
Nia menyeringai dengan puas ke arah mereka. sedangkan yang di tatap hanya berpikir dengan heran dan ada sebersit ketakutan yang menyeruak di hati mereka.
"bagaimana mungkin. apa dia seorang penyihir api?" batin Franklin
Ferland yang melihat itu, langsung menyerang Nia dengan merebut tongkat besi panas yang di pegang oleh Franklin.
Wwoosh
Wwoosh
Ferland mengayunkan tongkat besi itu beberapa kali. namun Nia selalu berhasil menghindar. dan ketika ada kesempatan, dengan cepat Nia merebut tongkat besi panas itu dari genggaman Ferland.
"ini tidak baik. aku harus segera pergi dari sini" batin Frenzo seraya melangkah dengan pelan ke belakang.
Nia yang melihat itu langsung mengangkat tangannya dan seketika dinding transparan yang berbentuk bulat mengurung mereka semua, jelas itu membuat Frenzo yang ingin melarikan diri di ketahui oleh Ferland dan Franklin. setelah mengurung mereka Nia menyentuh ujung besi yang panasnya itu. bukan hanya menyentuh Nia bahkan menggenggam besi panas tersebut dengan kuat seperti menyerap panas dan membuat besi tersebut menjadi dingin.
Nia melakukan itu di hadapan Ferland dan Franklin membuat jiwa mereka berdua terguncang. bagaimana tidak gadis di hadapan mereka ini sangat menakutkan dengan tatapan tajam seperti itu seakan ingin memakan mereka hidup-hidup. tidak lama setelah menggenggam besi panas Nia menembakkan sesuatu dari sarung tangan yang dia kenakan. seketika tubuh Frenzo yang berjarak cukup jauh dari mereka langsung di hujani puluhan panah kecil dari tangannya membuat tubuh Frenzo penuh dengan luka tusukan.
Nia membunuh Ferdy dan Frenzo tanpa berkedip, membuatnya seperti monster yang haus akan darah.
"aku tidak mengira dia akan menjadi orang yang gila seperti ini" Ferland menyadari perubahan yang Nia tunjukan. hal itu sangat membuat hatinya gusar melihat Nia bahkan membunuh dengan hati setenang itu.
setelah Nia membunuh Frenzo Nia langsung memicingkan matanya ke arah Ferland dan Franklin, Nia kemudian menyerang mereka berdua secara cepat dan tiba-tiba seperti kecepatan kilat yang tidak bisa diikuti dengan mata. Nia menusuk kepala Franklin dengan besi yang dia genggam, saking kuatnya sampai menembus tengkorak orang yang di bunuh tersebut.
tentu saja Ferland menjadi lebih waspada dengan serangan yang mungkin akan Nia lontarkan padanya. tetapi Nia tidak mempermasalahkan hal itu.
melihat Ferland meningkatkan ke waspadaannya. Nia hanya terkekeh, seraya mengeluarkan bola api berwarna hitam dari tangannya. dan setelah Nia mengeluarkan bola api itu, dia langsung melemparkannya pada tubuh Ferland. tentu Ferland menyadari serangan dari musuhnya. ketika dia akan menghindar tubuhnya menabrak dinding transparan yang membuat tubuhnya tersungkur ke tanah dan bola api yang melayang ke arahnya langsung dengan cepat membakar apapun yang dia tabrak.
jeritan kesakitan yang Ferland rasakan menggema di dalam dinding transparan tersebut.
"menakutkan" Shawn menggumam setelah melihat apa yang Nia lakukan pada keempat murid lain gurunya dari kejauhan. walaupun jauh, tapi Shawn dapat melihatnya dengan jelas.
sedangkan Jacob hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar karena melihat sesuatu yang mengerikan yang pernah dia lihat.
setelah Nia membunuh keempat orang tersebut. dia langsung keluar dari dinding transparan berbentuk bulat yang di buat olehnya dengan sangat mudah.
setelah keluar Nia langsung mengangkat tangannya dan kemudian tubuh keempat orang yang dia bunuh kembali menyatu dan utuh seperti semula, dan hidup kembali seperti sedia kala. tentu keempat orang tersebut menyadari apa yang telah terjadi.
