The Highest

The Highest
Kehidupan



sosok yang Darren lihat adalah kerangka manusia yang bersemayam dalam peti mati yang kini hidup dengan tengkorak menoleh ke arah nya. sontak Darren menjadi terkejut dan begitu banyak pertanyaan di benaknya. aura kehidupan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kerangka manusia tersebut kini menyeruak keluar dengan hebat.


manusia kerangka tersebut memperhatikan Darren dalam diam seolah siap melakukan apapun secara tiba-tiba. tubuh Darren bergetar hebat mengingat itu adalah Sang Iblis Kematian yang bisa di sebut malaikat pencabut nyawa.


"apa ini adalah hari kematianku?" Darren memejamkan matanya seolah dia sudah menerima apapun nasib yang akan menimpanya.


...JLLLEEEEBBB...


Iblis Kematian tiba-tiba melemparkan sesuatu ke arah Darren, tanpa bisa Darren hindari senjata sabit yang dimiliki sang Iblis menembus jantung Darren dengan telak.


**


..DEGG..


"kenapa aura kehidupannya menghilang? apa dia sudah...." Sebastian mengusap dadanya dan menggelangkan kepalanya kuat.


Sebastian masih belum percaya bahwa aura kehidupan Darren yang selalu dia rasakan tiba-tiba menghilang. Sebastian mengepalkan tangannya berniat untuk keluar dari dimensi agar mengetahui keadaan gadis pemilik hatinya.


Namun seekor gagak bermata merah menghampirinya dan seolah memberikan informasi penting melalui sorot matanya, kini sebastian menjadi ragu dengan niatnya keluar dari dimensi untuk memastikan keadaan Darren setelah melihat sorot mata gagak tersebut.


mata berwarna emas yang dimiliki Sebastian menjadi redup diiringi jatuhnya buliran bening yang mengenai pipinya. dari informasi yang di dapatkan gagak tersebut Darren memang sudah tiada namun gagak bermata merah itu menyarankan Sebastian untuk tidak mencari tahu lebih jauh lagi tentang nasib dari gadis pujaannya.


hati Sebastian semakin diselimuti rasa marah dan bersalah bagaimanapun caranya dia akan mencari lebih jauh tentang Darren tanpa sepengetahuan siapapun termasuk gagak bermata merah tersebut.


Sebastian mengeluarkan sayap indahnya lalu terbang dengan kecepatan tinggi dan entah kemana arah tujuannya, sementara gagak bermata merah yang menyampaikan informasi tidak menyusul Sebastian melainkan hinggap di pohon berdaun hitam dengan gelisah.


sebab gagak bermata merah itu tahu kalau tuannya Darren sudah tiada namun jiwanya di gantikan oleh jiwa seseorang yang menurutnya jiwa terkutuk.


**


Jasson mengangguk pelan mendengar alasan Yura tentang kedatangan anggota Sekte Tanah Abadi yang menjemputnya. "sampaikan salamku pada ayahmu"


"aku mungkin tidak akan kembali lagi. mohon Guru menyampaikan pesanku padanya" Yura memberi hormat pada Jasson dan langsung pergi dari ruangannya.


Yura memang di jemput oleh anggota Sekte Tanah Abadi untuk pulang dikarenakan ayahnya sedang sakit parah, di situasi seperti itu memang sangat mungkin kalau Yura akan di angkat menjadi ketua Sekte setelah Ayahnya meninggal.


Yura memang bukan salah seorang yang memiliki kemampuan tinggi. namun identitasnya sebagai seorang penyihir membuat semua anggota Sekte Tanah Abadi menghormatinya. mengingat dalam sebuah Sekte adalah perkumpulan orang-orang ahli ilmu beladiri yang tinggi atau sebagai alkemist.


Jasson melihat kepergian Yura dengan para anggota Sekte Tanah Abadi. dia tidak menduga gadis itu akan menjadi ketua sekte besar terlepas dari usianya yang begitu muda.


"Jass. dimana muridmu yang selalu bersamanya" Seorang nenek tua menepuk pundak Jasson dengan lembut.


