
Senyum manis yang di lontarkan pria misterius itu membuat jantung Nia berpacu dengan cepat, seakan ingin keluar dari tempatnya. pria yang memakai pakaian dan jubah serba putih dengan bordir dari benang emas yang mengeluarkan aura keagungannya, membuatnya semakin terlihat menawan dan berwibawa.
dengan rambut putih panjang dan mata yang berwarna kuning keemasan semakin menambah ketampanannya.
tidak terlewatkan telinga runcingnya membuat Nia berpikir pria tersebut bukanlah manusia biasa
"hei, apa kau tidak ingin mengenalku?" goda pria tersebut yang membuyarkan lamunan Nia.
"hah..siapa kamu?" tanya Nia tersadar
"panggil saja Sebastian" jawabnya
"ooh.. kenapa kau ada disini?. bukankah ini dimensi milikku, dan hanya aku yang dapat memasukinya?.kenapa kau bisa masuk kesini tanpa seizinku?" tanya Nia beruntun. Sebastian hanya terkekeh mendengar pertanyaan yang di lontarkan Nia kepadanya.
"ayolaah... aku hanya ingin menyambut kedatanganmu, itu saja"
"maksudmu?" Nia hanya merautkan kedua alisnya karena bingung.
"menyambut?. apakah dia penghuni disini?"Sebastian hanya tersenyum simpul melihat kebingungan Nia. lalu berjalan mendekati Nia dan meraih tangan kanannya.
"ikutlah, aku ingin menunjukan sesuatu"
tanpa menunggu persetujuan dari Nia, Sebastian menunjukan sayap indahnya dan langsung membawa Nia terbang dengan tangan kiri memegang tangan kanan Nia.
Nia yang di bawa terbang oleh Sebastian hanya menatapnya dengan penuh kekaguman. Sayap yang besar,berbulu lebat, dan berwarna putih bersih tanpa cacat. Nia hanya bisa mengadahkan kepala untuk melihat sayap sebastian dengan jelas,
"indah sekali, apakah dia malaikat?" gumamnya.
Sebastian Imanuel Hieber ★
tentu saja melihat manusia yang memiliki sayap adalah pemandangan langka, apalagi di bawa terbang olehnya.
di dunianya pun hanya penyihir yang memilki elemen angin yang dapat terbang, walaupun tidak memiliki sayap. tapi itu juga sangat mustahil jika belum mencapai tingkat surgawi di level paling tinggi.
Nia sangat bingung dengan kekuatan yang dimiliki Sebastian, siapa dia sebenarnya? elemen apa yang Sebastian miliki? tidak mungkin Sebastian hanya memiliki elemen angin, karena dia memiliki sayap, apakah dia juga memiliki elemen makhluk hidup seperti burung? itu lebih mustahil lagi karena burung bukanlah elemen, melainkan hanya makhluk hidup. pertanyaan pertanyaan yang Nia pikirkan, membuat kepalanya pusing.
dengan tangan kanannya menggantung pada tangan kiri sebastian membuatnya agak susah untuk bergerak. lalu Nia melihat kebawah. ternyata dia di bawa ketengah danau. Nia sangat takjub dengan pemandangan dibawahnya. danau itu seperti dangkal, karena Nia dapat melihat dasarnya dengan jelas.
di tengah lamunan yang sedang mengagumi pemandangan di bawahnya,
Nia terkejut karena tiba-tiba tangan kanannya di lepaskan oleh sebastian. dan
BYUUUURRRR
Nia terjatuh dan tercebur ke air danau, dugaan Nia tentang danau yang dangkal lenyap seketika karena kakinya tidak bisa menyentuh dasar danau tersebut. berapa kalipun Nia mencoba agar kakinya menyentuh dasar danau, dia selalu gagal, danau itu terlalu dalam.
Nia berusaha berenang ke atas permukaan, karena nafasnya pun hampir habis. beberapa kali Nia mencoba menggerakan tubuhnya untuk mencapai permukaan,namun selalu tidak ada kemajuan. setelah beberapa saat, Nia baru teringat bahwa dirinya tidak bisa berenang.. Nia begitu panik, karena kekuatannya pun tidak bisa digunakan di dalam air. kalaupun bisa, itu tidak dapat banyak membantu.
saat-saat seperti inilah yang Nia benci. hidupnya di pertaruhkan dengan kelemahan dan ketakutan. sangat mustahil kalau Nia mencari udara didalam air yang dasarnya tidak tersentuh dan permukaan yang tidak bisa dijangkau. dan dia berada di tengah danau, membuatnya semakin panik saja.
lalu Nia mengadahkan kepalanya ke atas, dan dia melihat sosok Sebastian yang masih Setia di tempatnya.
