
Nia melesat jauh ke arah hutan. melewati permukiman dan perkebunan warga dan beberapa tempat lainnya. sudah ber jam-jam dia terbang melesat, bahkan hari sudah gelap.
entahlah, setelah tujuannya selesai dia bingung harus melakukan apa selanjutnya. jadi dia mencari ketenangan dulu di dalam hutan. setelah sampai, dia mendarat di atas pohon seraya memperhatikan sekitar. yang gelap gulita. tapi dia tidak mempermasalahkannya karena sekarang dia bisa melihat di dalam gelap. sepertinya hutan ini jarang di masuki manusia.
Nia duduk di atas pohon tersebut dengan tenang. sampai suasana hening menyelimuti sekitarnya. bahkan hanya terdengar suara serangga-serangga malam dari kejauhan. kemudian Nia memejamkan matanya untuk mengingat apa yang telah dia jalani semasa hidup. terakhir, dalam perjalan hidup tersebut dia hanya bertujuan untuk balas dendam pada keempat paman sialannya. dan sekarang tujuan itu sudah tercapai. Mata Nia yang sebelumnya berwarna hitam legam karena marah, kini sudah kembali ke warna semula, yaitu abu terang.
"guru Han sudah tiada. bahkan ayah pun sama. hmmmm" Nia berpikir dengan keras. jika tidak ada tujuan hidupnya akan terasa hampa seperti sekarang. dan seketika sebuah ide muncul di kepalanya.
"eh. apa aku cari tahu saja penyebab kematian ayah. hm sepertinya aku langsung menemukannya.. hehe"
Nia langsung teringat pada guru keempat orang sialan itu, yang telah meminjamkan racun pada mereka untuk membunuh Fernand.
"apa Sebastian mengetahui tentang ayah?" Nia berpikir dengan dalam. sampai dia teringat sesuatu.
"eh bodoh bodoh bodoh..
aku lupa menanyakan pada Sebastian perihal harta ayah yang di wariskan padaku. kenapa aku menjadi seperti nenek-nenek pikun yang selalu melupakan sesuatu" gerutu Nia yang merutuki kebodohannya.
"tunggu, waktu itu dia bilang akan membawaku ke suatu tempat setelah urusannya selesai. tapi aku akan mengurus kakek tua itu dulu."
gumamnya.
"baiklah aku akan ke akademi besok"
ucap Nia seraya menyandarkan tubuhnya pada Batang pohon. lalu memejamkan matanya perlahan. ini pertama kalinya dia tidur di atas pohon di malam yang gelap, setelah dia meninggalkan mansion mewahnya.
naluri hidup liar mulai tumbuh di dalam dirinya.
tidak lupa dia juga meningkatkan kewaspadaan untuk berjaga-jaga jiga ada sesuatu yang aneh.
"uhuk uhuk" dalam ketenangan tidurnya. Nia terkejut lalu terbangun mendengar suara seorang yang sedang terbatuk dari kejauhan. walaupun suaranya sangat tidak jelas. tapi dia tahu pasti ada seseorang di beberapa ratus meter di arah sebelah kanan. Nia langsung melepaskan penglihatan Elangnya untuk mencari sosok tersebut.
dan dia melihat ada seseorang yang berbaring di semak belukar. Nia menjadi lebih penasaran, kenapa ada orang yang berbaring di dalam semak-semak seperti itu. Nia pun akhirnya turun dari pohon dan melesat untuk mendekati ke arah sosok misterius itu. semakin mendekat Nia semakin merasakan ada aura seorang penyihir elemen air. Nia mencoba menyibak semak yang tinggi itu untuk melihatnya dengan jelas.
setelah menyibak rumput tersebut dia melihat seorang gadis yang memakai gaun ketat dan jubah berwarna biru muda. wajahnya begitu pucat dan suhu tubuhnya juga sangat dingin. jika dilihat-lihat, sepertinya mereka seumuran.
"kenapa dia?" Nia memeriksa semua bagian tubuh gadis tersebut. untuk mencari penyebab keadaannya seperti sekarang. Nia melihat kaki gadis itu yang membiru dan dia terkejut melihat ada bekas gigitan ular.
"apa dia di gigit ular?" gumamnya.
"bagaimana ini? aku tidak tahu cara mengobati seseorang" seru Nia dengan panik.
"ahh" pekik gadis tersebut dengan kesakitan.
