
"lalu. apakah kau murid di akademi sihir elemen?" tanya Nia yang mulai memakan buah-buahan yang di bawa Yura.
"yaa. aku murid di sana"
"lalu kenapa kamu berada di sini?"
"itu.. aku bosan karena selalu berada di akademi, jadi aku berjalan-jalan saja ke luar, lalu berakhir seperti semalam" ucapnya.
"ooh" Darren mengangguk-anggukkan kepalanya "hm, apakah kau penyihir elemen air?"
Yura membulatkan matanya karena di tanya seperti itu oleh seorang penyihir yang bahkan bakatnya belum tumbuh. karena untuk sorang penyihir dengan bakat yang belum tumbuh pasti belum bisa merasakan aura dari penyihir lainnya.
"kenapa kau bisa tahu?" Yura menatap mata Darren dengan dalam.
"aku menebaknya, karena semalam aku melihat lukamu sembuh dengan air" jawabnya.
"masuk akal juga" Yura menganggukaan kepalanya mendengar jawaban Darren yang masuk akal.
"baiklah. cepat habiskan buah itu. kita akan pergi ke akademi sebentar lagi. aku juga akan membimbingmu melakukan tes bakat." ucapnya.
"baiklah"
"padahal aku pernah melakukan tes bakat dulu. yasudahlah lihat saja nanti"
setelah Darren selesai mengisi perutnya. mereka langsung menuju akademi dengan berjalan ke arah timur hutan tersebut.
mereka berjalan santai dan sesekali berbincang mengenai akademi sihir elemen. walaupun sebenarnya Darren sudah mengetahui semua cerita itu dari guru Han. tapi dia mengikuti arus pikiran Yura, yang berpikir kalau Darren masih belum tahu apa-apa tentang dunia sihir.
beberapa lama mereka sudah menyebrang ke hutan sebelah dan terus berjalan sesekali mereka juga berlari dengan cepat. Darren tidak mempermasalahkan hal ini karena dia juga menikmatinya Darren bahkan belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini dengan kakinya sendiri. karena biasanya jika dia akan ke akademi Darren selalu di antar oleh Fernand menggunakan mobilnya sampai tugu perbatasan.
tugu perbatasan adalah tugu untuk mengantarkan para murid sihir ke lokasi dimana akademi sihir elemen berada. mereka hanya perlu menyentuh tugu tersebut dan seorang penyihir yang menyentuhnya akan langsung sampai di akademi melaui ruang dan waktu, namun itu tidak berlangsung lama. tugu tersebut memiliki bentuk yang sederhana dan polos, sekilas tugu itu seperti tugu biasa pada umumnya.
bisa di bilang tugu perbatasan adalah jalan menuju dunia lain karena memang Akademi sihir berada di dunia serba kuno dimana tecnology modern belum di temukan.
setelah melewati hutan tersebut, mereka sampai di desa kecil yang ramai akan penduduknya. itu adalah desa dimana tugu perbatasan berada.
disini, penyihir dan manusia biasa hidup berdampingan, tanpa membedakan derajat satu sama lain. mereka juga saling membantu ketika ada masalah karena orang-orang disini mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing. mereka juga menjaga tugu berbatasan itu untuk melindunginya dari hal-hal yang tidak baik.
setalah Yura dan Darren sampai di pusat desa, yaitu dimana tugu perbatasan berada. mereka menyentuh tugu tersebut, dan mereka langsung di lemparkan ke dalam ruang dan waktu lalu akhirnya mereka sampai di gerbang akademi.
Yura tidak heran kenapa Darren mengetahui cara kerja tugu ini. karena dia yakin kalau Darren pasti di beri tahu oleh orang tuanya namun para orang tua juga hanya memberi informasi sampai tugu perbatasan saja karena apa yang ada di dalamnya biarlah anak mereka mengetahuinya sendiri.
mereka berdua telah sampai di pintu gerbang akademi yang menjulang tinggi. gerbang itu terbuka otomatis yang tanpa penjagaan dan memperlihatkan bangunan akademi yang megah dan luas. Darren dan Yura langsung memasuki halaman akademi yang luas itu, terdapat pohon-pohon besar yang berjejer di sekitar bangunan maupun di dekat tembok pembatas. ini baru pertama kalinya Darren di bawa oleh tugu itu di depan gerbang seperti ini. biasanya tugu perbatasanakan langsung mengantarkannya ke dalam menara guru Han.
tugu perbatasan adalah jalan pintas yang menuju langsung ke dalam menara guru Han. jadi dia tidak perlu melewati halaman dan bangunan akademi terlebih dahulu. apakah karena guru Han sudah tiada, jadi tugu tersebut hanya bisa mengantarnya ke depan pintu gerbang saja. itu memang Bagus karena Darren masih ingin mengikuti jalan pikiran Yura.
dari arah sini, Darren dapat melihat menara tempat tinggal guru Han.
itu adalah tempat dimana guru Han mengajarkan segalanya tentang sihir, dan beberapa ujian padanya.
sekarang mereka sedang menyusuri kolidor yang terkesan kuno namun sangat kokoh.