"apa Sebastian sengaja melakukan ini?. apa mungkin dia bersekongkol dengan mereka yang membenci ayah? dan inilah rencananya untuk membunuhku? apa aku benar? kuharap semua pikiran itu salah." Batin Nia.
kepala Nia menjadi berat, dan pandangannya pun semakin kabur. karena nafasnya habis, dia tidak bisa berbuat apa-apa, Nia hanya bisa pasrah atas kejadian yang menimpa dirinya.
**
Nia terbatuk-batuk mengeluarkan air danau yang banyak dia telan. Sebastian hanya terkekeh dan memberikan nafas buatan lagi pada Nia, tentu saja Nia sangat tekejut. karena Sebastian telah merenggut ciuman pertamanya.
sebenarnya Sebastian bisa saja menyembuhkan Nia dengan kekuatannya. namun cara memberi nafas buatan dengan bibir sangat membuatnya antusias, jadi Sebastian mengambil jalan itu saja. dan sorak kemenangan bergemuruh di dalam hatinya, karena telah mendapatkan ciuman pertama Nia, walaupun berkedok menyelamatkan Nia yang tenggelam. tapi percayalah, itu membuatnya sangat bahagia.
"apa yang kau lakukan SIALAN?!!" protes Nia yang melihat Sebastian ingin memberikan nafas buatannya lagi. lalu Nia duduk dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Nia sudah kesal pada Sebastian yang menjatuhkannya di tengah danau, dan sekarang dia merenggut ciuman pertamanya.
Sebastian hanya tersenyum melihat seorang gadis marah-marah padanya.
"aku hanya menyelamatkan nyawamu dengan memberikan nafas buatan"
"tapi kau yang menjatuhkanku, SIALAN"
protes Nia
"tidak. aku hanya ingin melihat perkembanganmu saja, ternyata kau masih lemah dengan air" ucap Sebastian dengan tersenyum mengejek.
Nia tidak ingin mendengarkan alasan apapun yang di jelaskan Sebastian.
dan Nia mencium bau yang menggugah selera,lalu dia mengedarkan pandangannya dan melihat ada dua ekor ikan yang sedang di bakar di atas bara api. dan itu membuat perutnya bergemuruh di dalam sana.
"ah,, apa kau lapar? aku sudah membakar ikan untuk mu, sebagai permintaan maafku karena telah menjatuhkanmu di tengah danau"
ucap Sebastian seraya memperlihatkan senyum yang menawan.
Nia hanya tersenyum kecut menahan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. lalu Sebastian mengambil ikan bakar itu dan memberikannya pada Nia.
saat Nia sedang menikmati ikan bakar, Sebastian menyelimuti Nia dengan mantel berbulu yang hangat, bulu itu seperti bulu serigala. Nia tersadar bahwa sebastian sudah menghilangkan sayapnya. Nia hanya menatap kagum pada Sebastian. dan sekarang amarahnya pada Sebastian sedikit memudar karena perlakuan hangatnya.
"kenapa kau menjatuhkanku? kau tahu? itu membuatku ingin membunuhmu" Nia bertanya pada Sebastian dengan ekspresi datar, sembari menghabiskan ikan bakarnya.
"aku sudah bilang kalau aku hanya ingin melihat perkembanganmu" jawabnya dengan acuh tak acuh
"kau harus banyak berlatih agar dapat melawan rasa takutmu. walaupun kekuatanmu tinggi kalau di hatimu masih tersimpan katakutan besar, pencapaianmu itu akan sia-sia." tambah Sebastian
"kau benar" ucap Nia lirih. bagaimanapun juga perkataan Sebastian adalah kebenaran, dia tidak bisa hidup dengan ketakutan dan kekuatan yang berdampingan seperti itu. dia harus melenyapkan salah satunya.
antara hidup dengan ketakutan dan kakuatan apapun tidak akan ada gunanya, atau hidup dengan semua kekuatan tanpa harus takut dengan kelemahannya.
tentu saja Nia memilih hidup dengan semua kekuatan, tanpa harus takut dengan kelemahannya.
"kanapa kau tahu tentangku dan kelemahanku? apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nia pada Sebastian yang sedang begitu menikmati ikan bakarnya,
"tentu saja, karena kita telah terikat sejak kau lahir" jawab Sebastian sambil mengeluarkan duri ikan dari mulutnya.
"sejak aku lahir? memangnya berapa sekarang umurmu?" Nia heran, pasti Sebastian yang mengikat hidupnya. dan jika Sebastian bisa melakukannya, dia pasti sudah dewasa dan memiliki kekuatan yang tinggi.
"kau tidak perlu mengetahuinya, kalau kau tahu, kau akan menjatuhkan rahangmu karena terkejut"
Sebastian menjawab dengan santai.
tentu saja jawaban seperti itu sangat membuat Nia semakin penasaran.
tapi Nia memendam rasa penasaran itu dan mengabaikannya, mungkin suatu hari dia akan mengetahuinya.
KRITIK dan SARAN
Author sangat menghargainya ❤❤