"INII? "
mereka semua yang berada di dalam dinding transparan berbentuk bulat itu terkejut bukan main mendapati dirinya kembali bangkit dari kematian dan tubuh merekapun kembali utuh seperti semula. mereka sangat paham sekarang kekuatan musuhnya sangat menakutkan. gadis itu seperti Dewi kematian dan kebangkitan bagi mereka.
"kenapa kau tidak membunuh kami saja?" seru Franklin
"bukankah aku sudah melakukannya. kalian bahkan hampir di lemparkan ke neraka bukan?" Nia menjawab dengan santai.
"lebih baik kau membunuh kami saja" Ferdy menahan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. walaupun mereka memiliki ilmu bela diri yang tinggi tapi berhadapan dengan seorang penyihir sepertinya akan sangat sulit memenangkan pertempuran.
"heh. kematian terlalu Bagus untuk kalian" Nia menyeringai ke arah mereka.
kemudian tangan Nia membentuk sebuah simbol di dinding transparan buatannya itu lalu menapak simbol tersebut dengan kuat seperti yang dia lakukan waktu melakukan dorongan pada bola api hitam yang ada di dalam air.
setelah Nia memberi sesuatu yang mencurigakan bagi keempat orang yang dikurung, dinding tranparan tersebut menjadi sebuah bola api raksasa berwarna merah menyala yang mengurung dan meleburkan apapun yang ada di dalamnya. tentu hal itu membuat semua yang ada di dalamnya meleleh akibat terbakar.
jeritan kesakitan yang mereka rasakan menggema di langit cerah yang indah. setelah beberapa saat. jeritan yang memekikkan telinga itu sudah tidak terdengar, karena Nia membuat bola api raksasa tersebut menjadi kedap suara. jadi apapun yang di luar tidak dapat mendengar suara dari dalam, begitupun sebaliknya.
ini benar-benar di luar dugaannya.
ketika menyentuh ujung tongkat besi yang panas, sebenarnya Nia juga agak ragu untuk melakukannya namun setelah melihat wajah Ferland dan Franklin yang mulai ketakutan membuat kepercayaan dirinya melonjak Nia melakukan apa yang dia ragukan. sebenarnya Nia hanya memikirkan apa yang dia inginkan lalu seketika itu menjadi nyata. begitupun dengan bola api raksasa tersebut yang berwarna merah menyala, karena dia hanya memikirkan warna itu. bukankah ini terlalu mudah baginya.
setelah puas dengan apa yang di lakukannya. Nia langsung memicingkan matanya ke arah Shawn. tubuh orang yang di tatap menjadi gemetar hebat karena tatapan tajamnya itu.
"kemarilah" Nia berteriak agar suaranya dapat terdengar oleh Shawn.
Shawn sangat ragu untuk mendekat, ketakutan melanda di seluruh hatinya. Shawn takut nasibnya akan sama seperti keempat orang lainnya.
dan Jacob yang melihat ketakutan sang adik langsung menegurnya.
"cepatlah kesana. nasibmu tidak akan sama seperti mereka. karena dia tidak mungkin melukai orang yang tidak berurusan dengannya." ucap Jacob
Shawn menjadi agak tenang ketika Jacob membujuknya.
"benar juga. dengan alasan apa dia menyerangku. kita bahkan tidak saling kenal" batin Shawn
Shawn sudah berada di samping Nia tetapi Nia belum bersuara sepatah katapun, ini membuat suasana di antara mereka menjadi canggung.
setelah beberapa saat keheningan meliputi mereka Nia akhirnya membuka suara.
"bukankah kau penyihir elemen bumi?" Nia bertanya tanpa menoleh
"hm. ya" Shawn menjawab dengan tubuh bergetar.
"bisakah kau menenggelamkan bola api ini ke dasar bumi" tanya Nia masih tanpa melihat ke arah Shawn
"B..bisa" Shawn menjawab dengan ragu"
"kalau begitu tenggelamkan" printah Nia dengan dingin.
bibir Shawn sedikit berkedut mendengar ada orang memerintah dirinya. "apa-apaan. dia barusan memerintahku? semua murid di akademi bahkan sangat menghormatiku, karena aku adalah murid dari guru Victor. kalau bukan dia memiliki sihir elemen api yang menghancurkan seperti itu, aku tidak sudi menuruti perintahnya. terserahlah. persetan dengan gadis menakutkan ini"
hati Shawn mengeluarkan sisi arogansi nya di saat seperti ini walaupun dia hanya menyimpannya di dalam hati, kalau di keluarkan bisa-bisa dia langsung di lemparkan ke dalam bola api tersebut oleh gadis sadis di hadapannya.
