
Darren langsung kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. lalu dia masuk ke dalam dimensi untuk mencari Sebastian. setelah masuk dia melihat Sebastian yang sedang bermain-main di udara dengan seekor burung Gagak hitam yang seukuran tubuhnya. Darren sangat takjub melihat Gagak yang gagah itu.
beberapa saat Darren melihat hal yang menakjubkan di depan matanya. dia baru pertama kali melihat Gagak yang seluruh tubuhnya di selimuti api hitam yang berkobar-kobar. itu berarti burung Gagak ini bukan suatu bal yang biasa.
"apa urusanmu sudah selesai?" Sebastian bertanya seraya menginjakkan kakinya ke atas tanah.
"ada yang ingin ku bicarakan denganmu" ucap Darren lalu mengelus Gagak api itu. tentu saja Darren kebal terhadap api.
"katakan"
"apa kau tahu siapa yang menyembunyikan kekuatanku?"
"tentu saja."
"siapa dia?" selidiknya
"aku" Sebastian menjawab dengan bangganya.
"aku yang melakukannya. kau tidak perlu protes karena kau juga merasakan manfaatnya bukan?" ejeknya.
Darren mendengus mendengar jawaban dari Sebastian.
"lalu dimana harta ayahku?" Darren bertanya dengan nada sinis.
"kenapa kau baru bertanya?" Sebastian menjawab dengan sama sinisnya.
"aku baru ingat!!" ucap Darren denan agak berteriak.
Sebastian mendengus pasrah mendengar teriakan Darren yang memekikan telinga itu.
"gadis ini. jangan berteriak, aku masih bisa mendengar"
"hmm" Darren menjawabnya dengan deheman yang membuat Sebastian heran dengan sikapnya.
"apa kau belum sadar. harta ayahmu dimana?" tanyanya.
"kalau aku tahu, aku tidak akan menanyakannya padamu!!" cibirnya.
"hmm. harta ayahmu itu hal pertama kali yang kau lihat waktu baru masuk ke dalam dimensi ini." jelasnya.
Darren tersentak dengan jawaban Sebastian. hal yang pertama kali dia lihat waktu masuk ke dalam dimensi itu adalah pohon.
"tidak mungkin. bagaimana mungkin harta ayahku hanya sebuah pohon"
"lihat ini" Sebastian mengambil daun pohon itu yang berukuran kecil, bahkan lebih kecil dari kuku di jarinya. kemudian dia menggenggamnya dan seketika keluar beberapa tumpuk uang dari tangannya. "kau bisa merubahnya seperti apa yang kau mau"
tentu Darren terkejut sekaligus senang.
"aaah. ini menakjubkan" Darren tersenyum riang melihat daun pohon itu yang berubah seperti apa yang di pikirkan Sebastian. dia semakin bingung dengan sikap gadisnya ini, kadang galak, dan menyebalkan lalu kemudian menjadi periang seperti ini.
"berarti aku juga bisa melakunnya bukan?" Darren bertanya dengan antusias.
"tentu" dan Darren langsung mengambil daun pohon itu dan merubahnya menjadi sebuah cincin yang bermodel simple namun elegant. dia tersenyum dengan keberhasilannya.
"biar aku pakaikan" Sebastian langsung mengambil cincin yang ada di tangan gadisnya itu. lalu memasangkannya pada jari manis Darren. "kau bisa mengambil daun pohon ini tanpa harus masuk kedalam dimensi." tambahnya.
"benarkah?" tanya Darren
"ya. kau hanya perlu memikirkannya, daun itu akan langsung muncul di tanganmu. dan kau bisa merubahnya menjadi apapun yang kau mau. tapi banya sekedar harta-harta saja tidak termasuk senjata atau hal yang berhubungan dengan kekuatan." jelasnya
"ooh. jadi hanya seputar uang atau perhiasan, seperti itu?"
"yaaa" jawabnya.
Darren langsung keluar dari dimensi.
"Hei bilang terima kasih dulu, bukan langsung pergi begitu saja, haaah.gadis itu" Sebastian berteriak namun tentu itu tidak terdengar oleh Darren yang sudah keluar dari dalam dimensi.