"ah. apa kau tidak apa-apa?" Nia bertanya dengan nada khawatir.
"bodoh. sudah tau dia di gigit ular. masih bertanya apa dia tidak apa-apa" batin Nia. seraya merutuki pertanyaannya.
"ahh,,, aiirr" lirih gadis rersebut. sepertinya gadis itu masih setengah sadar.
"air? apa kau ingin air? aku akan mencarikan dan membawakan yang banyak untukmu" ucap Nia yang langsung melesat mencari keberadaan sumber air.
di atas langit yang gelap, Nia terbang melesat seraya melepaskan mata Elangnya untuk mencari sumber air terdekat. setelah beberapa saat, dia menemukan sebuah sumur yang tidak jauh dari permukiman warga. kemudian Nia mendarat lalu mendekati sumur tersebut. dia menyipitkan matanya ke arah sumur itu, karena di sekitar sumur tersebut ada beberapa ember dan baskom. bahkan ada timba air di atas lubang sumurnya. mungkin sumur itu milik pribadi warga sekitar?
itu Bagus untuknya, karena dia tidak perlu repot-repot mencari wadah untuk menampung air yang akn dia bawa. Nia melihat timba air itu dengan menyelidik, walaupun dia tidak pernah menimba selama hidupnya tapi dia tahu cara melakukannya.
kemudian Nia mengambil air dari dalam sumur menggunakan timba air tersebut, lalu menuangkannya pada sebuah ember agar mudah untuk di bawa. setelah ember itu penuh, Nia langsung membawanya terbang dengan pelan. karena jika dia melesat dengan kekuatannya bisa-bisa air itu habis di tengah jalan.
agak lama dia terbang dengan pelan, seraya mempertahankan keseimbangannya. ternyata jarak sebenarnya cukup jauh jika dia tidak melesat dengan kekuatan penuh.
setelah beberapa lama, akhirnya dia sampai ke tempat gadis itu berada. Nia meletakan ember penuh air tersebut di tempat yang agak nyaman dan tidak ada semak-semak yang mengganggu. kemudian dia memapah tubuh gadis itu ke tempat dimana dia menyimpan embernya. Nia mendudukkan gadis tersebut di dekat ember dan berusaha untuk berbicara dengan gadis itu.
"emm. aku sudah membawa air" ucap Nia
gadis itu perlahan membuka mata sayu dengan wajah yang semakin memucat. dia melihat air di dalam ember yang Nia bawa walaupun hanya melihatnya dengan samar karena gelap, namun dia dapat merasakan kalau itu adalah air. kemudian dengan keadaan yang lemah, sang gadis berusaha mengangkat kaki yang terkena gigitan ular itu untuk merendamnya ke dalam air. Nia yang melihat itu langsung membantu gadis tersebut mengangkat kakinya untuk di rendam ke dalam air. setelahnya gadis itu membaringkan diri dengan kaki masih terendam. dan matanya mulai terpejam kembali, sepertinya gadis itu lega karena lukanya telah terobati.
Nia cukup heran dengan keadaan gadis di depannya ini. bagaimana dia ada disini , dengan keadaan yang seperti ini? setelah beberapa lama gadis itu masih belum menggerakkan tubuhnya.
"ah. mungkin dia tertidur" gumam Nia
"hmm. apa mungkin lukanya bisa sembuh jika di rendam seperti ini?" tambahnya seraya melihat kaki gadis tersebut yang di rendam.
Nia bisa melihat dengan jelas walaupun dalam gelap, dia seperti melihat di bawah sinar bulan dengan matanya.
Nia melihat kaki gadis tersebut sudah berangsur-angsur membaik, entah mengapa dia merasa lega akan hal itu. padahal sebelumnya dia belum pernah menolong orang lain seperti ini.
"aku juga istirahat saja lah" ucapnya, seraya membaringkan tubuh di dekat gadis itu, dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman.
"Good Night" gumamnya, lalu langsung tertidur.
keesokan harinya. matahari sudah mulai muncul dari tempatnya dan membangunkan burung-burung di dalam hutan, kicauan burung yang bervariasi membuat suasana menjadi sangat alami. embun yang membasahi daun-daun di seluruh hutan itu membuat udara semakin bersih dan menyehatkan.
"kemana dia?" gumamnya.
setelah terbangun. Nia langsung meregangkan otot-ototnya, karena dia baru pertama kali tidur di atas tanah, jadi sangat sulit untuk tubuhnya beradaptasi.