setelah tersadar dari lamunannya Shawn langsung mengangkat tangannya ke depan seraya mulutnya komat-kamit merpalkan mantra. dan seketika guncangan dari dasar bumi begitu terasa sampai tanah di sekitar bola api raksasa langsung terbuka dan menenggelamkannya ke dasar bumi. bola api tersebut tenggelam ke dasar bumi sampai Nia tidak bisa melihat cahanya nya lagi. itu menandakan kekuatan Shawn sudah berada di level kedua dalam ilmu elemen sihirnya.
Shawn langsung menutup kembali lubang yang telah dia buat lalu menghapus semua jejak seperti tidak ada yang pernah terjadi di tempat ini.
Nia juga tidak lupa membuat pormasi sebuah segel untuk memperkuat pondasi yang dia buat.
setelah apa yang dia inginkan selesai, Nia kemudian berjalan mendekati jacob yang masih terbaring di bawah pohon seraya bertanya pada Shawn.
"apa kau murid akademi sihir?" Nia bertanya seraya terus berjalan dan Shawn hanya mengikutinya dari belakang.
"ya." Shawn menjawab dengan agak santai. karena sepertinya gadis yang ada di hadapannya ini sangat ramah pada orang yang bukan menjadi musuhnya.
"ooh." Nia merespon dengan singkat.
"hm. apakah kau juga murid disana?" Shawn bertanya dengan ragu karena dia juga belum pernah melihat sosok Nia di akademi tersebut.
"ya. aku adalah murid guru Han" Nia menjawab dengan santai.
"guru Han? aku tidak pernah mendengarnya."
Nia yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. karena dia tahu guru Han sangat menjaga privasi dirinya dan Nia terhadap dunia luar. bahkan dari murid-murid di akademi sekalipun. terkecuali semua guru yang mengajar disana.
ketika Nia ingin belajar, dia akan langsung kemenara dimana tempat guru Han berada. menara guru Han berada di pojok bangunan akademi dan Nia hanya menggunakan jalan pintas untuk mencapai kesana jadi dia pun tidak terlalu tahu-menahu seluruhnya tentang akademi Nia bahkan belum pernah bertemu dengan murid-murid di sana.
setelah sampai di bawah pohon tempat dimana Jacob masih berbaring dan memegangi lukanya,
Nia melihat Jacob dengan tatapan yang tidak terbaca.
"terima kasih karena kau telah membantuku waktu itu" ucap Nia
"sama-sama" Jacob menjawab dengan cepat dan ragu.
"maaf aku tidak dapat menyembuhkanmu. karena kekuatan sihirku tidak cocok untukmu" ekpresi Nia menjadi lesu ketika melontarkan kata-kata itu.
"ah. tidak apa-apa, Shawn akan mengurusku dengan peralatan medis untuk manusia biasa." Jacob menjawab dengan sedikit tenang.
"bolehkah aku bertanya?" Shawn menyela pembicaraan Nia dengan Jacob
"hm" Nia menjawab dengan deheman.
"bagaimana nasib orang yang berada di dalam bola api raksasa itu?" Shawn bertanya dengan penasaran.
"mereka akan tetap hidup dan tersiksa di dalam panasnya bola api itu, selamanya. yaa sampai aku melepaskan mereka dari sana." tanpa beban Nia menjawab pertanyaan Shawn dengan ringan seolah itu adalah hal sepele seperti hal nya debu.
tentu saja itu membuat Jacob dan Shawn bergidik ngeri mendengarnya. bagaimana mungkin seorang gadis dapat dengan sadis memperlakukan musuhnya sperti itu. dan dia bahkan menjawab pertanyaan itu dengan santai. sungguh menakutkan.
"baiklah. aku harus pergi." ucap Nia seraya meninggalkan mereka yang sedang dalam perasaan gusar, karena mendengar jawaban darinya.
Nia berjalan ke arah belakang bangunan. dan setelah sampai di sana. dia langsung terbang melesat meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya. ❤❤