"dia sedang menjalankan tugas dariku" Jasson batuk pelan sebelum berbalik untuk meninggalkan tempatnya, namun Martha menarik jubah Jasson dengan mudah dan memaksa Jasson untuk tetap tinggal.


Martha mendengus dengan jari menempel di kening Jasson "kau pikir kau bisa membohongi ibumu" Cletak! sentilan keras di dahi Jasson membuat pria paruh baya itu mengerang.


"ibuuu!!" Jasson mengusap keningnya seraya menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang merajuk. walaupun Jasson adalah salah satu guru Akademi yang di segani karena memiliki paling banyak murid dari pada guru yang lainnya namun di hadapan Martha dia tetaplah anak kecil.


"katakan saja. apa kau tidak percaya pada ibumu?" Martha mulai ingin menyentil dahi Jasson lagi.


"iya iya akan kuceritakan. sebenarnya... " Jasson mulai menceritakan apa yang dia tahu tentang Darren yang sebenarnya adalah murid Guru Han yang terkenal sangat tertutup dan kekuatan Darren yang di sembunyikan lalu memberi tahu bahwa Darren sedang melakukan latihan tertutup di menara peninggalan gurunya.


Jasson memberi tahu semua tentang Darren pada ibunya karena beliau hidup di generasi yang sama dengan guru Han. bisa di bilang di masa muda mereka tumbuh bersama sampai dititik mereka berdua disibukkan dengan tugas dan misi yang harus mereka jalani.


Martha mengangguk pelan dengan wajah yang datar "sudah kuduga, aku memang tidak tahu bagaimana paras dari murid Han tua yang terakhir, namun aku bisa merasakannya dengan hanya melihat gadis itu"


"entahlah tapi perasaanku tentangnya tidak baik" Martha memijat keningnya


Jasson kebingungan dengan situasi sekarang, dia tidak menduga ibunya bisa sepemikiran dengannya.


"sebaiknya kau temui gadis itu Jass" Martha menatap Jasson dengan tatapan yang tidak bisa di baca namun Jasson tetap menuritinya.


Jasson langsung pergi ke menara Guru Han untuk menemui Darren sekaligus menyampaikan pesan dari Yura padanya. baru satu hari muridnya melakukan latihan tertutup sudah di kunjungi olehnya memang serasa begitu aneh, namun Jasson terus memantapkan langkahnya.


setelah sampai di depan pintu Jasson merasakan ada yang janggal dengan tempat itu, setelah beberapa saat Jasson baru menyadari aura kematian yang selalu menyelimuti menara tersebut kini hilang tanpa jejak.


Jasson segera membuka pintu menara dengan segel khusus tersebut, Jasson membuka pintu itu dengan perlahan sampai akhirnya dia sudah masuk dan berada di dalam menara yang sudah lama tidak dia kunjungi. sorot mata Jasson menyapu ruangan dengan teliti namun dia tidak menemukan Darren dalam ruangan itu.


perhatian Jasson teralihkan dengan karpet emas yang selalu terpasang rapi di tengah ruangan kini menggulung di tepi lubang yang memiliki anak tangga. Jasson menghampiri anak tangga yang menuntunnya ke bawah tersebut dan berpikir mungkin Darren memasukinya.


perlahan Jasson menuruni anak tangga tersebut dengan mengeluarkan bola air yang bisa mengeluarkan cahaya.


**


"aku pusing" Jasson memengang kepalanya seraya mengerjapkan mata birunya setelah menuruni tangga yang memutar tajam dan jarak dari ruangan atas ke bawah begitu jauh, ini baru pertama kalinya dia seperti ini.


Jasson sudah sampai di ujung tangga memusingkan tersebut dan menemukan sebuah pintu dari kayu yang sudah lapuk di makan usia, pintu tersebut sedikit terbuka jadi Jasson memasukinya untuk mencari Darren.


**


Darren membuka matanya perlahan, matanya seketika melebar karena dia mendapati sebuah sabit yang tertancap di dadanya. perasaannya campur aduk namun satu hal yang dia lewati, tidak ada rasa sakit yang semestinya dia rasakan.