**
Darren sedang berjalan-jalan menyusuri hutan di sekitar akademi bersama Yura. sudah beberapa bulan sejak dia menjadi murid baru di akademi elemen sihir,
dia di ijinkan Jasson untuk keluar karena memang tidak ada peraturan yang terlalu ketat ketika di siang hari. hanya satu peraturan yang harus mereka ingat yaitu tidak kembali setelah hari sudah gelap, kalau tidak merek akan di beri hukuman berupa penjelasan panjang lebar yang membosankan.
Jason juga tidak telalu fokus mengajari Darren seperti hal nya guru Han. karena dia juga memiliki murid-murid yang lain di akademi ini. Darren juga sudah melakukan terobosan ketingkat menengah dalam level Black Fire. tapi tentu hanya dia yang tahu.
selama ini Yura selalu menemaninya ke luar akademi atau kemana saja yang dia mau. dia juga selalu khawatir akan hal yang mengenai Darren. pasalnya, Yura belum melihat kekuatan sihir Darren berkembang. dan itu membuatnya cemas atas keadaannya sekarang.
tentu Darren selalu menghibur Yura karena selalu mengkhawatirkannya walaupun hal yang sewajarnya adalah sebaliknya.
"Darren ayo kita kesana" Yura menunjuk sebuah pulau dengan antusias. kini mereka sudah berada di bibir pantai dan mereka melihat sebuah pulau di sebrang yang jauh disana.
itu pulau yang luas dan ramai akan penduduk dilihat dari bangunan-bangunan yang padat di atas pulaunya.
"apa kita bisa kesana? sepertinya itu jauh" Darren mengingat kejadian dimana dia di jatuhkan ke tengah danau oleh Sebastian. itu membuatnya agak muak.
"hehe. lihat ini" Yura mengucapkan mantra ke arah laut yang membentang di hadapan mereka.
seketika ada sesuatu yang bergemuruh di tengah ketenangan air laut. dan kemudian suara itu langsung melaju ke arah bibir pantai dimana mereka berada. bentuknya tidak terlihat sama sekali ketika di dalam air. namun setelah keluar, Darren benar-benar di buat terkejut dengan pemandangan di hapannya.
"Naga Air" tubuh Nia melonjak karena terkejut, ini baru pertama kali Nia melihat air yang menyerupai bentuk Naga. membuat sesuatu seperti itu adalah hal yang sangat sulit di lakukan.
"hehe. aku berhasil membuatnya" Yura mengembangkan senyumnya ke arah naga air itu. lalu mengajak Darren menaikinya "ayo naik. tapi pakaianmu akan sedikit basah"
Darren menggaruk pipinya, pasalnya bukan pakaiannya yang akan sedikit basah melainkan seluruh tubuhnya memang akan basah kuyup karena menaiki Naga yang terbuat dari air itu.
Darren langsung menaiki Naga Air lalu memposisikan tubuhnya yang duduk di belakang Yura. setelah mereka sampai di pulau tersebut, mereka langsung mengeringkan pakaian yang basah kuyup. nyatanya di tengah perjalan mereka terciprat-ciprat oleh tubuh Naga yang terbuat dari air itu.
"sedikit basah" Darren memeras ujung bajunya dengan kuat.
"hehe. tapi itu menyenangkan bukan?" Yura menjawab dengan kekehan.
"yaa" Darren tersenyum ke arah Yura, menandakan dia juga menikmatinya ada sensasi yang berbeda ketika dia menaikinya dan itu membuat hatinya senang.
"baiklah ayo kita lihat kota kecil ini" Yura langsung menyambar tangan Darren dan menariknya masuk ke dalam kota. kota itu sangat ramai, banyak orang berlalu lalang kesana kemari. banyak juga orang yang berjualan.
"pasar?" gumam Darren, dia merasakan aura ketiga elemen yaitu air, bumi dan angin yang kuat disini. tanpa merasakan aura penyihir elemen api.
"tentu saja. apa yang ingin kau beli? aku akan mentraktirmu" tawarnya.
"tidak perlu. aku tidak menginginkan apapun" Darren menolak karena dia memang tidak menginginkan apapun di sini.
"benarkah?" selidiknya.
Darren mengangguk, untuk membenarkan perkataannya.
