
setelah sampai di tempat pengurus asrama junior, mereka menghampiri sebuah ruangan, sepertinya itu adalah ruangan pengurus asrama. sebelum mereka mengetuk pintu. mereka di kejutkan dengan kedatangan seorang pria yang lebih tua dari mereka. pria itu langsung muncul begitu saja di belakang mereka berdua.
"ada apa Yura?" ucapnya.
"ah. kak Rey, aku membawa murid baru kesini. dia bernama Darren. guru Jasson menyuruhku untuk membawanya kemari" jawab Yura.
penuturan Yura di respon dengan deheman oleh orang yang di sebut kak Rey itu.
"hem. tunggu sebentar"
Rey langsung masuk keruangannya. setelah beberapa saat Rey keluar dengan membawa sebuah kunci di tangannya.
"tunggu sebentar. Darren aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. aku akan mengunjungimu besok" Yura berpamitan karena dia tinggal di asrama senior jadi mereka berpisah disini.
"baiklah" lalu Yura pun langsung pergi dari tempat itu.
bebapa saat Darren dan Rey berjalan menyusuri koridor asrama, akhirnya D
mereka sampai di depan pintu sebuah asrama.
"ini kunci kamar asramamu" ucapnya dan langsung pergi dari hadapan Darren.
Darren langsung memasuki kamar barunya. dan menutup pintu rapat-rapat. kemudian dia langsung mengeluarkan bola api hitam dari telapak tangannya untuk memastikan kekuatan sihirnya dia semakin heran,
"kenapa kekuatanku bisa di sembunyikan seperti ini? siapa yang melakukannya? pasti ada alasan di balik semua ini kan?. tunggu. apa Sebastian mengetahui hal ini? itu bisa saja kan. Sebastian bahkan mengetahui seluruh hidupku, haaah. lebih baik aku ikuti saja alurnya" ucapnya. kemudian mengubah warna bola api itu menjadi biru, kuning, dan merah, kemudian merubahnya menjadi hitam kembali.
kini hari memang sudah gelap. Darren langsung membersihkankan diri lalu beranjak untuk tidur. ini juga baru pertama kalinya dia tidur di asrama seperti ini. ada perasaan takjub sekaligus senang di dalam hatinya, karena mencoba hal baru adalah hal yang menyenangkan.
keesokan harinya. Yura sudah berada di kamar Darren dengan membawa sekeranjang buah-buahan. mereka berdua duduk di dalam kamar itu seraya memakan buah yang Yura bawa.
"Yura, apa kau bisa menceritakan semua kekuatan sihir elemen?" tanya Darren, dia memang belum mengetahui semua tentang ilmu sihir elemen lain. karena guru Han hanya mengajarkannya tentang elemen api saja.
"tentu saja. dari semua ilmu sihir elemen, hanya kekuatan elemen api yang memiliki nama" tuturnya.
"maksudnya" beo Darren.
"ya. semua ilmu sihir elemen memiliki empat level, dan di dalam level tersebut ada lima tingkatan yaitu rendah, menengah, tinggi, duniawi dan surgawi,
namun hanya level elemen api saja yang memiliki nama. dan elemen lain hanya merujuk ke angka karena hanya memilki satu warna." jelasnya.
"jadi, apa saja nama level elemen api?" tanya Darren. dia ingin tahu seberapa jauh Yura mengetahui tentang ilmu sihir elemen api.
"Yellow Fire di level terendah. Blue Fire di level menengah, Red Fire di level atas dan kemudian Black Fire di level mitologi" tuturnya.
"level mitologi?" gumam Darren dengan wajah pura-pura heran.
"ya. Black Fire adalah level mitologi karena tidak ada penyihir yang bisa mencapai level tersebut. jadi orang-orang menyebutkan level itu hanya rumor belaka." jelasnya.
"tapi. pasti disini ada murid dengan sihir elemen api bukan?"
"tentu saja. namun kekuatan sihir mereka sangat sulit untuk di tingkatkan. bahkan level paling tinggi yang bisa mereka capai hanya sampai Blue Fire. ketiga sihir elemen yang lain hanya perlu tiga sampai empat tahun untuk menerobos ke tingkat selanjutnya di dalam level. tapi sihir elemen api membutuhkan delapan sampai sembilan tahun lamanya untuk menerobos ke tingkat selanjutnya" jelasnya
"benarkah? kenapa selama itu?" tanya Darren. perasaan dia hanya memerlukan beberapa waktu untuk menerobos. kenapa yang lain selama itu sampai bertahun-tahun lamanya.
"entahlah. tapi itu yang aku ketahui" jawab Yura.
"hmm. lalu kekuatanmu sudah sampai mana?"
