
Tiga hari sudah setelah musnah nya sosok penyegel jiwa..tiga hari ini Geamy bagaikan putri tidur yang menanti kedatangan sosok pangeran nya.
Gadis itu belum bangun sejak tiga hari yang lalu..si peramal hanya menunggu saja tak mau ikut campur..dia tau Geamy pasti sedang memulihkan kembali tenaga nya..setiap hari peramal itu pun mentransfer energi agar tubuh Geamy lekas pulih namun rupa nya energi negatif dari sosok kemarin terlalu besar.
Luka-luka yang Geamy dapatkan juga sudah mulai memudar meski begitu tetap menimbulkan rasa nyeri jika gadis itu sudah sadar nanti..peramal itu membiarkan Geamy memulihkan tenaga nya selama yang Geamy mau.
"Gadis kecil..jika kau sudah merasa cukup kau boleh bangun..bukan kah kau ingin mengetahui kenapa aku membuat mu seperti ini..bangun lah maka aku akan menjelaskan pada mu" bisik peramal itu lalu mengusap wajah cantik Geamy dengan aura yang teduh mampu membuat nya tenang.
Peramal itu meninggalkan kamar Geamy dengan memasang aral yang mampu melindungi Geamy dari sosok yang tak bisa di tebak kehadiran nya.
Peramal itu duduk di kursi apung dan menyandar pada sandaran kursi itu..diam tak ada suara sampai satu suara membuyarkan lamunan nya.
"Kenapa aku di sini?" tanya suara yang sangat dia kenal.
Peramal itu membuka mata nya dan menoleh kearah orang yang bertanya.
"Kau sudah bangun.. bagaimana tubuh mu..apa masih sakit?" tanya si peramal tak menjawab Geamy.
"Aku sudah lebih baik..apa kau yang membawa ku ke sini..tapi di mana ini?"
"Kau di rumah ku..kemarin kau terluka cukup parah dan hampir kalah jadi aku membawa mu ke sini untuk memulihkan kondisi mu"
"Begitu..sekarang aku sudah baik-baik saja..apa aku sudah boleh kembali?"
"No..tunggu sampai pemuda itu sadar baru kau bisa kembali"
"Ryuzki.. maksud mu"
"Ya betul sekali gadis kecil"
"Aku bukan gadis kecil lagi asal kau tau"
"Terserah"
Geamy memejamkan mata nya menahan pusing yang mendera nya..peramal itu dengan sigap menarik Geamy duduk di pangkuan nya dan menyandarkan kepala gadis itu pada dada nya.
Geamy terkejut karena tiba-tiba dia di tarik dan duduk di pangkuan peramal itu..dia bangkit namun pinggang nya tertahan oleh tangan peramal itu hingga dia pasrah menyandar pada dada hangat peramal itu.
"Di luar masih bahaya untuk mu gadis kecil..di sini lah dulu sampai kau benar-benar pulih" kata nya lembut mengusap kepala Geamy yang menyandar pasrah pada dada nya.
"Apa aku dalam bahaya jika kembali sekarang?" tanya Geamy malah menikmati usapan lembut tangan peramal itu.
"Hm..maka dari itu di sini dulu sampai keadaan nya membaik" balas si peramal memejamkan mata nya.
"Baik lah..bolehkah aku tau nama mu?" tanya Geamy memberanikan diri menatap wajah peramal itu.
Peramal itulah mengangguk dan tersenyum menatap Geamy..dia usap pipi Geamy dengan lembut.
"Namaku Rogard Zardkas..apa lagi yang ingin kau tau?"
"Kenapa kau memberikan tangan sialan ini padaku?"
"Itu bukan tangan sial gadis kecil..itu suatu kemampuan.. hanya orang-orang terpilih yang mampu memiliki nya..dan kau salah satu nya"
"Aku tak butuh tangan ini jika harus kehilangan orang-orang yang ku sayangi"
"Dengar gadis kecil..setiap yang bernyawa akan mati..setiap kematian akan tergantikan dengan kelahiran baru..begitu lah siklus kehidupan,mereka yang telah tiada memang sudah waktu nya untuk tiada bukan karena tangan ini"
Geamy terdiam..memang benar yang bernyawa akan mati tapi dia tetap saja merasa bersalah dengan kematian mereka yang melalui perantara tangan sial nya.