"apa aku sudah mati?"


Darren dan sang Iblis menatap satu sama lain cukup lama, Darren masih bingung dengan apa yang terjadi sedangkan sang Iblis masih menatap dirinya dalam diam.


Darren berusaha melepaskan sabit yang menancap di dadanya namun semakin di tarik sabit tersebut semakin menusuk jantung Darren. dengan cepat sabit tersebut memasuki tubuhnya seolah tersedot oleh sesuatu. sang Iblis yang menatap Darren dalam diam tiba-tiba melesat ke hadapan Darren dan merangsek masuk juga ke dalam tubuhnya.


Darren tidak bisa menekan aura kehidupan yang masuk ke dalam tubuhnya dari sang Iblis Kematian karena kekuatan Iblis tersebut begitu hebat dan di luar nalar manusia. Darren tidak bisa melakukan apapun apalagi melakukan perlawanan.


Darren merasakan tubuhnya menjadi


hangat dan merasakan ada kehidupan lain di dalam dirinya namun dia tidak mempermasalahkannya selama kehidupan tersebut tidak merugikan dirinya.


Darren bangkit lalu mengelilingi peti mati tempat Sang Iblis Kematian bersemayam untuk menelitinya lebih jauh namun dia tidak menemukan apapun selain peti mati tersebut sudah hangus terbakar


"apakan ini ilusi? atau diriku memang sudah mati?"


peti mati yang sebelumnya menjadi tempat bersemayam Sang Iblis Kematian sekarang berubah menjadi tumpukan bara api.


Darren mengambil bara api dari sisa peti mati yang masih panas untuk di genggamnya dengan kuat. "jika di pikir lagi, tubuhku menjadi sesuatu yang menggantikannya." Darren tersenyum canggung memikirkan dirinya seperti peti mati yang menjadi tempat persemayaman sang Iblis yang baru.


"Darren!" suara yang menggelegar di dalam ruangan mengejutkan Darren, suara itu berhasil membuat Darren meoleh dengan cepat.


Darren menjadi salah tingkah ketika melihat Jasson menatap tangannya yang sedang menggenggam arang panas. Darren buru-buru melemparkan arang tersebut pada tempatnya dan berpura-pura tidak melakukan hal yang aneh.


"guru. kenapa kau ada di sini?" Darren mengalihkan suasana agar tidak terlalu suram.


**


"Aku akan mengunjunginya setelah selesai disini."


Jasson menyampaikan pesan dari Yura dan memberikan Darren lencana yang di buat dari pasir, sekilas lencana tersebut terlihat begitu rapuh dan akan hancur menjadi butiran kecil jika tertiup angin namun nyatanya mata Darren membohonginya.


Lencana tersebut begitu unik dan yang pasti sangat susah dibuat. Lencana yang di berikan Yura padanya merupakan lencana untuk tamu penting yang di undang Sekte dan berfungsi untuk memasuki Sekte Tanah Abadi dengan mudah.


Jasson menyampaikan bahwa Darren harus pergi mengunjungi Yura kalau urusannya sudah selesai karena Yura menyampaikan bahwa mungkin dia akan menjadi ketua Sekte Tanah Abadi dan ingin melihat Darren mengunjunginya.


Darren tersenyum senang menanggapi pesan tersebut. Darren perpikir ini alasan yang bagus untuk menelusuri dunia ini lebih jauh namun dia harus segera membuat alasan agar kepergiannya menuju Sekte Tanah Abadi tidak membuat Jasson merasa cemas.


**


"entahlah ibu, aku merasa dia sangat berbeda padahal belum dua hari dia melakukan latihan tertutup." Jasson menghela nafas dari waktu ke waktu ketika menceritakan pertemuannya dengan Darren pada Martha.


Di sisi lain Martha tidak menanggapi perkataan Jasson dengan serius. namun satu hal yang membuat alisnya terangkat.


"aku melihat warna matanya berubah menjadi perak seiring perasaannya menjadi antusias atau merasa senang. walaupun tempat itu gelap dan pengap tapi aku bisa melihatnya dengan jelas"


"omong kosong apa yang kau katakan? tidak ada hal yang seperti itu di dunia ini" Martha tidak mempercayai perkataan Jasson namun perasaannya campur aduk.