"baiklah, ayo kita mampir ke rumah makan khas kota ini" mereka langsung menuju rumah makan yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Yura, apa kau lapar?"
"tentu, aku juga ingin menemui seseorang disini" jawabnya.
"seseorang?" batin Darren. kalau Yura kenal dengan seseorang disini, berarti dia pernah kesini.
mereka masuk ke dalam Rumah makan yang memilki bangunan paling mencolok di sekitar sini. Yura memanggil pelayan dan meminta ruangan VIP.
"Yura. apa kau punya uang cukup untuk menyewa ruang VIP?" bisik Darren. sebagai murid akademi yang di haruskan untuk belajar Darren tidak yakin temannya ini memiliki banyak uang sedangkan Darren tidak tahu mata uang di dunia penyihir ini.
Yura mengeluarkan kantong kain yang khas seperti benda penyimpanan uang pada jaman dulu. "tenang saja. aku adalah keturunan ketua sekte besar. jadi aku tidak kekurangan uang seperti yang kau bayangkan" Yura tersenyum lembut seraya mengeluarkan beberapa koin emas, perak dan perunggu lalu menunjukkan pada Darren.
Darren larut dalam pikirannya. bukan sebab mata uang di dunia penyihir, melainkan pernyataan Yura tentang dirinya adalah keturunan ketua sekte besar. selain akademi, Darren belum mengetahui tentang dunia penyihir seluruhnya. Darren ingin menanyakan dan mengetahui tentang semua itu pada Yura namun ini bukan saatnya jadi mengurungkan niatnya.
pelayan itu mengantarkan mereka sampai di depan pintu ruangan VIP
"bawakan aku hidangan terbaik disini" pesan Yura seraya menarik tubuh Darren untuk memasuki ruangan.
"Darren, kau tunggu disini. aku akan menemui seseorang, sebentar saja." pintanya.
"pergilah" Darren menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai.
"kalau kau sudah lapar, makan saja terlebih dahulu." Yura langsung pergi meninggalkan Darren di ruangan yang sunyi dan sepi itu.
setelah beberapa saat. pintu ruangan di ketuk dari luar, ternyata itu adalah pelayan dan rekannya yang membawakan makanan, lalu menyimpannya di atas meja.
"banyak sekali"
setelah melakukan tugasnya merekapun pergi, Darren yang perutnya masih belum lapar memutuskan menunggu Yura untuk makan bersama.
di tempat lain. Yura sedang menyusuri pasar desa yang ramai, dia menemui seseorang pria yang dia cari disini.
"hei. kau kemari?" pria itu bertanya dengan antusias.
"ya. aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang" tanpa menyapa atau basa basi Yura langsung menarik tangan pria tersebut.
"hei, pelan-pelan. memang siapa yang ingin kau kenalkan padaku?" pria tersebut menggerutu
"diamlah Erick. kau pasti menyukainya" jawabnya seraya terus menarik tangan pria yang bernama Erick itu.
Erick mendengus "memang apa yang dia lakukan, sampai aku bisa menyukainya"
Yura menghentikan langkahnya lalu dia langsung menatap Erick dengan lekat "dia orang yang telah menyelamatkanku dari kematian"
"kematian?" Erick melepaskan tangan yang di pegang oleh Yura.
"benar. dia menyelamatkanku waktu aku sedang sekarat karena di gigit ular" ucapnya dengan lirih.
"kenapa kau bisa sekarat karena di gigit ular? apa kau ke dunia luar lagi?" Erick mengguncang bahu Yura meminta penjelasan lebih darinya.
"yaa" Yura menjawab dengan bibir bergetar, mengingat peristiwa dimana dia sedang sekarat dan pasrah dengan apa yang menimpanya. namun seketika itu Darren datang menolongnya, lalu menyelamatkannya.
"haah" Erick mengembuskan nafas dengan kasar lalu memeluk Yura di tengah ramainya tempat itu. "untung saja ada orang yang menyelamatkanmu. memangnya siapa orang yang mau menolong gadis cerewet seperti mu" ejeknya.
"ih, kau ini" Yura cemberut mendengar ejekan dari temannya ini, lalu mencubit perut Erick dengan gemas.
