menghargainya. ❤❤