Nia masih berada di tempatnya dan masih ingin bersantai sebentar lagi, sebelum dia pergi ke akademi.
"huuaaammmm" di tengah Nia menguap. dia di kejutkan oleh gadis semalam yang dia tolong. gadis itu berlari dengan cepat ke arahnya seraya membawa sebuah ember.
"haahh..haah.. kau sudah bangun?" gadis itu bertanya seraya menghirup udara dengan rakus.
Nia berdehem mendengar pertanyaan itu "hmm. apa lukamu sudah sembuh?" Nia bertanya seraya melihat kaki gadis tersebut, namun dia tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh gaun yang di kenakan gadis itu. tapi mungkin memang sudah sembuh, melihat gadis tersebut bisa berlari secepat itu.
"kakiku sudah sembuh. em,, sebelumnya terima kasih karena sudah menolongku semalam" gadis tersebut menjawab dan mengucapakan rasa terima kasihnya.
"yaa, sama-sama" Nia menjawab dengan acuh tak acuh.
"ah, kau pasti lapar. aku membawakan ini untukmu" ucap nya dengan tersenyum seraya menyodorkan buah-buahan seember penuh.
"banyak sekali" ucap Nia dengan kebingungan. tidak mungkin dia menghabiskan semua ini bukan.
"ini tidak sebanding dengan pertolonganmu semalam" ucap gadis tersebut.
"tidak apa. aku tidak mengharapkan balasan apapun darimu" Nia menjawab dengan perasaan canggung.
gadis itu hanya tersenyum mendengar jawaban Nia yang mengharukan untuknya.
"oh ya. namaku Ayura Marie Smith" ucapnya lalu mengulurkan tangan, untuk berkenalan dengannya.
(Nah, jadi mulai sekarang. kita panggil saja gadis tersebut dengan namanya)
Nia yang melihat itu langsung menjabat tangan Ayura dengan senyum yang hangat.
"akuu. Nadarrenia Fern Rodriguez" ucapnya.
"jadi nona Nia, panggil aku Yura saja. karena semua orang memanggilku seperti itu" ucapnya.
"ah, baiklah. tapi jangan memanggilku Nia" jawabnya.
"lalu, apa aku harus memanggilmu dengan nama depan yang panjang itu?" Yura bertanya dengan heran
"bukan. panggil saja aku Darren" ucapnya.
"Darren? tapi itu nama untuk laki-laki"
"ya. karena semua orang memanggilku seperti itu" jawabnya. bukan karena apa, dia hanya ingin mencoba hal yang baru.
(nah. mulai sekarang, kita rubah panggilan Nia menjadi Darren)
"hm. Darren dari mana asalmu" Yura bertanya dengan menyelidik.
"aku dari desa sekitar sini" Darren berkata bohong.
"apakah tujuanmu ke akademi sihir elemen?" tanya Yura
"eh. kenapa dia bisa tahu apa tujuanku"
"ya" Darren menjawab dengan singkat
"kenapa kau baru memulainya sekarang?" Yura bertanya dengan heran.
"maksudmu?" Nia menjawab dengan sama herannya.
"memulai apa? apa yang dia maksud" batinnya.
"mengembangkan bakat sihirmu. karena aku bisa merasakan auranya kalau kekuatan sihirmu belum tumbuh di usiamu sekarang. kenapa kau tidak mengembangkannya sejak dulu? apa orang tuamu tidak memberi tahumu? tunggu, apa kau darah tunas?" tanya Yura
"HAH? apa-apaan. bukannya kekuatan sihirku sudah mencapai level Black Fire. kenapa dia tidak bisa merasakannya? dan hanya merasakan aura kekuatan sihirku yang belum tumbuh. apa itu sebabnya Shawn hanya melewatiku waktu itu, karena dia merasakan kekuatan sihir belum tumbuh dari diriku? kenapa aura kekuatanku bisa di sembunyikan seperti ini? bahkan seorang penatua yang terkuatpun tidak akan bisa melakukan hal ini. ini sangat mustahil bukan**?" batin Darren dengan sangat keheranan.
"ah itu. iya aku baru sempat mengembangkanya sekarang. tetapi aku bukan darah tunas" Darren menjawab dengan ragu.
"kenapa seperti itu" Yura bertanya dengan menyelidik.
"ceritanya panjang" Darren menjawab dengan berbohong karena dia malas mengarang cerita.
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya ❤❤