"aw. sakiit"
"ya sudah ayoo" rengeknya. lalu mereka terus berjalan menuju Rumah makan dimana dia meninggalkan Darren.
"memang siapa orang yang sudah menolongmu?" tanya Erick
"namanya Darren, aku belum tahu asal usulnya. tapi dia orang yang baik." jawab Yura.
"kau pasti menyukainya bukan?" goda Erick dengan mencubit hidung Yura.
"tentu saja. kau juga pasti menyukainya" ucapnya.
"aku ingin melihat orang yang kau sukai itu. dan telah menolongmu" ada sebersit luka di dalam hati Erick
setelah mereka sampai di dalam rumah makan yang Yura maksud, Yura menyuruh Erick untuk langsung ke ruangannya. karena dia akan membayar pesanannya terlebih dahulu.
"aku akan melakukan pembayaran. kau pergilah terlebih dahulu, ke ruang VIP nomor tiga".
"baiklah" Erick lansung menuju ruangan yang Yura maksud, setelah sampai dia langsung memasuki ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu. dan dia hanya mendapati seorang gadis cantik yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Erick merasakan aura sihir yang belum tumbuh dalam diri gadis itu.
"sepertinya dia tidak mengembangkan kekuatan sihirnya dengan baik"
Erick celingak-celinguk di dalam ruangan itu untuk mencari seseorang pria yang Yura maksud, dengan di lihat oleh gadis yang sedang duduk santai tersebut.
Erick tidak menemukan pria yang dia cari. tapi dia yakin sudah memasuki ruangan yang benar, ruang VIP nomor tiga.
"tidak mungkin gadis ini bukan? aku tidak salah dengar kalau Yura menyebutkan nama Darren"
akhirnya dari pada di lihat seperti orang aneh oleh gadis yang berada di ruangan yang sama dengannya, lebih baik dia menanyakannya pada gadis terebut.
"Nona. apakah anda melihat seorang pria disini?" Erick bertanya dengan ramah.
"yaa. aku melihatnya"
"dimana dia sekarang?"
"dihadapanku. yaitu kau" gadis itu tersenyum mengejek
"heh. maksudnya selain aku!!" Eric agak kesal, mendengar jawaban dari gadis di hadapannya ini.
"aku tidak melihatnya"
"baiklah"
"sensitif sekali!!" batin Erick
Erick langsung pergi dari ruangan itu dan bertemu Yura yang kebetulan sedang menuju ke arahnya.
"apakah kau sudah menemuinya? kau menyukainya bukan?" Yura bertanya dengan antusias.
"aku tidak menemukannya" jengahnya.
"benarkah? aku menyuruhnya menunggu di ruangan itu. sebaiknya kita kesana bersama" Yura langsung menyeret tubuh Erick menuju ruangan tersebut.
setelah masuk, dia melihat Darren yang sedang menunggunya. Darren juga melihatnya yang sedang menyeret seorang pria.
"dia di sini. itu Darren sedang menunggu kita" ucap Yura pada Erick
"jadi yang bernama Darren itu seorang gadis?" wajah Erick menjadi merah menahan malu karena sudah salah sangka terhadap teman Yura.
"yaa. Darren, perkenalkan dia Erick. temanku disini"
"dan Erick. perkenalkan dia Darren. temanku di akademi" Yura memperkenalkan mereka berdua.
"ooh. jadi dia orang yang ingin kau temui?" tanya Darren.
"benar. yasudah ayo kita makan. kalian pasti sudah lapar" dan mereka makan dengan tenang.
**
"kenapa Yura lama sekali" jengah Darren seraya bermain-main dengan bola api di tangannya. setelah beberapa saat, dia memakan cemilan yang ada di atas meja, sambil menunggu Yura kembali. di tengah asyiknya ngemil, ada seorang pria yang langsung masuk kedalam ruangnnya. tapi Darren tidak bereaksi apa-apa, dia hanya memperhatikan pria itu dengan seksama. "*aura elemen buminya kuat sekali"
"hehh. dia celingak-celinguk seperti orang bodoh*."
"Nona. apakah anda melihat seorang pria disini"
"heh. tentu saja, aku melihatnya di hadapanku"
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya ❤❤