The Highest

The Highest
Penyerangan



setelah Nia sampai di kamarnya dia langsung membawa kunci di dalam berangkas dan keluar menuju garasi, sembari menghubungi pengacara ayahnya lewat handhone.


"Hallo... kapan pemilik sah yang baru dari mobil-mobil ini datang?" tanya Nia sembari membuka pintu garasi yang besar dan berat.


"mereka akan datang sore ini, kau tidak perlu menyiapkan perlengkapan atau surat-surat, karena saya sudah menyiapkannya. siapkankan saja kunci mobilnya, dan tunggu kedatangan kami" jawab seseorang dari sebrang.


"baiklah" Nia memutuskan sambungan telephone, lalu menekan stop kontak untuk menyalakan lampu.


satu per satu lampu itu menyala dan memperlihatkan deretan mobil-mobil mewah dengan harga selangit.


**


setelah hari menjelang malam dan mobil koleksinya satu-persatu di ambil oleh pemilik sah yang baru, meninggalkan Nia dengan seorang pria yang lebih tua yang memiliki umur agak jauh dari Nia. yaa sekitar 27 tahunan lah.


pengacara muda itu bernama Robert, pria berparas tampan dan memiliki postur tubuh yang tegap. dia adalah pangacara kepercayaan Fernand selama lima tahun terakhir.


"terima kasih telah mengurus semuanya" Nia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


tangan Nia di sambut baik oleh Robert, lalu Robert pun mengembangkan senyuman manisnya.


"tidak masalah. ini tugas terakhirku dari Tuan Fernand, untuk mengurus semuanya sampai selesai minggu ini"


jawabnya sambil melihat mobil-mobil yang sudah berpindah kepemilikan itu melaju menjauh.


"lalu apa rencanamu setelah ini?" Nia bertanya seraya berbalik kembali untuk menutup pintu garasinya


"pekerjaan dan urusanku di sini sudah selesai, bahkan aku sudah berbicara pada keempat pamanmu bahwa mereka tidak mendapatkan warisan sepeserpun dari tuan" jelas Robert.


"kau sudah memberitahukan pada mereka tentangku bukan?"


"sudah. sesuai permintaanmu bahwa aku harus memberitahukan tentang dirimu dan semua harta tuan di wariskan kepadamu" jawab Robert


Nia bernafas lega lalu tersenyum simpul mendengar jawaban Robert.


di suatu ruangan. terdapat lima orang sedang duduk dan berunding di meja yang berbentuk persegi panjang. mereka adalah Ferland, Franklin, Frenzo dan Ferdy. dan seorang pengacara muda yaitu Robert.


"APA??. kenapa kita tidak mendapatkan warisan dari kakak? bahkan sepeserpun tidak ada" Ferland menggebrak meja dengan keras mendengar penjelasan dari Robert.


"semua itu adalah perintah dari tuan Fernand sendiri. dan aku hanya membantu mengurusnya saja" Robert menjawabnya dengan santai


Ferdy yang mendengar jawaban dari Robert menjadi sangat geram di buatnya, lalu dia berdiri dari kursi dan langsung menarik kerah kemeja milik Robert. "tutup mulutmu. sekarang katakan dimana Fernand menyembunyikan semua hartanya ? tidak mungkin dia menghilangkannya begitu saja bukan" tanyanya bersulut-sulut.


Robert hanya menyeringai "tuan Fernand mewariskan semua hartanya pada seseorang" jawab Robert santai, walaupun dia sedang di provokasi oleh Ferdy


tentu saja itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut mendengar jawaban Robert. "mewariskan semua hartanya pada seseorang? siapa dia? apakah posisinya lebih penting daripada kita keempat adiknya?" tanya Franklin dengan tatapan sinisnya.


"ya. dia lebih penting karena dia adalah anaknya" jawab Robert.


semua orang yang berada di ruangan itu kembali dibuat terkejut mendengarnya. Robert yang melihat hal itu menjadi tersenyum puas di dalam hatinya..


"mudah sekali mengalahkan orang-orang bodoh seperti kalian".


lalu Robert melepaskan cengkraman Ferdy dengan tangannya.


"lepaskan. kalian ingin tahu siapa anaknya bukan?" lalu Robert mengeluarkan berkas-berkas di dalam tas yang dia bawa.


"iini... " jawab Frenzo terkejut,


"diaa, adalah gadis yang hadir di pemakaman" ucap Franklin menjawab keterkejutan Frenzo


"berarti dugaanku benar. kakak menyembunyikan anaknya dari kita" tambah Franklin.


Ferdy mendengar percakapan antara kedua kakak kembarnya.


"tidak mungkin.. aku sudah membunuh anaknya sebelum dia lahir" wajah Ferdy menjadi merah karena menahan amarah, dia mengepalkan telapak tangannya dengan kuat seakan sedang menghancurkan sesuatu di dalamnya.


semua adik Fernand. yaitu Ferland, Franklin, Frenzo, Ferdy. mereka semua belum menikah alias masih lajang. karena mereka sangat menghindari untuk menjalin hubungan serius seperti menikah. walaupun umur mereka di antara 37-45. mereka lebih senang menyewa wanita-wanita malam untuk memuaskan nafsunya, dari pada mengikat hubungan rumit yang di sebut pernikahan.


**


Robert tidak yakin dengan kemampuan gadis di depannya ini "tapii.. apa tidak apa-apa mereka mengetahuinya? apakah ini tidak berbahaya untukmu?"