"Yura, kita akan kemana?"
"kita akan menemui seorang guru disini" jawabnya seraya mengetuk sebuah pintu.
katika beberapa saat, pintu tersebut di buka dari dalam yang mengeluarkan aura sihir air lalu menampilkan sosok pria paruh baya dengan jubah warna coklatnya. pria itu mengerutkan kening melihat dua orang gadis yang ada di hadapannya.
"salam guru Jasson" Yura membungkuk memberi penghormatan padanya.
Darren yang melihat itu, tidak memberikan reaksi apapun.
Jasson adalah salah satu Guru dari lima puluh Guru yang mengajar di akademi. Akadami Sihir juga mempunyai banyak orang penting di dalamnya seperti pangkat Petinggi yang mengurus urusan Finansial Akademi. Serta pangkat Penatua yang menjunjung keadilan untuk setiap murid bahkan semua penghuni akademi.
Bahkan penatua bisa bilang Hakim karena selalu turun tangan untuk mengurus semua permasalah di dalam akademi.
"ya. apa ada suatu hal yang penting Yura?" Jasson bertanya pada Yura, namun matanya melihat tubuh Darren dari atas sampai bawah.
"sepertinya aku pernah melihatnya"
"iya guru. perkenalkan, dia adalah Darren. dia ingin menjadi murid disini" ucap Yura dengan antusias.
"baiklah. kita ke ruang peujian"
Jasson membawa kedua gadis itu ke ruang peujian, dimana murid baru akan di uji terlebih dahulu untuk melihat potensi bakat yang akan dia miliki.
"aku yakin. dia adalah murid guru Han. tapi kenapa dia ingin di tes kembali dan mengunakan nama lain? dan apa itu tadi? aku hanya merasakan aura sihir belum tumbuh dalam dirinya." batin Jasson.
sebenarnya Darren yang lebih terkejut melihat Jasson karena beliau adalah teman baik dari guru Han, Jasson juga sering berkunjung ke menara untuk hanya sekedar menyapa guru Han bahkan Jasson pernah melihat Darren di sana. Darren khawatir kalau Jasson akan mengungkap tentang dirinya pada Yura, namun keadaan memihaknya.
"kenapa aku harus khawatir? semua guru di sini tahu tentang wasiat guru Han. hanya para guru dan petinggi akademi lainnya yang boleh mengetahui tentang dia dan muridnya. dia juga tidak memperbolehkan semua murid akademi tahu tentang hal ini" batin Darren
di tengah perjalanan menuju ruang uji. mereka melewati beberapa kolidor sampai akhirnya sampai di ruang pengujian. Akademi sihir memang menerima murid dengan bebas sehingga para guru di akdemi bisa menerima murid dari luar akademi sekalipun.
dalam ruangan itu hanya terdapat batu besar saja dan tidak ada hal lainnya.
Darren duduk dengan posisi bersila dan memejamkan matanya Darren melihat beberapa warna elemen yang mengelilinginya. lalu dia mencoba menyerap beberapa elemen yang ada di sekitar, tentu Darren hanya bisa menyerap elemen berwarna merah.
karena:
warna merah lambang elemen api
warna biru lambang elemen air
warna coklat lambang elemen bumi
warna putih lambang elemen angin.
setelah beberapa saat, Darren sudah cukup menyerap elemen berwarna merah kemudian dia membuka matanya, Darren mengikuti bimbingan dari Jasson untuk melakukan tes selanjutnya, tentu Yura masih berada di ruangan tersebut.
penyerapan warna elemen tersebut perpungsi untuk melihat perkembangan di tes selanjutnya. semakin banyak salah satu warna elemen yang di serap, maka semakin jelas terlihat bakat elemen yang di milikinya.
Jasson membawa Yura dan Darren ke ruangan lain dan bertemu seorang wanita tua yang sudah memiliki keriput di seluruh wajahnya.
