The Highest

The Highest
Menghilang



Seorang kakek tua tiba-tiba memasuki ruangan dan langsung mendapat perhatian dari semua orang. kakek tersebut berbadan kurus serta penuh keriput di seluruh wajahnya.


"Tidak apa Victor, segeralah duduk. kita bahas masalah ini bersama" seorang kakek yang tidak kalah tua membuka suara, kakek tersebut bernama Mclay yang menjadi salah satu penatua dari sepuluh penatua di akademi.


Bisa di bilang posisi Penatua lebih tinggi dari posisi kepala akademi sekalipun karena para panatua adalah sesepuh yang banyak membantu perkembangan akademi dan seiring berjalannya waktu, para panatua menjadi sekumpulan Hakim yang menjunjung tinggi keadilan dalam peraturan hukum akademi.


**


Darren sedang duduk bosan di ruangan Jasson, menunggu para petinggi akademi mengambil keputusan atas teragedi runtuhnya menara Guru Han.


Sejak kejadian itu Darren belum bertemu lagi dengan Cashile namun Darren tidak mempermasalahkannya, yang ada di pikirannya sekarang adalah mencari Miguel untuk memberinya pelajaran.


Darren teringat waktu dia keluar dari reruntuhan, dia melihat Shawn yang berkeringat dingin menatapnya, Darren berpikir bisa mencari Miguel melalui Shawn.


tok.. tok..


Lamunan Darren terpecah karena ketukan pintu. Darren membuka pintu secara perlahan dan menemukan Shawn sedang berdiri di depannya.


Darren tersenyum melihat Shawn yang datang ke tempatnya berada sehingga Darren tidak perlu mencarinya.


"Nona" Shawn menundukkan kepala.


"kenapa kau menundukkan kepala?" Darren kebingungan melihat Shawn yang terlihat sangat takut padanya.


"maaf karena telah mencelakaimu" Shawn semakin menunduk bahkan posisi tubuhnya hampir membungkuk


Darren menepuk pundak Shawn dan secara tidak langsung memperingatkannya agar tidak menunduk seperti itu "kenapa kau meminta maaf? ini bukan salahmu. aku melihatnya sendiri"


"Nona.. "


"Jangan panggil aku Nona, panggil aku Darren itu adalah namaku" Darren sebenarnya agak canggung ketika menepuk pundak Shawn karena secara fakta usia Shawn lebih tua darinya namun Darren tidak punya pilihan lain agar Shawn berhenti menunduk.


"apa kau ingin menemui Guru Jasson? beliau sedang menghadiri rapat, dan kau pasti tau itu" Darren meninggalkan ruangan Jasson seraya membawa Shawn ke tempat yang nyaman untuk sekedar berbincang atau lebih tepatnya mengorek suatu informasi.


**


"Nona.. hm.. Darren, apa boleh aku tahu kenapa kau berada di menara itu?" Shawn menunjuk menara Guru Han yang sekarang sudah menjadi puing-puing.


Darren membawa Shawn ke tempat di belakang akademi, tempat dimana Darren dan Yura di hukum karena selalu pulang terlambat.


"Akuu sedang melakukan latihan tertutup disana." pernyataan Darren berhasil membuat Shawn mengerutkan dahi


"kenapa kau melakukan latihan tertutup? padahal kekuatanmu yang sekarang saja sudah mengguncang dunia sihir" batin Shawn seraya menatap Darren dengan heran.


Darren kebingungan ketika di tatap seperti itu. "apa ada yang salah?"


"tidak." Shawn mengibaskan tangannya dengan cepat, takut Darren salah paham "bukannya tempat itu sangat angker? kau sangat berani memasukinya"


"benar. kau bahkan lebih menakutkan dari para Shadow sekalipun!!" batin Shawn.


Darren hanya mengangkat bahu tidak peduli. "giliran aku yang bertanya. dimana dia sekarang?"


"maksudmu orang yang sebenarnya menghancurkan menara?"


"siapa lagi" Darren memainkan bola api berwarna merah di tangannya.


Shawn menelan ludah melihat bola api yang di mainkan Darren. "dia sedang berada di tempat guruku"


"Jadi kalian saudara seperguruan?" Darren menaikan sebelah alis sedangkan Shawn hanya menghela nafas.


"Begitulah.. hmm. tentang Gurumu aku sudah mencari tahu tentangnya melalui Guru Victor. maaf kalau aku lancang" sebenarnya Shawn hanya berusaha untuk jujur dan bersikap apa adanya di hadapan Darren karena secara harafiah Shawn lebih takut pada Darren daripada gurunya sendiri.


"tidak apa. lagipula beliau sudah tiada"


Darren melihat ke kejauhan seraya melepaskan Mata Elangnya untuk mencari keberadaan Miguel.


"Shawn apa kau bisa menjelaskan padaku dimana kita berada" Darren mengalihkan pembicaraan supaya tidak perlu emosional.