"aku baru mencapai tingkat surgawi di level pertama. tinggal satu tingkat lagi aku akan menerobos ke level kedua." jawabnya dengan antusias
"itu Bagus. lalu bagaimana perkembangan penyihir elemen api saat ini?" tanya Darren.
"entahlah. beberapa tahun yang lalu, semua penyihir api tidak dapat meningkatkan kekuatan mereka selama sepuluh tahun lamanya. dan setelah itu mereka menghilang begitu saja, semua orang tidak tahu kenapa mereka bisa hilang. bahkan semua guru di sini belum mengetahui penyebabnya. aku juga tidak pernah mendengar tentang mereka lagi. mereka seperti di telan bumi yang hilang begitu saja" jawabnya.
"benarkah" Darren terkejut mendengar hal itu.
"yaa" ucap Yura.
"semua penyihir api langsung hilang begitu saja. itu tidak mungkin bukan?. pasti ada seseorang yang menginginkan penyihir api lenyap dari dunia ini? tapi kenapa?" batin Darren.
"oh ya. kau harus keruangan guru Jasson nanti siang" ucap Yura
"kenapa?"
"entahlah. mungkin ada sesuatu yang ingin di bicarakan" jawabnya.
"sebelum kau kesana. cobalah menyerap cahaya elemen kembali, kau pasti bisa. baiklah aku harus pergi, kalau kamu ingin menemuiku, datang saja ke asrama senior" tambahnya.
"baiklah. aku akan mencobanya" jawab Darren dengan tersenyum hangat.
setelah Yura pergi. Darren tidak melakukan apa yang Yura katakan. melainkan memikirkan kemungkinan-kemungkinan perihal hilangnya semua penyihir api di akademi ini.
hari sudah menjelang siang, Darren juga sedang menuju ruangan guru Jasson untuk menemuinya. di sepanjang jalan, Darren bertemu dengan murid-murid di akademi. mereka berbisik satu sama lain, entahlah mungkin mereka baru pertama kali bertemu dengan gadis yang mereka kira belum bisa menguasai kekuatannya di usianya yang sekarang.
padahal apa yang Darren kira dengan pemikiran semua murid sangat bertolak belakang.
"lihatlah, aku baru pertama kali melihat ada orang yang memiliki rambut perak dan mata berwana abu-abu, apa kau pernah melihatnya?"
Darren mendengar semua bisikan yang membahas dirinya. memang benar, rata-rata semua manusia di dunia ini memiliki rambut berwarna coklat sampai merah dan mata yang rata-rata berwarna biru laut dengan kulit berwarna putih pucat sedangkan Darren memiliki kulit seputih giok yang tentu saja penampilannya berbeda dengan manusia pada umumnya di dunia ini.
tentu Darren tidak memikirkan hal itu. dia terus berjalan untuk sampai di tempat tujuannya. setelah sampai, dan dia bertemu Jasson. Darren tidak membungkuk memberikan penghormatan, atau hal lain yang berkaitan dengan itu.
"guru!" Darren hanya mengucapkan pangkatnya saja. dia tidak mau membungkuk, memberi salam, atau memberi penghormatan pada orang lain, kecuali guru Han. tentu Jasson mengetahui hal itu, karena dia tahu dengan baik tentang guru Han dan murid satu-satunya ini.
"kita harus ke ruangan kepala akademi" jawab Jasson dengan tergesa, dia tidak mempermasalahkan hal itu untuknya.
"kenapa kita harus kesana" Darren bertanya seraya mengikuti Jasson dari belakang, menuju ruangan kepala akademi.
"dia bilang ingin menanyakan sesuatu padamu" jawabnya.
setelah sampai, Jasson dan Darren langsung masuk ke ruangan kepala akademi, karena kepala akademi memang sudah menunggu kehadiran mereka.
setelah mereka masuk. Darren melihat ada kakek tua yang sedang duduk di meja kerjanya dan seketika aura elemen bumi menyeruak di dalam ruangan kakek tua tersebut yang bernama Gilbert. tentu Jasson langsung membungkuk untuk memberi penghormatan padanya, tetapi tidak dengan Darren dan hal itu berhasil membuat Gilbert menoleh ke arahnya.
"kau tidak memberi penghormatan padaku?" tanyanya.
"aku hanya memberikan penghormatan pada guru Han" jawabnya. tentu Darren tahu bahwa mereka mengetahui tentang hal itu.
"ya. ya." Gilbert mengangukkan kepalanya, dia juga mengetahui hal itu. walaupun jabatannya lebih tinggi dari mereka, tapi dia juga mengerti tentangnya. karena guru Han juga yang paling tua dan terkuat di antara guru dan penatua disini.
