The Highest

The Highest
Peti Mati



Sepanjang mereka bertiga makan bersama, Erick larut dalam pikirannya. dia penasaran dengan gadis yang di perkenalkan Yura sesaat yang lalu.


"Darren. apa kau berasal dari dunia luar?" Yura bercerita Darren menolongnya saat berada di dunia luar. jadi Erick berpikir demikian. Darren hanya mengangguk pelan tanpa menanggapi lebih jauh.


Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan, Yura memutar otaknya untuk membawa suasana menjadi lebih hangat, nyatanya Darren bersikap sanagat dingin dengan orang lain selain dirinya, membuatnya kesulitan membawa Darren untuk berbaur dengan orang lain.


Erick bahkan tidak mau bereaksi lebih jauh setelah melihat karakter Darren. akhirnya Yura mengajak Darren untuk berkeliling kota sesudah mereka selesai.


beberapa kali Yura dan Darren memasuki toko dari satu toko ke toko yang lain. namun tidak ada yang mereka beli, sedangkan Erick membuntuti mereka berdua dari belakang seperti mahkluk tak kasat mata yang tidak di pedulikan.


Setelah keluar dari toko perhiasan yang menjual souvenir yang unik. mereka kaget sekaligus panik karena hari sudah gelap, saking asyiknya mereka berkeliling sampai lupa waktu.


akhirnya Yura dan Darren pamit pada Erick yang sedari tadi mengikuti mereka. Yura dan Darren segera pergi setelah berpamitan.


hari sudah gelap dan mereka baru akan pulang, sungguh tidak terbayangkan Jasson menatap mereka dengan tajam sepanjang bercerita tentang cerita yang membosankan.


**


dan ternyata benar, setalah Yura dan Darren sampai di depan pintu gerbang akademi, Jasson sudah berada di balik pintu gerbang dengan menyilangkan lengannya di depan dada serta menatap mereka dengan tajam.


pintu gerbang di buka perlahan oleh penjaga, lalu membiarkan Yura dan Darren masuk. mereka langsung menghampiri Jasson untuk memberikan penjelasan.


Jasson mendengus seraya memalingkan wajahnya, sebelum menasehati mereka dengan ceramah yang panjang.


Yura menggaruk kepalanya ketika memberikan alasan pada Jasson, dia ragu kalau menceritakan soal kepergian mereka ke kota sebrang di atas pulau.


Darren yang melihat Yura ragu untuk bercerita, akhirnya dia angkat bicara. "kita pergi ke kota sebrang yang di atas pulau" Darren berkata ringan dan tidak mempedulikan Yura yang mengumpat atas perkataannya.


Jasson tersentak akan perkataan Darren, dia tidak menduga kedua gadis ini akan bepergian sejauh itu, terlepas mereka sudah beranjak remaja. namun murid akademi tidak seharusnya pergi ke suatu tempat yang jauh kecuali mendapat ijin dari berbagai pihak.


Jasson menasehati Yura dan Darren dengan ceramah yang panjang. sampai akhirnya memberikan hukuman pada mereka berdua yaitu membersihkan halaman belakang akademi seharian besok.


**


"seorang penyihir Mitology harus menyapu seperti ini!!" Darren menghentakkan gagang sapu lidi yang ada di genggamannya. berbeda dengan Darren, Yura sepertinya sangat ceria hari ini.


sudah seharian Yura dan Darren menyapu halaman belakang akademi, membersihkannya dari semua daun kering yang jatuh berserakan.


Hari sudah sore, Yura dan Darren sudah mengumpulkan semua daun kering dan menumpuknya sampai menggunung. kini halaman belakang akademi sudah bersih dari berbagai jenis daun yang kering dan mengganggu.


Yura berniat membakar tumpukan daun kering itu, namun dia mengerutkan dahi melihat korek api yang di bawanya ternyata agak basah. Yura berniat mengambil korek api yang lain di dalam akademi.


namun itu akan membutuhkan waktu yang lama, apalagi hari ini angin bertiup kencang. Yura takut semua daun kering yang sudah mereka kumpulkan akan berserakan tertiup angin dan menambah pekerjaan lagi.


akhirnya dengan semua keraguan, Yura mencoba menyalakan korek api tersebut. Yura sungguh terkejut melihat korek api yang basah kini menyala, dia keheranan sendiri.


di tengah keheranan Yura melihat korek api yang basah bisa menyala, Darren sedang memfokuskan pikirannya yang tertuju pada api yang menyala pada korek yang ada di tangan Yura. Darren menjaga api tersebut tetap kecil agar tidak terlalu berbahaya dan mudah dikendalikan.


Yura berhasil membakar tumpukan daun kering dengan korek api basahnya. kini Yura dan Darren sedang menunggu apinya padam seraya berbincang ringan, sampai akhirnya Yura menunjuk sebuah menara yang tidak asing bagi Darren. itu adalah menara Guru Han yang terletak paling belakang dan terpojok dari semua bangunan yang ada.