"kita berada di akademi"


"maksudku bukan itu!!" Darren mengembungkan pipinya


"hehe. maaf aku hanya bercanda" Shawn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. lalu mulai serius dengan pernyataan yang akan dia jelaskan. "akademi sihir ini berada di Benua Utara, bisa di bilang Benua Utara berlokasi yang paling jauh dari benua lainnya yakni Benua Timur, Benua Selatan, dan Benua Barat. di dunia sihir ini hanya ada empat benua yang mengelilingi satu daratan yang memiliki wilayah lebih luas dari pada keempat Benua lainnya, daratan itu di sebut Daratan Tengah.


Dari masing-masing kelima tempat ini di pimpin oleh satu Kerajaan, dan yang pasti Kerajaan paling besar pengaruhnya adalah Kerajaan yang berada di daratan tengah." Shawn menutup penjelasan dengan senyum lebar karena hatinya merasa sangat bangga bisa menjelaskan sesuatu yang belum Darren ketahui.


Darren menganggukan kepalanya, sebanarnya Darren juga sudah tahu tentang empat Benua dan satu Daratan dari catatan Guru Han namun tidak terlalu terperinci. "lalu dimana lokasi Sekte Tanah Abadi? apa Sekte itu berada di Benua ini?"


Shawn membulatkan matanya ketika mendengar pertanyaan Darren. "Tentu saja, Benua utara tercatat memiliki 1,089 Sekte besar dan 2059 sekte kecil. dalam satu sekte besar bisa memiliki 12.000 anggota sedangkan sekte kecil paling banyak memiliki 5.000 anggota. Jadi kau bisa menggambarkan betapa luasnya benua ini bukan?"


Sekarang giliran Darren yang membulatkan matanya.


"tapi apa kau tahu? sekte yang berada di Benua ini tidak mau memiliki hubungan apapun dengan Kerajaan namun secara tidak langsung semua sekte juga menjaga wilayahnya dan ketentraman masing-masing. Kerajaan juga tidak mempermasalahkan semua itu"


Darren menghela nafasnya setelah mendengar semua penjelasan Shawn.


"tadi kau bertanya soal Sekte Tanah Abadi, apa kau akan kesana?" Shawn bertanya menyelidik.


Darren mengangguk pelan "dua hari lagi aku akan berangkat"


"apa kau kesana sama dengan tujuan kita?" Shawn mengelus dagunya.


"maksudmu?" Darren memiringkan kepala berusaha mencerna perkataan Shawn.


"aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu, catatan rahasia? misi penting? apa yang kau maksud? aku berencana pergi ke Sekte Tanah Abadi karena untuk menemui temanku" Darren berlagak sok tidak peduli dan tidak memahami perkataan Shawn padahal di dalam hatinya dia sangat penasaran dengan cacatan rahasia yang akan di ambil Victor.


"apa isinya? apa itu sejenis pormula untuk membuat racun?"


Shawn mengeluarkan sesuatu dari balik jubah coklatnya dan menyodorkan gulungan kertas pada Darren. "ambilah ini, peta ini akan sangat membantumu"


"ah terima kasih banyak" Darren antusias menerima benda yang diberikan Shawn. sebuah peta yang akan sangat berguna untuk perjalanannya.


Darren merasakan ketulusan Shawn murni karena ingin membantu bukan semata menjilat kepada orang yang lebih kuat.


Shawn adalah keturunan kulit hitam yang tidak pernah di temukan di dunia sihir ini karena rata-rata para penghuni dunia sihir memiliki kulit putih pucat dengan warna mata biru laut.


Sama seperti Darren, Shawn di anggap penyihir berwujud aneh karena kulit, rambut sampai mata yang semua berwarna hitam.


"sepertinya aku harus pergi" suara Shawn memecah hayalan Darren yang sedang menari-nari di angkasa.


Darren mengangguk pelan membiarkan Shawn pergi karena memang rapat para petinggi sudah selesai, Darren juga ingin mengetahui hasil diskusi para petinggi mengenai runtuhnya menara Guru Han.


**


"aku tidak punya pilihan lain" Jasson


mengusap wajahnya dengan kasar.


Darren mendengar penjelasan Jasson dari mulai dia memberitahukan alasan kenapa Darren sedang berada di atap menara Guru Han kepada semua petinggi Akademi. sampai mengenai menara Guru Han yang akan di hapus dari daftar bangunan Akademi dan menghukum pelaku yang sudah menghancurkannya.


Sebenarnya Darren kurang puas dengan hasil akhir diskusi tersebut, walaupun seperti itu Darren memaklumi keadaan terdesaknya Jasson yang mengharuskan mengungkap siapa dirinya sebab kalau Darren berada dalam posisi yang sama pasti dia juga akan melakukannya.


"tidak apa Guru, lagi pula sepertinya semuanya akan segera berakhir" Darren tersenyum lembut yang berhasil membuat perasaan Jasson lega.


Namun ada satu hal. "maksudmu berakhir?" Jasson mengerutkan alis.


