The Highest

The Highest
Dua Sisi



Darren melemparkan lima buah Pisau Bunga Hitam sekaligus dan semuanya tepat sasaran.


Sudah dua bulan Darren melakukan latihan di tempat Guru Han. Darren mengembangkan kekuatan sihirnya karena Kekuatan sihir yang di capai Darren masih di tingkat menengah dalam Level Black Fire namun tidak jauh di bawah tingkat selanjutnya dan Darren ingin segera melakukan terobosan.


Darren juga melatih fisik serta memperluas wawasan dengan membaca buku. Bahkan dengan membaca semua buku yang ada di menara Guru Han Darren menjadi tahu tentang asal usul Sang Iblis Kematian. karena memang semua buku yang ada di menara adalah sekumpulan buku yang membahas berbagai Informasi mengenai Dunia sihir.


Dalam buku yang Darren baca Sang Iblis Kematian adalah sebuah legenda yang mengguncang Dunia Sihir berpuluh-puluh tahun yang lalu karena sudah membantai satu kota besar dengan memenggal seluruh penduduknya tidak peduli mereka bersalah atau tidak.


sampai akhirnya sebuah kekuatan menyegel Sang Iblis dan seluruh kuatannya dalam peti mati lalu di asingkan ke sebuah pulau yang sangat berbahaya bahkan seorang penyihir di level puncakpun akan terluka parah jika memasukinya.


meskipun sudah lama kasusnya menghilang namun semua penyihir pasti pernah mendengar tentangnya.


berbeda dengan Darren walaupun dia adalah seorang penyihir tapi Darren berasal dari Dunia Luar dan tidak mengetahui lebih luas tentang Dunia Sihir karena sejak awal Darren hanya memfokuskan tentang melatih kekuatan sihirnya dan jarak lingkupnya hanya di dalam menara Guru Han saja sampai akhirnya Darren bertemu dengan Yura yang bisa di katakan mengubah hidupnya.


Darren berpikir keras memikirkan bagaimana peti mati yang berisikan Iblis Kematian berada di tempat ini dan kenapa waktu itu Guru Han seolah membunyikan keberadaanya, pemikiran tersebut membuat kepalanya pusing.


sekarang Darren menyesal karena telah membebaskan Sang Iblis, kalau semua orang menyegel sang Iblis untuk menyelamatkan umat manusia maka tindakan Darren sama saja membunuh semua populasi manusia yang menghuni Dunia Sihir. Walaupun Darren sudah terbiasa membunuh namun Darren tidak akan membunuh orang yang tidak bersalah.


Sudah beribu-ribu kali Darren berusaha memasuki dimensinya namun gagal. Darren menatap sang Iblis yang selama ini memperhatikan dirinya tanpa lelah walaupun rasanya sangat aneh ketika dirinya di perhatikan sepanjang waktu.


tiba-tiba Darren teringat dengan sabit yang memasuki tubuhnya, banyak pertanyaan di benak Darren namun dia tidak mengutarakannya.


Darren memutar otaknya untuk bisa mengeluarkan sabit sang Iblis dari tubuhnya.


"apakah bisa?"


Darren mengangkat tangannya seketika muncul sebuah sabit besar di genggaman tangannya. sabit tersebut memang sabit yang memasuki tubuh Darren


Darren mengayunkan sabit kekiri kanan lalu menghilangkan dan memunculkan kembali sabit tersebut.


"sesuai dugaan, aku sudah bisa mengendalikan benda dengan pikiranku" Darren tersenyum puas dengan hal itu.


"Ckk, bukankah kau memang sudah bisa melakukannya!!"


Suara tersebut berhasil membuat Darren waspada, Darren menoleh kesana kemari untuk menemukan sumber suara.


"kau melihat kemana? aku yang bicara kepadamu!!"


Darren menatap sang Iblis dengan merautkan alis, Darren tidak percaya kalau sang Iblis yang berbicara karena sang Iblis tidak terlihat membuka mulutnya sedikitpun.


"bukankah kau yang bepikir aku tidak bisa berbicara karena tidak memiliki secuilpun daging apalagi bibir dan lidah!!"


mendengar itu Darren kenelan ludahnya dengan susah payah, ini pertama kalinya Darren mendengar suara sang Iblis di kepalanya.


bisa dibilang sang iblis memakai kontak batin yang dikirimkan ke otak Darren dimana hanya Darren saja yang bisa mendengarnya.


"kau bisa berbicara?"


Darren menatap sang Iblis dengan tatapan berbeda.


"kenapa? tidak boleh?"


dengusan sang Iblis berhasil membuat Darren menahan nafas walaupun masih tidak terlihat ada pergerakan sedikitpun dari tubuh sang Iblis namun suaranya sangat jelas terdengar di kepala Darren.


"kenapa kau baru berbicara?" Darren memberanikan bertanya karena memang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"ckk. karena kau baru mengeluarkannya" sang Iblis menunjuk sabit yang di pegang Darren.