"Darren, lihat. manara itu sangat angker. aku merasakan aura kematian di sekitarnya" tangan yura menunjuk menara dengan tubuh yang bergetar.


Darren tersenyum simpul mendengar hal itu. dia juga merasakan aura yang sama berasal dari sebuah peti di ruang bawah tanah. waktu itu Darren berusaha membuka peti tersebut namun tingkahnya ketahuan oleh Guru Han.


sejak saat itu Guru Han melarang Darren untuk memasuki ruang bawah tanah, Guru Han melihat Darren menemukan sesuatu yang berusaha dia sembunyikan.


Yura menceritakan pengalaman tentang dirinya yang pernah melihat sosok bayangan hitam yang berdiri di sekitar menara, sosok misterius itu selalu muncul di hari dan waktu yang sama dan hanya berdiri tanpa melakukan apapun seperti sedang mengawasi semua orang dalam gelap.


semua penghuni akademi pernah mengalami hal tersebut. sosok hitam ini telah menjadi perbincangan hangat selama sepuluh tahun terakhir. sampai tidak ada murid akademi yang mau mendekati menara selama satu dekade lamanya.


Darren menjadi penasaran tentang isi dari peti yang ada di ruang bawah tanah, waktu itu Guru Han mengatakan bukan saatnya Darren mendapatkan benda tersebut, mengingat waktu itu kekuatan Darren masih berada di tingkat tinggi dalam level Yellow Fire.


namun bededa dengan kasusnya sekarang. kekuatan Darren sudah berada di level Puncak, jika Guru Han masih hidup tidak ada alasan lagi beliau melarangnya.


menara Guru Han memang terletak paling pojok dan terbelakang di antara bangunan lainnya, di sekitar menara tersebut terdapat pohon-pohon yang rindang bahkan ada beberapa di antaranya yang menjulang tinggi melebihi menara tersebut.


karena tidak terurus, banyak jenis rumput liar yang tumbuh subur di sekitarnya dan semakin menambah pekatnya aura kematian yang menyeramkan.


**


"kau yakin ingin melakukan latihan tertutup di tempat Guru Han" Jasson ingin Darren memastikan lagi niatnya untuk melakukan latihan tertutup di menara Guru Han yang di kenal tempat paling angker.


waktu Guru Han masih hidup Jasson selalu mengunjunginya untuk sekedar berbincang membahas persoalan akademi, Jasson pernah bertanya pada Guru Han soal aura kematian yang menyeruak dari tempatnya. namun Guru Han tidak memberikan penjelasan lebih rinci terkait hal tersebut.


dan sekarang setelah Guru Han menyelesaikan perjanjian jiwanya, tidak ada lagi alasan Jasson untuk pergi ke tempat peninggalan Guru Han, menara tersebut seolah di biarkan terbengkalai oleh semua orang. mengingat sosok bayangan hitam yang seolah seperti menjaga menara tersebut agar tidak ada orang yang memasukinya.


setelah pertimbangan cukup lama. akhirnya Jasson mengijinkan Darren untuk melakukan latihan tertutup di dalam menara Guru Han, bagaimana pun juga gadis yang ada di hadapannya ini adalah murid resmi Guru Han.


Jasson memberikan arahan pada Darren ketika ingin memasuki menara, dia menjelaskan ada sebuah pormasi khusus yang melindungi menara tersebut, Jasson juga sempat heran kenapa Guru Han menjaga ketat tempatnya, seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat berbahaya atau mungkin paling berharga.


pintu masuk menara tersebut berada di atas, jika ada orang lain yang ingin memasukinya dia harus memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. melihat kekuatan Darren yang di sembunyikan, Jasson yakin Darren memiliki ilmunya.


"Guru tolong sembunyikan keberadaan latihanku dari Yura" Darren berkata demikian karena tidak ingin Yura khawatir.


"akan ku lakukan, tetapi aku tidak akan menyembunyikan tentang latihan tertutup yang kau lakukan" Darren mengangguk pelan sebelum pergi dari ruangan Jasson.


**


"seperti ini" Darren sedang melayang di udara, dia sedang meneteskan darahnya ke permukaan simbol yang terukir di depan pintu menara tersebut.


Darren baru pertama kali memasuki menara dengan cara seperti ini. karena sebelumnya kalau ingin ke tempat Guru Han, tugu perbatasan akan langsung mengirimnya ke ruangan di dalam menara tersebut.


pintu menara terbuka perlahan setelah beberapa saat Darren memberikan darahnya, menara itu memperlihatkan ruangan gelap yang sudah lama tidak di huni. Darren segera memasukinya, ruangan ini adalah tempat Darren belajar.


semua buku tersusun rapi di rak besar yang menempel ke dinding. Darren belum pernah membaca satu pun buku yang ada di rak, tidak ingin bernonstalgia terlalu lama. Darren bergegas menuju ruangan bawah tanah dengan memasuki sebuah pintu rahasia yang di tutupi oleh karpet emas yang ada di tengah ruangan. Darren membuat alasan tentang latihan tertutup karena memang dia ingin mengetahui tentang peti misterius yang ada di bawah tanah menara tersebut.