"kau tidak perlu khawatir, aku sudah mempersiapkan semuanya" jawabnya


"baiklah,,kau harus berhati-hati mulai sekarang. aku juga akan pergi ke negara XXX nanti lusa" ucap Robert


"aku akan berhati-hati, kenapa kau akan pergi? apa kau sudah tidak betah disini?" tanya Nia


Robert tersenyum tipis "ya. sudah tidak ada yang menarik lagi disini, makannya aku pergi ke negara XXX untuk mencari sesuatu dan memulai hidup baru di sana"


"dan apa tujuanmu setelah ini? apa kau akan pergi?" tanya Robert


"tidak, aku akan tetap sisini, untuk membereskan semuanya. setelah itu aku berencana menata hidupku kembali" Nia tersenyum tipis


Robert membalas senyuman Nia dengan tersenyum hangat "hm baiklah. semoga sukses dengan tujuanmu"


"kaupun sama, semoga tercapai tujuanmu" bebepa saat keduanya berbincang untuk sekedar mengisi kekosongan walaupun hanya sesaat.


**


setelah Robert berpamitan dan dia mulai pergi dengan mobilnya. Nia hanya bisa menatap mobil yang melaju menjauh itu. bagaimanapun juga Nia sudah menganggap Robert seperti saudaranya sendiri.


dan setelah kepergian Robert. para pelayan, pengawal dan penjaga, mereka semua keluar dari mansion untuk berpamitan pada Nia. lalu mereka bergegas pergi meninggalkan Nia seorang diri.


mansion itu telah kosong sepenuhnya Nia telah melemparkan semua barang-barangnya ke dalam dimensi. Nia menutup pintu mansion itu, dan segera pergi dari sana. karena dia juga sudah mendapat pemberi tahuan bahwa mansion tersebut harus di kosongkan hari ini. dan besok akan ada orang yang langsung mengisinya.


Nia berjalan menyusuri jalanan yang sepi, dia tidak membawa barang apapun karena semua properti sudah di jual oleh Fernand. dan Nia hanya mendapatkan harta berupa uang dan benda-benda kecil saja. sekarang dia benar-benar seperti gelandangan yang tidak tahu tujuan hidup. pikirannya melayang-layang entah kemana, namun dia harus menuju hotel untuk bermalam dan memikirkan rencana untuk tujuan hidupnya, setidaknya itu yang ada dalam benaknya.


"benda-benda kecil?" Nia memikirkan bagaimana rupa dan bentuk benda itu.


tiba-tiba Nia tersentak. mengingat dia belum mengetahui dimana semua hartanya disimpan, karena Nia belum menemukan harta itu dalam dimensinya. bahkan dia tidak sempat menanyakannya pada sebastian.


Nia berniat untuk masuk kedalam dimensi, namun saat Nia akan masuk, sebuah panah melesat dengan cepat menghantam paha kirinya. entah mungkin pemanah itu belum mahir atau apa, karena biasanya pemanah akan memfokuskan titik lemah mangsanya yaitu bagian perut, dada atau kepala.


tetapi serangan di bagian manapun jika itu menembus kulit dan daging, itu akan sukses membuat mengsanya terluka parah dan kesakitan.


Nia meringis menahan perih yang dia rasakan di bagian pahanya. dengan masih berdiri Nia lalu mencabut panah itu dan darah segar mengalir dari paha indahnya. Nia melihat panah tersebut dengan teliti dan kemudian membuangnya. setelah Nia melemparkan panah itu, keluarlah sosok dengan menyeringai ke arahnya.


yang tak lain dan tak bukan sosok itu adalah Ferland. di susul dengan tiga sosok lain yaitu adiknya.


"SIALAANNN!!" umpat Nia setelah melihat keempat sosok pamannya.


Nia segera berlari kearah kanan dari dirinya berada, dan memasuki perkebunan warga sekitar dengan menahan rasa perih di pahanya.


bukannya tidak ingin melawan, Nia hanya tidak mau mengeluarkan kekuatannya, dan dilihat oleh orang lain. belum waktunya mereka mengetahui sekuat apa dia. Nia akan menyembunyikan kekuatan elemen api itu dan mengikuti permainan keempat pamannya. dengan dia berlari, mereka akan berpikir bahwa tidak ada perlawanan, dan mereka akan semakin gencar mengejarnya. Nia juga ingin mengetahui seberapa jahat keempat orang itu.


Nia berlari dan terus berlari dengan diikuti keempat orang tersebut, sambil sesekali mereka memanahnya, namun tidak mengenainya. Nia hanya mendapatkan goresan dan luka-luka kecil di tubuh.


setelah berlari cukup jauh. kakinya tiba-tiba berhenti, lalu Nia melihat sekeliling walaupun samar samar karena di malam hari.


Nia tahu tempat ini, ini adalah perbatasan antara pemukiman warga dan sebuah hutan. hutan ini sangat gelap. Nia menajamkan Indra penglihatannya, lalu dia melihat hutan itu tidak segelap yang di bayangkan. dia seperti menggunakan kamera impra merah. ini baru pertama kalinya dia menggunakan trik ini setelah kekuatan sihirnya menerobos ke level Red Fire.


Nia segera memasuki hutan itu. dia juga ingin mengetahui apakah mereka akan menerobos kegelapan demi mencari mangsanya. jika benar, berarti mereka memiliki ambisi untuk memuaskan hasratnya. dan kalau tidak, berarti mereka terlalu menyayangi diri sendiri. Nia juga melihat mereka hanya membawa senjata, dan tidak membawa alat penerangan. jadi itu yang membuatnya ingin mengetahui karakter mereka. sangat berambisi dan serakah atau serakah karena menyayangi dirinya sendiri.


KRITIK dan SARAN.


Author sangat menghargainya ❤❤