"ah, siapa yang kau bawa Jass" sapanya dengan suara khas nenek tua.
"ibu, berhentilah memanggilku seperti itu di depan murid akademi" bisik Jasson dengan wajah cemberut pada nenek tua tersebut
"ternyata itu ibunya" batin Darren.
tapi melihat wajah cemberut yang di perlihatkan Jasson terasa menggelikan untuknya.
"aku membawa murid baru kesini" Jasson memperkenalkan Darren dengan ibunya yang bernama Martha.
"ooh. kemarilah" Martha melambaikan tangannya ke arah Darren. dan Darrenpun menurutinya.
"letakkan tanganmu di atas bola kaca ini dan masukkanlah elemen yang kau serap ke dalamnya" tambah Martha dan Darren pun melakukannya.
bola kaca itu berpungsi untuk melihat bakat apa yang dia miliki. bola tersebut juga akan mengeluarkan satu jenis elemen sesuai dengan warna elemen yang di serapnya.
jika elemen yang di serap adalah warna biru, maka akan langsung ada air di dalam bola tersebut.
dan jika warna elemen yang di serap warna coklat, berarti akan langsung ada tanah di dalam bola kaca tersebut. lalu jika warna elemen yang di serap adalah putih, maka akan ada sebuah angin ****** beliung kecil di dalamnya.
dan kalau warna elemen yang di serap adalah merah, maka bola kaca itu akan penuh dengan api di dalamnya.
dan ternyata bola kaca menunjukan hasil yang mengejutkan. di dalam bola itu hanya memperlihatkan asap berwarna putih yang tebal, yang memenuhi volume di dalam bola kaca tersebut. tentu semua orang yang melihatnya terkejut.
"hmm. warna elemen apa yang kau serap?" Martha terheran dengan hasilnya bukan karena gadis di hadapannya tidak berbakat melainkan dia tahu kalau kekuatan sihir gadis tersebut disembunyikan, sekarang Martha dilema dengan situasinya.
"kenapa di dalam bola ini mengeluarkan asap putih?" batin Darren.
"hanya sedikit menyerap elemen berwarna merah, sedikit sekali. segini" jelas Darren berbohong seraya menunjuk ujung telunjuknya dengan jempol.
"hmm. sepertinya Jass akan susah mengajarimu" ketus Martha sambil memegang keningnya, dia berpikir mungkin lebih baik mengamati situasinya terlebih dahulu kalau memang gadis di hadapannya membawa petaka untuk Akademi Martha yang akan bertindak paling depan.
"maksud nenek?" Yura bertanya dengan penasaran.
"begini. jika dalam satu proses gadis ini tidak bisa menyerap elemen dengan baik. maka bakat sihirnya akan susah berkembang dan tidak akan di ketahui bakatnya sebelum dia bisa menyerap elemen dengan baik" jawabnya.
"apa? tidak mungkin gadis ini tidak bisa di ajari? bukankah dia sudah menjadi murid guru Han? apa mungkin guru Han juga tidak bisa mengajarinya? ..huu kalau dia tidak bisa, apalagi akuuuuuuu" teriak Jasson di dalam hatinya.
"pantas kekuatan sihirnya belum tumbuh. mungkin guru Han juga tidak sanggup mengajarinya sehingga dia mengirim muridnya kemari" jeritnya lagi.
"jadi, aku akan menjadi murid yang tidak bisa di ajari?" Darren berkata dengan lirih.
"ah. Darren aku akan membantumu belajar menyerap elemen dengan baik. tentu di temani guru Jasson juga. hehe" bujuk Yura dengan menepuk pundak Darren dengan hangat.
Jasson yang mendengar itu mengedutkan bibirnya.
"entahlah. ini adalah tantangan bagiku. jadi aku juga akan berusaha untuk itu" tekad Jasson.
"ini untukmu guru Han" seru Jasson di dalam hatinya.
mendengar itu Darren tersenyum antusias.
"terima kasih guru. kau juga, terima kasih Yura" ucapnya seraya tersenyum manis.
"itulah gunanya teman" seru Yura
"baiklah, sebaiknya kalian segera pergi ke asrama. dan Yura, bawa dia ke pengurus asrama junior" ucap Jasson. dan mereka berdua langsung pergi dari ruangan itu lalu menuju asrama yang di maksud.
"mungkin guru Han memang sengaja menitipkannya padaku"
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya ❤❤