Darren mulai menghancurkan pormasi yang menyegel pintu tersebut, Darren mengikuti anak tangga melingkar yang menuntunnya ke dasar bangunan, semakin kebawah semakin pusing kepalanya karena berputar tajam.


dan semakin kebawah semakin kuat pula aura kematian yang menyeruak.


Darren mengeluarkan bola api berwarna kuning di telapak tangan kirinya untuk menerangi sekitar yang gelap dan pengap. setelah sampai di ujung tangga paling bawah Darren melihat pintu yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk, Darren membuka pintu rersebut dan seketika angin ber'aura kematian menyeruak dari dalam.


setelah merasakan aura tersebut entah kenapa rasa penasaran Darren meningkat tajam, padahal kalau orang lain yang yang mengalami hal tersebut sudah di pastikan orang itu langsung kehilangan kesadaran. Darren memasuki ruangan yang penuh aura kematian itu dengan tenang seolah memasuki kamar tidurnya sendiri.


setelah masuk, Darren melihat peti besar seukuran tubuh manusia bisa dikatakan itu adalah peti mati. namun Darren tidak terganggu akan hal itu, Darren mendekati peti mati tersebut dan berusaha membukanya namun nihil, peti tersebut tidak mau bergeser sedikitpun.


Darren melihat sebuah simbol terukir di atas peti yang sekilas mirip dengan tatto yang ada di pelipisnya. Darren menyentuh simbol tersebut dan tiba-tiba sebuah jarum besar nan tajam menusuk jari telunjuknya, seketika darah keluar denga deras menutupi jarum itu dengan seluruhnya.


Darren berusaha tetap tenang karena dia berpikir inilah cara untuk membukanya. darah yang keluar dari telunjuk Darren semakin deras seolah jarum tersebut memeras semua darah yang ada di tubuhnya. menit demi menit darah yang ada di dubuh Darren semakin menipis bahkan pandangan matanya semakin kabur


Darren tidak berusaha melepaskannya sampai dimana jarum yang menusuk telunjuk Darren tiba-tiba hilang seolah tidak pernah ada. darah Darren sudah hampir habis dan tubuhnya sangat lemas, dengan wajah pucat Darren hampir tumbang ke lantai namun kondisinya tetap sadar, nafas Darren sudah tidak teratur namun dia masih ingin berusaha membuka peti tersebut sekali lagi dengan tenaga yang tersisa.


dan ternyata benar. peti mati tersebut terbuka dengan ringan seolah kehilangan berat bebannya, dengan pandangan kabur Darren melihat sebuah mayat yang sudah menjadi tulang belulang dengan menggunakan jubah hitam serta memegang senjata sabit yang besar dan terlihat berat


Darren menyentuh sabit tersebut, seketika kondisi tubuhnya mulai membaik dengan cepat bahkan tenaganya kembali seperti semula. Darren berpikir mungkin memang seharusnya seperti itu.


Darren memeriksa kerangka manusia itu lebih jauh, selain kondisi pakaian dan sekitarnya utuh seperti tak tersentuh, tidak ada hal lain yang menarik namun Darren tidak sengaja membaca tulisan di balik tutup peti mati tersebut yang bertuliskan "SANG IBLIS KEMATIAN"


Darren menyentuh tulisan tersebut namun tanpa Darren sadari bola api yang ada di tangan kirinya meleleh seolah di tarik untuk jatuh ke dalam peti mati sehingga membakar kerangka manusia tersebut, Darren terkejut dan panik. dia mencoba mengendalikan api yang membakar isi peti mati seluruhnya itu namun nihil, api itu semakin kuat dan lepas kendali semakin lama warna api yang berkobar itu berubah menjadi biru kemudian merah dan sekarang menjadi warna hitam pekat sepenuhnya.


Darren begitu terkejut atas perubahan yang terjadi. kalau Darren tidak bisa mengendalikannya mungkin ada seseorang yang melakukannya, sedangkan Darren sangat yakin tidak ada orang lain lagi disini lebih tepatnya tidak ada yang mampu mengendalikannya.


tubuh Darren bergetar hebat melihat dampak dari kecerobohan yang dia lakukan, kalau apinya semakin membesar dan tidak bisa di kendalikan bisa-bisa menara ini akan terbakar hebat atau bahkan seluruh akademi terkena dampaknya.


Darren memutar otaknya mencari cara untuk memadamkan api tersebut. di saat Darren berpikir keras terlihat peti mati yang di selimuti api hitam itu bergetar di barengi munculnya sosok yang menyeramkan memandang ke arahnya.


Sosok yang di sebut Sang Iblis Kematian kini bangkit dan menatap Darren tanpa mata.