Darren menggeleng pelan jadi selama ini sang Iblis tidak berbicara karena menunggu Darren mengeluarkan senjata miliknya. Darren melempar sabit tersebut ke arah sang Iblis.


"Jadi selama ini kau memperhatikanku hanya karena ini?"


"hei kau tidak merasakan kekuatannya?" Sang Iblis melemparkan kembali sabit miliknya untuk di tangkap oleh Darren. Darren merautkan alis karena tidak mengerti arah pemikiran dari sang Iblis.


Sang Iblis Kematian mengelus sabit yang ada di genggaman Darren. "Dia bahkan bisa menyegel dimensimu"


Darren menaikan alis kanannya. ternyata selama ini Darren tidak bisa memasuki dimensi karena sabit tersebut bersemayam di dalam tubuhnya.


Darren menghela nafasnya "Sekarang kau bisa mengambilnya!" Darren mengembalikan lagi sabit yang dia genggam pada sang Iblis dan langsung menghilang dari pandangan Iblis tersebut.


**


Darren segera memasuki dimensi setelah mengeluarkan sabit sang Iblis karena Darren tidak bisa memasuki dimensi jika sabit tersebut berada di dalam tubuhnya.


Ketika di dalam dimensi Darren melihat seekor burung gagak yang terbang mengelilingi danau, sangat terlihat oleh Darren kalau gagak itu sedang mencemaskan sesuatu. "apa ada yang salah?"


Darren terbang melesat ke arah gagak yang tingkah lakunya menjadi aneh ketika melihat Darren. Darren semakin kebingungan dengan apa yang terjadi namun ketika Darren ingin melihat akar permasalahannya ada sesuatu yang bergerak cepat menuju permukaan air danau.


Dengan cepat sesuatu yang keluar dari air menampakkan wujudnya itu adalah Sebastian. Sebastian tersentak melihat Darren sedang melayang di udara namun tentu hal itu bukan alasannya dirinya terkejut melainkan Darren sendiri masih hidup walaupun Sebastian tidak merasakan ada aura kehidupan dalam tubuh Darren.


Sebastian menghampiri Darren yang sedang melayang di udara dengan tubuh basahnya. sekarang dua orang yang baru bertemu itu sedang melayang di udara, yang satu menggunakan sayap putih besar nan Indah dan yang satu lagi hanya bermodal pikirannya saja.


Sudah dua bulan Sebastian mengurung dirinya di dalam air. Sebastian melakukan itu hanya untuk berusaha melupakan Darren yang menurutnya sudah tiada namun sangat sulit untuk di lakukan sampai ketika Sebastian menoleh ke atas untuk melihat gagak kesayangannya Sebastian melihat ada sesuatu yang terbang melesat mendekati gagak bermata merah itu.


"apakah ini nyata"


Darren merautkan alis mendengar kata-kata yang Sebastian ucapkan. Darren semakin kebingungan dengan gagak yang bertingkah aneh dan sekarang Sebastian yang berperilaku lebih aneh.


Namun ketika Darren ingin meraih tangan Sebastian yang menempel di wajahnya, Sebastian langsung menghempaskan tangannya dengan kasar. "beraninya kau menyamar!! aku tidak akan tertipu oleh mu!!"


ini baru pertama kalinya Darren melihat Sebastian menunjukkan ekspresi seperti itu yang terlihat jijik ketika melihatnya.


"apa maksudmu?" Darren semakin kebingungan dengan apa yang terjadi.


"aku tahu dia sudah mati. apa yang kau mau dengan menyamar manjadi seseorang yang kumiliki?" Sebastian menunjuk wajah Darren dengan geram yang berhasil membuat Darren agak terpancing emosi.


"apa maksudmu aku sudah mati? kalau sudah mati apakah yang ada di hadapanmu ini terlihat seperti ilusi?" Darren berkata dingin.


Sebastian mendengus. "Kau mungkin bisa meniru tanda ini!!" Sebastian menunjuk tatto yang ad di pelipis Darren. "tapi apakah kau bisa meniru semua tanda yang ada di punggungnya? kurasa tidak, karena hanya aku yang bisa membuatnya."


"bagaimana kalau aku memang memilikinya?" Darren membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Sebastian lalu membuka bajunya dengan perlahan.


Darren memperlihatkan tatto yang ada di punggungnya pada Sebastian yang sedang menahan keterkejutan.


Setelah membuat sebastian bungkam atas segala tuduhan yang dia lontarkan Darren memakai kembali bajunya lalu menatap sebastian dengan menyelidik. "apa yang kau pikirkan? kenapa kau menuduhku sebagai orang lain yang menyamar?"


"aku.. "


"Kalau aku adalah orang yang menyamar tidak mungkin aku bisa memasuki dimensi milikku"


"aku tidak merasakan aura kehidupan yang selalu terhubung denganku dalam tubuhmu. dan dia juga memberitahukan kalau kau memang sudah tiada" Sebastian menunjuk gagak bermata merah.