"lalu dimana dia sekarang? sudah beberapa minggu ini dia belum kembali dari luar" Gilbert bertanya dengan menyelidik.
"itu. karena guru telah menyelesaikan perjanjiannya" Darren mengingat waktu guru Han memberikan dimensi padanya. itu adalah kali terakhir mereka bertemu.
"perjanjian? perjanjian apa yang dia maksud" batin Jasson, sepertinya dia menjadi seekor nyamuk disini. walaupun begitu dia tetap memperhatikan mereka dengan khidmat.
"pantas. lalu apakah dia mengirimmu kemari?"
"tidak. aku kemari atas kemauanku sendiri" jawab Darren
"apa yang beliau ajarkan padamu? tidak mungkin kau tidak bisa berkembang seperti ini." lugasnya.
Darren mengetahui maksud dari kata-kata itu. sebenarnya dia agak sedikit marah mendengar perkataan Gilbert. namun dari pada ruangan ini hangus terbakar karena amarahnya, lebih baik dia mengontrol emosinya.
"banyak hal yang beliau ajarkan padaku. beliau juga berhasil mendidik seseorang sampai menjadi sepertiku" bangganya.
"anak ini!!" bibir Jasson sedikit berkedut mendengar jawaban seorang gadis yang ada di hadapannya ini.
"berhasil? itu berarti dia menyembunyikan kekuatannmu?" Gilbert menyusun kemungkinan-kemunkinan yang ada. dia juga tahu betul seorang guru Han, tidak mungkin guru Han menyelesaikan perjanjiannya sebelum muridnya memiliki kekuatan ilmu sihir elemen.
"benar" tegas Darren
"apa? jadi kekuatannya di sembunyikan? mana mungkin ada orang yang bisa melakukan hal itu!!. tapi itu berarti dia sudah memilki kekuatan sihir bukan?" sorak kegembiraan langsung bergemuruh di dalam hati Jasson, sekarang dia bisa tenang akan hal ini. karena tidak perlu pusing mengajari murid yang ternyata sudah memilki kekuatan sihir. namun dia juga aka tetap membimbing Darren seperti murid yang lainnya.
Gilbert mengangguk puas dengan jawabannya.
"jadi, ilmu sihir apa yang kamu miliki?"
"karena kekuatanku di sembunyikan. aku juga tidak bisa mengatakannya bukan?" lugas Darren
"baiklah. aku hormati keinginanmu, tapi sampai kapan kau akan menyembunyikannya?"
"sampai aku terpaksa mengeluarkannya" lugas Darren
"tapi aku mohon kepada kepala akademi dan guru Jasson untuk menyembunyikan hal ini. karena hanya kalian berdua lah yang mengetahuinya" Darren memohon
"baiklah" ucap Gilbert, dan Jasson hanya mengangguk seraya mengembangkan senyumnya.
"terima kasih"
"tidak apa. kalian boleh pergi" ucap Gilbert.
"baiklah" Jasson dan Darren langsung meninggalkan ruangan kepala Akademi
"Darren bisakah kau memberitahukan level dan tingkat kekuatan sihirmu?" tanya Jason.
"kekuatanku baru mencapai tingkat tinggi di level pertama" jawab Darren dengan bohong. kalau dia jujur, mungkin guru Jason tidak akan mempercayainya bukan.
"bohong. tidak mungkin guru Han menyembunyikannya jika kekuatanmu masih rata-rata" Jasson berpikir demikian karena dia yakin kalau Darren memiliki kekuatan besar sampai perlu di sembunyikan oleh guru Han.
"ooh. karena kekuatanmu di sembunyikan, dan kau juga tidak mau memberitahukan. jadi kau akan belajar di ruanganku saja" ucapnya
Darren mengangguk setuju mendengar hal itu "baiklah. terima kasih"
"aku harus pergi. pelajaranmu akan di mulai besok, datanglah sebelum sore"
Darren kembali mengangguk dan tersenyum. sebenarnya dia sudah mempelajari semua materi yang di ajarkan guru Han padanya. namun dia juga harus berperan sebaik mungkin untuk kebohongannya.
seorang guru di akademi ini bisa mengajari murid dengan kekuatan elemen yang berbeda-beda. contohnya Shawn yang memiliki sihir elemen bumi berguru pada guru Victor yang memiliki sihir angin. bahkan Darren juga berguru pada guru Han yang memiliki sihir bumi. itu bisa saja, asal untuk menjadi seorang guru harus memenuhi kriteria-kriteria yang sudah di tetapkan.
KRITIK dan SARAN.
Author sangat menghargainya ❤❤