**


Darren merautkan alisnya dari waktu ke waktu. setelah kepergian Jasson yang meninggalkannya sendirian di ruang belajarnya, sang Iblis langsung keluar dari dalam tubuh Darren yang kini sedang duduk di hadapannya tanpa melakukan apapun selain menatap Darren seharian ini.


Darren membuka mulutnya berusaha mengatakan sesuatu namun selalu tersangkut di tenggorokannya. Darren berpikir mungkin sang Iblis tidak bisa berbicara karena tidak memiki bibir atau lidah untuk berbicara mengingat tubuhnya saja hanya tinggal tulang tanpa secuilpun daging.


Darren memutar otaknya untuk lepas dari pandangan sang Iblis tersebut namun nihil, Iblis berjubah hitam pekat itu selalu memperhatikannya dalam diam hingga akhirnya Darren memutuskan untuk mengabaikannya.


Sebanarnya Darren ingin sekali memasuki dimensinya namun gagal, berapa kalipun Darren mencoba hasilnya tetap sama. Darren khawatir tidak bisa memasukinya lagi karena semua barang berharganya ada di sana.


terlepas dari kekhawatirannya Darren mulai melatih kekuatan sihir dan fisiknya. Darren berlatih di atas atap menara yang memang khusus untuk berlatih.


Darren berlatih menggunakan senjata dengan belajar melemparkan pisau tepat ke arah sasaran. Darren menggunakan lima buah pisau berkualitas Surgawi yang di temukannya di ruangan Guru Han, pisau itu adalah The Black Flowers atau Pisau Bunga Hitam, Darren tidak mengetahui keistimewaan pisau tersebut sehingga memiliki nama di tempat penyimpanannya.


Namun satu hal yang membuat Darren tertarik dengan pisau itu adalah Darren bisa menarik kembali Pisau Bunga Hitam ke tangannya setelah di lemparkan cukup bahkan sangat jauh, hanya saja Darren harus berlatih melempar pisau tepat sasaran.


Walaupun Darren sudah terbiasa dengan membunuh namun dia belum bisa menggunakan senjata dengan benar, selama ini Darren hanya mengandalkan kekuatan sihir apinya untuk mengalahkan lawan.


Semua senjata memang bisa di ukur dari kualitasnya sama seperti tingkat kekuatan di dalam Level Sihir. dimana kualitas rendah sama seperti perkakas pada umumnya yang hanya bisa memotong bawang atau rempah-rempah untuk memasak sedangkan senjata dengan kualitas Surgawi bisa memotong batu sekeras apapun jika kekuatan sang pemilik mendukung.


Semakin tinggi Level Sihir yang di capai akan semakin hebat kekuatan yang di lepaskan oleh senjata tersebut begitupun sebaliknya, semakin rendah Level Sihir maka senjata berkualitas Surgawipun tidak ada apa-apanya.


Selain melatih kekuatan Sihir dan fisiknya, Darren juga mulai membiasakan membaca buku yang ada di ruangan tengah menara tersebut. Darren mulai tertarik membaca semua buku yang ada di rak yang sebelumnya tidak pernah dia sentuh ketika dia membaca sebuah buku yang berisikan informasi tentang Dunia Sihir ini.


Darren mulai membaca satu per satu buku tersebut tanpa menghiraukan sosok Iblis Kematian yang tanpa lelah memperhatikannya dalam diam bahkan ketika Darren sedang tidur sekalipun.


Karena setiap hari Sang Iblis Kematian memang selalu memperhatikan Darren bahkan ketika dirinya sedang mandi, kini Darren sudah terbiasa dengan kehadiran Malaikat Pencabut Nyawa itu.


Darren tidak tahu ini hal yang baik atau buruk yang pastinya jika sang Iblis ingin mencabut nyawanya pasti dia sudah melakukannya.


atau mungkin sudah?..


Kritik dan Saran.


Author sangat menghargainya 😘😘