"ah, tidak Guru" Darren menggelengkan kepalanya tidak ingin menjelaskan apa maksud ucapannya. "Guru boleh aku bertanya? dimana letak ruangan Guru akademi yang bernama Victor?"


"ada apa? jangan bilang kau ingin membalas dendam atas perilaku muridnya" Jasson menatap Darren dengan dalam sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tipis dan tiba-tiba menghilang dari pandangan Jasson.


**


"IBUU!!" Jasson menggendor-gedor pintu ruangan Ibunya dengan keras karena tergesa sampai pintu terbuka barulah Jasson menghentikan tingkahnya.


"ada apa Jass? kau sangat mengagetkan ibu" Martha melototkan matanya.


"ibu tidak ada waktu. berikan aku informasi tentang penyihir yang bisa menghilang begitu saja tanpa menggunakan Fortex."


mendengar hal tersebut Martha langsung menutup pintu lalu menguncinya dengan rapat, kemudian menyeret Jasson ke ruang perpustakaan pribadinya. "ikut ibu. tidak baik kalau sampai ada yang dengar"


**


"kau bisa menjelaskannya sekarang" ucap Martha seraya mencari sesuatu yang ada di rak buku.


"ibu. dia bisa menghilang begitu saja tanpa menggunakan Fortex apalagi menggunakan unsur elemen yang menyelimuti tubuhnya, menurut ibu penyihir apa yang bisa melakukannya?"


Semenjak Darren menghilang dari pandangan Jasson begitu saja, Jasson mulai penasaran tentang sihir elemen apa yang di kuasai Darren. sebab setiap penyihir elemen ketika akan menghilang dari pandangan akan ada unsur elemen yang di kuasai menyelimuti tubuhnya lalu akhirnya sang penyihir menghilang. berbeda dengan kasus Darren yang menghilang begitu saja karena penyihir elemen udara sekalipun tidak bisa langsung menghilang seperti di telan udara kosong.


"ini dia. catatan yang ku curi dari si Han tua" Martha terkekeh seraya mengeluarkan sebuah buku dari rak yang terlihat sangat usang. "semua jawaban dari pertanyaanmu ada di sini"


Jasson antusias karena pertanyaan nya akan segera terjawab.


Lembar demi lembar dari buku tersebut di baca oleh Martha dengan seksama dari mulai berbagai keistimewaan penyihir angin lalu penyihir bumi kemudian penyihir air sampai Martha berhenti di bab keistimewaan penyihir Api. Martha agak ragu untuk membaca bab tersebut namun dia tetap membacanya.


"seorang penyihir yang sudah mencapai Level Black Fire bisa mengendalikan sesuatu melalui pikirannya tanpa menanamkan sihir yang dimilikinya" Martha mengerutkan dahi karena sulit mencerna penjelasan dari catatan tersebut.


"apa Level Black Fire sehebat itu? tidak mungkin seorang penyihir bisa mengendalikan sesuatu tanpa menanamkan sihirnya terlebih dahulu pada sesuatu tersebut" Jasson semakin bingung dengan jawaban yang dia dapatkan.


"ini memang ada hubungannya Jass, seorang penyihir yang tiba-tiba hilang seperti di telan udara kosong yang kau maksud bisa saja menggunakan pikiran untuk melakukannya." Martha memijit keningnya "dan penyihir yang bisa melakukan hal demikian, kekuatannya berada di Level Black Fire"


Jasson terkejut mendengar penjelasan Martha. "ternyata dia sehebat itu!! kekuatannya saja bahkan melampaui pencapaianku, hiks" Jasson merintih dalam hati


"apa yang kau pikirkan Jass? sebenarnya siapa penyihir yang kau maksud" Martha bertanya dengan menyelidik.


"Ibu penyihir yang ku maksud adalah Darren, murid dari Guru Han" Jasson setengah merinding ketika mengatakan nya.


Sedangkan Martha semakin memijit keningnya "Gadis itu ya?. ternyata Han tua menyembunyikan kekuatan sebesar ini"


Jasson mengembangkan senyumannya. "Kalau kekuatannya sebesar ini, itu berarti Darren termasuk penyihir yang paling kuat dari semua penghuni akademi ini"


"benar. bahkan gurunya sendiri Han tua yang di akui paling kuat di akademi berada jauh di bawahnya." Martha membenarkan.


"lalu apa kau tahu dimana dia sekarang? aku ingin menanyakan beberapa hal padanya" Martha mulai bersiap untuk menemui Darren.


Jasson mengelus dagunya "mm.. entahlah. aku terlalu fokus dari caranya menghilang dari pandangaku"


"apa gadis itu tidak mengatakan sesuatu sebelum pergi?" Martha bertanya dengan menyelidik.


"ah iya. dia bilang ingin membalaskan dendam pada Miguel, murid dari Guru Victor"


"Gawat!!" Jasson dan Martha menjadi panik memikirkan emosi Darren yang mungkin tidak terkendali.


KRITIK dan SARAN..


AUTHOR sangat menghargainya ❤❤