"nyatanya aku berada di hadapanmu" Darren sudah memperkirakan hal ini sebelumnya bahwa aura kehidupannya lenyap setelah sang Iblis menancapkan sabit besarnya ke tubuh Darren.


"aku memaklumi hal itu, dan aku juga percaya denganmu tapi aku tidak akan pernah mempercayainya" Sebastian menunjuk sesuatu di belakang Darren.


Darren mengikuti arah yang di tunjukkan Sebastian yang ternyata dia menunjuk sang Iblis yang terlihat sangat tidak peduli. mata Darren melebar ketika melihat sang Iblis "kenapa kau bisa masuk kesini?"


tanpa aba-aba sang Iblis langsung masuk kedalam tubuh Darren dan rasanya sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya dimana Darren merasakan semua tulang belulang Iblis menyatu dengan tulang yang ada di dalam tubuhnya.


Darren merasakan sakit yang hebat namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja. tentu hal itu membuat Sebastian dan gagak bermata merah terkejut


"sangat wajar kalau aku bisa memasuki dimensimu bahkan aku sudah mengetahui seluruh hidupmu, sama seperti pria tampan itu" sebuah suara terngiang di kepala Darren dengan jelas.


Darren merasakan sebuah energi berbeda yang mengalir di seluruh tubuhnya.


"keluar!!" Sebastian memelototkan matanya ke arah Darren menyuruh sang Iblis keluar dari tubuh gadisnya.


sang Iblis berdecak lalu mengeluarkan sabit dan mengayunkannya kesana kemari "Bagus. tubuh ini benar-benar Bagus, kau pikir dia hanya milikmu"


hal tersebut seperti murni di lakukan oleh tubuh Darren padahal nyatanya dia sedang di kendalikan oleh sang Iblis.


Darren tidak berpikir sang Iblis bisa mengendalikan tubuhnya namun jika itu tidak merugikannya sekecil apapun Darren akan senang hati membiarkannya.


Sebastian berdecak kesal seraya memutar otaknya untuk mengeluarkan sang Iblis dari tubuh gadisnya. Sebastian menyipitkan matanya ke arah Darren lalu mendekatinya. Sebastian meraih kembali wajah Darren dengan sedikit tarikan Sebastian langsung mencium bibir Darren dengan rakus.


Darren ingin meronta namun hal yang menyakitkan seolah bergejolak di seluruh tulangnya, sesaat Sebastian mencium Darren sang Iblis langsung keluar dari tubuh Darren dengan kasar.


Sebastian menghentikan ciumannya setelah sang Iblis keluar dari tubuh Darren "kau hanya milikku Renia" Darren tersentak mendengar sebuah nama yang keluar dari mulut Sebastian, Renia adalah bagian dari namanya.


baru pertama kalinya Darren mendengar Sebastian menyebut namanya dengan lembut serta menghanyutkan


Sebastian menyeringai seolah mengejek Iblis yang berada di samping mereka. "kau pikir aku mau melakukannya denganmu walaupun kau pria tertampan yang pernah ku temui!!" sang Iblis menunjuk Sebastian seraya berdecak kesal.


"kalau kau berada dalam tubuhnya. itu berarti kau sangat menginginkannya" Sebastian berkata dengan sinis


"ckk.. menjijikan. aku masih memiliki kewarasan" sang Iblis mengelus tulang dagunya "tapi aku juga tidak kalah tampan darimu"


sesaat setelah berkata demikian tulang belulang sang Iblis mulai meregenerasi, seluruh syaraf yang dimiliki manusia pada umumnya mulai tumbuh serta organ tubuh lalu daging kemudian kulit mulai menyelimuti kerangka manusia tersebut. bahkan jubah yang di pakai Sang Iblis mulai menjalar ke seluruh tubuh sang Iblis seperti membuat pakaian dengan instan


Seketika Sang Iblis Kematian menunjukkan penampilan yang berbeda. Rambut hitam keperakannya begitu Indah dengan mata berwarna merah menyala dan di padukan dengan bentuk wajah yang kuat sehingga sangat menonjolkan sisi ketampanannya. sama seperti Sebastian sang Iblis juga memiliki telinga yang runcing.


"kau masih belum berubah Cashile"


Sebastian mengangkat sebelah sudut bibirnya.



Cashile Imario Jovovich ★


jika di lihat kedua orang yang berada di hadapan Darren seperti dua sisi yang sangat berbeda. yang satu sisi terang yang menghangatkan dan yang satu lagi sisi kegelapan yang menyeramkan. Darren menghela nafas bahkan gagak bermata merah semakin tidak berkedip melihat apa yang barusan dia lihat.


KRITIK dan SARAN.


Author sangat menghargainya 😘😘